Sebuah pelayanan yang dirintis oleh Morria Nickels di Amerika Serikat untuk melayani kaum subkultur yang tersisihkan dari masyarakat. Pada tahun 2006 telah menunjuk dan mengutus Dave Broos sebagai Regional Director di Indonesia
Senin, 14 Februari 2011
Minggu, 13 Februari 2011
Proposal Pembuatan T-Shirt Utk Dukung Pelayanan



Shalom
Hai saudara-saudara seiman,
Saat ini saya tengah coba menggali dana untuk pelayanan bagi generasi muda. Kami beberapa tahun belakangan ini mengandalkan dana dari pihak donatur dan kadang membuat pelayanan ini kurang efektif sebab kegiatan kadang terhenti akibat keterbatasan pendanaan. Hingga pada tahun 2011 ini, saya dan dua orang volunteer pelayanan kami bersepakat untuk membuat t-shirt distro yang memiliki nilai kristiani di dalamnya. Kami telah membuat berbagai gambar desain, mencari tempat produk dan membandingkan harga berikut kualitasnya tetapi kami masih terkendala dana untuk memulai usaha ini.
Saya berharap bila ada rekan-rekan yang mau memberikan modal usaha bagi kami maka itu akan sangat membantu upaya kami agar pelayanan ini, menjadi pelayanan mandiri yang tak bergantung kepada donasi. Harapan kami dari sini, anak-anak muda (jalanan) yang kami layani akhirnya dapat pula mendapatkan lapangan pekerjaan.
Untuk satu desain kami hanya akan memproduksi sebanyak dua lusin saja. Biaya pembuatan satu desain kaos sebanyak satu lusin adalah sekitar Rp.500.000. Jadi untuk pembuatan dua lusin t-shirt kami membutuhkan modal awal sekitar Rp.1.000.000 untuk tiap desain. Untuk langkah awal kami berharap dapat paling tidak memproduksi 5 model desain. Dengan harapan ada orang yang mau meminjamkan modal sebesar Rp.5.000.000 untuk biaya tersebut. Atau bilamana ada rekan yang mau membiayai pembuatan satu model t-shirt saja, kami akan sangat bersyukur. Uang modal usaha akan kami kembalikan paling lambat 6 bulan setelah produksi dimulai.
Terimakasih atas perhatiannya, kami membutuhkan dukungan doa dan juga dana (bila itu memungkinkan) agar pelayanan kami bagi the lost and fatherless generation (generasi terhilang dan tidak berbapa) ini dapat tetap berjalan. Terimakasih dan Tuhan Yesus memberkati.
Hormat saya,
Dave Broos
Shadow of the Cross – Indonesia
davebroos@yahoo.co.uk
http://shaddowcross.blogspot.com
NB: Bila Anda mau memberi ide dan masukan bagi kami, kami terbuka untuk hal tersebut.
Sabtu, 02 Oktober 2010
The Agents of Change

The Agents of Change by Dr. Patti Amsden
Beliefs – the stuff of which civilizations are formed. Beliefs – the catalysts from which movements are spawned. Beliefs – the causes for which men live and die. Differing beliefs about the nature of reality, ethics, and values lead to differing behaviors. The dominant belief of a collective people or of the leaders of a country will drive that culture. All of life grows from, is maintained by, and bears the fruit of mankind’s beliefs.
For example, a Marxist worldview gained a standing in the arena of ideas via the writings of Karl Marx in the late 1800’s. Marx postulated that the group in power propagated oppression upon those not in power. The elite authoritarians were charged with societal and fiscal evils. Liberation of the underprivileged working class, the proletariat, became the goal of the Marxist mindset; and those ideological axioms gave rise to systems of government, commerce, and various social structures.
Marxist belief generated communistic cultures including Leninism and Trotskyism in Russia or Maoism in China. Although the economic application of Marxism, with its materialistic worldview, failed to produce strong financial systems as it had promised, the ideology stills augurs its viability. The belief did not crumble with the Berlin Wall. It lives today codified as ‘multiculturalism’, ‘political correctness,’ and even ‘cultural Marxism.’
The basic belief of class warfare between the have and have-nots, the aristocratic and the hoi polloi, the rule-givers and those proles governed by the privileged continues with a present-day cultural emphasis. Minority groups such as women, African-Americans, Hispanics, and homosexuals fall under the category of those oppressed while groups identified as male, white, Euro-centric, heterosexual, capitalist, and even Christian become labeled as the oppressors.
Social Marxism has the same goals as Economic Marxism: a cultural revolution to dethrone the ruling class who propagate traditional ideas, liberate the common class with promises of equality and utopia, and inaugurate change under the title of social liberation. Marxism is a belief that manifests in actions. Beliefs do not remain isolated in academia nor are they only specimens to be examined under the microscope of rhetorical or philosophical meanderings. If social Marxism is alive in the United States, then a cultural revolution is the goal of those who embrace that maxim.
Anyone who announces that they are committed to being an agent of change is proclaiming that they will dismantle one set of axioms and replace those presuppositions with opposing and contradicting beliefs. The promise of change is prevalent on the American political and societal landscape. The discerning citizen must ask which belief will be outdated and which ideology will provide the infrastructure for the new world.
Not all beliefs are equal. There is an elitism of ideas because some are superior to others. The question begs to be answered: if fiscal Marxism did not work in Germany or Russia, will social Marxism work in the States? What our nation believes will determine the nation we will become.
Senin, 05 Juli 2010
The Lord is Thinking About You Right Now

The Lord is Thinking About You Right Now by James Ryle
“For I know the thoughts that I think toward you.” (Jeremiah 29:11)
Have you ever prayed something like this: “Lord, I know what you must be thinking about me right now,” and then began to tell Him what you were actually thinking about yourself? We all do this. We condemn ourselves for the mistakes we have made and resolve within ourselves that it must be what the Lord thinks of us.
But, this is a wrong thing to do! We have got to stop “putting our words in the Lord’s mouth.” We must come to know the Lord as He is, and not as we assume Him to be. We must let Him put HIS words in our mouths.
Listen to what the Lord says about Himself in the words of Jeremiah, “For I know the thoughts that I think toward you, says the Lord, thoughts of peace, and not of evil, to give you a future and a hope” (Jeremiah 29:11). And in the writings of Isaiah, “For My thoughts are not your thoughts, nor are your ways My ways, says the Lord. For as the heavens are higher than the earth, so are My ways higher than your ways, and My thoughts than your thoughts” (Isaiah 55:8,9).
In other words – God thinks more highly of us than we think of ourselves. And God’s plans for us are greater than the plans we would set for ourselves.
Yet something within us makes us believe that God is always angry with us, always ready to “smite us, yea, and that right early!” We tread softly in His presence and cower when we pray, for we dare not rouse Him from slumber lest He strike us with His rod of righteous judgment — O bless His Holy Name!
Now I ask you honestly, how in the world can you have any kind of a meaningful relationship with someone like that? You CAN’T! And that’s precisely why so few really know the Lord.
Why not right now reintroduce yourself to the Lord. And ask Him to reintroduce Himself to you. Start afresh and live in the delight of knowing that His thoughts of you are of peace, and not of evil. And then you will discover, that your thoughts of Him are of peace — and not evil.
Minggu, 20 Juni 2010
DOA UNTUK ANAK PUNK

Hi guys,
Kalau tidak kenal maka kita tidak sayang, bukan? Pada saat ini saya (Dave Broos) ingin membagikan info mengenai anak-anak punk, mengapa kita perlu berdoa bagi mereka. Saya sebagai salah satu pelayan Tuhan yang dipanggil untuk melayani kaum seperti ini hendak membagikan hal ini hingga doa kita lebih spesifik. Kita tidak sembarangan berlari atau sembarangan memukul tetapi berdoa dengan tepat pada sasaran sebab sudah diperlengkapi dengan informasi.
BEBERAPA waktu lalu, media televisi kita menayangkan mengenai keberadaan punk di Indonesia. Menarik. Cuma, sayang, yang ditampilkan masih sangat terbatas pada fashion dan musiknya. Mungkin karena keterbatasan waktu atau, memang itulah yang paling menarik untuk ditampilkan. Cuma, apa betul kalau punk itu only fashion and
music (hanya tentang cara berpakaia dan musik)?
Dalam kamus bahasa Indonesia, punk diartikan sebagai anak muda yang masih "hijau", tidak berpengalaman, atau tidak berarti. Bahkan diartikan juga sebagai orang yang ceroboh, sembrono, dan ugal-ugalan. Istilah tersebut sebetulnya kurang menggambarkan makna punk secara keseluruhan.
Dalam "Philosophy of Punk", Craig O'Hara (1999) menyebut tiga definisi punk. Pertama, punk sebagai trend remaja dalam fashion dan musik. Kedua, punk sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan. Terakhir, punk sebagai bentuk perlawanan yang "hebat" karena menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri.
Definisi pertama adalah definisi yang paling umum digambarkan oleh media. Tapi justru yang paling tidak akurat karena hanya menggambarkan kesannya saja.
Sebagai sebuah subkultur, punk muncul di Amerika akhir tahun 1960-an atau awal tahun 1970-an dan muncul di Inggris pertengahan tahun 1970-an. Kemunculannya di Inggris diawali dengan berkembangnya berbagai kebudayaan khas kelas pekerja sebelumnya seperti Mods dan Rockers (pertengahan tahun 1960-an), Glamrock dan Glitter (awal tahun 1970- an) sampai akhirnya Punk (pertengahan tahun 1970-an). Punk sebagai
suatu pergerakan baru nampak pada akhir tahun 1970-an.
Kalau di Indonesia punk muncul sebagai sebuah imitasi, di negara leluhurnya, punk merupakan respon terhadap situasi (pengangguran, kondisi sosial) saat itu. Keberadaan mereka nampak menonjol di pusat-pusat pertokoan dan pusat interaksi sosial lainnya. Grup musik pengusungnya berkembang di pub-pub. Di Inggris, mereka biasa berkumpul di sebuah toko di sudut King's Road, London yang dikenal dengan sebutan "World's End". Toko itu bernama SEX yang merupakan wujud perlawanan terhadap standar nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Dan, rasanya kurang klop kalau bicara tentang punk tanpa menyebut The Sex Pistols. Grup punk rock ini tampil cukup mengejutkan. Lagunya, God Save The Queen (lagu kebangsaan yang mereka gubah) dan Anarchy In The UK yang antikeluarga kerajaan dan menginginkan kebebasan sangat berpengaruh terhadap kaum remaja saat itu. Dalam perkembangan selanjutnya, komunitas punk mulai memproduksi newsletter dan fanzine sendiri. "Sniffin Glue" adalah fanzine pertama yang mencapai penjualan tertinggi dan paling terinspirasi dengan filosofi Do-It-Yourself (Hebdige, 1976).
DIY memang memberikan kontribusi yang besar bagi gerakan punk berikutnya dan banyak diadaptasi oleh komunitas punk di seluruh dunia termasuk Indonesia. Anarkisme juga sangat lekat dalam gerakan punk. Band pertama yang serius dengan paham ini adalah Crass.
Menurut mereka anarki melambangkan keinginan individu untuk hidup dan bebas menentukan pilihan tapi tetap menjaga kepercayaan dan toleransi. So guys no one is more qualified than you are to decide what your life will be. Keep punk alive.*** (Jadi saudara-saudaraku tidak ada seorangpun yang lebih berkualifikasi daripada dirimu sendiri untuk memutuskan seperti apa dirimu jadinya. Biarlah punk tetap hidup).
Anak punk juga butuh Yesus bahkan tidak sedikit yang cinta Tuhan tetapi anti gereja karena mereka dimusuhi hanya "gara2 penampilan".
Kita bisa memaklumi orang Jawa menggunakan blankon, kita bisa memaklumi ibu yang menggunakan baju kebaya, menilik gereja di pedalaman Papua orang beribadah menggunakan koteka bukanlah sesuatu yang tabu, dstnya..dstnya. Lebih jauh lagi kita juga mempelajari latar belakang budaya suatu suku dan coba menyampaikan berita Injil dalam cara komunikasi yang paling mudah untuk diterima oleh “suatu suku tersebut” hingga kita melihat berdirinya gereja-gereja berciri kesukuan atau pada masa kini gereja yang terbuka pada berbagai suku, ras dan golongan. Tetapi ketika kaum subkultur (punk, gothic, skaters, bikers,dll) hendak masuk gereja, banyak yang mengalami penolakan.
Kerinduan kami anak-anak subkultur dapat diterima sebagai anak Tuhan sebagaimana adanya oleh anak-anak Tuhan lainnya dan hal yang kedua kerinduan kami melihat sebuah komunitas yang dapat mengakomodasi mereka beribadah tanpa suatu penghakiman.
Saya mendorong rekan-rekan seiman untuk mulai berdoa syafaat untuk mereka juga.
Ps. Dave Broos
http://shaddowcross.blogspot.com
Sabtu, 19 Juni 2010
SEBUAH SURAT DARI KAUM TERBUANG

Dear Saudara-saudariku seiman,
Hai ini Dave Broos, kami sekeluarga baru pindah ke kota Kembang, Bandung. Hati kami
sekeluarga mendapatkan panggilan untuk melayani kaum subkultur/underground, yang selama ini mungkin belum tersentuh oleh gereja pada umumnya. Bagi anda yang belum mengerti orang jenis apa yang hendak secara spesifik kami layani diantaranya adalah kaum punk, gothic, skaters, bikers, anak-anak geng, orang-orang jalanan, dll. Setelah 19 tahun kami melayani di gereja mainstream, kami merasakan panggilan Tuhan bagi kaum yang selama ini terpinggirkan.
Dan sangat sulit untuk membawa mereka ke gereja pada umumnya, saat saya berdoa bagi mereka, saya merasakan bahwa kini saatnya bukan membawa mereka ke gereja tetapi membawa gereja kepada mereka. Ada banyak orang yang merindukan Kristus namun mereka enggan pergi ke gereja pada umumnya sebab merasa berdosa, tidak layak, terasing dan dicurigai karena penampilan mereka yang berbeda.
Saya teringat sebuah pengalaman di tahun 1992 ketika saya melayani di sebuah gereja sebagai seorang full-timer dan seorang pelacur pelabuhan masuk. Pandangan sinis dengan penuh kecurigaan terbersit dari tatapan para jemaat dan bahkan para pelayan Tuhan, tidak ada orang yang mau menyapa atau duduk bersebelahan dengannya. Ketika
saya berbicara pada para rekan full-timer yang wanita untuk menemani dan membimbing pelacur itu, mereka pun enggan mendekati dan takut apa nanti kata jemaat lainnya. Hingga akhirnya saya mendatangi dan menyapa pelacur itu, duduk di sebelahnya dan menyambut kedatangannya. Sesaat tampak kekakuan dan tembok pertahanannya
mencair ketika ada seorang yang datang dan menyambutnya dalam kasih Kristus yang tulus. Bukankah Kristus pun disebut sahabat orang berdosa? (Matius 11:14)
Di dalam pelayanan saya beberapa tahun ini , saya melihat bagaimana pemabuk, narapidana, pelacur jalanan, wanita panggilan kelas atas, dll datang pada Kristus ketika kita membuka diri, menerima mereka apa adanya di dalam kasih Kristus, tanpa menghakimi mereka dan pada waktu Tuhan, mereka datang pada Tuhan dalam pertobatan tanpa manipulasi atau intimidasi emosi, sebuah pertobatan sejati yang membuat sebuah hidup diubahkan.
Saat ini kami melangkah dengan iman memasuki pelayanan yang baru, banyak orang yang mempertanyakan buat apa kami melayani orang-orang yang aneh itu. Ini sebagian contoh dari komentar beberapa rekan tercinta : "Mereka hanya akan menjadi sumber masalah dan beban bagi kalian sekeluarga". "Ada lagi yang mengatakan apa timbal baliknya? Mereka tidak akan dapat menghidupi keluargamu malah nanti menyulitkan kamu." "Jangan sok jadi pahlawan!" "Kamu terlalu idealis, nanti susah sendiri hidupmu." "Pelayananmu itu tidak popular, tidak akan ada orang yang mau mendukungmu, kecuali yang sama anehnya dengan dirimu." "You are alone, man." Apapun yang dikatakan mereka, saya tahu bahwa semuanya diucapkan karena mereka mengasihi kami sekeluarga, namun itu tidak akan menghentikan kami untuk melakukan apa yang Tuhan taruhkan di dalam hati ini.
Ada pun tujuan saya menuliskan surat ini adalah untuk share dengan saudara-saudaraku seiman, pertama-tama mungkin bila ada teman-teman yang sudah terjun dalam pelayanan subkultur dapat berbagi cerita/pengalaman pelayanan sebab selama ini saya hanya memiliki teman-teman dari luar negeri yang memang sudah terjun dalam pelayanan jenis ini, yang tentunya secara kultural sedikit berbeda dengan subkultur di Indonesia.
Selain itu hal yang kedua kami juga tengah mempersiapkan sebuah program "street ministry" sebagai contoh dimana kami merencanakan hendak membagi-bagikan pakaian bekas yang masih layak pakai, makanan & minuman yang sehat bagi para gelandangan dan pengobatan gratis secara periodik, sebagai sarana untuk menjembatani "friendship
evangelism". Jadi kami akan sangat senang bila saat ini dapat memiliki teman-teman yang mungkin terbeban mendukungnya. Dan bila ada ide-ide lainnya kami akan sangat senang mendengarkannya.
Hal yang ketiga, saya juga akan senang sekali bila ada rekan-rekan musisi Kristen (dalam jenis musik underground, hiphop, rock,punk,dll) atau artis Kristen (DJ, dancer, pemain drama dll) yang punya hati untuk menjangkau anak-anak subkultur. Saya sangat ingin berkenalan dengan anda atau mungkin ada saudara atau teman, saya akan sangat bersyukur bila dapat berkenalan.
Hal yang keempat, di dalam memulai pelayanan ini saya tidak memiliki sponsor dari gereja ataupun organisasi apa pun, maka kami memutuskan untuk mencoba sebuah self support ministry atau menjadi "tentmaker" seperti Paulus, bekerja membuat tenda untuk mencukupi pelayanannya sendiri (Kis 18:3). Kami ingin bergerak di dalam penjualan pakaian atau clothing, bagi saudara-saudara seiman yang memiliki usaha sejenis itu (distro umpamanya), saya sedang memikirkan bila kita dapat menjadi rekanan. Atau bila ada saudara-saudara seiman lain yang memiliki masukan-masukan, kami sangat terbuka untuk mendengarkannya. 19 tahun terakhir ini saya full time di dunia pelayanan, jadi tentunya saya juga harus banyak belajar dari anda yang mungkin punya pengalaman lebih banyak di dunia entrepreneurship.
Ok, sampai di sini dulu isi surat saya, hambaNya bagi kaum yang
terbuang. God bless you.
Dave Broos
081330135643
davebroos@yahoo.co.uk
http://shaddowcross.blogspot.com
Surat dari Dunia Jalanan

Dear Friends and family in Christ,
Thank's untuk semua saudara seiman yang sudah memberikan respon pada apa yang sedang kami lakukan saat ini. Kami sangat membutuhkan saudara-saudara seiman sebagai pendoa dan sahabat bagi kami. Melakukan perintisan pelayanan atau gereja bagi para anak subkultur bukanlah hal yang mudah oleh sebab itu kami perlu anda sebagai pendukung kami di dalam doa dan juga teman untuk saling berbagi di dalam suka
maupun duka.
Sebuah kisah apa yang terjadi di jalanan hendak saya coba untuk bagikan ; Seorang anak jalanan yang sudah hampir dua puluh tahun hidup di jalan menuturkan pengalamannya pergi dari rumah. Katanya waktu kecil ia banyak ngeluyur dibanding sekolah, lebih banyak bermain dari pada belajar. Akibatnya, teman-temannya sudah naik ke kelas tiga ia masih saja duduk dibangku kelas satu. Buat sebagian anak pergi ke sekolah tidaklah selalu berarti pengalaman yang menyenangkan. Seorang anak lain N bila mengingat sekolah maka yang muncul adalah gurunya yang galak dan tubuhnya yang menjadi sasaran sabetan. Katanya:
Waktu saya sekolah saya digebugin karena di sekolah saya goblog. Di bawa ke kantor karena.sering nonton TV lalu disuruh membaca di papan tulis tidak bisa. Di sabet badanku. Pak guru saya galak. Lalu saya keluar kelas tiga.
Keadaan murid-murid bermasalah seperti itu biasanya dilaporkan oleh guru kepada orang tua murid. Laporan itu bisa menjadi penyulut kemarahan orang tua. Seperti yang dituturkan H:
Pak guru saya sering datang menemui orang tua saya menceritakan keadaan saya. Saya dimarahi bapak tidak hanya dengan suara tetapi juga digebugi pakai sapu lidi sampai merah kaki saya.
Berbagai penyuluhan, berita TV dan radio secara bertubi-tubi telah mengajar para orang tua memlaui pembatinan bahwa anak yang baik adalah anak sekolahan. Karena itu wajar saja bila guru tidak mampu lagi mendidik anaknya, maka orang tualah yang akan meng(H)ajar anaknya. Hasilnya seperti H dan N lari meninggalkan rumah.
Ketika pertama kali hadir di jalan, seorang anak menjadi anonim. Ia tidak mengenal dan dikenal oleh siapapun. Selain itu juga ada perasan kuatir bila orang lain mengetahui siapa dirinya. Tidaklah mengherankan bila strategi yang kemudian digunakan adalah dengan
mengganti nama. Hampir semua anak yang saya kenal mengganti nama.
Hal ini dilakukan untuk menjaga jarak dengan masa lalunya sekaligus masuk dalam masa kekiniannya.
Anak-anak mulai memasuki dunia jalanan dengan nama barunya. Anak- anak yang berasal dari daerah pedesaan menggganti dengan nama-nama yang dianggap sebagai nama "modern" yang diambil dari bintang sinotren atau yang yang biasa didengarnya misalnya dengan nama Andi, Roy dan semacamnya. Seorang anak yang bernama Mohammad kemudian mengganti namanya menjadi Roni. Alasan yang diberikan karena
Mohammad adalah nama nabi. Nama itu tidak cocok dengan kehidupan di jalan. Karena yang dilakukan di jalan banyak tindakan haram.
Proses penggantian sebutan itu dengan sendirinya menunjukkan bahwa ia bukan sekedar pergantian panggilan saja tetapi juga sebagai sarana menanggalkan masa lalunya. Artinya ia dalah bagian dari proses untuk memasuki satu dunia (tafsir) baru. Sebuah kehidupan
yang merupakan konstruksi dari pengalaman sehari-hari di jalan.
Kami mendedikasikan diri untuk menjangkau orang yang terbuang dan anak-anak malam hingga merekapun dapat tinggal " dibawah bayang- bayang salib"(The shadow of the cross) alias mengenal Kristus.
Bagi mereka yang telah menjadi bagian dari kaum subkultur selama bertahun tahun lamanya dan lalu telah keluar dari sana menjadi seorang Kristen….menjadi seorang Kristen namun tetap berada dalam budaya subkultur nampak mustahil untuk dilakukan tanpa bersinggungan dengan otoritas dan ikatan kegelapan yang ada dalam "Lembah
Kekelaman". Ada begitu BANYAK hal yang mengikat kaum subkultur yang HARUS dipatahkan dengan mulai melayani Kristus. Kehidupan kita harus selaras dengan Firman Tuhan, atau kita akan hidup terus menerus di dalam ikatan itu sendiri, bagi seorang Kristen apa yang tidak mempermuliakan Tuhan, itu berasal dari kedagingan.
Ada beberapa contoh hal atau ajaran yang mempengaruhi pola pikir dan tindak tanduk orang kebanyakan tanpa mereka sadari dari berbagai media yang tersedia yang sehari-hari mereka lihat, dengar dan baca seperti :
New Age, Neo-paganism (penyembahan berhala modern), Vampirism, Druidism ( agama kuno di daratan Eropa sebelum kekristenan masuk), Necromancy (ramalan), Hawa Nafsu, Homoseksual, Seks yang tak wajar (sekalipun dalam pernikahan), Seks (di luar pernikahan), Pembunuhan, Mengejek, Bunuh diri, Narkoba, Mabuk-mabukan, Melukai diri sendiri, Wicca (sebuah bidat penyembah berhala), Paganism, Witchcraft (ilmu
sihir), kemarahan, kebencian, anarkisme, aborsi dll. Hal ini semua bertentangan dengan kehendak Tuhan. SEMUA INI HARUS DISERAHKAN DAN DIPATAHKAN DENGAN MELAYANI (MENGHAMBAKAN DIRI) PADA TUHAN DENGAN
SEGENAP HATI KITA. Seorang yang sungguh-sungguh merupakan pengikut Tuhan tidak melakukan semua hal itu.
Seringkali kami mengekspresikan diri persekutuan kami dalam bentuk jemaat mula-mula, sebuah warisan yang sangat memperkaya iman kami.
Dari seni sampai pada musik, dari penyembahan sampai pada doa, kami memiliki sejarah yang memberikan sebuah inspirasi bagi generasi yang baru untuk datang padaNya secara apa adanya dan be simple. Kami lebih menekankan pada hubungan kekeluargaan, pemuridan dan "be the church", dalam praktik gereja yang kami rintis di dalam Tuhan.
Kami sangat antusias membina hubungan dengan semua saudara seiman yang "care" (peduli) dengan menyelesaikan tugas Amanat Agung, terimakasih atas dukungannya, support melalui kata-kata motivasi dan share suka duka pelayanan di jalanan atau pun perihal keprihatinan kondisi gereja saat ini. Kami sadar kami tidak dapat berbuat apa-apa tanpa dukungan dari seluruh rekan saudara seiman di blog ini. God bless you, all.
Ps. Dave Broos
davebroos@yahoo.co.uk
081330135643
http://shaddowcross.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)