Tampilkan postingan dengan label newsletter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label newsletter. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Mei 2013

EAGLES NEST MINISTRIES



 
EAGLES NEST MINISTRIES
Jawaban bagi Indonesia
Indonesia dikenal sebagai sebuah negara kepulauan yang memiliki keragaman suku, budaya dan bahasa daerah. Mayoritas penduduk Indonesia merupakan orang non Kristen dan merupakan negara Muslim terbesar di dunia. Masih ada sekitar 129 suku dari 23 rumpun suku di Indonesia yang sama sekali belum pernah mendengar berita Injil. Gereja Tuhan di Indonesia mungkin telah berupaya memberitakan Injil dalam masyarakatnya namun hasilnya belum optimal. Begitu banyak orang yang menolak berita sukacita tersebut karena menganggap berita tersebut sebagai “kepercayaan asing”. Sebab dibagikan dalam kemasan yang kebarat-baratan, yang mungkin tidak cocok dengan budaya setempat dari masyarakat yang hendak dijangkau. Ada banyak suku yang siap dan terbuka seandainya kita memberitakan berita keselamatan itu dengan menyajikannya sesuai kebiasaan, adat istiadat serta budaya mereka.
Eagles Nest Ministries berdiri 1 Juli 2007 di kota Bandung, salah satunya untuk menjawab tantangan ini. Pelayanan ini dirintis oleh suami istri Dave Broos dan Novie Durant yang merindukan umat Tuhan meresponi Amanat Agung Tuhan (Mat 28:19-20, Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman) untuk menjadi murid dan menjadikan segala bangsa murid Tuhan hingga kerajaan Tuhan diperluas, suatu umat yang bukan “sekedar beragama Kristen” tetapi mengetahui panggilan Tuhan atas hidupnya dan membawa dampak bagi komunitasnya. Dave Broos merupakan hamba Tuhan yang ditahbiskan oleh United Christian Faith Ministries dari Amerika Serikat, ditunjuk sebagai regional director dari Shadow of the Cross di Indonesia (sebuah pelayanan bagi sub kultur di perkotaan), pendoa syafaat Global Prayer Network – Johan Maasbach Wereld Zending dan utusan Injil dari Gereja Oikos Indonesia jemaat Surabaya.
Visi Eagles Nest Ministries adalah “MEMBERITAKAN KABAR BAIK, MEMURIDKAN & MENGUTUS SETIAP ANAK TUHAN UNTUK “MENJADI” GEREJA DIMANA PUN MEREKA BERADA”. Kerinduan kami adalah bekerja bersama dan memperlengkapi semua denominasi gereja, persekutuan, pelayanan Kristen lainnya dalam menyelesaikan amanat agung. Pelayanan ini berjejaring dengan pergerakan pemuridan dan penanaman gereja dunia Zoe Ministries, LK10 dan Outreach Fellowship International.
Missi kami adalah:
  • MEMPERKENALKAN PENGHARAPAN & KASIH BAPA SURGAWI PADA DUNIA TERHILANG
  • MEMULIHKAN & MEMURIDKAN MEREKA YANG BERKOMITMEN UNTUK BERTUMBUH DALAM KRISTUS
  • MELATIH DAN MENGUTUS MURID KRISTUS SEBAGAI AGEN PERUBAHAN KE SELURUH DUNIA
  • MELIHAT TERANG TUHAN BERSINAR DIMANA-MANA MENERANGI DUNIA SAMPAI TUHAN DATANG KEMBALI

Kami menyadari bahwa kami tidak bisa bekerja sendiri tetapi diperlukan kebersamaan dan kesadaran bersama akan kehendak Tuhan. Diperlukan sebuah kesehatian dan kesatuan (meski kita berbeda organisasi tapi satu dalam Tuhan Yesus) agar kita dapat berfungsi sebagai tubuh Kristus yang menjadi berkat dan dampak bagi mereka yang belum mengenal Tuhan.
Bagaimana Anda dapat menjadi rekan kami?
Keberhasilan pelayanan ini berarti juga keberhasilan umat Tuhan di Indonesia. Roma 10:13-15,”Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia jika tidak ada yang memberitakanNya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis:”Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Kami mengajak Anda untuk dapat terlibat bersama dalam menjangkau jiwa terhilang melalui 3D
DIRI
Bagi mereka yang mau terlibat dalam mewartakan Injil, pemuridan, penanaman dan pengembangan gereja. Kami memberi diri untuk memperlengkapi baik seorang pribadi maupun gereja atau persekutuan yang hendak bermultiplikasi atau menanggapi amanat agung. Bukan jumlah orang tetapi kesediaan menanggapi panggilan Tuhan adalah tujuan kami. Kami memiliki bahan-bahan pemuridan yang dapat digunakan baik untuk pribadi, persekutuan maupun gereja yang hendak bertumbuh.
DOA
Anda dapat berdoa syafaat keluarga kami dalam memenuhi panggilan Tuhan dalam kehidupan kami. Kami juga menyediakan blog yang berisi berita dan pokok doa bagi suku-suku terabaikan baik di Indonesia maupun mancanegara.
DANA
Bagi mereka yang mau mendukung kami agar kami bisa pergi memperlengkapi umat Tuhan maupun gereja Tuhan di daerah terpencil atau tak mampu hingga kami dapat memperlengkapi dan mengutus lebih banyak lagi anak Tuhan dalam pemuridan dan perintisan gereja. Bagi yang terbeban dapat menghubungi kami lebih lanjut.
Saya percaya Anda dapat menanggapi salah satu atau bahkan ketiga hal tersebut sebagai anggota tubuh Kristus yang telah mengalami kasih karunia dan anugerah keselamatan. Anda dapat merenungkan dan mendoakan ke tiga hal tersebut demi menjangkau mereka yang berseru,”Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami.” (Kis 16:9). Dapatkah Anda mendengar seruan mereka yang terhilang? Tuhan menunggu partisipasi dan pengabdian Anda kepadaNya.
Salam dan doa,
Dave Broos
Kontak kami dapat melalui inbox Facebook atau direct message Twitter, email: davebroos@yahoo.co.uk , telpon 022-92050322 atau SMS 087832744286.

Rabu, 24 April 2013

Memiliki Hati Yang penuh belaskasihan

MEMILIKI HATI YANG PENUH BELASKASIHAN

 Saat kita berjalan dan melihat orang berpakaian kumal dan bau badan yang menyengat menghampiri kita apa yang timbul dalam hati kita? Ada yang merasa jijik, ada yang melihat sebagai pemalas, ada yang masa bodoh saja, ada pula yang segera mengambil uang recehan dan memberi, ada yang berbelas kasihan dan lalu memikirkan dan bertindak bagi mereka yang kurang beruntung, dan masih banyak lagi tindakan lainnya. Saya tidak tahu dengan Anda, namun setiap kali saya melihat orang-orang yang kurang beruntung ini timbul pertanyaan dalam benak saya sebagai anak Tuhan bagaimana saya bisa membantu mereka. Saya bayangkan bila seandainya saya yang ada di posisi mereka dan tak berdaya apa yang saya harapkan orang lain lakukan pada saya. Pernahkah Anda membayangkan bilamana Anda yang mengalami hal tersebut terjadi pada diri Anda?
Saat saya berbagi dengan beberapa rekan tentang melayani orang-orang ini, ada saja yang sinis dan dengan angkuhnya menyatakan sebab orang-orang ini tidak mau terima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, atau mereka masih hidup dalam dosa sebab orang miskin hidup di bawah kutuk sedang orang kaya itu hidup di bawah berkat, atau karena mereka malas bekerja dan masih banyak lagi jawaban yang tidak memberikan solusi selain penghakiman dan pembenaran diri sendiri untuk tidak bersentuhan dengan kaum miskin.
Benarkah Tuhan Yesus hanya menyembuhkan orang yang mau mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat? Bila kita membaca Alkitab kita akan menemukan bagaimana Tuhan Yesus bahkan menyembuhkan orang-orang yang belum percaya padaNya atau mengakui keilahianNYA. Karena Tuhan Yesus berbelaskasihan terhadap mereka. Sadarkah saudara bahwa Tuhan Yesus mati di atas kayu salib untuk menebus saudara karena belaskasihNya.Bukan karena saudara sudah hidup benar tetapi Ia mati menebus kita karena DIA tidak ada jalan lain, agar kita dapat kemerdekaan dari dosa. IA harus mati menebus kita dari segala ikatan dosa. Ada belas kasihan yang leimpah dalam DNA Kristus….bila kita mengaku anakNYA…bukankah DNA itu ada pada kita….mengapa kita kurang berbelaskasihan terhadap sesama kita?
Benarkah orang Kristen harus kaya dan yang miskin hidup kurang iman atau tinggal dalam dosa? Bagaimana dengan Tuhan Yesus dan teladan para murid? Apakah mereka menimbun kekayaan atau menyebarkannya untuk menolong sesama? Coba baca kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Orang dapat menjadi kaya karena karunia Tuhan, apakah hanya untuk dinikmati sendiri sampai tujuh turunan? Atau Tuhan ingin Anda menggunakan kekayaan itu untuk mensejahterakan kota atau desa dimana Anda tinggal? Tuhan melimpahi kita dengan kekayaan agar kita tamak dan egois atau untuk memberkati sesama..menolong sesama?
Bagaimana dengan orang Kristen yang pemalas, itu merupakan masalah mindset dan itu bisa kita ubah. Paulus menyatakan jangan beri makan pemalas yang hanya menggantungkan hidupnya dari belaskasihan orang lain. Bila kita mengasihi saudara kita, maka kita juga tolong dia untuk merubah mindsetnya (pola pikirnya). Sering saya dengar rekan-rekan yang mengkhotbahkan jangan hanya beri ikan pada orang miskin tapi kailnya. Saya rasa pengajaran itu atau ilustrasi itu kurang lengkap. Sebab meski diberi kail tapi bila tidak diajarkan bagaimana mengail maka ia akan jual kailnya. Apa yang seharusnya dilakukan adalah berikan ikan pada orang itu agar dia tidak lapar, lalu ajarkan cara mengail, beritahu trik mengail dan dimana mengailnya, kesulitan apa yang mungkin akan kelak dihadapi, pertemukan dia dengan para ahli mengail hingga dia bertambah wawasan dan bersemangat setelah bertemu para pengail handal, lalu beri kailnya dan jadilah mentor/pendamping bagi dia hingga ia bisa mandiri sebagai “pengail”. Dia akhirnya bisa menjadi teladan bagi yang lain.
Beberapa saudara bertanya bagaimana sebagai langkah awalnya? Saya membagikan ini semua dengan gratis, tidak ada “copyright” dalam pelayanan saya. Harapan saya copy it right dan teach it right. Layanilah sesama kita yang kurang beruntung dengan belaskasihan, perlakukan mereka sebagai sesama manusia, tolong jangan ada lagi yang menggunakan orang miskin sebagai sarana mengumpulkan dana untuk keperluan pribadi atau nama besar pelayanan/organisasi/yayasan/gerejanya. Lakukanlah dengan hati yang tulus karena Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengasihi kita maka sekarang kita mengasihi sesama kita.
Hal yang pertama, berdoalah pada Tuhan untuk dapat mengerti isi hati Tuhan (Matius 25:31-46). Mengerti panggilan kita sebagai anak Tuhan dan apa yang perlu kita lakukan terhadap sesama kita. Apa konsekwensinya menurut firman Tuhan itu bila kita tidak perduli?
Hal yang kedua, milikilah belaskasih Tuhan dalam hatimu. Coba bayangkan bila itu diri anda sendiri atau kerabat dekat anda atau orangtua anda yang alami. Apa yang akan anda lakukan atau apa yang anda harapkan dilakukan orang tersebut pada anda?
Hal yang ketiga, lihatlah sesama kita sebagai jiwa-jiwa yang berharga milik Tuhan, mereka belum tahu jawaban permasalahan hidup mereka dan anda yang memiliki jawaban tersebut. Selama ini mereka sudah banyak dilukai, dimanfaatkan, dan ditipu…..kini saatnya anda datang sebagai terang, garam, surat Kristus yang terbuka….teladan Kristus di muka bumi. Menjadi tangan Kristus…Kaki Kristus…telinga Kristus…tubuh Kristus yang memberkati tempat dimana mereka tinggal. Tuhan Yesus meninggalkan sorga untuk turun ke dunia yang kotor dan penuh dosa karena kasihNya yang besar.
Hal yang keempat, berdoa untuk rekan-rekan sekerja yang sehati dan sepikir. Sebab kita manusia yang terbatas dan membutuhkan rekan sekerja lainnya. Berdoa secara korporat/bersama mencari kehendak Tuhan, strategi pelayanan dan dimana harus memulainya.
Hari ini saya bagikan empat hal sederhana ini bagi saudara-saudaraku untuk renungkan bersama. Saya berdoa lebih banyak lagi orang terlibat dalam pelayanan bagi kaum terbuang dalam generasi kita ini. Doa saya belaskasih Tuhan turun atas semua anak Tuhan dan menggunakan segala daya upaya untuk menjadi alat Tuhan bagi desanya…kotanya..bangsanya….bangsa-bangsa di dunia…..
Dunia tidak butuh sekedar janji-janji manis…..mereka butuh bukti..teladan Kristus yang nyata melalui tubuhNya yang ada di dunia……GEREJA TUHAN…..Let’s get it on, Church!!!!!!!

Salam dari hambaNYA

Dave Broos
Gembala kaum terbuang
Anda dapat menghubungi saya melalui inbox FB, email atau YM davebroos@yahoo.co.uk, SMS 081330135643 dan BBM (pin 31306302)

Kamis, 08 Maret 2012

Remembering the Forgotten


Remembering the Forgotten

Gospel for Asia
For Immediate Release

A Women's Fellowship team celebrates International Day of Persons with Disabilities by giving to those in need.

SOUTH ASIA (ANS) -- Disgraced. Disregarded. And sometimes considered cursed by the gods-this is the life of South Asia's disabled people.

According to statistics from The World Bank, India alone has between 40 to 80 million people living with disabilities, and at least one in 12 households has a member with a disability.

When the International Day of Persons with Disabilities rolled around on December 3, 2011, a Gospel for Asia-supported Women's Fellowship team saw it as a perfect opportunity to share God's love with some of South Asia's most forgotten and marginalized people.

Gifts Show God's Love to the Disabled

With the guidance and support of their state leader, the women organized an event to recognize six disabled men and women in their community. Five received blankets, and one of the men received a pair of crutches to replace his pair that had worn out.

A GFA field correspondent said the men and women were extremely delighted and thankful for the gifts they received.

"We never thought someone would come and care for us," one of the recipients said.

Recipients Grateful to Women's Fellowship

With the social stigma cast aside, these men and women experienced a tangible expression of God's unconditional love through the sisters from GFA's Women Fellowship.

Women's Fellowship teams are often considered the backbone of the church and take different initiatives to strengthen the ministry in their area. Every GFA-supported church has a Women's Fellowship, where the women of the church can grow in the Lord and live out their faith by taking part in special outreach activities that bring the hope and love of Christ to those in desperate circumstances-just like they did for these men and women.

Minggu, 12 Februari 2012

KNOW YOUR DESTINY IN THE BODY (MENGETAHUI TUJUAN HIDUP DAN BERFUNGSI DALAM TUBUH KRISTUS)


Shalom,
Kerinduan kami melihat lebih banyak anak Tuhan mengetahui tujuan hidupnya. Kita diselamatkan Tuhan dengan suatu tujuan, bukan hanya sekedar setelah jadi percaya lalu “pasti masuk surga” dan lalu bisa “melanjutkan hidup” seperti sedia kala. Tuhan seolah dijadikan “agen asuransi”..jaminan masuk surga setelah kematian. Banyak anak Tuhan yang tidak mengerti bahwa menjadi seorang Kristen, tidak cukup hanya sekedar rajin mengikuti ibadah setiap hari Minggu, memberikan perpuluhan setiap kali gajian atau mendapat hasil dari proyek. Pergi ke gereja agar menyenangkan hati Tuhan dan hidup jadi lancar baik dalam hal mendapatkan jodoh, rumahtangga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, kekayaan dan lain-lain menjadi alasan banyak orang Kristen mengikuti ibadah Minggu. Kekristenan tidak sampai di situ, akan sangat membosankan bila itu merupakan kehidupan kekristenan.
Setiap anak Tuhan memiliki peran dalam tubuh Kristus maupun Kerajaan Tuhan, tidak ada namanya istilah “jemaat biasa”. Seringkali kita mendengar anggota jemaat yang berkata,”Ah, saya hanya jemaat biasa dan tidak bisa apa-apa.” Mendengar kata “melayani Tuhan”, banyak orang berkonotasi bahwa kita “harus” bisa berkhotbah, memimpin acara ibadah (worship leader), menjadi musisi gereja, bagian multimedia, pelayanan Sekolah Minggu (anak) ……paling-paling bisa kalau menjadi usher untuk menerima tamu, mengedarkan kantong kolekte…..tapi sudah banyak yang menjadi usher…jadi sulit untuk bersaing menjadi usher…..kalau menjadi cleaning service….jarang ada yang merasa terpanggil untuk melakukan hal itu. Bagi sementara orang melakukan pekerjaan cleaning service (membersihkan gedung ibadah) merupakan pekerjaan yang merendahkan. Jarang orang bisa melihat bahwa “membersihkan gedung ibadah” merupakan elemen penting, bayangkan bila kita mau beribadah tetapi tempat ibadahnya jorok, penuh sampah dan lalat..siapa yang mau beribadah di situ?
Saya ingin menekankan bahwa pekerjaan Tuhan tidak hanya sampai di situ, itu hanya bagian yang sangat kecil saja. Dalam kitab Roma 12:4-8, Rasul Paulus mengajarkan,”Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukan sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasehati (terjemahan NIV encouraging), baiklah kita menasihati, siapa yang membagi-bagikan sesuatu (terjemahan NIV contributing to the needs of others), hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin(terjemahan NIV govern diligently); siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.”
Begitu pula pada surat penggembalaan rasul Paulus bagi jemaat di Korintus kembali ia mengingatkan akan hal tersebut. 1 Korintus 12:4-11,”Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya.”
Setiap anak Tuhan harus tahu tujuan hidupnya (destiny) sebab Tuhan telah menetapkan kita sebelum dunia dijadikan untuk “berfungsi” sesuai karuniaNYA dalam tubuh kristus dan pelebaran Kerajaan Tuhan. Jadi hapuskan dalam kamus Anda…”Saya hanya jemaat biasa saja”….sebab Anda luarbiasa dan Tuhan pilih untuk mengambil bagian dalam tubuhNya untuk berfungsi. Tuhan memanggil kita untuk menjadi rekan sekerjaNya. Tuhan percaya bahwa Anda dapat melakukan tugas yang telah Ia tetapkan melalui kuasa daripada Roh Kudus. Roh Kudus yang akan membawa Anda makin serupa dengan Kristus, makin mengerti tujuan hidup Anda di muka bumi, makin sadar bahwa kita dipanggil untuk terus bertumbuh sebagai murid dan anak Tuhan, Roh Kudus yang akan menjadi Penghibur kala ada banyak tantangan dalam kehidupan kita, Roh Kudus akan memberikan kemampuan bagi kita untuk hidup dalam kekudusan dan melakukan Firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. BERHENTI…. Menjadi orang Kristen cek list…..apa maksudnya? Ada banyak anak Tuhan yang merasa sudah menjadi Kristen yang baik dan taat dengan pergi setiap Minggu ke gereja, membayar perpuluhan, membantu pelayanan dan memberikan dana lebih untuk misi atau kemanusiaan, setiap hari baca Alkitab dan berdoa (semua hal ini baik, jangan salah mengerti saya)…TETAPI….itu belum menunjukkan bahwa Anda seorang Kristen. Itu hanya menunjukkan agama apa yang Anda anut. Orang Kristen mula-mula tidak memiliki gedung ibadah seperti kita dewasa ini..mereka bertemu dari rumah ke rumah, di katakombe (kuburan), hutan, gunung, taman, pasar dengan kata lain ibadah mereka bisa dilakukan dimana saja, tidak dibatasi oleh sebuah tempat….mereka juga tidak beribadah dengan sebuah liturgi yang kaku dan mengikat……yang membedakan mereka dan membuat takjub dunia saat itu adalah “pribadi Kristus” yang tampak jelas dalam kehidupan mereka. Hingga mereka disebut Kristen (pengikut Kristus) adalah akibat gaya hidup mereka yang mengikuti teladan hidup Kristus. Esensi kekristenan bagi mereka adalah “mengasihi Tuhan dan sesama”sebagaimana tertera dalam Matius 22:37-40,”Jawab Yesus kepadanya:”Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segala akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, Ialah Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Beberapa tahun lalu timbul suatu kegelisahan dalam hati saya, saat bertanggungjawab dalam departemen missi, saya memiliki tanggungjawab dalam memenangkan jiwa baru dan pertambahan dalam kehadiran jemaat merupakan “bukti” kinerja kami. Bila tidak saya akan mendapat evaluasi dan teguran dari Pendeta Gembala Sidang. Puji Tuhan, ada banyak jiwa baru ditambahkan…..ada banyak orang dari “agama lain” bertobat begitu pula orang yang hidup dalam dosa berbalik dan ingin mengenal Tuhan…..namun saya menghadapi situasi yang dilematis. Atasan saya memanggil saya sebab jiwa-jiwa yang datang tidak sesuai dengan visi gereja, organisasi gereja yang kami layani menargetkan untuk memenangkan kaum menengah ke atas sedang jiwa-jiwa yang kami dari tim missi “bawa masuk” mayoritas adalah kalangan bawah. Atasan saya kala itu menyatakan bahwa kami harus memenangkan kalangan menengah atas dulu, setelah gereja lebih mapan lagi baru fokus pada kalangan bawah hingga “gereja” sanggup membantu. It’s a good ide, but is it God’s idea (ide yang bagus tetapi apakah itu ide/pemikiran Tuhan)? Itulah yang terbersit dalam benak saya. Apa barometer gereja itu sudah mapan dan baru bisa mulai membantu kaum marginal atau miskin? Bagaimana lalu dengan jiwa-jiwa yang baru percaya “tetapi” miskin (mereka hanya PRT, buruh, tukang bangunan, tukang ojek dll) atau kaum marginal/subkultur seperti anak punk, bikers, skaters, gay/lesbian, anak jalanan, mantan napi dstnya? Saat itu saya sedih, apakah kekristenan “masa kini” identik dengan orang kaya dan mapan saja dan biarkan orang miskin dan berdosa terhilang selamanya?
Beberapa tahun kemudian, Tuhan mempercayakan saya untuk merintis dan menggembalakan suatu sidang dan puji Tuhan, kami berhasil menanam gereja bagi kaum terbuang ini, memperlengkapi mereka sebagai murid Kristus dan bahkan mengutus mereka sebagai utusan Injil keberbagai daerah. Namun saat jumlah kita sudah mencapai 300 orang lebih…..”spirit kemapanan” itu kembali muncul hingga saya pun kembali berhadapan “kini” dengan staf saya sendiri. Ketika saya hendak terus menjalankan missi untuk menggenapkan Amanat Agung dalam Matius 28:18-20,”Yesus mendekati mereka dan berkata:”KepadaKU telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah jadikanlah semua bangsa muridKU dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Bagi sementara orang memiliki gedung ibadah yang “wah” seolah harga mati yang harus dicapai, jumlah anggota jemaat gereja dan uang hasil persembahan yang banyak sebagai sebuah prestise keberhasilan, kepemilikan sekolah Alktab/teologia sendiri, stasion radio sendiri bahkan sekolah bertaraf international “sendiri” jadi tolok ukur “penyertaan Tuhan (hal-hal ini tidaklah dosa asalkan jangan sampai menjadi “idol”/berhala). Saat saya menggembalakan kerinduan hati saya adalah melihat setiap jemaat dapat menangkap isi hati Tuhan, mengerti tujuan hidupnya, menjadi murid Kristus dan “merintis gereja” di tempat lain atau di tempat kerjanya, di sekolah, di kampus, atau bahkan sebagai utusan Injil bagi suku terabaikan……sebab itulah Amanat terakhir Tuhan Yesus……sayangnya ada banyak yang “tidak rela” jemaat yang ia gembalakan untuk meresponi Amanat Agung…..
Setahun setelah saya mengundurkan diri dari gereja “tercinta”, Tuhan mulai memanggil saya untuk fokus melayani “kaum subkultur” hingga akhirnya saya bertemu dengan Morria Nickles yang pada saat itu seorang mahasiswi jurusan informatika ( ia kini dan suaminya Rob menjadi utusan missi untuk salah satu suku Indian) yang membentuk pelayanan bagi kaum subkultur di Amerika Serikat bernama The Calice (yang lalu berganti nama menjadi Shadow Of The Cross). Akhirnya ia meminta saya untuk menjadi overseer ministry/ regional director untuk pelayanan ini di Indonesia. Maka kami mulai melangkah dengan iman dan bermodalkan dengkul (alias berdoa) memulai pelayanan ini. Pelayanan ini sempat terseok-seok sebab kami tidak mendapatkan dukungan pendanaan darimana pun, bila ada yang menawarkan bantuan biasanya mengikat dan banyak sekali persyaratan terutama jiwa-jiwa “terbuang” ini harus segera meninggalkan “budaya” mereka dan lalu menjadi “Kristen kebanyakan(average Christian)”. Sangat mudah bagi seorang yang tidak pernah memiliki masa lalu kelam atau pendosa “berat” atau catatan kriminal untuk menghakimi seorang petobat baru yang masih bergumul dengan “kebiasaan lama” mereka. Kita ada di dekat mereka untuk menolong mereka tetap kuat dalam Tuhan dan membuat pilihan-pilihan hidup yang baru. Ada kalanya mereka kembali jatuh sebab “ikatan yang begitu kuat” tetapi kita harus tetap ada di situ memberikan dorongan semangat untuk bangkit. Karena perbedaan “pandangan” mengenai cara memperlakukan petobat baru inilah kebanyakan organisasi lainnya enggan mendanai pelayanan kami. Hingga akhirnya kami memilih untuk terseok-seok, tetapi tetap maju secara perlahan tetapi berakar kuat.
Duapuluhtahun pelayanan sebagai “full time minister”, menjadi pergumulan tersendiri bagi kami sekeluarga. Tanpa gaji dan minim pengalaman bekerja di dunia sekuler menjadi tantangan bagi kami, dengan tabungan yang sedikit kami beberapa kali mencoba untuk membangun usaha mandiri dan walhasil kami sempat ditipu oleh “saudara seiman” yang membawa lari modal usaha kami. Haleluya, suatu pengalaman yang berharga. Beberapa kali NGO/LSM yang hendak mempekerjakan saya akhirnya batal setelah melihat latarbelakang pekerjaan saya sebagai Pendeta…mungkin mereka takut saya akan “mengkristenkan orang” hahaha.
Kini kami kembali coba membuka usaha kecil untuk menopang hidup dan pelayanan, masih kembang kempis tetapi kami akan tetap press on dan tidak mau menyerah sampai akhir. Hidup di dunia ini hanya sementara dan saya tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil saya kembali ke pangkuanNya. Dalam sisa waktu yang ada ini, saya tidak mau menyerah dengan keadaan, saya percaya akan selalu ada jalan bagi kita yang mentaati panggilanNya.
Kami coba mengikuti teladan Kristus, selama di dunia sebelum usianya 30 tahun Tuhan Yesus bekerja sebagai tukang kayu (IA bekerja sekuler), Ia tak punya rumah (tapi Ia tak pernah mengeluhkan hal tersebut pada Bapa di Surga dan mengklaim janji Tuhan punya rumah mewah), Ia tak punya transportasi untuk bepergian antar kota (keledai pun Ia pinjam), Ia tak punya gedung ibadah (Ia meminjam rumah atau ruangan seseorang, bahkan tidak menyewa), kadang Ia tak punya uang (ingat saat Ia memerintahkan Petrus memancing ikan dan dalam mulut ikan itu akan ada sejumlah uang untuk membayar bea Bait Allah?). kekurangan atau kemiskinan bukan suatu halangan bagi Tuhan Yesus untuk tetap fokus melayani dan melakukan tujuan/ destiny-nya selama di muka bumi dan menyelesaikannya dengan baik….atau bisa dikatakan sempurna. Begitu pula Rasul Paulus ketika jemaat yang dilayani tak sanggup mencukupi kebutuhan jasmaninya, ia pun bekerja sebagai pembuat tenda.
Saya sangat gembira saat ada banyak anak muda atau bahkan orang seusia saya yang antusias mendengar mengenai pelayanan Shadow of The Cross di Indonesia. Sayangnya ada yang kecewa dan meninggalkan kami sebab melihat fakta bahwa meski pelayanan ini berjejaring dengan mancanegara “ternyata” miskin dan tidak bisa membantu perintisan pelayanan mereka. Saya tidak tahu apa motivasi mereka, tapi saya berdoa agar mereka yang bermotivasi “mencari uang dari pelayanan” kiranya dijauhkan dari kami. Kami melayani kaum subkultur bukan karena kami menerima gaji, tetapi karena panggilan Tuhan. Jadi maaf kami tidak menerima apalagi mencari staf yang kami gaji setiap bulan. Sebab kami tidak mampu untuk memberikan gaji. Keluarga kami melihat hal ini sebagai sebuah panggilan dan visi keluarga kami. Kami melakukannya dengan sukacita dan sukarela meski tanpa ada gaji apalagi bonus di akhir tahun.
Shadow of The Cross, merupakan pelayanan mandiri dimana kami terbuka bagi siapa pun yang mau berjejaring atau membangun network dengan kami. Untuk saat ini kami belum bisa membantu pelayanan lain secara finansial secara berkala (bila eksidentil pernah beberapa kali) sebab kami sendiri pun tengah belajar untuk membangun usaha kecil di rumah kami. Kami belajar bagaimana melayani di market place,yang banyak tantangan. Kami menyadari tidak mudah menjadi pengusaha Kristen di tengah dunia usaha yang korup. Saya teringat ketika mencoba mengajukan pinjaman ke Bank yang menyediakan program pinjaman tanpa agunan. Mereka mengajukan sebuah pertanyaan mengenai tempat tinggal kami. “Rumah sendiri atau mengontrak?” Saat ditanya dan saya hendak menjawab, teman yang menemani saya berbisik, “Bilang aza punya sendiri.” Hati saya berkecamuk, berbohong demi modal atau tetap jujur apa adanya? Dan saya memilih untuk jujur….puji Tuhan…hasilnya saya tidak mendapatkan modal yang dibutuhkan. Tiga kali terjadi..tiga kali jujur…dan ketiganya gagal untuk mendapatkan modal. Sampai kapanpun saya akan tetap memilih untuk jujur apa adanya, kalau belum dapat …ya, jalani saja dengan modal yang ada.
Kami tidak mau menyulitkan orang lain, kami mau melakukan apa yang Tuhan kehendaki sesuai dengan penyataanNya tanpa kontrol dari pihak donatur atau penyumbang. Sebab kami percaya bila kami konsisten melayani Dia..Tuhan sendiri yang akan menolong kami melalui tubuh Kristus atau bahkan “burung gagak atau Janda Sarfat” (orang tidak seiman). Beberapa kali kami justru mendapatkan sumbangan dari “saudara tiri” yang merasa terharu dengan apa yang kami perjuangkan bagi kaum marginal….bila saudara seiman engga “ngeh”…..rupanya Tuhan pakai “orang lain alias saudara tiri” kita dari kaum Ismail.
Melayani “kaum marginal” atau “kaum subkultur”……mungkin berbeda dengan pelayanan kebanyakan, kita perlu bersabar sebab “conviction” datang dari Roh Kudus. Kami rindu melihat jiwa-jiwa bertobat karena pekerjaan Roh Kudus dan bukan karena hasil presentasi atau persuasi kami yang meyakinkan. Saya sudah melihat bila hasil dari kecakapan saya, orang tersebut sangat mudah undur tetapi ketika Roh Kudus yang bekerja….orang tersebut seolah “siap mati untuk Tuhan” tak tergoyahkan oleh tantangan berat sekalipun.
Memasuki tahun 2012 ini hal yang pertama kami mulai membentuk komunitas (simple church) di beberapa tempat, sekelompok anak Tuhan yang berkumpul untuk beribadah, saling belajar, saling mendoakan, saling peduli dan mau bergerak bersama melakukan Amanat Agung. Sudah banyak orang yang letih “main gereja-gerejaan” dan kini mereka ingin mempraktekkan cara hidup keluarga Tuhan sebagaimana jemaat mula-mula dalam Kisah Para Rasul 2:41-47. Bagi rekan-rekan yang ingin terlibat dalam komunitas kecil baik di Bandung atau pun kota lain, dapat menghubungi saya melalui email davebroos@yahoo.co.uk atau FB Dave Broos atau SMS 081330135643.
Hal yang kedua, kami mulai membuka diri untuk memperlengkapi pelayanan atau gereja lain dengan Pelatihan Underground School of Ministry. Sebuah pelatihan bagi siapa saja yang terbeban dan terpanggil melayani kaum subkultur. Materi yang ada secara spesifik untuk melayani kaum urban perkotaan. Bagi yang berminat diperlengkapi dapat mengirimkan email ke davebroos@yahoo.co.uk atau SMS 081330135643.
Hal yang ketiga, membangun jejaring dimana kami bekerjasama dengan berbagai pelayanan lain dalam memperluas Kerajaan Tuhan. Shadow of The Cross berjejaring dan mendukung pelayanan lainnya sebagai volunteer, diantaranya: pelayanan bagi gereja-gereja teraniaya seperti Voice of Martyr dan Open Doors, pelayanan tanggap bencana HAND dan pelayanan anti aborsi Pro Life. Kami percaya bahwa kita satu dalam Tuhan Yesus dan anggota daripada tubuh Kristus. Kita masing-masing perlu untuk saling mendukung dan berfungsi sesuai panggilan Tuhan. Sebab kita membangun Kerajaan Tuhan dan bukannya kerajaan kecil kita. Kita membangun tubuh Kristus dan bukan tubuh kita sendiri. Kita saling mendukung dan mendoakan tanpa pamrih.
Hal yang ke empat, kami melayani dan memberikan bantuan bagi kaum marginal atau subkultur yang membutuhkan secara langsung, ini bukan bagian program sebab orang-orang yang kami layani…kami perlakukan sebagai pribadi dan kami coba membangun hubungan kekeluargaan. Kami merindukan bentuk pelayanan yang lebih natural dan tidak libet. Mungkin ada yang bertanya bagaimana kami dapat membantu? Bilamana Anda ingin membantu memberikan donasi dapat berupa pakaian bekas (dari bayi hingga dewasa) kami akan sangat bersyukur tetapi tolong pakaian yang masih layak untuk dikenakan, kami juga biasanya menyediakan makanan atau sembako bagi siapa pun yang membutuhkan (Anda bisa berpartisipasi dalam pengadaan sembako), keperluan sekolah seperti seragam, buku tulis bahan bacaan pendidikan sampai Alkitab (Yang mungkin sudah tua dan tak digunakan) yang dapat dikirimkan atau diantar ke alamat rumah kami Flat Sarijadi blok G-1 no 13, Bandung 40151 atau bila hendak mendukung secara finansial dapat mengirimkan dana tersebut melalui bank BCA no rek 0081824788 atas nama Dave Broos. Bila ada pertanyaan atau masukan dapat menghubungi melalui davebroos@yahoo.co.uk , FB Dave Broos atau SMS 081330135643.
Hal yang ke lima, kami tengah berdoa dan belajar untuk membuat koperasi untuk menolong orang-orang yang kami layani maupun masyarakat yang membutuhkan modal untuk usaha kecil. Seringkali gereja Tuhan mengajarkan bilamana hendak membantu kaum miskin jangan hanya diberi roti tetapi berikan pancing. Pernyataan yang luar biasa hanya bila kaum miskin tidak diajarkan cara memancing maka ia akan menjual pancingnya, bukan? Kerinduan kami memasuki tahun ini adalah dapat membangun tempat pembelajaran untuk usaha hingga orang yang hendak merintis usaha diperlengkapi dan dimentor oleh “seorang/beberapa pengusaha” hingga ia tahu dunia usaha dan tantangannya. Koperasi berfungsi sebagai pelengkap berikutnya bagi “pemula” itu untuk dimodali. Kami akan sangat berterimakasih bila saudara-saudara dapat memberikan masukan atau pun bahan-bahan bacaan mengenai koperasi dan enterpreneurship/wira usaha. Terlebih bila saudara yang nota bene pengusaha mau menjadi pengajar amupun mentor bagi para pengusaha baru. Ada yang mungkin bertanya, mengapa kami mempedulikan hal ini? Sebab baik kaum marginal maupun subkultur adalah golongan yang sulit mendapatkan pekerjaan “normal” meski pun ada juga yang berpendapatan baik seperti ahli tattoo, website designer, mekanik dll. Tetapi banyak diantara mereka yang sulit mendapatkan pekerjaan yang mumpuni hingga akhirnya mengambil “shotcut” dengan melakukan kriminalitas atau perbuatan amoral. Saya percaya gereja harus melayani secara holistik, mencakup tubuh, jiwa dan roh. Tidak cukup hanya sekedar menasehati dan mendoakan saja tanpa turut terlibat sekuat tenaga berada bersama mereka kala dalam duka.
Inilah tujuan hidup kami….ini bagian kami untuk berfungsi di dalam tubuh Kristus untuk perluasan Kerajaan Tuhan dan menggenapi Amanat Agung. Doa dan harapan saya adalah siapapun yang membaca tulisan saya ini dapat menemukan tujuan hidupnya dan melakukannya. Bila Anda belum menemukan tujuan hidup Anda dan butuh teman atau saudara seiman untuk berbincang jangan sungkan untuk menghubungi saya melalui email davebroos@yahoo.co.uk atau FB Dave Broos atau SMS 081330135643. Saya akan berusaha menolong Anda menemukan tujuan hidup Anda dalam Tuhan sebagai saudara seiman. Tuhan menciptakan kita unik dan beragam…dalam kehidupan maupun pelayanan….TUHAN TAK PERNAH MEMBUAT SERAGAM……IA CIPTAKAN KITA BERAGAM...SEBAB ITULAH FUNGSI TUBUH KRISTUS..Jadilah dirimu yang otentik di dalam Tuhan.
Salam dan doa,
Dave Broos
Pastor for the Outsiders.

Rabu, 01 Februari 2012

GIVE THANKS







GIVE THANKS
Kami mengucap syukur dan berterimakasih atas setiap sumbangan dan persembahan bagi kaum subkultur di jalanan. Terimakasih banyak atas belaskasihan bagi mereka yang kurang mampu. Pada bulan Desember lalu kami telah menyalurkan bantuan pakaian bekas, Alkitab, bahan bacaan, makanan dan bantuan finansial bagi mereka yang hidup di jalanan termasuk para pemulung, tukang sampah, anak jalanan dan bagi mereka saudara seiman yang dalam kemalangan.
Kami mengadakan hal ini bukan sebagai sebuah program tetapi lebih kepada menjadikan “memberi” sebagai gaya hidup kita sebagai orang percaya. Tuhan telah memberikan teladan pada kita dalam Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga IA mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Rasul Paulus pun menyatakan dan memberikan teladan,”Adalah lebih baik memberi daripada menerima” (Kis 20:35).
Kami percaya bahwa untuk memberitakan Kabar Baik tidak cukup dengan kesaksian atau khotbah, sebab kita tahu “perbuatan” kita berbicara lebih keras daripada ucapan kita. Saya ingat saat masih kecil, mama saya mengajarkan bahwa saya harus selalu jujur dan tidak boleh berbohong (Suatu pengajaran yang tentu bagus dan harus ditaati)….tetapi suatu kali ketika ada tamu datang dan mama tidak mau menemuinya….mama segera memanggil saya dan berkata,”Dave, kamu nanti buka pintu dan bilang sama tamunya mama belum pulang ya.” Pengalaman masa kecil itu membekas dalam diri saya. Sebab mama mengajarkan suatu hal yang baik tetapi beliau sendiri mengingkari ajarannya. “Orang dunia yang tinggal dalam dosa” butuh teladan hidup bukan sekedar orang “yang pintar bicara”. Tuhan memanggil kita menjadi terang dan garam dunia. Bukan hanya sekedar jadi juru bicara tetapi menjadi “kaki dan tangan” dari kasih Kristus yang menjamah dunia.
Orang-orang yang kami layani bukanlah “kaum” yang suka dilayani oleh bahkan gereja. Kalaupun ada pelayanan diakonia, rata-rata hanya melihat sebagai program pelayanan bagi kaum miskin..bagi-bagi sembako, pengobatan gratis, bimbingan belajar gratis dll (yang semuanya itu baik)….kelemahannya adalah tidak adanya hubungan dengan “kaum” tersebut. Padahal banyak di antara mereka yang ingin didengarkan dan dilayani. Sebab kaum miskin seringkali dianggap “merepotkan” dan suka meminta-minta terus. Biasanya dulu saya diajarkan agar jangan memberi mereka roti tetapi berikan mereka pancing agar bisa mandiri. Dan saya telah melakukan hal tersebut dan …….menemui kegagalan…..sebab memberi pancing saja tidak cukup….mereka butuh umpan bila hendak memancing dan terlebih lagi mereka butuh “seseorang” yang mengajarkan cara dan trik memancing dengan baik.
Apa yang saya percayai adalah kita, orang percaya dipanggil untuk memperluas Kerajaan Tuhan..bukan dengan memperbanyak bangunan gedung gereja yang megah….tetapi memperluas pengaruh kita di berbagai aspek kehidupan. Saya berpikir seandainya uang untuk pembangunan gedung gereja….setengahnya saja digunakan untuk dibuat koperasi simpan pinjam atau bank perkreditan rakyat bukanlah akan lebih bermanfaat baik bagi saudara seiman maupun orang belum percaya (dapat menjadi sarana penginjilan) atau “gereja mapan dengan omzet milyaran” bisa membangun perumahan rakyat bagi saudara seiman yang kesulitan memiliki rumah karena persyaratan-persyaratan tertentu….
Jemaat mula-mula disebut pertama kali sebagai Kristen di Anthiokia sebab orang di kota tersebut melihat gaya atau cara hidup yang sangat berbeda dengan orang sezamannya. Hingga mereka melihat pribadi Kristus dalam kehidupan jemaat mula-mula. Bagaimana dengan kita saat ini?
Saya melihat bila saudara seiman diberkati secara finansial, itu berarti Tuhan mempercayakan harta tersebut untuk perluasan Kerajaan Tuhan. Anda tentu bisa menggunakannya untuk membeli mobil Hammer, Bentley, Jaguar..dstnya…atau memiliki apartemen atau rumah di perumahan mewah atau berbelanja tas Hermes, Prada, Gucci..yang asli dan bukan KW. Tetapi jangan lupa bahwa Anda dapat berkelimpahan harta karena Tuhan. Dan Tuhan punya tujuan atas hal tersebut. Saya membaca hasil sebuah survey yang menyatakan bilamana seluruh orang percaya di dunia ini mengumpulkan 10% dari seluruh penghasilannya dan di kumpulkan maka “kemiskinan di muka bumi akan terhapus”. Wauw seandainya hasil survey tersebut valid, maka gereja dapat menjadi jawaban……sayangnya banyak biaya kita keluarkan untuk pembangunan dan pemeliharaan fasilitas. Seandainya kita dapat membangun fasilitas yang lebih sederhana dan menggunakan dana tersebut untuk membangun kota dengan pengentasan kemiskinan dengan membuka UKM atau kebodohan dengan sekolah murah dstnya.
Saya melihat teladan gereja mula-mula, mereka tidak punya fasilitas apa-apa, para rasul pun tidak memiliki fasilitas pribadi apa-apa…..tetapi mereka membuat “dunia berguncang”……bila menilik ke belakang dan melihat “dunia kita” saat ini…seharusnya kita bisa berbuat lebih. Jemaat mula-mula bisa berkembang pesat karena “gaya hidup Kristus” yang tampak dalam keseharian mereka hingga dunia yang belum percaya di sekitarnya terjamah. Dalam catatan sejarah anak-anak yang di buang di jalanan, dipungut, dirawat dan dibesarkan oleh jemaat mula-mula seperti anak sendiri…mereka juga merawat dan memelihara kaum miskin……orangtua yang sudah renta dan diabaikan dirawat di rumah sendiri seperti orangtua sendiri..dlll. Belaskasih Kristus bukan saja tercermin dalam kehidupan mereka tetapi dapat dirasakan secara nyata. Bahkan dalam Kisah Para Rasul dituliskan,”Semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. (Kis 2:44).Bagaimana dengan kita? Saya percaya bila kita memang terkoneksi dengan Tuhan dan memiliki hubungan dengan saudara-saudara seiman maka kita akan dengan mudah untuk memberi. Bahkan Tuhan mengajarkan agar kita membalas kejahatan dengan kebaikan,”Jika seterumu lapar, berilah dia makan, jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (Roma 12:20-21).
Pada tahun ini kami pun merencanakan untuk memperlengkapi rekan-rekan muda yang terbeban melayani kaum subkultur ini di berbagai kota. Kendala kami adalah dana dan kami mohon dukungan doa agar kiranya Tuhan membuka jalan bagi kami untukmemperlengkapi saudara seiman dan melayani lebih banyak lagi jiwa yang selama ini belum terjangkau dan merasakan kasih Kristus. Bila Anda ingin menghubungi kami dapat mengirimkan email davebroos@yahoo.co.uk atau SMS 081330135643 (maaf bila telpon tidak diangkat berarti kami sedang pelayanan). Bila Anda tergerak untuk mendukung pelayanan ini, Anda dapat mendukung kami dengan pakaian bekas (mohon yang masih layak pakai) hingga dapat disalurkan bagi mereka yang kurang beruntung di jalanan maupun ke panti asuhan atau werda/jompo yang membutuhkan, bila Anda memiliki Alkitab baik baru atau bekas, mainan anak, alat tulis/sekolah atau pun dana dapat ditransferkan melalui Bank BCA no rek 0081824788 atas nama Dave Broos.
OK thanks atas perhatiannya semoga apa yang saya bagikan dapat menjadi berkat. God bless you all.

Minggu, 20 Juni 2010

DOA UNTUK ANAK PUNK


Hi guys,

Kalau tidak kenal maka kita tidak sayang, bukan? Pada saat ini saya (Dave Broos) ingin membagikan info mengenai anak-anak punk, mengapa kita perlu berdoa bagi mereka. Saya sebagai salah satu pelayan Tuhan yang dipanggil untuk melayani kaum seperti ini hendak membagikan hal ini hingga doa kita lebih spesifik. Kita tidak sembarangan berlari atau sembarangan memukul tetapi berdoa dengan tepat pada sasaran sebab sudah diperlengkapi dengan informasi.
BEBERAPA waktu lalu, media televisi kita menayangkan mengenai keberadaan punk di Indonesia. Menarik. Cuma, sayang, yang ditampilkan masih sangat terbatas pada fashion dan musiknya. Mungkin karena keterbatasan waktu atau, memang itulah yang paling menarik untuk ditampilkan. Cuma, apa betul kalau punk itu only fashion and
music (hanya tentang cara berpakaia dan musik)?
Dalam kamus bahasa Indonesia, punk diartikan sebagai anak muda yang masih "hijau", tidak berpengalaman, atau tidak berarti. Bahkan diartikan juga sebagai orang yang ceroboh, sembrono, dan ugal-ugalan. Istilah tersebut sebetulnya kurang menggambarkan makna punk secara keseluruhan.
Dalam "Philosophy of Punk", Craig O'Hara (1999) menyebut tiga definisi punk. Pertama, punk sebagai trend remaja dalam fashion dan musik. Kedua, punk sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan. Terakhir, punk sebagai bentuk perlawanan yang "hebat" karena menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri.
Definisi pertama adalah definisi yang paling umum digambarkan oleh media. Tapi justru yang paling tidak akurat karena hanya menggambarkan kesannya saja.
Sebagai sebuah subkultur, punk muncul di Amerika akhir tahun 1960-an atau awal tahun 1970-an dan muncul di Inggris pertengahan tahun 1970-an. Kemunculannya di Inggris diawali dengan berkembangnya berbagai kebudayaan khas kelas pekerja sebelumnya seperti Mods dan Rockers (pertengahan tahun 1960-an), Glamrock dan Glitter (awal tahun 1970- an) sampai akhirnya Punk (pertengahan tahun 1970-an). Punk sebagai
suatu pergerakan baru nampak pada akhir tahun 1970-an.
Kalau di Indonesia punk muncul sebagai sebuah imitasi, di negara leluhurnya, punk merupakan respon terhadap situasi (pengangguran, kondisi sosial) saat itu. Keberadaan mereka nampak menonjol di pusat-pusat pertokoan dan pusat interaksi sosial lainnya. Grup musik pengusungnya berkembang di pub-pub. Di Inggris, mereka biasa berkumpul di sebuah toko di sudut King's Road, London yang dikenal dengan sebutan "World's End". Toko itu bernama SEX yang merupakan wujud perlawanan terhadap standar nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Dan, rasanya kurang klop kalau bicara tentang punk tanpa menyebut The Sex Pistols. Grup punk rock ini tampil cukup mengejutkan. Lagunya, God Save The Queen (lagu kebangsaan yang mereka gubah) dan Anarchy In The UK yang antikeluarga kerajaan dan menginginkan kebebasan sangat berpengaruh terhadap kaum remaja saat itu. Dalam perkembangan selanjutnya, komunitas punk mulai memproduksi newsletter dan fanzine sendiri. "Sniffin Glue" adalah fanzine pertama yang mencapai penjualan tertinggi dan paling terinspirasi dengan filosofi Do-It-Yourself (Hebdige, 1976).
DIY memang memberikan kontribusi yang besar bagi gerakan punk berikutnya dan banyak diadaptasi oleh komunitas punk di seluruh dunia termasuk Indonesia. Anarkisme juga sangat lekat dalam gerakan punk. Band pertama yang serius dengan paham ini adalah Crass.
Menurut mereka anarki melambangkan keinginan individu untuk hidup dan bebas menentukan pilihan tapi tetap menjaga kepercayaan dan toleransi. So guys no one is more qualified than you are to decide what your life will be. Keep punk alive.*** (Jadi saudara-saudaraku tidak ada seorangpun yang lebih berkualifikasi daripada dirimu sendiri untuk memutuskan seperti apa dirimu jadinya. Biarlah punk tetap hidup).
Anak punk juga butuh Yesus bahkan tidak sedikit yang cinta Tuhan tetapi anti gereja karena mereka dimusuhi hanya "gara2 penampilan".
Kita bisa memaklumi orang Jawa menggunakan blankon, kita bisa memaklumi ibu yang menggunakan baju kebaya, menilik gereja di pedalaman Papua orang beribadah menggunakan koteka bukanlah sesuatu yang tabu, dstnya..dstnya. Lebih jauh lagi kita juga mempelajari latar belakang budaya suatu suku dan coba menyampaikan berita Injil dalam cara komunikasi yang paling mudah untuk diterima oleh “suatu suku tersebut” hingga kita melihat berdirinya gereja-gereja berciri kesukuan atau pada masa kini gereja yang terbuka pada berbagai suku, ras dan golongan. Tetapi ketika kaum subkultur (punk, gothic, skaters, bikers,dll) hendak masuk gereja, banyak yang mengalami penolakan.
Kerinduan kami anak-anak subkultur dapat diterima sebagai anak Tuhan sebagaimana adanya oleh anak-anak Tuhan lainnya dan hal yang kedua kerinduan kami melihat sebuah komunitas yang dapat mengakomodasi mereka beribadah tanpa suatu penghakiman.
Saya mendorong rekan-rekan seiman untuk mulai berdoa syafaat untuk mereka juga.

Ps. Dave Broos
http://shaddowcross.blogspot.com

Sabtu, 19 Juni 2010

SEBUAH SURAT DARI KAUM TERBUANG


Dear Saudara-saudariku seiman,

Hai ini Dave Broos, kami sekeluarga baru pindah ke kota Kembang, Bandung. Hati kami
sekeluarga mendapatkan panggilan untuk melayani kaum subkultur/underground, yang selama ini mungkin belum tersentuh oleh gereja pada umumnya. Bagi anda yang belum mengerti orang jenis apa yang hendak secara spesifik kami layani diantaranya adalah kaum punk, gothic, skaters, bikers, anak-anak geng, orang-orang jalanan, dll. Setelah 19 tahun kami melayani di gereja mainstream, kami merasakan panggilan Tuhan bagi kaum yang selama ini terpinggirkan.
Dan sangat sulit untuk membawa mereka ke gereja pada umumnya, saat saya berdoa bagi mereka, saya merasakan bahwa kini saatnya bukan membawa mereka ke gereja tetapi membawa gereja kepada mereka. Ada banyak orang yang merindukan Kristus namun mereka enggan pergi ke gereja pada umumnya sebab merasa berdosa, tidak layak, terasing dan dicurigai karena penampilan mereka yang berbeda.
Saya teringat sebuah pengalaman di tahun 1992 ketika saya melayani di sebuah gereja sebagai seorang full-timer dan seorang pelacur pelabuhan masuk. Pandangan sinis dengan penuh kecurigaan terbersit dari tatapan para jemaat dan bahkan para pelayan Tuhan, tidak ada orang yang mau menyapa atau duduk bersebelahan dengannya. Ketika
saya berbicara pada para rekan full-timer yang wanita untuk menemani dan membimbing pelacur itu, mereka pun enggan mendekati dan takut apa nanti kata jemaat lainnya. Hingga akhirnya saya mendatangi dan menyapa pelacur itu, duduk di sebelahnya dan menyambut kedatangannya. Sesaat tampak kekakuan dan tembok pertahanannya
mencair ketika ada seorang yang datang dan menyambutnya dalam kasih Kristus yang tulus. Bukankah Kristus pun disebut sahabat orang berdosa? (Matius 11:14)
Di dalam pelayanan saya beberapa tahun ini , saya melihat bagaimana pemabuk, narapidana, pelacur jalanan, wanita panggilan kelas atas, dll datang pada Kristus ketika kita membuka diri, menerima mereka apa adanya di dalam kasih Kristus, tanpa menghakimi mereka dan pada waktu Tuhan, mereka datang pada Tuhan dalam pertobatan tanpa manipulasi atau intimidasi emosi, sebuah pertobatan sejati yang membuat sebuah hidup diubahkan.
Saat ini kami melangkah dengan iman memasuki pelayanan yang baru, banyak orang yang mempertanyakan buat apa kami melayani orang-orang yang aneh itu. Ini sebagian contoh dari komentar beberapa rekan tercinta : "Mereka hanya akan menjadi sumber masalah dan beban bagi kalian sekeluarga". "Ada lagi yang mengatakan apa timbal baliknya? Mereka tidak akan dapat menghidupi keluargamu malah nanti menyulitkan kamu." "Jangan sok jadi pahlawan!" "Kamu terlalu idealis, nanti susah sendiri hidupmu." "Pelayananmu itu tidak popular, tidak akan ada orang yang mau mendukungmu, kecuali yang sama anehnya dengan dirimu." "You are alone, man." Apapun yang dikatakan mereka, saya tahu bahwa semuanya diucapkan karena mereka mengasihi kami sekeluarga, namun itu tidak akan menghentikan kami untuk melakukan apa yang Tuhan taruhkan di dalam hati ini.
Ada pun tujuan saya menuliskan surat ini adalah untuk share dengan saudara-saudaraku seiman, pertama-tama mungkin bila ada teman-teman yang sudah terjun dalam pelayanan subkultur dapat berbagi cerita/pengalaman pelayanan sebab selama ini saya hanya memiliki teman-teman dari luar negeri yang memang sudah terjun dalam pelayanan jenis ini, yang tentunya secara kultural sedikit berbeda dengan subkultur di Indonesia.
Selain itu hal yang kedua kami juga tengah mempersiapkan sebuah program "street ministry" sebagai contoh dimana kami merencanakan hendak membagi-bagikan pakaian bekas yang masih layak pakai, makanan & minuman yang sehat bagi para gelandangan dan pengobatan gratis secara periodik, sebagai sarana untuk menjembatani "friendship
evangelism". Jadi kami akan sangat senang bila saat ini dapat memiliki teman-teman yang mungkin terbeban mendukungnya. Dan bila ada ide-ide lainnya kami akan sangat senang mendengarkannya.
Hal yang ketiga, saya juga akan senang sekali bila ada rekan-rekan musisi Kristen (dalam jenis musik underground, hiphop, rock,punk,dll) atau artis Kristen (DJ, dancer, pemain drama dll) yang punya hati untuk menjangkau anak-anak subkultur. Saya sangat ingin berkenalan dengan anda atau mungkin ada saudara atau teman, saya akan sangat bersyukur bila dapat berkenalan.
Hal yang keempat, di dalam memulai pelayanan ini saya tidak memiliki sponsor dari gereja ataupun organisasi apa pun, maka kami memutuskan untuk mencoba sebuah self support ministry atau menjadi "tentmaker" seperti Paulus, bekerja membuat tenda untuk mencukupi pelayanannya sendiri (Kis 18:3). Kami ingin bergerak di dalam penjualan pakaian atau clothing, bagi saudara-saudara seiman yang memiliki usaha sejenis itu (distro umpamanya), saya sedang memikirkan bila kita dapat menjadi rekanan. Atau bila ada saudara-saudara seiman lain yang memiliki masukan-masukan, kami sangat terbuka untuk mendengarkannya. 19 tahun terakhir ini saya full time di dunia pelayanan, jadi tentunya saya juga harus banyak belajar dari anda yang mungkin punya pengalaman lebih banyak di dunia entrepreneurship.
Ok, sampai di sini dulu isi surat saya, hambaNya bagi kaum yang
terbuang. God bless you.

Dave Broos
081330135643
davebroos@yahoo.co.uk
http://shaddowcross.blogspot.com

Surat dari Dunia Jalanan


Dear Friends and family in Christ,

Thank's untuk semua saudara seiman yang sudah memberikan respon pada apa yang sedang kami lakukan saat ini. Kami sangat membutuhkan saudara-saudara seiman sebagai pendoa dan sahabat bagi kami. Melakukan perintisan pelayanan atau gereja bagi para anak subkultur bukanlah hal yang mudah oleh sebab itu kami perlu anda sebagai pendukung kami di dalam doa dan juga teman untuk saling berbagi di dalam suka
maupun duka.

Sebuah kisah apa yang terjadi di jalanan hendak saya coba untuk bagikan ; Seorang anak jalanan yang sudah hampir dua puluh tahun hidup di jalan menuturkan pengalamannya pergi dari rumah. Katanya waktu kecil ia banyak ngeluyur dibanding sekolah, lebih banyak bermain dari pada belajar. Akibatnya, teman-temannya sudah naik ke kelas tiga ia masih saja duduk dibangku kelas satu. Buat sebagian anak pergi ke sekolah tidaklah selalu berarti pengalaman yang menyenangkan. Seorang anak lain N bila mengingat sekolah maka yang muncul adalah gurunya yang galak dan tubuhnya yang menjadi sasaran sabetan. Katanya:
Waktu saya sekolah saya digebugin karena di sekolah saya goblog. Di bawa ke kantor karena.sering nonton TV lalu disuruh membaca di papan tulis tidak bisa. Di sabet badanku. Pak guru saya galak. Lalu saya keluar kelas tiga.

Keadaan murid-murid bermasalah seperti itu biasanya dilaporkan oleh guru kepada orang tua murid. Laporan itu bisa menjadi penyulut kemarahan orang tua. Seperti yang dituturkan H:
Pak guru saya sering datang menemui orang tua saya menceritakan keadaan saya. Saya dimarahi bapak tidak hanya dengan suara tetapi juga digebugi pakai sapu lidi sampai merah kaki saya.

Berbagai penyuluhan, berita TV dan radio secara bertubi-tubi telah mengajar para orang tua memlaui pembatinan bahwa anak yang baik adalah anak sekolahan. Karena itu wajar saja bila guru tidak mampu lagi mendidik anaknya, maka orang tualah yang akan meng(H)ajar anaknya. Hasilnya seperti H dan N lari meninggalkan rumah.

Ketika pertama kali hadir di jalan, seorang anak menjadi anonim. Ia tidak mengenal dan dikenal oleh siapapun. Selain itu juga ada perasan kuatir bila orang lain mengetahui siapa dirinya. Tidaklah mengherankan bila strategi yang kemudian digunakan adalah dengan
mengganti nama. Hampir semua anak yang saya kenal mengganti nama.
Hal ini dilakukan untuk menjaga jarak dengan masa lalunya sekaligus masuk dalam masa kekiniannya.

Anak-anak mulai memasuki dunia jalanan dengan nama barunya. Anak- anak yang berasal dari daerah pedesaan menggganti dengan nama-nama yang dianggap sebagai nama "modern" yang diambil dari bintang sinotren atau yang yang biasa didengarnya misalnya dengan nama Andi, Roy dan semacamnya. Seorang anak yang bernama Mohammad kemudian mengganti namanya menjadi Roni. Alasan yang diberikan karena
Mohammad adalah nama nabi. Nama itu tidak cocok dengan kehidupan di jalan. Karena yang dilakukan di jalan banyak tindakan haram.
Proses penggantian sebutan itu dengan sendirinya menunjukkan bahwa ia bukan sekedar pergantian panggilan saja tetapi juga sebagai sarana menanggalkan masa lalunya. Artinya ia dalah bagian dari proses untuk memasuki satu dunia (tafsir) baru. Sebuah kehidupan
yang merupakan konstruksi dari pengalaman sehari-hari di jalan.

Kami mendedikasikan diri untuk menjangkau orang yang terbuang dan anak-anak malam hingga merekapun dapat tinggal " dibawah bayang- bayang salib"(The shadow of the cross) alias mengenal Kristus.

Bagi mereka yang telah menjadi bagian dari kaum subkultur selama bertahun tahun lamanya dan lalu telah keluar dari sana menjadi seorang Kristen….menjadi seorang Kristen namun tetap berada dalam budaya subkultur nampak mustahil untuk dilakukan tanpa bersinggungan dengan otoritas dan ikatan kegelapan yang ada dalam "Lembah
Kekelaman". Ada begitu BANYAK hal yang mengikat kaum subkultur yang HARUS dipatahkan dengan mulai melayani Kristus. Kehidupan kita harus selaras dengan Firman Tuhan, atau kita akan hidup terus menerus di dalam ikatan itu sendiri, bagi seorang Kristen apa yang tidak mempermuliakan Tuhan, itu berasal dari kedagingan.

Ada beberapa contoh hal atau ajaran yang mempengaruhi pola pikir dan tindak tanduk orang kebanyakan tanpa mereka sadari dari berbagai media yang tersedia yang sehari-hari mereka lihat, dengar dan baca seperti :

New Age, Neo-paganism (penyembahan berhala modern), Vampirism, Druidism ( agama kuno di daratan Eropa sebelum kekristenan masuk), Necromancy (ramalan), Hawa Nafsu, Homoseksual, Seks yang tak wajar (sekalipun dalam pernikahan), Seks (di luar pernikahan), Pembunuhan, Mengejek, Bunuh diri, Narkoba, Mabuk-mabukan, Melukai diri sendiri, Wicca (sebuah bidat penyembah berhala), Paganism, Witchcraft (ilmu
sihir), kemarahan, kebencian, anarkisme, aborsi dll. Hal ini semua bertentangan dengan kehendak Tuhan. SEMUA INI HARUS DISERAHKAN DAN DIPATAHKAN DENGAN MELAYANI (MENGHAMBAKAN DIRI) PADA TUHAN DENGAN
SEGENAP HATI KITA. Seorang yang sungguh-sungguh merupakan pengikut Tuhan tidak melakukan semua hal itu.

Seringkali kami mengekspresikan diri persekutuan kami dalam bentuk jemaat mula-mula, sebuah warisan yang sangat memperkaya iman kami.
Dari seni sampai pada musik, dari penyembahan sampai pada doa, kami memiliki sejarah yang memberikan sebuah inspirasi bagi generasi yang baru untuk datang padaNya secara apa adanya dan be simple. Kami lebih menekankan pada hubungan kekeluargaan, pemuridan dan "be the church", dalam praktik gereja yang kami rintis di dalam Tuhan.

Kami sangat antusias membina hubungan dengan semua saudara seiman yang "care" (peduli) dengan menyelesaikan tugas Amanat Agung, terimakasih atas dukungannya, support melalui kata-kata motivasi dan share suka duka pelayanan di jalanan atau pun perihal keprihatinan kondisi gereja saat ini. Kami sadar kami tidak dapat berbuat apa-apa tanpa dukungan dari seluruh rekan saudara seiman di blog ini. God bless you, all.

Ps. Dave Broos
davebroos@yahoo.co.uk
081330135643
http://shaddowcross.blogspot.com

Minggu, 25 April 2010

SHADOW OF THE CROSS INDONESIA




SHADOW OF THE CROSS

(A MINISTRY OF THE EAGLES NEST MINISTRIES)

Shadow of the Cross, merupakan sebuah pelayanan penjangkauan, pemuridan dan penanaman gereja bagi kaum subkultur. Apakah kaum subkultur? Kaum subkultur merupakan suatu “suku” yang terlahir dari suku yang sudah eksis dalam sebuah kota dimana mereka menjadi komunitas tersendiri, memiliki filosofi tersendiri dan budayanya sendiri. Di perkotaan kita mengenal mereka sebagai komunitas Underground, Gothic, Punk, Skaters, Bikers, Tattoo, Body Piercing, dstnya.
Sudah ada banyak pelayanan missi yang fokus menjangkau suku terabaikan namun masih jarang yang secara serius menangani komunitas-komunitas suku terabaikan diperkotaan ini. Seringkali bagian dari komunitas ini mengalami dan merasakan penolakan bila mereka menghadiri ibadah gereja pada umumnya. Kami percaya bahwa Tuhan Yesus juga mengasihi mereka dan menerima mereka juga sebagai anak-anakNya. Gereja kita saat ini tanpa sadar sudah memiliki stereo-type, siapa yang dapat beribadah dengan kita. Bila ada pasangan suami istri yang berkopiah dan berkerudung masuk ikut beribadah kita sudah mulai kasak-kusuk mempertanyakan mengapa orang berpakaian seperti itu masuk dalam gereja jangan-jangan “mata-mata”. Apalagi kalau yang masuk sekumpulan anak Punk dengan potongan rambut Mohawknya yang berwarna-warni, jaket jeans yang lusuh dan dipenuhi spike (paku hiasan). Bagian usher atau bahkan satpam akan melarang bahkan mengusir mereka dari ibadah sebab takut mereka akan melakukan tindak kriminal.
Kami banyak melayani dan menemukan orang-orang dari subkultur ini yang sebenarnya mencari kebenaran, haus dan lapar akan Tuhan namun enggan pergi ke gereja sebab sudah berulangkali mengalami penolakan. Lalu bagaimana sikap kita? Apakah kita sebagai gereja Tuhan enggan bersentuhan dengan mereka sebab penampilan dan gaya hidup mereka? Kita selalu berdoa agar Tuhan memberikan jiwa-jiwa baru tetapi ketika “kaum ini” datang kita menolaknya sebab “mungkin” kita tidak mengharapkan mereka yang datang, “mungkin” kita berharap konglomerat yang bertobat dan menjadi bagian kita. Yah, “mungkin”.
Shadow of the Cross, hadir untuk melayani kaum marginal di dalam masyarakat. Kerinduan kami adalah menghadirkan gereja di tengah mereka, memperkenalkan kasih Bapa yang sempurna dan menjadi saudara mereka dalam perjalanan kerohanian mereka.
Apa yang kami kerjakan bukanlah pelayanan yang populer, banyak yang menyatakan untuk apa melayani “kaum yang sulit ini”. Kaum yang pemberontak, anti kemapanan dan tidak dapat memberikan “income” bagi yang melayaninya. Bila kami meresponi panggilan ini sebab kami melihat bahwa mereka juga memiliki hak untuk mendengarkan Kabar Baik dan pengharapan yang telah dibukakan oleh Tuhan Yesus. Kami tahu rata-rata mereka adalah anak muda (orang berjiwa muda) yang tinggal dan hidup di jalanan, jadi jelas mereka bukanlah kaum borjuis. Kami melayani dengan hati yang tulus dan bukan karena uang yang dapat kami hasilkan melalui pelayanan. Kami melangkah dengan iman, bila Tuhan yang menghendaki kami melayani mereka, IA pula yang akan cukupkan kebutuhan kami. Kami tidak memiliki fasilitas apa-apa, tetapi kami punya hati untuk melayani. Entah ada donatur atau tidak, yang kami tahu dan percaya adalah Tuhan ada serta kami.
Kami tidak meminta uang Anda melalui surat ini, tetapi dukunglah kami di dalam doa agar kami tetap setia melayani kaum yang “sulit” ini dengan hati yang penuh belaskasihan dan diberikan hikmat untuk membawa mereka dalam pengenalan akan Tuhan Yesus secara lebih mendalam.
Terimakasih sudah membaca surat kami ini, Tuhan Yesus memberkati.

Dave Broos

“Gembala kaum yang terbuang”

Jumat, 27 Februari 2009

EAGLES NEST MINISTRIES 2009


EAGLES NEST MINISTRIES 2009

Memasuki tahun ke dua kami di Bandung merupakan sukacita kami bisa ada di kota ini. Banyak perkara dan hal yang diizinkan Tuhan untuk kami kerjakan disini melalui caraNYA. Acap kali kami hendak melakukan sebuah pekerjaan dengan kemampuan atau pengalaman kami di masa lalu. Tuhan menegur kami dan membimbing kami, untuk sungguh-sungguh melakukan apa yang Bapa sedang kerjakan, menyatakan apa yang Bapa nyatakan.

Dua tahun terakhir ini dengan dana terbatas yang ada kami mengontrak dua buah kamar tempat kost untuk menjadi tempat tinggal sekaligus “kantor” pelayanan kami. Satu kamar sebagai kamar tidur dan sebuah lagi sebagai ruang kerja sekaligus ruang tamu (kadang kami alih fungsikan bagi tamu dari luar kota maupun luar negeri yang mau menginap di istana kami).

Dalam keterbatasan sekalipun kami melihat penyertaan Tuhan, dikala keuangan menjadi kendala pelayanan. Tuhan selalu memiliki dan membuka jalan bagi anak-anakNya yang mencari Dia dalam ketulusan. Kala orang lain tengah frustasi dan mengeluh kekurangan dana untuk mengembangkan pelayanan, kami yang sama sekali tidak memiliki fasilitas memulai pelayanan sebagai penulis lepas dari beberapa media Kristen yang ada secara “cuma-cuma”. Kami hanya menabur saja benih Firman Tuhan tanpa pamrih. Ketika kami coba membina hubungan dengan beberapa anggota tubuh Kristus untuk berjejaring dan bekerjasama kami seolah membentur tembok penolakan. No hard feelings, kami menyadari terkadang “kehidupan pelayanan atau gereja” dewasa ini “kurang sehat”. Gereja atau pelayanan menjadi seolah “perusahaan rohani” hingga menggunakan sistem franchise, sistem merger atau bahkan diambil alih oleh “organisasi gereja yang lebih besar”. Ketika di suatu daerah sudah ada “gereja A”, biasanya ada saja “gereja lain” masuk ke wilayah tersebut. Seandainya masuk ke wilayah yang sama dan menjangkau jiwa-jiwa belum percaya atau belum bergereja nampaknya bukanlah suatu cela. Namun bila masuk ke sana dan lalu menyedot jemaat dari “gereja A” maka ini merupakan cela dalam pelayanan gereja. Kita seharusnya saling membangun dan menolong bukan menjatuhkan seperti itu. Kita melayani Tuhan demi kepentingan KerajaanNya...demi kepentingan GerejaNya...bukan kerajaan dan gereja kita.
Hingga saat kita dengan tulus ingin membangun jaringan pelayanan dalam satu kesatuan sebagai tubuh Kristus, kita dipandang sebagai kompetitor baru. Harap dicatat maksud dan tujuan kami disini bukanlah hendak mempersatukan semua gereja dan pelayanan dalam “satu atap organisasi”. Kami rindu semua organisasi gereja dan pelayanan dapat berjejaring untuk tujuan ilahi, karena kita satu tubuh dan Tuhan Yesus sajalah Kepala kita.
Saya dapat berkata begitu sebab dulu saya pernah ada dalam pola pikir yang sama. Saat saya menggembalakan jemaat di Surabaya, yang ada dalam benak saya adalah bagaimana “gereja saya” bisa berkembang dan memiliki pengikut yang makin bertumbuh & banyak jumlahnya. Jangan sampai jemaat saya pindah gereja lain sebab itu dapat merugikan income kami. Kebanggaan saya sebagai “pendeta” kala itu adalah seberapa besar jumlah jemaat saya, berapa besar gedung gereja saya, berapa cabang gereja saya, berapa banyak kelompok kecil saya yang bertumbuh dan bertambah , berapa pemimpin baru yang saya hasilkan, berapa petobat baru yang kami hasilkan, dstnya..dstnya. Pusatnya adalah saya, gereja saya.
Di kala gereja kami kala itu mencapai titik jenuh dan mulai tidak bertumbuh atau bertambah, dan “gereja-gereja lain” mulai buka cabang di sekitar kami. Maka saya pun berdoa untuk “kebangunan/kebangkitan rohani”, motivasi saya sebenarnya adalah agar “gereja saya” bertambah jumlah anggotanya dan “saya” menjadi tokoh kebangunan rohani itu. Semua saya lakukan karena merasa pelayanan gereja sudah mulai “macet” dan sekarang ada kompetitor yang siap merebut “jemaat kami” masuk ke dalam “gereja mereka”.Jadi bukan sekedar ingin melihat orang percaya bertumbuh dalam Tuhan namun ingin “punya nama dan pelayanan besar”. Dulu saya katakan untuk “kemuliaan Tuhan”, namun sadar atau tidak, dalam hati yang terdalam harus diakui itu semua untuk “kebanggaan diri sendiri”. Keinginan diakui sebagai pendeta yang berhasil.
Hingga suatu hari saya tertempelak saat tengah berdoa bahwa seharusnya saya membangun “Gereja Tuhan”, bukan gereja saya. Yesus-lah Gembala yang baik dan agung, saya hanyalah hambaNya yang membantu menggembalakan umatNya semakin mengenal pribadiNya. Mengapa saya mendoakan agar terjadi “kebangunan/kebangkitan rohani”? Bila Yesus adalah pokok anggur dan kita carangnya, seharusnya kita senantiasa hidup di dalam Dia (Yohanes 15). Kalau gereja yang saya gembalakan “mati”, jangan-jangan karena itu “gereja saya” dan bukannya “Gereja Tuhan” yang seharusnya senantiasa melekat dengan Kristus Yesus.

Dalam keterbatasan dana yang ada, kami berdoa apa yang harus dan dapat kami kerjakan. Sebagaimana anak kecil yang membawa 5 roti jelai dan 2 ikan pada Tuhan Yesus untuk memberi makan 5000 orang (Yoh 6:1-15), begitu pula kami dengan jumlah uang yang mungkin bagi sementara orang tidak ada artinya, datang padaNya. Lalu Tuhan ingatkan bahwa Ia sanggup memberi makan 5000 orang dengan melipatgandakan apa yang kami miliki. Akhirnya Tuhan membimbing kami melayani melalui dunia maya. Kami sempat menggunakan koneksi “W” untuk akses internet di rumah namun kadang terkendala dengan sambungan internet yang lambat. Hingga akhirnya kami menggunakan jasa warnet untuk memperlebar Kerajaan Tuhan dan memuridkan bangsa-bangsa.
Saat kami pertama kali melakukan pelayanan dunia maya, kami ini ditertawakan dan dicibir, namun saat pelayanan kami mulai berkembang, “seperti biasa” mendadak semua melakukan hal yang sama.
Bagi kami melihat kejadian tersebut satu kata yang keluar dari mulut kami, Haleluya, akhirnya ada lebih banyak orang digerakkan Tuhan untuk melakukan penjangkauan, penginjilan, pengajaran, sekolah Alkitab, memperlengkapi umat Tuhan dan masih banyak hal lagi melalui dunia maya.

Kami bersyukur melalui salah satu website pertemanan Facebook, kami dapat terhubung kembali dengan banyak teman-teman lama (SMPK Bahureksa, SMAK Dago, STBA Yapari, INTEL, geng Moonraker,dll), rekan-rekan seperjuangan dalam pelayanan (Cornelius Wing, Jonathan Pattiasina, Samuel Saputra, Franky Sihombing, Melanie Pedro, Roger Thoman, Jammie Bakker, Shelley Lubben, Morria Nickels, Frank Viola, Neil Cole, Robert Ricchiardelli dll) , anak-anak rohaniku maupun teman-teman baru bahkan keluarga besarku. Luar biasa sekali!

Puji Tuhan, bahwa salah satu pelayanan kami, Eagles Nest Online Bible School yang sederhana dapat berkembang dalam hitungan bulan kini bukan hanya diikuti oleh saudara-saudara seiman di Indonesia namun juga Singapura. Ini merupakan hal yang luar biasa bagi kami. Sungguh Tuhan menguatkan kami, sebab kala kami memulai Sekolah Alkitab gratis ini, orang-orang pun terheran-heran. Mengapa kamu tidak menarik biaya para siswa/murid yang mau belajar? Alasan kami sebab Tuhan Yesus tidak pernah menagih uang sekolah dari para muridNya. Maka saya pun tidak akan menagih biaya apa-apa, kecuali para murid digerakkan oleh Tuhan dan ingin memberi dengan sukacita. Bagi kami yang terpenting adalah mereka yang menjadi siswa, mempelajari, menghidupi kebenaran dan memuridkan orang lain lagi. Sekolah ini bukan tentang mencari uang tetapi mencari Tuhan. Bila pun ada orang yang mengambil bahan ini secara cuma—cuma bagi kelompok kecilnya atau pemuridan di organisasi gerejanya atau untuk dipelajari sendiri,asalkan orang tersebut bertumbuh dan makin cinta Tuhan. Maka tugas kami sebagai pendidik dan pengajar berhasil. (Catatan: Ini merupakan “keyakinan” kami, jadi bila Sekolah Alkitab atau STT anda menarik biaya tidak ada tujuan kami sedikitpun “menyerang” lembaga anda. God bless you)

Kini kami tengah berdoa untuk sebuah tempat/rumah yang cukup besar untuk kami gunakan sebagai tempat untuk menjadi pusat studi dan pembelajaran yang kami beri nama PUSAT PEMBELAJARAN & PENGEMBANGAN KOMUNITAS (P3K) atau COMMUNITY STUDIES & DEVELOPMENT CENTER (CSDC). Kami telah memiliki sekitar 1000 judul buku rohani, puluhan buku sekuler dari berbagai latar belakang ilmu, beberapa ratus judul kaset/CD/VCD khotbah & pengajaran dimana kami hendak membuat perpustakaan bagi tubuh Kristus hingga kita semua dapat belajar untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Sebenarnya ini merupakan koleksi pribadi yang saya sangat sayangi namun apa artinya bila semua buku itu hanya disimpan di lemari, lebih baik dibuka bagi mereka yang mau belajar dan bertumbuh dalam Tuhan untuk menjadi dampak bagi sekitarnya.

Kami juga rindu untuk mengadakan lebih banyak pelatihan untuk memperlengkapi tubuh Kristus secara interdenominasi tanpa memandang asal muasal denominasinya. Kami rindu untuk memperlengkapi setiap orang kudus untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Dunia ini membutuhkan kita sebagai “garam dan terang di muka bumi ini”. Hati kami rindu melihat orang percaya tidak hanya “jago kandang”, nampak luar biasa di dalam gedung gereja namun saat di luar “melempem” (tidak ada dampaknya).
Selama hampir dua tahun ini, kami memperlengkapi “orang kudus” di tempat umum (cafe, rumah makan, warung lesehan, rumah orang yang kami layani, bahkan di pinggir jalan) atau di salah satu kamar yang kami sewa. Kami belum memiliki dana untuk menyewa tempat khusus atau membeli rumah, namun satu perkara yang indah adalah Tuhan ada di tengah kami. Kami tidak ingin dibatasi oleh fasilitas yang belum kami miliki dan membatasi Roh Kudus untuk bekerja di tengah kami.

Dari pelayanan The Body Building (Pelayanan jejaring kami). Puji Tuhan, pada bulan April dan Mei ini kami akan mengadakan camp Father Heart and Sonship bersama pelayanan Zoe Ministries Malaysia, yang dipimpin Pr Christopher K. Camp ini akan diadakan di dua kota yaitu Surabaya dan Bandung. Selebihnya kami akan melayani bersama beliau di Probolinggo dan Jember di beberapa organisasi gereja yang membuka diri. Apa yang orang pandang tidak mungkin, menjadi selalu mungkin bila Tuhan yang telah menetapkan.

Beberapa rekan lain, seperti Robert Fitts (Uncle Bob) dari Outreach Fellowship International dan Roger Thoman dari Appleseed Ministries juga merencanakan untuk datang ke Indonesia untuk melihat apa yang Tuhan kehendaki untuk mereka kerjakan atau bantu untuk Indonesia. Kami mungkin tidak punya apa-apa namun kami ini “milik” Tuhan yang memiliki segala sesuatu. Bersama kedua rekan senior saya di atas kami tengah berdoa agar gereja dapat berdampak dalam masyarakat bukan hanya sekedar secara rohani namun juga secara holistik. Meski mereka mengenal Kristus Yesus sebagai Tuhan mereka. Namun bila kita tidak menolong mereka untuk pulih secara kejiwaan dan secara finansial bangkit, maka kita akan melihat jiwa-jiwa ini hidup dalam kebiasaan lama mereka.
Beberapa tahun lalu, kami banyak memenangkan jiwa atas kasih karunia Roh Kudus dan sesekali memberikan bantuan sembako atau pengobatan gratis secara periodik. Petama-tama, kami puas melihat jiwa-jiwa diselamatkan dan kami dapat “melakukan perbuatan baik” dengan memberikan sumbangan dalam bentuk sembako maupun medis. Namun bila kami melihat dari dekat, tidak banyak perubahan yang signifikan secara holistik, kadang mereka berkompromi lagi dengan pola dunia atau cara hidup yang lama akibat kesulitan hidup. Mereka tidak hanya butuh hal rohani, mereka juga butuh pemenuhan kebutuhan kejiwaan maupun jasmani.
Mereka yang sempat kami layani adalah mantan pengedar narkoba, bandar judi, pelacur, anak geng/mafia, paranormal, kasus curanmor, anak jalanan, petani miskin, mantan napi dan yang sejenisnya.
Sebab kami kala itu sebagai gereja Tuhan, hanya tertarik pada “jumlah yang diselamatkan” lalu meninggalkan mereka. Persis seperti orangtua yang tidak bertanggungjawab, setelah melahirkan seorang anak ditinggalkan begitu saja, hanya sesekali ditengok itupun kalau tidak lupa. Saya sangat menyesali kebodohan saya kala itu sebagai seorang pemimpin dan “ayah rohani”.
Untuk kesekian kalinya Tuhan menegur kami, hingga paradigma pelayanan kami berubah dan kini kami mau melayani secara lengkap, sebuah pelayanan holistik yang menyentuh rohani, kejiwaan dan jasmani mereka. Kini kami melihat jiwa-jiwa ini sebagai pribadi yang unik. Kami tidak mau lagi melihat mereka sebagai sekedar jumlah bilangan atau proyek pelayanan.Bukan masalah berapa banyak jiwa, namun berapa orang yang dapat kami bimbing dan bawa terus bertumbuh dalam Tuhan hingga ia dapat menjadi terang dan garam bagi rekan-rekannya “di masa lalu”. Kini kami fokus di dalam memuridkan mereka yang telah mengenal Kristus Yesus secara holistik.

Bagi sementara orang, yang seperti biasa menjadi “pengamat rohani”, kami ini nekat katanya. Memang tipis nampaknya antara hidup nekat dan beriman pada Tuhan bagi sebagian orang. Dalam ketiadaan dana dan donatur sekalipun, kami tetap mau taat padaNya. Entah ada yang memback-up kami atau tidak, kami tidak ambil pusing. Kami melihat pelayanan ini sebagai bagian hidup kami dan bukan pekerjaan apalagi mesin untuk menghasilkan uang. Ini adalah visi dan misi keluarga kami. Ketika ada orang-orang yang mau berjuang bersama kami, puji Tuhan, sekalipun tidak ada, tidak masalah sebab Tuhan beserta kami, Ia adalah Immanuel. No hard feelings, Brothers and Sisters. Kita sama-sama membangun tubuh Kristus. Kita mau taat untuk mengerjakan bagian kita dalam arahan Dia. Kami sudah belajar makna hidup dalam kelimpahan maupun kekurangan, kami belajar untuk mengucap syukur dalam segala hal. Kami belajar untuk melihat segala sesuatu dari perspektif Tuhan, melihat situasi seberat apa pun secara positif. Sebagai sebuah kesempatan dimana Tuhan ingin membentuk karakter kami makin segambar dengan Kristus.

Sebuah lembaga gereja dan pelayanan bernama United Christian Faith Ministries (UCFM) dari Amerika Serikat pun menahbiskan saya, Dave Broos, sebagai UCFM ordained minister mereka untuk wilayah regional 11 Asia pada tanggal 22 Februari 2009 lalu. Ini juga di luar dugaan bahwa pelayanan kami mendapat apresiasi dan pengakuan dari rekan-rekan di sana. Puji Tuhan, kini kami bisa berjejaring dengan rekan tubuh Kristus lebih luas lagi dan kami bersukacita atas hal tersebut. Maz 133.

Kini yayasan yang dahulu kami dirikan di Surabaya, Yayasan Pelayanan Cinta Kasih Bangsa (YPCKB), pada November 1998 rupanya dikembalikan kembali untuk dikelola oleh kami. Kami sempat mengundurkan diri dari yayasan tersebut pada tahun 2005 akibat terjadi apa yang saya sebut sebagai “politik dalam pelayanan”. Kini kami tengah berembuk dengan beberapa rekan sekerja di Surabaya dan anak-anak rohani kami di sana bagaimana solusi terbaiknya. Kerinduan kami yayasan ini dapat menjadi alat Tuhan kembali setelah sempat “mati suri” sepeninggal kami kala itu. Tolong dukung doa agar permasalahan pajak yang sempat terbengkalai beberapa tahun terakhir ini dapat diselesaikan dengan baik. Dukung doa agar rekan saya, Onggo Susilo, yang saya percayakan untuk mengambil kemudi yayasan ini di Surabaya dapat secara optimal menjadi terang berkat di sana.

Pada bulan April ini pun , kami akan mengadakan pelayanan bersama badan missi Open Doors. Kami melayani bersama OD, sebab kerinduan hati kami sama untuk melihat Amanat Agung terjadi di muka bumi dan kita sebagai satu tubuh Kristus bekerja bersama-sama menanggung beban terutama bagi anggota tubuh/gereja yang teraniaya. Sebagai salah seorang volunteer OD di Bandung, kami sangat gembira dapat berjejaring dan bekerjasama memperluas Kerajaan Tuhan. Kami berdoa agar organisasi gereja di Bandung mau membuka diri dan perduli terhadap gereja Tuhan teraniaya di muka bumi ini.

Dukung doa juga untuk istri saya, Novie, yang saat ini tengah menjabat ketua PA Haleluya (Persekutuan para orangtua murid di Lembaga Pendidikan Baptis Bandung). Agar perubahan yang Tuhan kehendaki dan regenerasi dapat terjadi dalam persekutuan ini. Ada banyak tantangan dari muka lama yang tidak menyukai perubahan-perubahan. Ini sudah bagian sejarah kekristenan dimana mereka yang dulu merupakan bagian movement (kegerakan) kemudian membuat monument (monumen). Hingga saat Tuhan ingin membuat pergerakan lagi, ia tidak mau bergerak sebab sudah mapan. Ketika Tuhan memakai orang lain (apalagi yang lebih muda), tanpa sadar mereka menganiaya orang yang mau mentaati Tuhan tersebut. Mengapa? Orang yang merasa dirinya “pendiri” kadang terusik dikala ada seorang baru yang menarik perhatian “massa”nya. Persis seperti Orang Farisi terusik dengan pelayanan Tuhan Yesus. Kita sebagai anak-anakNya pasti akan mangalami hal seperti itu juga. (Yoh 15:20)

Simple Church Network, pun telah mengadakan pertemuan di rumah-rumah atau kadang juga di tempat umum. Suatu kumpulan murid yang belajar bersama-sama, berdiskusi, membicarakan permasalahan dalam kehidupan, saling menasehati, membantu dan berdoa. Ada banyak orang yang enggan ke gereja (karena berbagai alasan) maka kami membawa gereja ke tengah mereka. Kami coba belajar menghidupi pola gereja mula-mula yang ada dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 dan Matius 18:20. Kadang kami hanya melayani satu jiwa, kadang satu keluarga, kadang satu kelompok, kadang satu komunitas besar, intinya kami tidak perduli berapa banyak yang kami layani. Lebih baik melayani satu jiwa yang sungguh-sungguh haus dan lapar akan Tuhan (ingin menjadi murid Kristus) daripada satu gereja atau komunitas besar yang hanya suka khotbah “ice cream” dan berdoa “give me..give me, blessed me blessed me”.


THE EAGLES NEST MINISTRIES:


THE BROOS FAMILY