Tampilkan postingan dengan label INFO PELAYANAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INFO PELAYANAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Mei 2013

EAGLES NEST MINISTRIES



 
EAGLES NEST MINISTRIES
Jawaban bagi Indonesia
Indonesia dikenal sebagai sebuah negara kepulauan yang memiliki keragaman suku, budaya dan bahasa daerah. Mayoritas penduduk Indonesia merupakan orang non Kristen dan merupakan negara Muslim terbesar di dunia. Masih ada sekitar 129 suku dari 23 rumpun suku di Indonesia yang sama sekali belum pernah mendengar berita Injil. Gereja Tuhan di Indonesia mungkin telah berupaya memberitakan Injil dalam masyarakatnya namun hasilnya belum optimal. Begitu banyak orang yang menolak berita sukacita tersebut karena menganggap berita tersebut sebagai “kepercayaan asing”. Sebab dibagikan dalam kemasan yang kebarat-baratan, yang mungkin tidak cocok dengan budaya setempat dari masyarakat yang hendak dijangkau. Ada banyak suku yang siap dan terbuka seandainya kita memberitakan berita keselamatan itu dengan menyajikannya sesuai kebiasaan, adat istiadat serta budaya mereka.
Eagles Nest Ministries berdiri 1 Juli 2007 di kota Bandung, salah satunya untuk menjawab tantangan ini. Pelayanan ini dirintis oleh suami istri Dave Broos dan Novie Durant yang merindukan umat Tuhan meresponi Amanat Agung Tuhan (Mat 28:19-20, Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman) untuk menjadi murid dan menjadikan segala bangsa murid Tuhan hingga kerajaan Tuhan diperluas, suatu umat yang bukan “sekedar beragama Kristen” tetapi mengetahui panggilan Tuhan atas hidupnya dan membawa dampak bagi komunitasnya. Dave Broos merupakan hamba Tuhan yang ditahbiskan oleh United Christian Faith Ministries dari Amerika Serikat, ditunjuk sebagai regional director dari Shadow of the Cross di Indonesia (sebuah pelayanan bagi sub kultur di perkotaan), pendoa syafaat Global Prayer Network – Johan Maasbach Wereld Zending dan utusan Injil dari Gereja Oikos Indonesia jemaat Surabaya.
Visi Eagles Nest Ministries adalah “MEMBERITAKAN KABAR BAIK, MEMURIDKAN & MENGUTUS SETIAP ANAK TUHAN UNTUK “MENJADI” GEREJA DIMANA PUN MEREKA BERADA”. Kerinduan kami adalah bekerja bersama dan memperlengkapi semua denominasi gereja, persekutuan, pelayanan Kristen lainnya dalam menyelesaikan amanat agung. Pelayanan ini berjejaring dengan pergerakan pemuridan dan penanaman gereja dunia Zoe Ministries, LK10 dan Outreach Fellowship International.
Missi kami adalah:
  • MEMPERKENALKAN PENGHARAPAN & KASIH BAPA SURGAWI PADA DUNIA TERHILANG
  • MEMULIHKAN & MEMURIDKAN MEREKA YANG BERKOMITMEN UNTUK BERTUMBUH DALAM KRISTUS
  • MELATIH DAN MENGUTUS MURID KRISTUS SEBAGAI AGEN PERUBAHAN KE SELURUH DUNIA
  • MELIHAT TERANG TUHAN BERSINAR DIMANA-MANA MENERANGI DUNIA SAMPAI TUHAN DATANG KEMBALI

Kami menyadari bahwa kami tidak bisa bekerja sendiri tetapi diperlukan kebersamaan dan kesadaran bersama akan kehendak Tuhan. Diperlukan sebuah kesehatian dan kesatuan (meski kita berbeda organisasi tapi satu dalam Tuhan Yesus) agar kita dapat berfungsi sebagai tubuh Kristus yang menjadi berkat dan dampak bagi mereka yang belum mengenal Tuhan.
Bagaimana Anda dapat menjadi rekan kami?
Keberhasilan pelayanan ini berarti juga keberhasilan umat Tuhan di Indonesia. Roma 10:13-15,”Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia jika tidak ada yang memberitakanNya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis:”Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Kami mengajak Anda untuk dapat terlibat bersama dalam menjangkau jiwa terhilang melalui 3D
DIRI
Bagi mereka yang mau terlibat dalam mewartakan Injil, pemuridan, penanaman dan pengembangan gereja. Kami memberi diri untuk memperlengkapi baik seorang pribadi maupun gereja atau persekutuan yang hendak bermultiplikasi atau menanggapi amanat agung. Bukan jumlah orang tetapi kesediaan menanggapi panggilan Tuhan adalah tujuan kami. Kami memiliki bahan-bahan pemuridan yang dapat digunakan baik untuk pribadi, persekutuan maupun gereja yang hendak bertumbuh.
DOA
Anda dapat berdoa syafaat keluarga kami dalam memenuhi panggilan Tuhan dalam kehidupan kami. Kami juga menyediakan blog yang berisi berita dan pokok doa bagi suku-suku terabaikan baik di Indonesia maupun mancanegara.
DANA
Bagi mereka yang mau mendukung kami agar kami bisa pergi memperlengkapi umat Tuhan maupun gereja Tuhan di daerah terpencil atau tak mampu hingga kami dapat memperlengkapi dan mengutus lebih banyak lagi anak Tuhan dalam pemuridan dan perintisan gereja. Bagi yang terbeban dapat menghubungi kami lebih lanjut.
Saya percaya Anda dapat menanggapi salah satu atau bahkan ketiga hal tersebut sebagai anggota tubuh Kristus yang telah mengalami kasih karunia dan anugerah keselamatan. Anda dapat merenungkan dan mendoakan ke tiga hal tersebut demi menjangkau mereka yang berseru,”Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami.” (Kis 16:9). Dapatkah Anda mendengar seruan mereka yang terhilang? Tuhan menunggu partisipasi dan pengabdian Anda kepadaNya.
Salam dan doa,
Dave Broos
Kontak kami dapat melalui inbox Facebook atau direct message Twitter, email: davebroos@yahoo.co.uk , telpon 022-92050322 atau SMS 087832744286.

Kamis, 25 April 2013

Stand True Pro-lif Outreach - What I saw and heard during my two days at the murder trial of abortionist Kermit Gosnell

What I saw and heard during my two days at the murder trial of abortionist Kermit Gosnell:
I recently spent two days at the murder trial of Kermit Gosnell, the abortionist accused of the murder of seven babies born alive and one woman. Gosnell would take babies who were born alive after botched abortions and snip the backs of their necks to finish the job. You can find out all about who Gosnell is and what he did at http://www.whoisgosnell.com
I arrived at the courthouse on Monday morning to find out the trial would be postponed for a day because of the defense attorney being sick and in the hospital. Father Frank, Janet Morana, Alveda King and I were able to talk to the prosecutors who allowed us to view and examine the evidence that was taken from his “house of horrors” abortion mill.
As I walked around the filthy, rusty and utterly disgusting equipment I wanted to vomit. I could not believe this stuff was taken from a so-called “medical clinic.” The table that the abortions were performed on looked like it was straight out of a horror movie, as did the suction tubes and ancient ultra-sound machine. The recliner in which women sat to recover from the abortions was stained and tattered and not fit to sit on. Earlier that day the prosecutor almost sat in the chair and she was visibly upset that she came so close to doing so.
On Tuesday I met up early in the morning with Alveda King and went back to the courtroom for the opening of the defense’s arguments. The day opened with defense attorneys arguing for the acquittal of all the charges to the judge, without the jury present.
Gosnell’s attorney was visibly conflicted as he went back and forth between calling the victims either a fetus or a baby. At one point he yelled out, “These infants, fetuses or whatever you call them.” I wanted to scream but had to bite my tongue as I listened to this dribble.
It suddenly became very personal to me as the defense attorney began to address the abuse of a corpse charges that Gosnell was facing for the baby parts found in jars in his house of horrors. When the attorney started spewing about how these were not real body parts because they were not real humans yet, I began to tear up. He talked about how these babies were not really human and all I could think about was Benjamin Davis, my son who we miscarried two years ago. Benjamin was a real person and was given a real funeral; he was an actual human being just as these babies were.
The prosecutors at one point were discussing a time when after the botched abortion, Gosnell also botched his “snipping.” “It was laying there with a hole in its neck, it was moving and breathing, it was alive,” declared a clinic worker about one of the babies Gosnell murdered. Sitting there listening to all of these quotes and testimonies was one of the most difficult things I have ever done, but it was important for me to be there.
Gosnell (as you notice I refuse to call him a doctor) just sat there through all of this testimony without emotion or reaction. He just sat there taking notes and smirking as he looked around. He was guarded by an armed police officer at all times as he has been in custody for almost two years. It makes my skin crawl to think that this man could possibly be released and be back in practice if he is found not guilty.
I am also heartbroken for this man and the day he will face our Lord. I prayed for his soul and have been asking my friends to do so also. I know how despicable I was before I knew Christ and I also know Gosnell needs that hope of Christ just all of us do.
This Monday the attorneys will present their closing arguments and then his fate will be given to the jury to deliberate. Christian leaders will be outside the Courthouse on Monday leading a prayer vigil for the verdict and for Gosnell himself.
We need your help to get me back to the Gosnell trial on Monday and Tuesday. It is important for me to join other national leaders at the trial for the closing arguments and for the prayer vigil. We simply need help with the cost as it is not in our budget right now, can you donate $25, $50, $100 or whatever you can to help get me there?
Bryan Kemper
Will you help get Bryan Kemper to the Gosnell trial?
If you can donate please do so at https://donate.cornerstone.cc/?mid=STANDTRUE or on the donate button on Stand True's Web site.
Donations can also be mailed to Stand True – PO Box 890 – Troy, OH 45373 or call 540-538-2581 to donate by phone.
Bryan Kemper
Director of Youth Outreach for Priests for Life
Stand True
PO Box 890 * Troy, OH 45373
Tel 540.538.2581
bryankemper@standtrue.com
http://www.facebook.com/iambryankemper
http://www.facebook.com/standtrueforlife
http://www.standtrue.com
 

Rabu, 24 April 2013

Memiliki Hati Yang penuh belaskasihan

MEMILIKI HATI YANG PENUH BELASKASIHAN

 Saat kita berjalan dan melihat orang berpakaian kumal dan bau badan yang menyengat menghampiri kita apa yang timbul dalam hati kita? Ada yang merasa jijik, ada yang melihat sebagai pemalas, ada yang masa bodoh saja, ada pula yang segera mengambil uang recehan dan memberi, ada yang berbelas kasihan dan lalu memikirkan dan bertindak bagi mereka yang kurang beruntung, dan masih banyak lagi tindakan lainnya. Saya tidak tahu dengan Anda, namun setiap kali saya melihat orang-orang yang kurang beruntung ini timbul pertanyaan dalam benak saya sebagai anak Tuhan bagaimana saya bisa membantu mereka. Saya bayangkan bila seandainya saya yang ada di posisi mereka dan tak berdaya apa yang saya harapkan orang lain lakukan pada saya. Pernahkah Anda membayangkan bilamana Anda yang mengalami hal tersebut terjadi pada diri Anda?
Saat saya berbagi dengan beberapa rekan tentang melayani orang-orang ini, ada saja yang sinis dan dengan angkuhnya menyatakan sebab orang-orang ini tidak mau terima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, atau mereka masih hidup dalam dosa sebab orang miskin hidup di bawah kutuk sedang orang kaya itu hidup di bawah berkat, atau karena mereka malas bekerja dan masih banyak lagi jawaban yang tidak memberikan solusi selain penghakiman dan pembenaran diri sendiri untuk tidak bersentuhan dengan kaum miskin.
Benarkah Tuhan Yesus hanya menyembuhkan orang yang mau mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat? Bila kita membaca Alkitab kita akan menemukan bagaimana Tuhan Yesus bahkan menyembuhkan orang-orang yang belum percaya padaNya atau mengakui keilahianNYA. Karena Tuhan Yesus berbelaskasihan terhadap mereka. Sadarkah saudara bahwa Tuhan Yesus mati di atas kayu salib untuk menebus saudara karena belaskasihNya.Bukan karena saudara sudah hidup benar tetapi Ia mati menebus kita karena DIA tidak ada jalan lain, agar kita dapat kemerdekaan dari dosa. IA harus mati menebus kita dari segala ikatan dosa. Ada belas kasihan yang leimpah dalam DNA Kristus….bila kita mengaku anakNYA…bukankah DNA itu ada pada kita….mengapa kita kurang berbelaskasihan terhadap sesama kita?
Benarkah orang Kristen harus kaya dan yang miskin hidup kurang iman atau tinggal dalam dosa? Bagaimana dengan Tuhan Yesus dan teladan para murid? Apakah mereka menimbun kekayaan atau menyebarkannya untuk menolong sesama? Coba baca kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Orang dapat menjadi kaya karena karunia Tuhan, apakah hanya untuk dinikmati sendiri sampai tujuh turunan? Atau Tuhan ingin Anda menggunakan kekayaan itu untuk mensejahterakan kota atau desa dimana Anda tinggal? Tuhan melimpahi kita dengan kekayaan agar kita tamak dan egois atau untuk memberkati sesama..menolong sesama?
Bagaimana dengan orang Kristen yang pemalas, itu merupakan masalah mindset dan itu bisa kita ubah. Paulus menyatakan jangan beri makan pemalas yang hanya menggantungkan hidupnya dari belaskasihan orang lain. Bila kita mengasihi saudara kita, maka kita juga tolong dia untuk merubah mindsetnya (pola pikirnya). Sering saya dengar rekan-rekan yang mengkhotbahkan jangan hanya beri ikan pada orang miskin tapi kailnya. Saya rasa pengajaran itu atau ilustrasi itu kurang lengkap. Sebab meski diberi kail tapi bila tidak diajarkan bagaimana mengail maka ia akan jual kailnya. Apa yang seharusnya dilakukan adalah berikan ikan pada orang itu agar dia tidak lapar, lalu ajarkan cara mengail, beritahu trik mengail dan dimana mengailnya, kesulitan apa yang mungkin akan kelak dihadapi, pertemukan dia dengan para ahli mengail hingga dia bertambah wawasan dan bersemangat setelah bertemu para pengail handal, lalu beri kailnya dan jadilah mentor/pendamping bagi dia hingga ia bisa mandiri sebagai “pengail”. Dia akhirnya bisa menjadi teladan bagi yang lain.
Beberapa saudara bertanya bagaimana sebagai langkah awalnya? Saya membagikan ini semua dengan gratis, tidak ada “copyright” dalam pelayanan saya. Harapan saya copy it right dan teach it right. Layanilah sesama kita yang kurang beruntung dengan belaskasihan, perlakukan mereka sebagai sesama manusia, tolong jangan ada lagi yang menggunakan orang miskin sebagai sarana mengumpulkan dana untuk keperluan pribadi atau nama besar pelayanan/organisasi/yayasan/gerejanya. Lakukanlah dengan hati yang tulus karena Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengasihi kita maka sekarang kita mengasihi sesama kita.
Hal yang pertama, berdoalah pada Tuhan untuk dapat mengerti isi hati Tuhan (Matius 25:31-46). Mengerti panggilan kita sebagai anak Tuhan dan apa yang perlu kita lakukan terhadap sesama kita. Apa konsekwensinya menurut firman Tuhan itu bila kita tidak perduli?
Hal yang kedua, milikilah belaskasih Tuhan dalam hatimu. Coba bayangkan bila itu diri anda sendiri atau kerabat dekat anda atau orangtua anda yang alami. Apa yang akan anda lakukan atau apa yang anda harapkan dilakukan orang tersebut pada anda?
Hal yang ketiga, lihatlah sesama kita sebagai jiwa-jiwa yang berharga milik Tuhan, mereka belum tahu jawaban permasalahan hidup mereka dan anda yang memiliki jawaban tersebut. Selama ini mereka sudah banyak dilukai, dimanfaatkan, dan ditipu…..kini saatnya anda datang sebagai terang, garam, surat Kristus yang terbuka….teladan Kristus di muka bumi. Menjadi tangan Kristus…Kaki Kristus…telinga Kristus…tubuh Kristus yang memberkati tempat dimana mereka tinggal. Tuhan Yesus meninggalkan sorga untuk turun ke dunia yang kotor dan penuh dosa karena kasihNya yang besar.
Hal yang keempat, berdoa untuk rekan-rekan sekerja yang sehati dan sepikir. Sebab kita manusia yang terbatas dan membutuhkan rekan sekerja lainnya. Berdoa secara korporat/bersama mencari kehendak Tuhan, strategi pelayanan dan dimana harus memulainya.
Hari ini saya bagikan empat hal sederhana ini bagi saudara-saudaraku untuk renungkan bersama. Saya berdoa lebih banyak lagi orang terlibat dalam pelayanan bagi kaum terbuang dalam generasi kita ini. Doa saya belaskasih Tuhan turun atas semua anak Tuhan dan menggunakan segala daya upaya untuk menjadi alat Tuhan bagi desanya…kotanya..bangsanya….bangsa-bangsa di dunia…..
Dunia tidak butuh sekedar janji-janji manis…..mereka butuh bukti..teladan Kristus yang nyata melalui tubuhNya yang ada di dunia……GEREJA TUHAN…..Let’s get it on, Church!!!!!!!

Salam dari hambaNYA

Dave Broos
Gembala kaum terbuang
Anda dapat menghubungi saya melalui inbox FB, email atau YM davebroos@yahoo.co.uk, SMS 081330135643 dan BBM (pin 31306302)

Rabu, 01 Februari 2012

GIVE THANKS







GIVE THANKS
Kami mengucap syukur dan berterimakasih atas setiap sumbangan dan persembahan bagi kaum subkultur di jalanan. Terimakasih banyak atas belaskasihan bagi mereka yang kurang mampu. Pada bulan Desember lalu kami telah menyalurkan bantuan pakaian bekas, Alkitab, bahan bacaan, makanan dan bantuan finansial bagi mereka yang hidup di jalanan termasuk para pemulung, tukang sampah, anak jalanan dan bagi mereka saudara seiman yang dalam kemalangan.
Kami mengadakan hal ini bukan sebagai sebuah program tetapi lebih kepada menjadikan “memberi” sebagai gaya hidup kita sebagai orang percaya. Tuhan telah memberikan teladan pada kita dalam Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga IA mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Rasul Paulus pun menyatakan dan memberikan teladan,”Adalah lebih baik memberi daripada menerima” (Kis 20:35).
Kami percaya bahwa untuk memberitakan Kabar Baik tidak cukup dengan kesaksian atau khotbah, sebab kita tahu “perbuatan” kita berbicara lebih keras daripada ucapan kita. Saya ingat saat masih kecil, mama saya mengajarkan bahwa saya harus selalu jujur dan tidak boleh berbohong (Suatu pengajaran yang tentu bagus dan harus ditaati)….tetapi suatu kali ketika ada tamu datang dan mama tidak mau menemuinya….mama segera memanggil saya dan berkata,”Dave, kamu nanti buka pintu dan bilang sama tamunya mama belum pulang ya.” Pengalaman masa kecil itu membekas dalam diri saya. Sebab mama mengajarkan suatu hal yang baik tetapi beliau sendiri mengingkari ajarannya. “Orang dunia yang tinggal dalam dosa” butuh teladan hidup bukan sekedar orang “yang pintar bicara”. Tuhan memanggil kita menjadi terang dan garam dunia. Bukan hanya sekedar jadi juru bicara tetapi menjadi “kaki dan tangan” dari kasih Kristus yang menjamah dunia.
Orang-orang yang kami layani bukanlah “kaum” yang suka dilayani oleh bahkan gereja. Kalaupun ada pelayanan diakonia, rata-rata hanya melihat sebagai program pelayanan bagi kaum miskin..bagi-bagi sembako, pengobatan gratis, bimbingan belajar gratis dll (yang semuanya itu baik)….kelemahannya adalah tidak adanya hubungan dengan “kaum” tersebut. Padahal banyak di antara mereka yang ingin didengarkan dan dilayani. Sebab kaum miskin seringkali dianggap “merepotkan” dan suka meminta-minta terus. Biasanya dulu saya diajarkan agar jangan memberi mereka roti tetapi berikan mereka pancing agar bisa mandiri. Dan saya telah melakukan hal tersebut dan …….menemui kegagalan…..sebab memberi pancing saja tidak cukup….mereka butuh umpan bila hendak memancing dan terlebih lagi mereka butuh “seseorang” yang mengajarkan cara dan trik memancing dengan baik.
Apa yang saya percayai adalah kita, orang percaya dipanggil untuk memperluas Kerajaan Tuhan..bukan dengan memperbanyak bangunan gedung gereja yang megah….tetapi memperluas pengaruh kita di berbagai aspek kehidupan. Saya berpikir seandainya uang untuk pembangunan gedung gereja….setengahnya saja digunakan untuk dibuat koperasi simpan pinjam atau bank perkreditan rakyat bukanlah akan lebih bermanfaat baik bagi saudara seiman maupun orang belum percaya (dapat menjadi sarana penginjilan) atau “gereja mapan dengan omzet milyaran” bisa membangun perumahan rakyat bagi saudara seiman yang kesulitan memiliki rumah karena persyaratan-persyaratan tertentu….
Jemaat mula-mula disebut pertama kali sebagai Kristen di Anthiokia sebab orang di kota tersebut melihat gaya atau cara hidup yang sangat berbeda dengan orang sezamannya. Hingga mereka melihat pribadi Kristus dalam kehidupan jemaat mula-mula. Bagaimana dengan kita saat ini?
Saya melihat bila saudara seiman diberkati secara finansial, itu berarti Tuhan mempercayakan harta tersebut untuk perluasan Kerajaan Tuhan. Anda tentu bisa menggunakannya untuk membeli mobil Hammer, Bentley, Jaguar..dstnya…atau memiliki apartemen atau rumah di perumahan mewah atau berbelanja tas Hermes, Prada, Gucci..yang asli dan bukan KW. Tetapi jangan lupa bahwa Anda dapat berkelimpahan harta karena Tuhan. Dan Tuhan punya tujuan atas hal tersebut. Saya membaca hasil sebuah survey yang menyatakan bilamana seluruh orang percaya di dunia ini mengumpulkan 10% dari seluruh penghasilannya dan di kumpulkan maka “kemiskinan di muka bumi akan terhapus”. Wauw seandainya hasil survey tersebut valid, maka gereja dapat menjadi jawaban……sayangnya banyak biaya kita keluarkan untuk pembangunan dan pemeliharaan fasilitas. Seandainya kita dapat membangun fasilitas yang lebih sederhana dan menggunakan dana tersebut untuk membangun kota dengan pengentasan kemiskinan dengan membuka UKM atau kebodohan dengan sekolah murah dstnya.
Saya melihat teladan gereja mula-mula, mereka tidak punya fasilitas apa-apa, para rasul pun tidak memiliki fasilitas pribadi apa-apa…..tetapi mereka membuat “dunia berguncang”……bila menilik ke belakang dan melihat “dunia kita” saat ini…seharusnya kita bisa berbuat lebih. Jemaat mula-mula bisa berkembang pesat karena “gaya hidup Kristus” yang tampak dalam keseharian mereka hingga dunia yang belum percaya di sekitarnya terjamah. Dalam catatan sejarah anak-anak yang di buang di jalanan, dipungut, dirawat dan dibesarkan oleh jemaat mula-mula seperti anak sendiri…mereka juga merawat dan memelihara kaum miskin……orangtua yang sudah renta dan diabaikan dirawat di rumah sendiri seperti orangtua sendiri..dlll. Belaskasih Kristus bukan saja tercermin dalam kehidupan mereka tetapi dapat dirasakan secara nyata. Bahkan dalam Kisah Para Rasul dituliskan,”Semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. (Kis 2:44).Bagaimana dengan kita? Saya percaya bila kita memang terkoneksi dengan Tuhan dan memiliki hubungan dengan saudara-saudara seiman maka kita akan dengan mudah untuk memberi. Bahkan Tuhan mengajarkan agar kita membalas kejahatan dengan kebaikan,”Jika seterumu lapar, berilah dia makan, jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (Roma 12:20-21).
Pada tahun ini kami pun merencanakan untuk memperlengkapi rekan-rekan muda yang terbeban melayani kaum subkultur ini di berbagai kota. Kendala kami adalah dana dan kami mohon dukungan doa agar kiranya Tuhan membuka jalan bagi kami untukmemperlengkapi saudara seiman dan melayani lebih banyak lagi jiwa yang selama ini belum terjangkau dan merasakan kasih Kristus. Bila Anda ingin menghubungi kami dapat mengirimkan email davebroos@yahoo.co.uk atau SMS 081330135643 (maaf bila telpon tidak diangkat berarti kami sedang pelayanan). Bila Anda tergerak untuk mendukung pelayanan ini, Anda dapat mendukung kami dengan pakaian bekas (mohon yang masih layak pakai) hingga dapat disalurkan bagi mereka yang kurang beruntung di jalanan maupun ke panti asuhan atau werda/jompo yang membutuhkan, bila Anda memiliki Alkitab baik baru atau bekas, mainan anak, alat tulis/sekolah atau pun dana dapat ditransferkan melalui Bank BCA no rek 0081824788 atas nama Dave Broos.
OK thanks atas perhatiannya semoga apa yang saya bagikan dapat menjadi berkat. God bless you all.

Rabu, 24 Agustus 2011

SHADOW OF THE CROSS - INDONESIA


SHADOW OF THE CROSS - INDONESIA
Pelayanan terhadap subkultur yang berkembang di perkotaan. Subkultur merupakan komunitas budaya atau suku yang terlahir di perkotaan atau suatu tempat, diperkotaan kita dapat mengidentifikasi mereka sebagai geng bermotor,bikers, anak jalanan, gelandangan, anak punk, gothic, emo, rockers, skaters, tatto & piercing, dstnya.

PENGANTAR
Pelayanan ini fokus pada kaum subkultur. Ini merupakan pelayanan “the cutting edge” bagi kaum yang biasanya disisihkan bukan saja oleh dunia bahkan “gereja” pada umumnya.
Pertama kali didirikan oleh Morria Nickles di Hasville - Amerika Serikat dan menetapkan Dave Broos sebagai Regional Director di Indonesia tahun 2006. Shadow of The Cross, merupakan bagian dari pelayanan Eagles Nest Ministries – Indonesia yang fokus melayani kaum subkultur.
PERNYATAAN MISI:
- To Live The Truth (Hidup dalam kebenaran)
- To educate with love (mengajar dalam kasih)
- To Minimize misconceptions (meminimalisir konsep yang salah)
- To provide peace of mind (menghadirkan damai sejahtera dalam pemikiran)
TENTANG KAMI:
- Pelayanan ini merupakan organisasi non profit yang terbeban untuk memberitakan Injil di tengah kaum subkultur (gothic, punk, dstnya). Kami berupaya membagikan berita Injil dalam “budaya” mereka, dengan mengadakan persekutuan dan Studi Alkitab.
- Pelayanan ini berjalan dengan iman dan donasi tubuh Kristus yang ada. Pelayanan pertama didirikan 9 Maret 2002 di Haysville, KS, Amerika Serikat. Pelayanan ini memiliki tiga cabang, di Inggris (2004), Indonesia (Maret, 2006) dan Lebanon (Agustus,2006)
- Setiap pelayanan yang ada bersifat mandiri secara finansial dan badan organisasi secara hukum. Kami satu dalam iman, penjangkauan dan visi.
PENJANGKAUAN:
1. Gathering (simple church)
2. Antioch Box Project (Proyek Kotak Antiokhia)
a. Jerusalem Box, menolong orang miskin & gelandangan dengan donasi berupa pakaian, makanan, selimut, dll.
b. Antioch Box, menolong para utusan misi bagi kaum subkultur berupa Alkitab, traktat, legalitas, dll. Kami berdoa dan mencari pelayan Tuhan, mereka yang memiliki hati bagi kaum terbuang dan tersisihkan ini.
c. Corinth Box, memberikan materi bagi orang percaya baru berupa Alkitab, buku renungan harian, dan berbagai perlengkapan untuk menolong pertumbuhan iman.
d. Regina Box, setiap tanggal 14 April membagikan mainan dan bacaan anak bagi anak-anak yang kurang beruntung di perkampungan kumuh dan jalanan.
e. Bookbags of learning, menolong anak-anak putus sekolah agar dapat beroleh pertolongan untuk dapat kembali bersekolah.
3. Safe House/rumah singgah, kami masih berdoa untuk sebuah rumah yang cukup besar untuk dapat menampung anak-anak subkultur yang hidup di jalanan. Mereka yang dapat tinggal adalah anak yang serius mau bersekolah kembali dan mengikuti pendidikan kami.
4. Street teams, melakukan penjangkauan melalui friendship evangelism, musik(band), drama, tarian, acara-acara khusus dsbnya bagi kaum subkultur (gothic, punk, skaters, anak jalanan, gelandangan,dll).
5. Shadow Discipleship & Bible School (bekerjasama dengan Eagles Nest Discipleship & Bible School) ditambah materi-materi khusus untuk pelayanan underground atau subkultur ini.
Bagi saudara seiman yang mau konseling, turut terlibat pelayanan, mendoakan, bersahabat dengan kami atau menyalurkan dana untuk perluasan Kerajaan Tuhan dapat menghubungi kami di 081330135643 atau email: davebroos@yahoo.co.uk atau melalui Facebook (Dave Broos). Sedangkan bagi mereka yang mau mendukung pelayanan ini melalui dana dapat menyalurkannya melalui Bank BCA no rek 0081824788 atas nama Dave Broos. Atau bilamana Anda tergerak menyalurkan pakaian bekas (layak pakai) baik bagi balita maupun dewasa, mainan dan bacaan bagi anak-anak, Alkitab dan buku bacaan rohani bekas yang masih baik atau makanan untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan dapat menghubungi kami atau dikirimkan ke alamat Flat Sarijadi Blok G-1 no. 13, Bandung 40151 atas nama Dave Broos.

God bless you all,
Salam dan doa,
Ps. Dave Broos

Selasa, 28 Juni 2011

PRESS ON



Dear Friends,
Tak terasa tiga tahun sudah lewat di kota Bandung, melayani mereka yang selama ini merupakan kaum marginal dalam gereja pada umumnya. Melayani dan memuridkan mereka yang tak dianggap dalam masyarakat bahkan gereja. Banyak orang berpikir ini merupakan misi pelayanan bunuh diri. Di satu sisi ada orang-orang yang mengelu-elukan pelayanan kami dan rindu untuk belajar bersama tetapi di sisi lain banyak pula yang menganggap kami “gila”.
Selama tiga tahun kami melayani, sangat sedikit dukungan yang kami dapatkan, lebih banyak orang yang menjadi “penonton”. Mereka ingin melihat bagaimana kami dapat bertahan menjalankan visi Tuhan. Entah apakah ini bisa disebut lucu atau ironi? Semuanya tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Bila kita melihat pelayanan dari sudut “untung rugi” atau pelayanan sebagai sebuah “karier”, tentu apa yang kami kerjakan di kota Bandung merupakan hal yang bodoh atau misi bunuh diri. Sebab kami tidak mendapatkan keuntungan material apa-apa dari orang yang kami layani, bila pun ada jumlahnya tidak signifikan dan tak tentu. Dengan segala daya upaya kami coba menggali setiap talenta yang kami miliki untuk dapat menggali dana agar visi Tuhan ini dapat berjalan.
Kami melihat pelayanan kami dari sudut panggilan hidup kami sekeluarga, kami merasakan panggilan yang kuat untuk melayani kaum yang dimarginalkan. Sebagaimana sebuah pesan nubuat yang disampaikan oleh seorang hamba Tuhan sekitar 10 tahun lalu bagi kami, bahwa kami akan melayani sebagaimana Daud berada bersama pengikutnya di Gua Adulam (1 samuel 22:1-2, 2 samuel 23:8-39, 1 tawarikh 11:10-44). Para pecundang akan menjadi para pemenang! Setiap anak Tuhan memiliki otoritas yang berasal dari Nya, entah dari latar belakang apapun dia berasal. Sebab setiap anak Tuhan merupakan ciptaan baru di dalam Tuhan. Ketika bibit Kristus mulai bertumbuh dalam diri seorang anak Tuhan (ciptaan baru) maka akan menghasilkan buah Roh dari dalam diri orang tersebut. Karakter Kristus yang ia sembah akan nyata. Kami percaya setiap anak Tuhan tidak dipanggil untuk “sekedar beragama Kristen dan menjadi anggota sebuah gereja lokal agar dapat surat baptis, menikah dan lalu dikubur”. Kami percaya setiap anak Tuhan dipanggil untuk menjadi murid Kristus, anak-anak Tuhan yang merefleksikan Tuhan yang mereka sembah. Kami percaya setiap anak Tuhan memiliki panggilan Tuhan dalam KerajaanNya. Setiap anak Tuhan yang telah lahir baru memiliki missi di muka bumi ini.
Ada beberapa tawaran bagi kami sekeluarga untuk bergabung di gereja lokal tertentu untuk membantu pelayanan mereka. Namun sayangnya mereka lebih suka kami “hanya” membantu perkembangan pelayanan mereka dan meminta untuk “melupakan bahkan mengubur” visi yang Tuhan berikan bagi kami. Hingga kembali tantangan bagi kami adalah taat pada manusia untuk memenuhi kebutuhan jasmani kami pribadi atau taat pada Tuhan meski harus melangkah dengan iman, yang mungkin berarti suatu ketidakpastian secara finansial. Tiga tahun terakhir ini kami sungguh-sungguh belajar dalam arti sebenarnya, kesusahan sehari cukuplah sehari. Percaya bahwa Tuhan akan memelihara kami apa pun situasi dan kondisinya. Kami melihat bagaimana Tuhan “mengirimkan burung-burung gagak” untuk memelihara kami sebagaimana yang dialami Nabi Elia. Ada kalanya kami pun mengalami masa sebagaimana Nabi Elia, putus asa, takut, gentar….mau mundur karena kesepian di tengah pergumulan…mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dan tetap melayani Tuhan dengan setia dan membantu kesulitan orang-orang yang kami layani baik secara rohani maupun jasmani. Kami belajar bagaimana harus berbagi bukan dari kelebihan atau kelimpahan, tetapi berbagi dari kekurangan. Dan kami berbahagia telah diizinkan Tuhan untuk melalui ini semua. Kami dapat mengerti apa yang Rasul Paulus katakan,”Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”(Filipi 4:12-13)
Tiga tahun ini kami merasakan bagaimana kami diuji, kami ini mengiring Tuhan Yesus atau Mamon. Ternyata pada era ini sangat tipis antara kehidupan pengikut Kristus dengan pengikut Mamon. Beberapa temanku menyatakan,”Dave, kau memiliki karunia untuk hidup miskin. Kalau kami tak punya karunia itu.” Aku kadang bertanya-tanya, apakah benar ada karunia hidup miskin? Siapa sih mau miskin? Apakah aku mau hidup miskin? Tentu tidak, tetapi aku siap melaluinya bila memang itu harus kutempuh bersama keluargaku untuk kemuliaan Tuhan. Mau diakui atau tidak, kekayaan tidak bisa membeli kebahagiaan, kesetiaan dan kasih sayang dalam keluarga.
Di dalam kekurangan kami dapat melihat campur tangan Tuhan bagi kami untuk menggenapi visi yang Ia berikan. Kami dapat melihat bagaimana ide-ide baik kami runtuh dan gagal, lalu bagaimana selanjutnya pintu-pintu yang selama ini tertutup dan tak pernah terpikirkan terbuka. Kalau mau diukur kesuksesan pencapaian pelayanan yang kami kerjakan dari “kacamata” pelayanan masa kini tentulah pelayanan kami tidak signifikan. Ketika pelayanan lain membangun “kerajaan”, kami membangun pelayanan underground; ketika yang lain berupaya mempersuasi orang kristen lainnya untuk menjadi anggota gereja atau persekutuannya, kami mendorong agar setiap anak Tuhan bertumbuh dalam Kristus dan menjadi muridNya entah mereka mau bersama kami atau gereja/persekutuan yang lain…kami melihat organisasi gereja atau persekutuan lainnya sebagai saudara dan anggota tubuh Kristus, saudara seiman/tubuh Kristus tidak bersaing satu dengan yang lain; ketika yang lain coba mengumpulkan donasi sebanyaknya untuk membeli aset dan lain sebagainya, kami memilih untuk berbagi dengan pelayanan lain dan membantu saudara seiman yang tengah dalam kesulitan atau musibah. Apakah kami “sok suci dan sosial”, tidak…..kami hanya ingin hidup bergereja yang simple (sederhana) sebagai murid Kristus. Kami rindu melihat tidak ada lagi tembok diantara “organisasi gereja maupun pelayanan”, sebab kita ini satu di dalam Tuhan dan merupakan anggota tubuh Kristus. Kami tidak ingin menjadikan hal tersebut slogan tetapi mulai coba menghidupinya dalam keseharian kami. Apa artinya kita menyatakan dan bahkan mengajarkan hal yang benar tetapi tidak pernah menghidupinya…..kita harus berhenti hidup dalam kemunafikan.
Sekali lagi kami menghadapi tantangan besar di depan kami, sanggupkah kami melaluinya atau gagal? Kalau melihat dan merefleksi kesetiaan Tuhan selama ini, kami percaya bahwa Tuhan sanggup membuka jalan bagi kami. Namun bila melihat kondisi yang ada, kami merasa seolah para murid yang tengah menaiki perahu dan lalu topan badai datang menghadang hingga perahu pun hendak karam…Tuhan Yesus ada bersama mereka..tapi karena IA tidur….para murid pun mulai kuatir dan histeris. Mereka menjadi ketakutan tenggelam…hingga Tuhan bangun dan menghardik badai hingga tenang kembali. Sebelumnya Tuhan telah menyatakan bahwa mereka “akan sampai ke seberang”. Apa pun yan terjadi bila Tuhan sudah berfirman, maka kami “akan sampai ke seberang”. Rasanya kami memasuki fase tersebut, tetapi kami mau coba untuk tetap beriman..percaya padaNYA. Meski harus diakui dari sisi manusia kami tetap merasa ngeri. Dalam masa-masa ini, kami sering juga mengalami rasa kesepian. Bila kami ingat-ingat dulu saat saya masih menggembalakan jemaat, begitu banyak kawan rekan sejawat atau saudara seiman yang “seolah” merupakan sahabat sejati. Namun kala kami memilih untuk pergi dan melayani kaum marginal, kami tiba-tiba merasa kehilangan teman-teman dan saudara-saudara seiman. Saya tersadar memang suatu yang natural rupanya baik di kalangan sekuler bahkan di dunia “rohani” ternyata manusia masih memandang muka, harta dan jabatan seseorang.
Ada kalanya saya merasa hendak mundur saja dari pelayanan ini, sebab sedikit sekali rekan atau saudara seiman yang ada bersama kami untuk mendoakan dan mendukung kami. Kala saya mulai putus asa, tiba-tiba Tuhan mengingatkan saya kala IA sendiri datang ke dunia dalam rupa manusia. IA pun berasal dari keluarga kaum marginal, lahir di kandang domba…baby box-nya adalah tempat makan domba…pernah jadi pengungsi di Mesir selama Raja Herodes berkuasa, harus menjadi tulangpunggung keluarga setelah “ayah duniawi” Yusuf meninggal, diremehkan para Ahli Taurat dan golongannya sebab IA bukanlah golongan mereka..Tuhan Yesus hanyalah tukang kayu, IA disebut sahabat orang berdosa, murid-muridNYA rata-rata orang biasa dan berpendidikan rendah…tidak ada satu badan keagamaan saat itu yang memberikan donasi padaNYA malah mereka hendak menjebak dan membunuh DIA, Tuhan Yesus didukung dan mendapatkan donasi dari teman-temanNYA……Kalau Tuhan Yesus yang saya sembah pun harus melalui jalan terjal itu, siapakah kami..siapakah saya….doa saya,”Tuhan tolong kuatkan kaki dan iman hambaMU ini yang mulai goyah agar disegarkan kembali dan roh hambaMU ini tetap menyala-nyala melayaniMU. AMIEN”.
Dave Broos
Pastor of the Outcast (Ordained Minister of United Christian Faith Ministries)
Email: davebroos@yahoo.co.uk
Mobile phone: 081330135643

Kamis, 16 Juni 2011

Shadow of The Cross ( Sebuah Proposal)



Kepada yang terkasih
Saudara-saudara seimanku

Shalom,
Kami dari pelayanan bagi kaum subkultur dan teen at risk (Remaja Bermasalah), Shadow of the Cross hendak melampirkan sebuah proposal sederhana ini untuk meminta dukungan. Kami pada saat ini tengah menggumuli masalah perpanjangan kontrak tempat pelayanan kami di Bandung yang akan berakhir pada akhir bulan ini (Juni 2011).
Mungkin banyak yang belum mengenali pelayanan kami ini, maka kami akan coba untukmenceritakan sedikit perihal pelayanan ini.
SHADOW OF THE CROSS
Shadow of The Cross merupakan sebuah organisasi non profit, yang didirikan untuk mengabarkan Kabar Baik bagi kaum subkultur. Kami coba untuk menyampaikan Berita Injil pada mereka yang tersesat dalam lembah kekelaman. Kami menanam/merintis komunitas melalui friendship evangelism (Penginjilan melalui persahabatan) dan Studi Alkitab. Di Indonesia dan Inggris, pelayanan ini memiliki safe house/rumah singgah sebagai tempat tinggal bagi mereka yang mau dimuridkan tetapi tak memiliki rumah dan juga sebagai tempat mempelajari kebenaran.
Pelayanan ini berjalan melalui donasi tubuh Kristus. Setiap uang yang masuk diperuntukkan bagi pelayanan subkultur dan berjalannya roda pelayanan.
Shadow of The Cross, beroperasi di empat negara (Amerika Serikat, Inggris, Indonesia dan Lebanon), setiap pusat pelayanan memiliki kesamaan visi, penjangkauan, pernyataan iman tetapi secara operasional dan finansial berjalan masing-masing.
Shadow of The Cross didirikan oleh Morria Nickles pada tahun 2002, pelayanan ini dimulai dengan The Chalice. Pada tahun 2004, diubah namanya menjadi Shadow of The Cross, kaum subkultur pertama dilayani pada awalnya adalah kaum Gothic. Akhirnya merambah semua subklutur yang ada di jalanan termasuk anak jalanan dan gelandangan. Kini Morria dan suami melakukan penanaman gereja pada salah satu suku Indian.
Di Indonesia, Dave Broos, diutus dan ditunjuk untuk mengembangkan pelayanan Shadow of The Cross pada tahun 2006 di Surabaya – Indonesia. Tahun 2007, Dave sekeluarga pindah ke kota Bandung dan mengawali kembali pelayanan ini. Sempat tersendat karena kekurangan dana dan kurang dukungan, sampai Tuhan memberikan hikmat untuk melakukan penetrasi pelayanan melalui dunia maya dan jejaring sosial. Puji Tuhan, hal tersebut mengawali terobosan pelayanan dan terjaringnya jiwa-jiwa bagi Tuhan.
KEGIATAN KAMI
PELAYANAN JALANAN (WE CARE – KAMI PEDULI)
- Memberikan bantuan pada wanita hamil luar nikah, ibu dan anak yang mengalami KDRT, Janda tua yang tak memiliki keluarga.
- Membuka lapangan pekerjaan bagi anak-anak atau orang jalanan agar dapat diterima kembali dalam masyarakat.
- Membagikan bahan pangan dan sandang bagi gelandangan atau orang jalanan.
PELAYANAN PRO LIFE (WE STAND TRUE – KAMI BERDIRI DALAM KEBENARAN)
- Menyuarakan gerakan anti aborsi, menyelamatkan anak-anak/bayi yang dibuang atau ditelantarkan.
- Menyuarakan agar anak-anak Tuhan menjaga keperawanan/keperjakaan, menentang seks sebelum pernikahan.
PELAYANAN ALTERNATIVE WORSHIP (WE REACH – KAMI MENJANGKAU)
- Penjangkauan melalui musik (salah satu ujung tombak pelayanan kami melalui grup musik jazz, Jazz for Fun (Juara lomba jazz se Indonesia yang diadakan Axis), grup rock John316 dan grup pop Matera/gitaris grup tsb adalah bagian pelayanan kami dimana mereka sudah menelurkan sebuah album dan tampil di acara musik ANTV)
- Penjangkauan melalui jejaring sosial, layanan doa, konseling dan pemuridan.
PELAYANAN PASTORAL MELALUI KOMUNITAS (WE ARE COMMUNITY OF SIMPLE CHURCH)
- Penanaman gereja dalam bentuk kelompok kecil, yang menekankan pada pemuridan, nilai kekeluargaan dan persaudaraan, penjangkauan dan bermultiplikasi.
KEBUTUHAN KAMI
1. Pada saat kontrakan rumah kami akan berakhir pada bulan Juni 2011 ini. Rumah yang kami tinggali juga merupakan safe house dan tempat “ibadah kecil kami”. Kami membutuhkan dana sekitar 8 juta Rupiah untuk memperpanjang satu tahun masa kontrak rumah tersebut. Dukungan doa dan dana dari saudara-saudara seiman, sangat kami harapkan. Bagi mereka yang hendak berkunjung ke tempat kami, mohon menghubungi kami terlebih dulu melalui 081330135643 (Dave). Kami berada di misi garis depan, dimana keberadaan kami lebih dikenali sebagai misi “kemanusiaan” dalam masyarakat.
2. Kami juga tengah mencoba mengembangkan usaha-usaha kecil untuk mendukung kehidupan dan berjalannya pelayanan ini. Dengan modal yang terbatas kami saat ini tengah coba mengembangkan sebuah distro bernama The Living Faith, kami membutuhkan rekan-rekan yang mau mengembangkan usaha ini. Kami membutuhkan perangkat komputer yang cukup baik untuk mendesain. Selain itu, kami juga tengah mengembangkan usaha masak atau catering Novie’s Kitchen. Kami coba berjualan masakan di lingkungan dimana kami tinggal.
3. Donatur yang dapat membantu kami untuk menyediakan sandang maupun pangan bagi penjangkauan kami di jalanan maupun panti-panti (asuhan maupun werda) yang membutuhkan.
KONTAK PERSON
DAVE BROOS, dapat dihubungi pada pesawat 081330135643 atau email davebroos@yahoo.co.uk atau melalui jejaring sosial Facebook. Lebih jauh mengenai Shadow of The Cross dapat diakses melalui http://shaddowcross.blogspot.com . Kami juga melayani melalui blog lainnya diantaranya http://renungandave.blogspot.com dan http://globalprayernetwork.blogspot.com .
Latar belakang Dave Broos, selain Regional Director untuk Shadow Of The Cross, merupakan utusan Injil Gereja Oikos Indonesia jemaat Surabaya, ditahbiskan sebagai Ordained Minister (Pastor) oleh United Christian Faith Ministries regional 11 - International, Amerika Serikat. Menikah dengan Novie Durant dan dikaruniai dua orang putra, Philip dan George Alexander Broos.
BILA ANDA HENDAK MENYALURKAN DONASI
Dapat disalurkan melalui Bank Central Asia, BCA Bandung II no rek 0081824788 atas nama Dave Broos, Jl. Asia Afrika 122-124, swift code CENAIDJA. Atau bila mau langsung bertemu atau berkunjung silahkan hubungi saya melalui email (davebroos@yahoo.co.uk) atau handphone (081330135643). Tuhan Yesus memberkati.
Hormat Saya,
Pastor Dave Broos

Jumat, 27 Februari 2009

GENERASI TANPA AYAH


Generasi Tanpa Ayah (Fatherless Generation Ministry)

1.Pelayanan penginjilan, konseling dan doa melalui website persahabatan dan YM, melalui SMS dan telpon. (sudah berjalan)
2.Pelayanan konseling dan pemulihan keluarga:
Konseling bagi remaja (pengarahan agar berhati-hati di dunia maya, stop kekerasan terhadap sesama baik secara fisik maupun verbal, tetap menjaga virginitas, narkoba, alcohol, free seks & bunuh diri bukan solusi, bagaimana menemukan “pacar” yang cocok)
Konseling bagi keluarga (bagaimana menghadapi anak yang memberontak, apakah anda dikendalikan anak?, Papa, kami membutuhkan engkau!)
3.Pelayanan bagi gelandangan dan orang miskin (Ministry to the homeless and needy people)
4.Pelayanan bagi mereka yang merupakan seorang pecandu (rokok, alcohol, narkoba, seks, onani, makan, nonton, pornografi, shopping, marah, pelayanan, dll); terapi kelompok sesuai kecanduannya.
5.Pelayanan khusus bagi mereka yang terlibat di dunia hitam (anak geng, wanita/pria penghibur, penjahat, napi, dll)
6.Pelayanan pro life, menyuarakan anti aborsi dan mempersuasi mereka yang hamil di luar pernikahan agar tidak menggugurkan kandungan.
7.Pelayanan home schooling bagi anak-anak jalanan yang putus sekolah.