Sebuah pelayanan yang dirintis oleh Morria Nickels di Amerika Serikat untuk melayani kaum subkultur yang tersisihkan dari masyarakat. Pada tahun 2006 telah menunjuk dan mengutus Dave Broos sebagai Regional Director di Indonesia
Tampilkan postingan dengan label pemuridan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemuridan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 06 November 2013
Rabu, 24 April 2013
Memiliki Hati Yang penuh belaskasihan
MEMILIKI HATI YANG PENUH BELASKASIHAN
Saat kita berjalan dan melihat orang berpakaian kumal dan bau badan yang menyengat menghampiri kita apa yang timbul dalam hati kita? Ada yang merasa jijik, ada yang melihat sebagai pemalas, ada yang masa bodoh saja, ada pula yang segera mengambil uang recehan dan memberi, ada yang berbelas kasihan dan lalu memikirkan dan bertindak bagi mereka yang kurang beruntung, dan masih banyak lagi tindakan lainnya. Saya tidak tahu dengan Anda, namun setiap kali saya melihat orang-orang yang kurang beruntung ini timbul pertanyaan dalam benak saya sebagai anak Tuhan bagaimana saya bisa membantu mereka. Saya bayangkan bila seandainya saya yang ada di posisi mereka dan tak berdaya apa yang saya harapkan orang lain lakukan pada saya. Pernahkah Anda membayangkan bilamana Anda yang mengalami hal tersebut terjadi pada diri Anda?
Saat saya berbagi dengan beberapa rekan tentang melayani orang-orang ini, ada saja yang sinis dan dengan angkuhnya menyatakan sebab orang-orang ini tidak mau terima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, atau mereka masih hidup dalam dosa sebab orang miskin hidup di bawah kutuk sedang orang kaya itu hidup di bawah berkat, atau karena mereka malas bekerja dan masih banyak lagi jawaban yang tidak memberikan solusi selain penghakiman dan pembenaran diri sendiri untuk tidak bersentuhan dengan kaum miskin.
Benarkah Tuhan Yesus hanya menyembuhkan orang yang mau mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat? Bila kita membaca Alkitab kita akan menemukan bagaimana Tuhan Yesus bahkan menyembuhkan orang-orang yang belum percaya padaNya atau mengakui keilahianNYA. Karena Tuhan Yesus berbelaskasihan terhadap mereka. Sadarkah saudara bahwa Tuhan Yesus mati di atas kayu salib untuk menebus saudara karena belaskasihNya.Bukan karena saudara sudah hidup benar tetapi Ia mati menebus kita karena DIA tidak ada jalan lain, agar kita dapat kemerdekaan dari dosa. IA harus mati menebus kita dari segala ikatan dosa. Ada belas kasihan yang leimpah dalam DNA Kristus….bila kita mengaku anakNYA…bukankah DNA itu ada pada kita….mengapa kita kurang berbelaskasihan terhadap sesama kita?
Benarkah orang Kristen harus kaya dan yang miskin hidup kurang iman atau tinggal dalam dosa? Bagaimana dengan Tuhan Yesus dan teladan para murid? Apakah mereka menimbun kekayaan atau menyebarkannya untuk menolong sesama? Coba baca kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Orang dapat menjadi kaya karena karunia Tuhan, apakah hanya untuk dinikmati sendiri sampai tujuh turunan? Atau Tuhan ingin Anda menggunakan kekayaan itu untuk mensejahterakan kota atau desa dimana Anda tinggal? Tuhan melimpahi kita dengan kekayaan agar kita tamak dan egois atau untuk memberkati sesama..menolong sesama?
Bagaimana dengan orang Kristen yang pemalas, itu merupakan masalah mindset dan itu bisa kita ubah. Paulus menyatakan jangan beri makan pemalas yang hanya menggantungkan hidupnya dari belaskasihan orang lain. Bila kita mengasihi saudara kita, maka kita juga tolong dia untuk merubah mindsetnya (pola pikirnya). Sering saya dengar rekan-rekan yang mengkhotbahkan jangan hanya beri ikan pada orang miskin tapi kailnya. Saya rasa pengajaran itu atau ilustrasi itu kurang lengkap. Sebab meski diberi kail tapi bila tidak diajarkan bagaimana mengail maka ia akan jual kailnya. Apa yang seharusnya dilakukan adalah berikan ikan pada orang itu agar dia tidak lapar, lalu ajarkan cara mengail, beritahu trik mengail dan dimana mengailnya, kesulitan apa yang mungkin akan kelak dihadapi, pertemukan dia dengan para ahli mengail hingga dia bertambah wawasan dan bersemangat setelah bertemu para pengail handal, lalu beri kailnya dan jadilah mentor/pendamping bagi dia hingga ia bisa mandiri sebagai “pengail”. Dia akhirnya bisa menjadi teladan bagi yang lain.
Beberapa saudara bertanya bagaimana sebagai langkah awalnya? Saya membagikan ini semua dengan gratis, tidak ada “copyright” dalam pelayanan saya. Harapan saya copy it right dan teach it right. Layanilah sesama kita yang kurang beruntung dengan belaskasihan, perlakukan mereka sebagai sesama manusia, tolong jangan ada lagi yang menggunakan orang miskin sebagai sarana mengumpulkan dana untuk keperluan pribadi atau nama besar pelayanan/organisasi/yayasan/gerejanya. Lakukanlah dengan hati yang tulus karena Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengasihi kita maka sekarang kita mengasihi sesama kita.
Hal yang pertama, berdoalah pada Tuhan untuk dapat mengerti isi hati Tuhan (Matius 25:31-46). Mengerti panggilan kita sebagai anak Tuhan dan apa yang perlu kita lakukan terhadap sesama kita. Apa konsekwensinya menurut firman Tuhan itu bila kita tidak perduli?
Hal yang kedua, milikilah belaskasih Tuhan dalam hatimu. Coba bayangkan bila itu diri anda sendiri atau kerabat dekat anda atau orangtua anda yang alami. Apa yang akan anda lakukan atau apa yang anda harapkan dilakukan orang tersebut pada anda?
Hal yang ketiga, lihatlah sesama kita sebagai jiwa-jiwa yang berharga milik Tuhan, mereka belum tahu jawaban permasalahan hidup mereka dan anda yang memiliki jawaban tersebut. Selama ini mereka sudah banyak dilukai, dimanfaatkan, dan ditipu…..kini saatnya anda datang sebagai terang, garam, surat Kristus yang terbuka….teladan Kristus di muka bumi. Menjadi tangan Kristus…Kaki Kristus…telinga Kristus…tubuh Kristus yang memberkati tempat dimana mereka tinggal. Tuhan Yesus meninggalkan sorga untuk turun ke dunia yang kotor dan penuh dosa karena kasihNya yang besar.
Hal yang keempat, berdoa untuk rekan-rekan sekerja yang sehati dan sepikir. Sebab kita manusia yang terbatas dan membutuhkan rekan sekerja lainnya. Berdoa secara korporat/bersama mencari kehendak Tuhan, strategi pelayanan dan dimana harus memulainya.
Hari ini saya bagikan empat hal sederhana ini bagi saudara-saudaraku untuk renungkan bersama. Saya berdoa lebih banyak lagi orang terlibat dalam pelayanan bagi kaum terbuang dalam generasi kita ini. Doa saya belaskasih Tuhan turun atas semua anak Tuhan dan menggunakan segala daya upaya untuk menjadi alat Tuhan bagi desanya…kotanya..bangsanya….bangsa-bangsa di dunia…..
Dunia tidak butuh sekedar janji-janji manis…..mereka butuh bukti..teladan Kristus yang nyata melalui tubuhNya yang ada di dunia……GEREJA TUHAN…..Let’s get it on, Church!!!!!!!
Salam dari hambaNYA
Dave Broos
Gembala kaum terbuang
Anda dapat menghubungi saya melalui inbox FB, email atau YM davebroos@yahoo.co.uk, SMS 081330135643 dan BBM (pin 31306302)
Saat kita berjalan dan melihat orang berpakaian kumal dan bau badan yang menyengat menghampiri kita apa yang timbul dalam hati kita? Ada yang merasa jijik, ada yang melihat sebagai pemalas, ada yang masa bodoh saja, ada pula yang segera mengambil uang recehan dan memberi, ada yang berbelas kasihan dan lalu memikirkan dan bertindak bagi mereka yang kurang beruntung, dan masih banyak lagi tindakan lainnya. Saya tidak tahu dengan Anda, namun setiap kali saya melihat orang-orang yang kurang beruntung ini timbul pertanyaan dalam benak saya sebagai anak Tuhan bagaimana saya bisa membantu mereka. Saya bayangkan bila seandainya saya yang ada di posisi mereka dan tak berdaya apa yang saya harapkan orang lain lakukan pada saya. Pernahkah Anda membayangkan bilamana Anda yang mengalami hal tersebut terjadi pada diri Anda?
Saat saya berbagi dengan beberapa rekan tentang melayani orang-orang ini, ada saja yang sinis dan dengan angkuhnya menyatakan sebab orang-orang ini tidak mau terima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, atau mereka masih hidup dalam dosa sebab orang miskin hidup di bawah kutuk sedang orang kaya itu hidup di bawah berkat, atau karena mereka malas bekerja dan masih banyak lagi jawaban yang tidak memberikan solusi selain penghakiman dan pembenaran diri sendiri untuk tidak bersentuhan dengan kaum miskin.
Benarkah Tuhan Yesus hanya menyembuhkan orang yang mau mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat? Bila kita membaca Alkitab kita akan menemukan bagaimana Tuhan Yesus bahkan menyembuhkan orang-orang yang belum percaya padaNya atau mengakui keilahianNYA. Karena Tuhan Yesus berbelaskasihan terhadap mereka. Sadarkah saudara bahwa Tuhan Yesus mati di atas kayu salib untuk menebus saudara karena belaskasihNya.Bukan karena saudara sudah hidup benar tetapi Ia mati menebus kita karena DIA tidak ada jalan lain, agar kita dapat kemerdekaan dari dosa. IA harus mati menebus kita dari segala ikatan dosa. Ada belas kasihan yang leimpah dalam DNA Kristus….bila kita mengaku anakNYA…bukankah DNA itu ada pada kita….mengapa kita kurang berbelaskasihan terhadap sesama kita?
Benarkah orang Kristen harus kaya dan yang miskin hidup kurang iman atau tinggal dalam dosa? Bagaimana dengan Tuhan Yesus dan teladan para murid? Apakah mereka menimbun kekayaan atau menyebarkannya untuk menolong sesama? Coba baca kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Orang dapat menjadi kaya karena karunia Tuhan, apakah hanya untuk dinikmati sendiri sampai tujuh turunan? Atau Tuhan ingin Anda menggunakan kekayaan itu untuk mensejahterakan kota atau desa dimana Anda tinggal? Tuhan melimpahi kita dengan kekayaan agar kita tamak dan egois atau untuk memberkati sesama..menolong sesama?
Bagaimana dengan orang Kristen yang pemalas, itu merupakan masalah mindset dan itu bisa kita ubah. Paulus menyatakan jangan beri makan pemalas yang hanya menggantungkan hidupnya dari belaskasihan orang lain. Bila kita mengasihi saudara kita, maka kita juga tolong dia untuk merubah mindsetnya (pola pikirnya). Sering saya dengar rekan-rekan yang mengkhotbahkan jangan hanya beri ikan pada orang miskin tapi kailnya. Saya rasa pengajaran itu atau ilustrasi itu kurang lengkap. Sebab meski diberi kail tapi bila tidak diajarkan bagaimana mengail maka ia akan jual kailnya. Apa yang seharusnya dilakukan adalah berikan ikan pada orang itu agar dia tidak lapar, lalu ajarkan cara mengail, beritahu trik mengail dan dimana mengailnya, kesulitan apa yang mungkin akan kelak dihadapi, pertemukan dia dengan para ahli mengail hingga dia bertambah wawasan dan bersemangat setelah bertemu para pengail handal, lalu beri kailnya dan jadilah mentor/pendamping bagi dia hingga ia bisa mandiri sebagai “pengail”. Dia akhirnya bisa menjadi teladan bagi yang lain.
Beberapa saudara bertanya bagaimana sebagai langkah awalnya? Saya membagikan ini semua dengan gratis, tidak ada “copyright” dalam pelayanan saya. Harapan saya copy it right dan teach it right. Layanilah sesama kita yang kurang beruntung dengan belaskasihan, perlakukan mereka sebagai sesama manusia, tolong jangan ada lagi yang menggunakan orang miskin sebagai sarana mengumpulkan dana untuk keperluan pribadi atau nama besar pelayanan/organisasi/yayasan/gerejanya. Lakukanlah dengan hati yang tulus karena Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengasihi kita maka sekarang kita mengasihi sesama kita.
Hal yang pertama, berdoalah pada Tuhan untuk dapat mengerti isi hati Tuhan (Matius 25:31-46). Mengerti panggilan kita sebagai anak Tuhan dan apa yang perlu kita lakukan terhadap sesama kita. Apa konsekwensinya menurut firman Tuhan itu bila kita tidak perduli?
Hal yang kedua, milikilah belaskasih Tuhan dalam hatimu. Coba bayangkan bila itu diri anda sendiri atau kerabat dekat anda atau orangtua anda yang alami. Apa yang akan anda lakukan atau apa yang anda harapkan dilakukan orang tersebut pada anda?
Hal yang ketiga, lihatlah sesama kita sebagai jiwa-jiwa yang berharga milik Tuhan, mereka belum tahu jawaban permasalahan hidup mereka dan anda yang memiliki jawaban tersebut. Selama ini mereka sudah banyak dilukai, dimanfaatkan, dan ditipu…..kini saatnya anda datang sebagai terang, garam, surat Kristus yang terbuka….teladan Kristus di muka bumi. Menjadi tangan Kristus…Kaki Kristus…telinga Kristus…tubuh Kristus yang memberkati tempat dimana mereka tinggal. Tuhan Yesus meninggalkan sorga untuk turun ke dunia yang kotor dan penuh dosa karena kasihNya yang besar.
Hal yang keempat, berdoa untuk rekan-rekan sekerja yang sehati dan sepikir. Sebab kita manusia yang terbatas dan membutuhkan rekan sekerja lainnya. Berdoa secara korporat/bersama mencari kehendak Tuhan, strategi pelayanan dan dimana harus memulainya.
Hari ini saya bagikan empat hal sederhana ini bagi saudara-saudaraku untuk renungkan bersama. Saya berdoa lebih banyak lagi orang terlibat dalam pelayanan bagi kaum terbuang dalam generasi kita ini. Doa saya belaskasih Tuhan turun atas semua anak Tuhan dan menggunakan segala daya upaya untuk menjadi alat Tuhan bagi desanya…kotanya..bangsanya….bangsa-bangsa di dunia…..
Dunia tidak butuh sekedar janji-janji manis…..mereka butuh bukti..teladan Kristus yang nyata melalui tubuhNya yang ada di dunia……GEREJA TUHAN…..Let’s get it on, Church!!!!!!!
Salam dari hambaNYA
Dave Broos
Gembala kaum terbuang
Anda dapat menghubungi saya melalui inbox FB, email atau YM davebroos@yahoo.co.uk, SMS 081330135643 dan BBM (pin 31306302)
Label:
challenge,
destiny,
INFO PELAYANAN,
news,
newsletter,
pembapaan,
pemuridan,
pengajaran,
pesan moral,
URBAN MINISTRY
Senin, 01 April 2013
THE SCARF IT UP CHURCH
The Scarf-it-Up Church
By Jeremy Myers
In response to some of the posts on this blog about helping the homeless, a woman named Beth
sent me the following message on Facebook. It was so encouraging, I
asked her if I could share it with all of you as well. She said yes, so
here is what she wrote:It’s so refreshing to find out there are more like my family out there!
I was adopted by missionaries in the early 1960′s, and, in the following decade my Dad became a pastor. His degrees were in Theology, Philosophy, and Business. My dad was the type of man who would bring homeless folks home and sit them at our dinner table. As a teenager, I have to confess it embarrassed me. These folks smelled like urine, body odor, and booze. At some point, I grew up and realized that it was not about giving them a meal, he could have bought them a hamburger. By bringing them home, he gave them their dignity and treated them like any other guest.
As much as I adored my folks and their love for Christ, as well as the way they showed their love in how they treated others, especially those considered unlovable (or invisible) by most…the fact is, their religion — Pentecostal Holiness — was a huge turn-off and as a result, I struggled for 20 years over my faith.
In the Pentecostal Holiness church, one almost has to be perfect to make it to heaven. I wasn’t allowed to have my ears pierced, go to movies, swim with boys, dance, etc. As an adult, I attended various non-denominational churches, but so many of them were more about growing the congregation and offering entertainment choices, then about teaching folks to have relationships with Christ and each other. None of them taught how to treat one another.
The political in-fighting, constant pleas for more offerings, and competition with other churches was all too much. The clincher was when the pastor of a church I had attended for six years got in the pulpit and asked everyone to take out a cash advance on their credit card to buy some latest, greatest gadget the church just had to have.
Once I stopped attending, the senior pastor sent me a Facebook message telling me that I could be such a great cheerleader for God if only I would return to church. This is ironic because of what I did after I “left” church.
I started a group 5 years ago of friends and strangers called Scarf it Up. Here are some of the things we have done in the past three months alone:
- We had a yard sale and raised over $3k for a veteran and his family facing foreclosure.
- We bought and installed a water heater for a disabled woman.
- We held a Valentine banquet for 150 homeless folks and gave each one a rain poncho, coat, and a small ziplock of home baked cookies in addition to a meal.
- We feed homeless people monthly and are having a cookout planned for April 6th.
- Every December we fill backpacks with socks, scarves, blankets, granola bars, toiletry kits, etc, and pass them out on December 15th… this year we distributed 250 kits.
- We are also an emergency resource for our local Salvation Army and last Thursday they called to ask us if we could help a young mother of two who was short $275 paying her March rent after an illness put her in the hospital and out of work. Within an hour we had the money plus $100 extra for groceries. Over the weekend we discovered she had no furniture. None. So far, we have obtained a sofa, love seat, queen bed, twin bed & trundle, kitchen table/chairs, dishes, and other items as well.
Recently a well-meaning friend told me I needed to get my family in church. I’m a Realtor by profession, but I also home-school my three younger sons (two are grown). My 14 year old son and I read the bible together daily and are currently in the book of Mark. My younger children and I also read stories from the Bible daily, pray together, and discuss the kind of people we need to strive to be. All of my children help in our efforts to help others.
I may not be physically in a church building, but my husband and I put 10% of our earnings into our “blessings fund” from which we have helped a family with nine children keep their home when facing foreclosure, paid $1800 for a family to have a broken axle repaired on their only vehicle. From this fund, we regularly buy groceries for needy families, make chicken soup for our sick friends, watch the children so a deployed soldier’s wife can get a few hours to herself, take blessings baskets to folks who need a smile after life’s tripped them up, and numerous other ways of blessing and loving others.
We hug our homeless friends, and they know that if they need anything — from shoes to mosquito repellent — all they have to do is ask. To me, many churches are run like businesses and too many pastors are making too much money. The average home price in my market is $160k and yet we have pastors living in million dollar homes in our small city!! I don’t understand it. I don’t agree with it.
So, no, we don’t “go to church,” but we love God and we strive to make Jesus “smile” (that is how we explain it to our 6 year olds). I’m so tired of folks judging my family and thinking we’re “not living right” just because we don’t attend church in a building.
I’m glad there are folks like you telling us that we, in fact, are not doing it wrong and it’s OK for us to worship and serve Him in our own way. Though our service in the name of Jesus may look different than those who “go to church”, it is no less sincere.
Thanks, Beth!
And thanks to all of you who read this blog and who write about similar things on your own blogs and on Facebook. All around the world, people are beginning to see that it is possible (and maybe even easier) to follow Jesus outside the four walls of the church and do so in a way that takes His love to the neediest people in our towns and cities.
Sitting in a building on Sunday morning is not the only way of following Jesus!
If you appreciated what Beth said, go “Like” her Scarf it Up page on Facebook! Maybe you can start something similar in your own town. If you do, let us know!
HELPING THE POOR AND HOMELESS - START SMALL
Helping the Poor and Homeless – Start Small
By Jeremy Myers
Here is one example of a message that was sent in:
I have been following your posts for some time. You present a freshness to “Christianity” that I rarely see.I think that this is a question many people have, so I decided to write a post about it.
The blogger who said that he had quit going to church but it still hurts I am afraid I share that same sentiment. My husband and I stopped late last year. He for different reasons than myself but both are the reasons you and this blogger mentioned. We are older believers and have seen much.
Since I was a little girl, I have been saddened by the Church’s response to those less fortunate. Today I am deeply disturbed by how much it has become a house of hate instead of love. I don’t presume to say that all Christians are like that. I only know that one is way too many.
I would appreciate any help you can give me on gaining the courage to do what you and your family does. How do I get others involved? Thank you for your daily inspiration and love.
First, I am encouraged by emails and comments like this because it shows that many people are taking the courageous step of following Jesus wherever He leads. I am convinced that “leaving church” so that we can “be the church” is one of the most difficult–but important–steps a person can make in their life of discipleship. This step is not for everyone, but I think it is becoming more and more important for people today if they want to see Jesus at work among those in our communities who are truly needy.
Second, as to how to start, Sam included many practical suggestions in his blog series about how to get started, but let me share a little bit about what we are doing in my family.
My recommendation is this:
Begin small. Very small.
How small? The biggest small way you can start: with prayer.Pray for opportunities to present themselves. Pray that Jesus would open your eyes and ears to see where He is leading.
Then, begin looking and listening.
Listen for things people say which might allow you to have conversations with them. Or as you are reading the newspaper, look for opportunities to serve somewhere in your town. Or as you are driving around, look for shelters or organizations where you can volunteer.
So this first step is just to pray and then keep your eyes and ears open.
Then, take another small step:
Take Action.
Based on what you see or hear, begin to get involved in small ways with the things you saw and heard.Here are some examples:
As you drove around, did you start noticing homeless people? Think about putting together some “gift bags” for them which you can quickly and easily hand to them. Get some cheap bags from somewhere online, and fill them with some non-perishable food items, a cheap tarp, some new socks, and some single-use basic hygiene items, and then put 2-3 of these in your car to pass out whenever you see someone who might need one.
Or maybe while you were running errands, you saw a homeless shelter. Call them up and see what volunteer opportunities might be available, and then talk with your husband about going down to help out one time per week.
Or maybe one of your friends said something in passing about helping the poor. Call her up and mention to her that what she said really stuck in your mind and ask if she would be interested in getting together for coffee and brainstorming about how to help the poor in the community.
So basically, helping those who are less fortunate begins with believing that Jesus wants to lead you to help them, and then praying for eyes to see where He wants to lead you, and then looking for these places or people that He brings to your attention. It will be different for everybody, so don’t necessarily think that the ways I talk about on my blog are the ways Jesus will lead you. It might be similar, but it also might be very different.
In fact, Jesus might not lead you to poor and homeless people at all. He might lead you to your neighbors or to the family down the street. Just keep your eyes and ears open as you pray to Jesus to lead you to the people He wants you to love. In the near future Sam Riviera will begin another series of posts about how to do this in your neighborhood. So keep checking back!
Rabu, 01 Februari 2012
GIVE THANKS
GIVE THANKS
Kami mengucap syukur dan berterimakasih atas setiap sumbangan dan persembahan bagi kaum subkultur di jalanan. Terimakasih banyak atas belaskasihan bagi mereka yang kurang mampu. Pada bulan Desember lalu kami telah menyalurkan bantuan pakaian bekas, Alkitab, bahan bacaan, makanan dan bantuan finansial bagi mereka yang hidup di jalanan termasuk para pemulung, tukang sampah, anak jalanan dan bagi mereka saudara seiman yang dalam kemalangan.
Kami mengadakan hal ini bukan sebagai sebuah program tetapi lebih kepada menjadikan “memberi” sebagai gaya hidup kita sebagai orang percaya. Tuhan telah memberikan teladan pada kita dalam Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga IA mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Rasul Paulus pun menyatakan dan memberikan teladan,”Adalah lebih baik memberi daripada menerima” (Kis 20:35).
Kami percaya bahwa untuk memberitakan Kabar Baik tidak cukup dengan kesaksian atau khotbah, sebab kita tahu “perbuatan” kita berbicara lebih keras daripada ucapan kita. Saya ingat saat masih kecil, mama saya mengajarkan bahwa saya harus selalu jujur dan tidak boleh berbohong (Suatu pengajaran yang tentu bagus dan harus ditaati)….tetapi suatu kali ketika ada tamu datang dan mama tidak mau menemuinya….mama segera memanggil saya dan berkata,”Dave, kamu nanti buka pintu dan bilang sama tamunya mama belum pulang ya.” Pengalaman masa kecil itu membekas dalam diri saya. Sebab mama mengajarkan suatu hal yang baik tetapi beliau sendiri mengingkari ajarannya. “Orang dunia yang tinggal dalam dosa” butuh teladan hidup bukan sekedar orang “yang pintar bicara”. Tuhan memanggil kita menjadi terang dan garam dunia. Bukan hanya sekedar jadi juru bicara tetapi menjadi “kaki dan tangan” dari kasih Kristus yang menjamah dunia.
Orang-orang yang kami layani bukanlah “kaum” yang suka dilayani oleh bahkan gereja. Kalaupun ada pelayanan diakonia, rata-rata hanya melihat sebagai program pelayanan bagi kaum miskin..bagi-bagi sembako, pengobatan gratis, bimbingan belajar gratis dll (yang semuanya itu baik)….kelemahannya adalah tidak adanya hubungan dengan “kaum” tersebut. Padahal banyak di antara mereka yang ingin didengarkan dan dilayani. Sebab kaum miskin seringkali dianggap “merepotkan” dan suka meminta-minta terus. Biasanya dulu saya diajarkan agar jangan memberi mereka roti tetapi berikan mereka pancing agar bisa mandiri. Dan saya telah melakukan hal tersebut dan …….menemui kegagalan…..sebab memberi pancing saja tidak cukup….mereka butuh umpan bila hendak memancing dan terlebih lagi mereka butuh “seseorang” yang mengajarkan cara dan trik memancing dengan baik.
Apa yang saya percayai adalah kita, orang percaya dipanggil untuk memperluas Kerajaan Tuhan..bukan dengan memperbanyak bangunan gedung gereja yang megah….tetapi memperluas pengaruh kita di berbagai aspek kehidupan. Saya berpikir seandainya uang untuk pembangunan gedung gereja….setengahnya saja digunakan untuk dibuat koperasi simpan pinjam atau bank perkreditan rakyat bukanlah akan lebih bermanfaat baik bagi saudara seiman maupun orang belum percaya (dapat menjadi sarana penginjilan) atau “gereja mapan dengan omzet milyaran” bisa membangun perumahan rakyat bagi saudara seiman yang kesulitan memiliki rumah karena persyaratan-persyaratan tertentu….
Jemaat mula-mula disebut pertama kali sebagai Kristen di Anthiokia sebab orang di kota tersebut melihat gaya atau cara hidup yang sangat berbeda dengan orang sezamannya. Hingga mereka melihat pribadi Kristus dalam kehidupan jemaat mula-mula. Bagaimana dengan kita saat ini?
Saya melihat bila saudara seiman diberkati secara finansial, itu berarti Tuhan mempercayakan harta tersebut untuk perluasan Kerajaan Tuhan. Anda tentu bisa menggunakannya untuk membeli mobil Hammer, Bentley, Jaguar..dstnya…atau memiliki apartemen atau rumah di perumahan mewah atau berbelanja tas Hermes, Prada, Gucci..yang asli dan bukan KW. Tetapi jangan lupa bahwa Anda dapat berkelimpahan harta karena Tuhan. Dan Tuhan punya tujuan atas hal tersebut. Saya membaca hasil sebuah survey yang menyatakan bilamana seluruh orang percaya di dunia ini mengumpulkan 10% dari seluruh penghasilannya dan di kumpulkan maka “kemiskinan di muka bumi akan terhapus”. Wauw seandainya hasil survey tersebut valid, maka gereja dapat menjadi jawaban……sayangnya banyak biaya kita keluarkan untuk pembangunan dan pemeliharaan fasilitas. Seandainya kita dapat membangun fasilitas yang lebih sederhana dan menggunakan dana tersebut untuk membangun kota dengan pengentasan kemiskinan dengan membuka UKM atau kebodohan dengan sekolah murah dstnya.
Saya melihat teladan gereja mula-mula, mereka tidak punya fasilitas apa-apa, para rasul pun tidak memiliki fasilitas pribadi apa-apa…..tetapi mereka membuat “dunia berguncang”……bila menilik ke belakang dan melihat “dunia kita” saat ini…seharusnya kita bisa berbuat lebih. Jemaat mula-mula bisa berkembang pesat karena “gaya hidup Kristus” yang tampak dalam keseharian mereka hingga dunia yang belum percaya di sekitarnya terjamah. Dalam catatan sejarah anak-anak yang di buang di jalanan, dipungut, dirawat dan dibesarkan oleh jemaat mula-mula seperti anak sendiri…mereka juga merawat dan memelihara kaum miskin……orangtua yang sudah renta dan diabaikan dirawat di rumah sendiri seperti orangtua sendiri..dlll. Belaskasih Kristus bukan saja tercermin dalam kehidupan mereka tetapi dapat dirasakan secara nyata. Bahkan dalam Kisah Para Rasul dituliskan,”Semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. (Kis 2:44).Bagaimana dengan kita? Saya percaya bila kita memang terkoneksi dengan Tuhan dan memiliki hubungan dengan saudara-saudara seiman maka kita akan dengan mudah untuk memberi. Bahkan Tuhan mengajarkan agar kita membalas kejahatan dengan kebaikan,”Jika seterumu lapar, berilah dia makan, jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (Roma 12:20-21).
Pada tahun ini kami pun merencanakan untuk memperlengkapi rekan-rekan muda yang terbeban melayani kaum subkultur ini di berbagai kota. Kendala kami adalah dana dan kami mohon dukungan doa agar kiranya Tuhan membuka jalan bagi kami untukmemperlengkapi saudara seiman dan melayani lebih banyak lagi jiwa yang selama ini belum terjangkau dan merasakan kasih Kristus. Bila Anda ingin menghubungi kami dapat mengirimkan email davebroos@yahoo.co.uk atau SMS 081330135643 (maaf bila telpon tidak diangkat berarti kami sedang pelayanan). Bila Anda tergerak untuk mendukung pelayanan ini, Anda dapat mendukung kami dengan pakaian bekas (mohon yang masih layak pakai) hingga dapat disalurkan bagi mereka yang kurang beruntung di jalanan maupun ke panti asuhan atau werda/jompo yang membutuhkan, bila Anda memiliki Alkitab baik baru atau bekas, mainan anak, alat tulis/sekolah atau pun dana dapat ditransferkan melalui Bank BCA no rek 0081824788 atas nama Dave Broos.
OK thanks atas perhatiannya semoga apa yang saya bagikan dapat menjadi berkat. God bless you all.
Rabu, 24 Agustus 2011
SHADOW OF THE CROSS - INDONESIA
SHADOW OF THE CROSS - INDONESIA
Pelayanan terhadap subkultur yang berkembang di perkotaan. Subkultur merupakan komunitas budaya atau suku yang terlahir di perkotaan atau suatu tempat, diperkotaan kita dapat mengidentifikasi mereka sebagai geng bermotor,bikers, anak jalanan, gelandangan, anak punk, gothic, emo, rockers, skaters, tatto & piercing, dstnya.
PENGANTAR
Pelayanan ini fokus pada kaum subkultur. Ini merupakan pelayanan “the cutting edge” bagi kaum yang biasanya disisihkan bukan saja oleh dunia bahkan “gereja” pada umumnya.
Pertama kali didirikan oleh Morria Nickles di Hasville - Amerika Serikat dan menetapkan Dave Broos sebagai Regional Director di Indonesia tahun 2006. Shadow of The Cross, merupakan bagian dari pelayanan Eagles Nest Ministries – Indonesia yang fokus melayani kaum subkultur.
PERNYATAAN MISI:
- To Live The Truth (Hidup dalam kebenaran)
- To educate with love (mengajar dalam kasih)
- To Minimize misconceptions (meminimalisir konsep yang salah)
- To provide peace of mind (menghadirkan damai sejahtera dalam pemikiran)
TENTANG KAMI:
- Pelayanan ini merupakan organisasi non profit yang terbeban untuk memberitakan Injil di tengah kaum subkultur (gothic, punk, dstnya). Kami berupaya membagikan berita Injil dalam “budaya” mereka, dengan mengadakan persekutuan dan Studi Alkitab.
- Pelayanan ini berjalan dengan iman dan donasi tubuh Kristus yang ada. Pelayanan pertama didirikan 9 Maret 2002 di Haysville, KS, Amerika Serikat. Pelayanan ini memiliki tiga cabang, di Inggris (2004), Indonesia (Maret, 2006) dan Lebanon (Agustus,2006)
- Setiap pelayanan yang ada bersifat mandiri secara finansial dan badan organisasi secara hukum. Kami satu dalam iman, penjangkauan dan visi.
PENJANGKAUAN:
1. Gathering (simple church)
2. Antioch Box Project (Proyek Kotak Antiokhia)
a. Jerusalem Box, menolong orang miskin & gelandangan dengan donasi berupa pakaian, makanan, selimut, dll.
b. Antioch Box, menolong para utusan misi bagi kaum subkultur berupa Alkitab, traktat, legalitas, dll. Kami berdoa dan mencari pelayan Tuhan, mereka yang memiliki hati bagi kaum terbuang dan tersisihkan ini.
c. Corinth Box, memberikan materi bagi orang percaya baru berupa Alkitab, buku renungan harian, dan berbagai perlengkapan untuk menolong pertumbuhan iman.
d. Regina Box, setiap tanggal 14 April membagikan mainan dan bacaan anak bagi anak-anak yang kurang beruntung di perkampungan kumuh dan jalanan.
e. Bookbags of learning, menolong anak-anak putus sekolah agar dapat beroleh pertolongan untuk dapat kembali bersekolah.
3. Safe House/rumah singgah, kami masih berdoa untuk sebuah rumah yang cukup besar untuk dapat menampung anak-anak subkultur yang hidup di jalanan. Mereka yang dapat tinggal adalah anak yang serius mau bersekolah kembali dan mengikuti pendidikan kami.
4. Street teams, melakukan penjangkauan melalui friendship evangelism, musik(band), drama, tarian, acara-acara khusus dsbnya bagi kaum subkultur (gothic, punk, skaters, anak jalanan, gelandangan,dll).
5. Shadow Discipleship & Bible School (bekerjasama dengan Eagles Nest Discipleship & Bible School) ditambah materi-materi khusus untuk pelayanan underground atau subkultur ini.
Bagi saudara seiman yang mau konseling, turut terlibat pelayanan, mendoakan, bersahabat dengan kami atau menyalurkan dana untuk perluasan Kerajaan Tuhan dapat menghubungi kami di 081330135643 atau email: davebroos@yahoo.co.uk atau melalui Facebook (Dave Broos). Sedangkan bagi mereka yang mau mendukung pelayanan ini melalui dana dapat menyalurkannya melalui Bank BCA no rek 0081824788 atas nama Dave Broos. Atau bilamana Anda tergerak menyalurkan pakaian bekas (layak pakai) baik bagi balita maupun dewasa, mainan dan bacaan bagi anak-anak, Alkitab dan buku bacaan rohani bekas yang masih baik atau makanan untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan dapat menghubungi kami atau dikirimkan ke alamat Flat Sarijadi Blok G-1 no. 13, Bandung 40151 atas nama Dave Broos.
God bless you all,
Salam dan doa,
Ps. Dave Broos
Label:
INFO PELAYANAN,
laporan pelayanan,
partnership,
pemuridan,
proposal,
TESTIMONY
Selasa, 28 Juni 2011
PRESS ON


Dear Friends,
Tak terasa tiga tahun sudah lewat di kota Bandung, melayani mereka yang selama ini merupakan kaum marginal dalam gereja pada umumnya. Melayani dan memuridkan mereka yang tak dianggap dalam masyarakat bahkan gereja. Banyak orang berpikir ini merupakan misi pelayanan bunuh diri. Di satu sisi ada orang-orang yang mengelu-elukan pelayanan kami dan rindu untuk belajar bersama tetapi di sisi lain banyak pula yang menganggap kami “gila”.
Selama tiga tahun kami melayani, sangat sedikit dukungan yang kami dapatkan, lebih banyak orang yang menjadi “penonton”. Mereka ingin melihat bagaimana kami dapat bertahan menjalankan visi Tuhan. Entah apakah ini bisa disebut lucu atau ironi? Semuanya tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Bila kita melihat pelayanan dari sudut “untung rugi” atau pelayanan sebagai sebuah “karier”, tentu apa yang kami kerjakan di kota Bandung merupakan hal yang bodoh atau misi bunuh diri. Sebab kami tidak mendapatkan keuntungan material apa-apa dari orang yang kami layani, bila pun ada jumlahnya tidak signifikan dan tak tentu. Dengan segala daya upaya kami coba menggali setiap talenta yang kami miliki untuk dapat menggali dana agar visi Tuhan ini dapat berjalan.
Kami melihat pelayanan kami dari sudut panggilan hidup kami sekeluarga, kami merasakan panggilan yang kuat untuk melayani kaum yang dimarginalkan. Sebagaimana sebuah pesan nubuat yang disampaikan oleh seorang hamba Tuhan sekitar 10 tahun lalu bagi kami, bahwa kami akan melayani sebagaimana Daud berada bersama pengikutnya di Gua Adulam (1 samuel 22:1-2, 2 samuel 23:8-39, 1 tawarikh 11:10-44). Para pecundang akan menjadi para pemenang! Setiap anak Tuhan memiliki otoritas yang berasal dari Nya, entah dari latar belakang apapun dia berasal. Sebab setiap anak Tuhan merupakan ciptaan baru di dalam Tuhan. Ketika bibit Kristus mulai bertumbuh dalam diri seorang anak Tuhan (ciptaan baru) maka akan menghasilkan buah Roh dari dalam diri orang tersebut. Karakter Kristus yang ia sembah akan nyata. Kami percaya setiap anak Tuhan tidak dipanggil untuk “sekedar beragama Kristen dan menjadi anggota sebuah gereja lokal agar dapat surat baptis, menikah dan lalu dikubur”. Kami percaya setiap anak Tuhan dipanggil untuk menjadi murid Kristus, anak-anak Tuhan yang merefleksikan Tuhan yang mereka sembah. Kami percaya setiap anak Tuhan memiliki panggilan Tuhan dalam KerajaanNya. Setiap anak Tuhan yang telah lahir baru memiliki missi di muka bumi ini.
Ada beberapa tawaran bagi kami sekeluarga untuk bergabung di gereja lokal tertentu untuk membantu pelayanan mereka. Namun sayangnya mereka lebih suka kami “hanya” membantu perkembangan pelayanan mereka dan meminta untuk “melupakan bahkan mengubur” visi yang Tuhan berikan bagi kami. Hingga kembali tantangan bagi kami adalah taat pada manusia untuk memenuhi kebutuhan jasmani kami pribadi atau taat pada Tuhan meski harus melangkah dengan iman, yang mungkin berarti suatu ketidakpastian secara finansial. Tiga tahun terakhir ini kami sungguh-sungguh belajar dalam arti sebenarnya, kesusahan sehari cukuplah sehari. Percaya bahwa Tuhan akan memelihara kami apa pun situasi dan kondisinya. Kami melihat bagaimana Tuhan “mengirimkan burung-burung gagak” untuk memelihara kami sebagaimana yang dialami Nabi Elia. Ada kalanya kami pun mengalami masa sebagaimana Nabi Elia, putus asa, takut, gentar….mau mundur karena kesepian di tengah pergumulan…mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dan tetap melayani Tuhan dengan setia dan membantu kesulitan orang-orang yang kami layani baik secara rohani maupun jasmani. Kami belajar bagaimana harus berbagi bukan dari kelebihan atau kelimpahan, tetapi berbagi dari kekurangan. Dan kami berbahagia telah diizinkan Tuhan untuk melalui ini semua. Kami dapat mengerti apa yang Rasul Paulus katakan,”Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”(Filipi 4:12-13)
Tiga tahun ini kami merasakan bagaimana kami diuji, kami ini mengiring Tuhan Yesus atau Mamon. Ternyata pada era ini sangat tipis antara kehidupan pengikut Kristus dengan pengikut Mamon. Beberapa temanku menyatakan,”Dave, kau memiliki karunia untuk hidup miskin. Kalau kami tak punya karunia itu.” Aku kadang bertanya-tanya, apakah benar ada karunia hidup miskin? Siapa sih mau miskin? Apakah aku mau hidup miskin? Tentu tidak, tetapi aku siap melaluinya bila memang itu harus kutempuh bersama keluargaku untuk kemuliaan Tuhan. Mau diakui atau tidak, kekayaan tidak bisa membeli kebahagiaan, kesetiaan dan kasih sayang dalam keluarga.
Di dalam kekurangan kami dapat melihat campur tangan Tuhan bagi kami untuk menggenapi visi yang Ia berikan. Kami dapat melihat bagaimana ide-ide baik kami runtuh dan gagal, lalu bagaimana selanjutnya pintu-pintu yang selama ini tertutup dan tak pernah terpikirkan terbuka. Kalau mau diukur kesuksesan pencapaian pelayanan yang kami kerjakan dari “kacamata” pelayanan masa kini tentulah pelayanan kami tidak signifikan. Ketika pelayanan lain membangun “kerajaan”, kami membangun pelayanan underground; ketika yang lain berupaya mempersuasi orang kristen lainnya untuk menjadi anggota gereja atau persekutuannya, kami mendorong agar setiap anak Tuhan bertumbuh dalam Kristus dan menjadi muridNya entah mereka mau bersama kami atau gereja/persekutuan yang lain…kami melihat organisasi gereja atau persekutuan lainnya sebagai saudara dan anggota tubuh Kristus, saudara seiman/tubuh Kristus tidak bersaing satu dengan yang lain; ketika yang lain coba mengumpulkan donasi sebanyaknya untuk membeli aset dan lain sebagainya, kami memilih untuk berbagi dengan pelayanan lain dan membantu saudara seiman yang tengah dalam kesulitan atau musibah. Apakah kami “sok suci dan sosial”, tidak…..kami hanya ingin hidup bergereja yang simple (sederhana) sebagai murid Kristus. Kami rindu melihat tidak ada lagi tembok diantara “organisasi gereja maupun pelayanan”, sebab kita ini satu di dalam Tuhan dan merupakan anggota tubuh Kristus. Kami tidak ingin menjadikan hal tersebut slogan tetapi mulai coba menghidupinya dalam keseharian kami. Apa artinya kita menyatakan dan bahkan mengajarkan hal yang benar tetapi tidak pernah menghidupinya…..kita harus berhenti hidup dalam kemunafikan.
Sekali lagi kami menghadapi tantangan besar di depan kami, sanggupkah kami melaluinya atau gagal? Kalau melihat dan merefleksi kesetiaan Tuhan selama ini, kami percaya bahwa Tuhan sanggup membuka jalan bagi kami. Namun bila melihat kondisi yang ada, kami merasa seolah para murid yang tengah menaiki perahu dan lalu topan badai datang menghadang hingga perahu pun hendak karam…Tuhan Yesus ada bersama mereka..tapi karena IA tidur….para murid pun mulai kuatir dan histeris. Mereka menjadi ketakutan tenggelam…hingga Tuhan bangun dan menghardik badai hingga tenang kembali. Sebelumnya Tuhan telah menyatakan bahwa mereka “akan sampai ke seberang”. Apa pun yan terjadi bila Tuhan sudah berfirman, maka kami “akan sampai ke seberang”. Rasanya kami memasuki fase tersebut, tetapi kami mau coba untuk tetap beriman..percaya padaNYA. Meski harus diakui dari sisi manusia kami tetap merasa ngeri. Dalam masa-masa ini, kami sering juga mengalami rasa kesepian. Bila kami ingat-ingat dulu saat saya masih menggembalakan jemaat, begitu banyak kawan rekan sejawat atau saudara seiman yang “seolah” merupakan sahabat sejati. Namun kala kami memilih untuk pergi dan melayani kaum marginal, kami tiba-tiba merasa kehilangan teman-teman dan saudara-saudara seiman. Saya tersadar memang suatu yang natural rupanya baik di kalangan sekuler bahkan di dunia “rohani” ternyata manusia masih memandang muka, harta dan jabatan seseorang.
Ada kalanya saya merasa hendak mundur saja dari pelayanan ini, sebab sedikit sekali rekan atau saudara seiman yang ada bersama kami untuk mendoakan dan mendukung kami. Kala saya mulai putus asa, tiba-tiba Tuhan mengingatkan saya kala IA sendiri datang ke dunia dalam rupa manusia. IA pun berasal dari keluarga kaum marginal, lahir di kandang domba…baby box-nya adalah tempat makan domba…pernah jadi pengungsi di Mesir selama Raja Herodes berkuasa, harus menjadi tulangpunggung keluarga setelah “ayah duniawi” Yusuf meninggal, diremehkan para Ahli Taurat dan golongannya sebab IA bukanlah golongan mereka..Tuhan Yesus hanyalah tukang kayu, IA disebut sahabat orang berdosa, murid-muridNYA rata-rata orang biasa dan berpendidikan rendah…tidak ada satu badan keagamaan saat itu yang memberikan donasi padaNYA malah mereka hendak menjebak dan membunuh DIA, Tuhan Yesus didukung dan mendapatkan donasi dari teman-temanNYA……Kalau Tuhan Yesus yang saya sembah pun harus melalui jalan terjal itu, siapakah kami..siapakah saya….doa saya,”Tuhan tolong kuatkan kaki dan iman hambaMU ini yang mulai goyah agar disegarkan kembali dan roh hambaMU ini tetap menyala-nyala melayaniMU. AMIEN”.
Dave Broos
Pastor of the Outcast (Ordained Minister of United Christian Faith Ministries)
Email: davebroos@yahoo.co.uk
Mobile phone: 081330135643
Kamis, 16 Juni 2011
Shadow of The Cross ( Sebuah Proposal)

Kepada yang terkasih
Saudara-saudara seimanku
Shalom,
Kami dari pelayanan bagi kaum subkultur dan teen at risk (Remaja Bermasalah), Shadow of the Cross hendak melampirkan sebuah proposal sederhana ini untuk meminta dukungan. Kami pada saat ini tengah menggumuli masalah perpanjangan kontrak tempat pelayanan kami di Bandung yang akan berakhir pada akhir bulan ini (Juni 2011).
Mungkin banyak yang belum mengenali pelayanan kami ini, maka kami akan coba untukmenceritakan sedikit perihal pelayanan ini.
SHADOW OF THE CROSS
Shadow of The Cross merupakan sebuah organisasi non profit, yang didirikan untuk mengabarkan Kabar Baik bagi kaum subkultur. Kami coba untuk menyampaikan Berita Injil pada mereka yang tersesat dalam lembah kekelaman. Kami menanam/merintis komunitas melalui friendship evangelism (Penginjilan melalui persahabatan) dan Studi Alkitab. Di Indonesia dan Inggris, pelayanan ini memiliki safe house/rumah singgah sebagai tempat tinggal bagi mereka yang mau dimuridkan tetapi tak memiliki rumah dan juga sebagai tempat mempelajari kebenaran.
Pelayanan ini berjalan melalui donasi tubuh Kristus. Setiap uang yang masuk diperuntukkan bagi pelayanan subkultur dan berjalannya roda pelayanan.
Shadow of The Cross, beroperasi di empat negara (Amerika Serikat, Inggris, Indonesia dan Lebanon), setiap pusat pelayanan memiliki kesamaan visi, penjangkauan, pernyataan iman tetapi secara operasional dan finansial berjalan masing-masing.
Shadow of The Cross didirikan oleh Morria Nickles pada tahun 2002, pelayanan ini dimulai dengan The Chalice. Pada tahun 2004, diubah namanya menjadi Shadow of The Cross, kaum subkultur pertama dilayani pada awalnya adalah kaum Gothic. Akhirnya merambah semua subklutur yang ada di jalanan termasuk anak jalanan dan gelandangan. Kini Morria dan suami melakukan penanaman gereja pada salah satu suku Indian.
Di Indonesia, Dave Broos, diutus dan ditunjuk untuk mengembangkan pelayanan Shadow of The Cross pada tahun 2006 di Surabaya – Indonesia. Tahun 2007, Dave sekeluarga pindah ke kota Bandung dan mengawali kembali pelayanan ini. Sempat tersendat karena kekurangan dana dan kurang dukungan, sampai Tuhan memberikan hikmat untuk melakukan penetrasi pelayanan melalui dunia maya dan jejaring sosial. Puji Tuhan, hal tersebut mengawali terobosan pelayanan dan terjaringnya jiwa-jiwa bagi Tuhan.
KEGIATAN KAMI
PELAYANAN JALANAN (WE CARE – KAMI PEDULI)
- Memberikan bantuan pada wanita hamil luar nikah, ibu dan anak yang mengalami KDRT, Janda tua yang tak memiliki keluarga.
- Membuka lapangan pekerjaan bagi anak-anak atau orang jalanan agar dapat diterima kembali dalam masyarakat.
- Membagikan bahan pangan dan sandang bagi gelandangan atau orang jalanan.
PELAYANAN PRO LIFE (WE STAND TRUE – KAMI BERDIRI DALAM KEBENARAN)
- Menyuarakan gerakan anti aborsi, menyelamatkan anak-anak/bayi yang dibuang atau ditelantarkan.
- Menyuarakan agar anak-anak Tuhan menjaga keperawanan/keperjakaan, menentang seks sebelum pernikahan.
PELAYANAN ALTERNATIVE WORSHIP (WE REACH – KAMI MENJANGKAU)
- Penjangkauan melalui musik (salah satu ujung tombak pelayanan kami melalui grup musik jazz, Jazz for Fun (Juara lomba jazz se Indonesia yang diadakan Axis), grup rock John316 dan grup pop Matera/gitaris grup tsb adalah bagian pelayanan kami dimana mereka sudah menelurkan sebuah album dan tampil di acara musik ANTV)
- Penjangkauan melalui jejaring sosial, layanan doa, konseling dan pemuridan.
PELAYANAN PASTORAL MELALUI KOMUNITAS (WE ARE COMMUNITY OF SIMPLE CHURCH)
- Penanaman gereja dalam bentuk kelompok kecil, yang menekankan pada pemuridan, nilai kekeluargaan dan persaudaraan, penjangkauan dan bermultiplikasi.
KEBUTUHAN KAMI
1. Pada saat kontrakan rumah kami akan berakhir pada bulan Juni 2011 ini. Rumah yang kami tinggali juga merupakan safe house dan tempat “ibadah kecil kami”. Kami membutuhkan dana sekitar 8 juta Rupiah untuk memperpanjang satu tahun masa kontrak rumah tersebut. Dukungan doa dan dana dari saudara-saudara seiman, sangat kami harapkan. Bagi mereka yang hendak berkunjung ke tempat kami, mohon menghubungi kami terlebih dulu melalui 081330135643 (Dave). Kami berada di misi garis depan, dimana keberadaan kami lebih dikenali sebagai misi “kemanusiaan” dalam masyarakat.
2. Kami juga tengah mencoba mengembangkan usaha-usaha kecil untuk mendukung kehidupan dan berjalannya pelayanan ini. Dengan modal yang terbatas kami saat ini tengah coba mengembangkan sebuah distro bernama The Living Faith, kami membutuhkan rekan-rekan yang mau mengembangkan usaha ini. Kami membutuhkan perangkat komputer yang cukup baik untuk mendesain. Selain itu, kami juga tengah mengembangkan usaha masak atau catering Novie’s Kitchen. Kami coba berjualan masakan di lingkungan dimana kami tinggal.
3. Donatur yang dapat membantu kami untuk menyediakan sandang maupun pangan bagi penjangkauan kami di jalanan maupun panti-panti (asuhan maupun werda) yang membutuhkan.
KONTAK PERSON
DAVE BROOS, dapat dihubungi pada pesawat 081330135643 atau email davebroos@yahoo.co.uk atau melalui jejaring sosial Facebook. Lebih jauh mengenai Shadow of The Cross dapat diakses melalui http://shaddowcross.blogspot.com . Kami juga melayani melalui blog lainnya diantaranya http://renungandave.blogspot.com dan http://globalprayernetwork.blogspot.com .
Latar belakang Dave Broos, selain Regional Director untuk Shadow Of The Cross, merupakan utusan Injil Gereja Oikos Indonesia jemaat Surabaya, ditahbiskan sebagai Ordained Minister (Pastor) oleh United Christian Faith Ministries regional 11 - International, Amerika Serikat. Menikah dengan Novie Durant dan dikaruniai dua orang putra, Philip dan George Alexander Broos.
BILA ANDA HENDAK MENYALURKAN DONASI
Dapat disalurkan melalui Bank Central Asia, BCA Bandung II no rek 0081824788 atas nama Dave Broos, Jl. Asia Afrika 122-124, swift code CENAIDJA. Atau bila mau langsung bertemu atau berkunjung silahkan hubungi saya melalui email (davebroos@yahoo.co.uk) atau handphone (081330135643). Tuhan Yesus memberkati.
Hormat Saya,
Pastor Dave Broos
Label:
INFO PELAYANAN,
pemuridan,
pro life,
proposal
Kamis, 31 Januari 2008
Dicari Seorang Murid
DICARI YANG MAU MENJADI MURID KRISTUS
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKU dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20)
Sebuah pesan terakhir dari Kristus Yesus bagi setiap kita,sebab Ia mencari disciples (murid) dan bukan sekedar follower(pengikut). Semua orang percaya wajib menjadi murid Kristus dan juga seorang yang memuridkan orang lain. Wauw, sebuah tantangan besar bagi gereja masa kini. Mengapa saya katakan tantangan? Sebab banyak orang lebih suka kata “pergi”, orang suka dengan yang namanya “traveling”, sepertinya ada kebanggaan bila sudah pelayanan keliling di beberapa negara. Ada juga yang senang dengan kata “baptis” sebab itu berarti jumlah statistik anggota gereja bertambah, biasanya orang menjadi bangga kalau anggotanya banyak. Begitu juga dengan kata “ajar”, orang sangat senang mengajar di kelas atau mimbar, sebab nanti dapat “amplop”. Padahal kata imperative dalam kalimat Amanat Agung itu adalah “jadikanlah murid”. Mengapa kata ini dihindari? Sebab pemuridan ala Yesus bukan seperti kelas SOM atau model perkuliahan di STT. Sistem pendidikan yang diadopsi masa kini dan juga diterapkan dalam gereja merupakan “pola pendidikan Yunani” sedang pemuridan yang diajarkan oleh Yesus merupakan “pola pendidikan Yahudi”. Dimana pengajaran tidak disampaikan hanya searah tetapi dua arah, ada suatu dialog dan bukan monolog. Pelajaran atau pemuridan diberikan dimana saja, bisa di rumah, di bukit, di atas perahu, di bait Allah dan lain-lain; tidak dimonopoli di sebuah ruang kelas atau kompleks tertentu. Hubungan antara sang guru dan murid pun bukan hubungan ala dosen dengan mahasiswanya tetapi lebih pada hubungan ayah dan anak.
Kesedihan hati kami adalah saat melihat bagaimana kondisi gereja pada umumnya tidak membawa dampak besar bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Rasa asin gereja sebagai “garam dunia” tidak terasa, cahaya gereja sebagai “terang dunia” pun mulai redup. Saat kami masih menggembalakan jemaat, banyak diantara mereka yang tidak bertumbuh atau menjadi orang Kristen yang suam-suam. Hati kami sedih hingga suatu kali saat berdoa Tuhan membukakan hal ini pada kami. Bapa menghendaki murid-murid Kristus, mempelai yang dewasa bagi AnakNya dan bukan bayi dengan dot di mulut & mengenakan popok pampers. Dulu kami bangga dengan jumlah jemaat tetapi sekarang kebanggaan itu luruh. Kini kami berkonsentrasi dan memberi hidup untuk memuridkan anak-anak Tuhan bertumbuh pada kedewasaan dalam Kristus bersama rekan-rekan tubuh Kristus yang lainnya kami bersinergi agar pemulihan pelayanan lima jawatan terjadi atas gereja Tuhan. Kerinduan kami adalah melihat setiap anak Tuhan diperlengkapi dan menggenapi panggilan Tuhan atas hidupnya. Kami percaya setiap anak Tuhan, adalah alat Tuhan dan tidak ada yang namanya hanya “jemaat biasa”. Setiap anak Tuhan adalah orang-orang yang luar biasa di dalam tanganNya.
Apakah harga seorang murid? Alkitab berkata,”Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridKU.” (Luk 14:27)…..”ia tidak layak bagiKU” (Mat 10:38). Pikul salib, yang berarti mati terhadap diri sendiri dan hidup sebagai ciptaan baru dalam Kristus.(2 Kor 5:17, Gal 2:19b-20).
Maukah anda membayar harga itu?
Bila anda rindu untuk menjadi murid Kristus dan ingin terus bertumbuh menjadi seorang yang berdampak bagi Kerajaan Tuhan maka kami mau mengajak anda bergabung di dalam kelompok pemuridan Eagles Nest Discipleship. Ada pun pelayanan kami bersifat interdenominasi, kita akan membahas bersama teologia dasar kekristenan dan pemuridan. Materi yang akan kita bahas bersama diantaranya :
Doktrin Theologia,
Kristologi,
Pneumatology(Roh Kudus),
Angelology(Malaikat),
Anthropology(Manusia),
Bibliology(Alkitab),
Soteriology(Keselamatan),
Ecclesiology(Gereja),
Thanatology(Kematian)
Eskatologi (Akhir Zaman)
Dasar Yang Benar
Kuasa Doa
Belajar Alkitab Praktis
Hidup Rumahtangga atau Keluarga
Bagaimana Hidup Dipimpin Roh Tuhan
Kuasa Pujian
Pelayanan Mujizat
Hidup Kekristenan yang Berkemenangan
Peperangan Rohani
Menjadi Saksi Kristus sampai ke ujung bumi
Ada pun The Eagles Nest Discipleship bekerjasama dengan lembaga pendidikan The Prophetic Voice Institute – Amerika Serikat, setiap murid yang mengikuti pertemuan dengan setia dan mengikuti ujian akhir akan mendapatkan Diploma in Discipleship dari lembaga tersebut.
Bagi yang berdomisili di kota Bandung, kita dapat bertemu dan belajar bersama sedang untuk di kota lain, kami bisa mengunjungi anda atau sekalipun tidak bisa jumpa secara tatap muka, kita berhubungan melalui e-mail (davebroos@yahoo.co.uk atau novie_durant@yahoo.com , yahoo messenger dengan I D davebroos, atau menelpon/SMS di 081330135643.
Sebagaimana yang kami tekankan di atas kerinduan kami bukan sekedar mentransfer ilmu pengetahuan tetapi kehidupan. Kerinduan kami kelompok pemuridan ini bukan saja memiliki nilai kekeluargaan yang kuat dalam Kristus tetapi juga bertumbuh bersama sebagai keluarga Tuhan yang berdampak bagi bangsanya bahkan bagi bangsa-bangsa.
Tuhan memberkati dan jangan ragu untuk menghubungi kami.
Pdt. Dave Broos
The Eagles Nest Ministries http://3a9l35-n35t.blogspot.com
Renungan Kehidupan http://renungandave.blogspot.com
Gereja Perjanjian Baru http://gerejaperjanjianbaru.blogspot.com
Suara Profetik http://9u4rd14n-4n93ls.blogspot.com
Pelayanan Doa http://globalprayernetwork.blogspot.com
Zoe Ministries http://zoeministries.blogspot.com
House Church and Me http://davebroos.blogspot.com
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKU dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20)
Sebuah pesan terakhir dari Kristus Yesus bagi setiap kita,sebab Ia mencari disciples (murid) dan bukan sekedar follower(pengikut). Semua orang percaya wajib menjadi murid Kristus dan juga seorang yang memuridkan orang lain. Wauw, sebuah tantangan besar bagi gereja masa kini. Mengapa saya katakan tantangan? Sebab banyak orang lebih suka kata “pergi”, orang suka dengan yang namanya “traveling”, sepertinya ada kebanggaan bila sudah pelayanan keliling di beberapa negara. Ada juga yang senang dengan kata “baptis” sebab itu berarti jumlah statistik anggota gereja bertambah, biasanya orang menjadi bangga kalau anggotanya banyak. Begitu juga dengan kata “ajar”, orang sangat senang mengajar di kelas atau mimbar, sebab nanti dapat “amplop”. Padahal kata imperative dalam kalimat Amanat Agung itu adalah “jadikanlah murid”. Mengapa kata ini dihindari? Sebab pemuridan ala Yesus bukan seperti kelas SOM atau model perkuliahan di STT. Sistem pendidikan yang diadopsi masa kini dan juga diterapkan dalam gereja merupakan “pola pendidikan Yunani” sedang pemuridan yang diajarkan oleh Yesus merupakan “pola pendidikan Yahudi”. Dimana pengajaran tidak disampaikan hanya searah tetapi dua arah, ada suatu dialog dan bukan monolog. Pelajaran atau pemuridan diberikan dimana saja, bisa di rumah, di bukit, di atas perahu, di bait Allah dan lain-lain; tidak dimonopoli di sebuah ruang kelas atau kompleks tertentu. Hubungan antara sang guru dan murid pun bukan hubungan ala dosen dengan mahasiswanya tetapi lebih pada hubungan ayah dan anak.
Kesedihan hati kami adalah saat melihat bagaimana kondisi gereja pada umumnya tidak membawa dampak besar bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Rasa asin gereja sebagai “garam dunia” tidak terasa, cahaya gereja sebagai “terang dunia” pun mulai redup. Saat kami masih menggembalakan jemaat, banyak diantara mereka yang tidak bertumbuh atau menjadi orang Kristen yang suam-suam. Hati kami sedih hingga suatu kali saat berdoa Tuhan membukakan hal ini pada kami. Bapa menghendaki murid-murid Kristus, mempelai yang dewasa bagi AnakNya dan bukan bayi dengan dot di mulut & mengenakan popok pampers. Dulu kami bangga dengan jumlah jemaat tetapi sekarang kebanggaan itu luruh. Kini kami berkonsentrasi dan memberi hidup untuk memuridkan anak-anak Tuhan bertumbuh pada kedewasaan dalam Kristus bersama rekan-rekan tubuh Kristus yang lainnya kami bersinergi agar pemulihan pelayanan lima jawatan terjadi atas gereja Tuhan. Kerinduan kami adalah melihat setiap anak Tuhan diperlengkapi dan menggenapi panggilan Tuhan atas hidupnya. Kami percaya setiap anak Tuhan, adalah alat Tuhan dan tidak ada yang namanya hanya “jemaat biasa”. Setiap anak Tuhan adalah orang-orang yang luar biasa di dalam tanganNya.
Apakah harga seorang murid? Alkitab berkata,”Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridKU.” (Luk 14:27)…..”ia tidak layak bagiKU” (Mat 10:38). Pikul salib, yang berarti mati terhadap diri sendiri dan hidup sebagai ciptaan baru dalam Kristus.(2 Kor 5:17, Gal 2:19b-20).
Maukah anda membayar harga itu?
Bila anda rindu untuk menjadi murid Kristus dan ingin terus bertumbuh menjadi seorang yang berdampak bagi Kerajaan Tuhan maka kami mau mengajak anda bergabung di dalam kelompok pemuridan Eagles Nest Discipleship. Ada pun pelayanan kami bersifat interdenominasi, kita akan membahas bersama teologia dasar kekristenan dan pemuridan. Materi yang akan kita bahas bersama diantaranya :
Doktrin Theologia,
Kristologi,
Pneumatology(Roh Kudus),
Angelology(Malaikat),
Anthropology(Manusia),
Bibliology(Alkitab),
Soteriology(Keselamatan),
Ecclesiology(Gereja),
Thanatology(Kematian)
Eskatologi (Akhir Zaman)
Dasar Yang Benar
Kuasa Doa
Belajar Alkitab Praktis
Hidup Rumahtangga atau Keluarga
Bagaimana Hidup Dipimpin Roh Tuhan
Kuasa Pujian
Pelayanan Mujizat
Hidup Kekristenan yang Berkemenangan
Peperangan Rohani
Menjadi Saksi Kristus sampai ke ujung bumi
Ada pun The Eagles Nest Discipleship bekerjasama dengan lembaga pendidikan The Prophetic Voice Institute – Amerika Serikat, setiap murid yang mengikuti pertemuan dengan setia dan mengikuti ujian akhir akan mendapatkan Diploma in Discipleship dari lembaga tersebut.
Bagi yang berdomisili di kota Bandung, kita dapat bertemu dan belajar bersama sedang untuk di kota lain, kami bisa mengunjungi anda atau sekalipun tidak bisa jumpa secara tatap muka, kita berhubungan melalui e-mail (davebroos@yahoo.co.uk atau novie_durant@yahoo.com , yahoo messenger dengan I D davebroos, atau menelpon/SMS di 081330135643.
Sebagaimana yang kami tekankan di atas kerinduan kami bukan sekedar mentransfer ilmu pengetahuan tetapi kehidupan. Kerinduan kami kelompok pemuridan ini bukan saja memiliki nilai kekeluargaan yang kuat dalam Kristus tetapi juga bertumbuh bersama sebagai keluarga Tuhan yang berdampak bagi bangsanya bahkan bagi bangsa-bangsa.
Tuhan memberkati dan jangan ragu untuk menghubungi kami.
Pdt. Dave Broos
The Eagles Nest Ministries http://3a9l35-n35t.blogspot.com
Renungan Kehidupan http://renungandave.blogspot.com
Gereja Perjanjian Baru http://gerejaperjanjianbaru.blogspot.com
Suara Profetik http://9u4rd14n-4n93ls.blogspot.com
Pelayanan Doa http://globalprayernetwork.blogspot.com
Zoe Ministries http://zoeministries.blogspot.com
House Church and Me http://davebroos.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)

