Tampilkan postingan dengan label URBAN MINISTRY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label URBAN MINISTRY. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 April 2013

Stand True Pro-lif Outreach - What I saw and heard during my two days at the murder trial of abortionist Kermit Gosnell

What I saw and heard during my two days at the murder trial of abortionist Kermit Gosnell:
I recently spent two days at the murder trial of Kermit Gosnell, the abortionist accused of the murder of seven babies born alive and one woman. Gosnell would take babies who were born alive after botched abortions and snip the backs of their necks to finish the job. You can find out all about who Gosnell is and what he did at http://www.whoisgosnell.com
I arrived at the courthouse on Monday morning to find out the trial would be postponed for a day because of the defense attorney being sick and in the hospital. Father Frank, Janet Morana, Alveda King and I were able to talk to the prosecutors who allowed us to view and examine the evidence that was taken from his “house of horrors” abortion mill.
As I walked around the filthy, rusty and utterly disgusting equipment I wanted to vomit. I could not believe this stuff was taken from a so-called “medical clinic.” The table that the abortions were performed on looked like it was straight out of a horror movie, as did the suction tubes and ancient ultra-sound machine. The recliner in which women sat to recover from the abortions was stained and tattered and not fit to sit on. Earlier that day the prosecutor almost sat in the chair and she was visibly upset that she came so close to doing so.
On Tuesday I met up early in the morning with Alveda King and went back to the courtroom for the opening of the defense’s arguments. The day opened with defense attorneys arguing for the acquittal of all the charges to the judge, without the jury present.
Gosnell’s attorney was visibly conflicted as he went back and forth between calling the victims either a fetus or a baby. At one point he yelled out, “These infants, fetuses or whatever you call them.” I wanted to scream but had to bite my tongue as I listened to this dribble.
It suddenly became very personal to me as the defense attorney began to address the abuse of a corpse charges that Gosnell was facing for the baby parts found in jars in his house of horrors. When the attorney started spewing about how these were not real body parts because they were not real humans yet, I began to tear up. He talked about how these babies were not really human and all I could think about was Benjamin Davis, my son who we miscarried two years ago. Benjamin was a real person and was given a real funeral; he was an actual human being just as these babies were.
The prosecutors at one point were discussing a time when after the botched abortion, Gosnell also botched his “snipping.” “It was laying there with a hole in its neck, it was moving and breathing, it was alive,” declared a clinic worker about one of the babies Gosnell murdered. Sitting there listening to all of these quotes and testimonies was one of the most difficult things I have ever done, but it was important for me to be there.
Gosnell (as you notice I refuse to call him a doctor) just sat there through all of this testimony without emotion or reaction. He just sat there taking notes and smirking as he looked around. He was guarded by an armed police officer at all times as he has been in custody for almost two years. It makes my skin crawl to think that this man could possibly be released and be back in practice if he is found not guilty.
I am also heartbroken for this man and the day he will face our Lord. I prayed for his soul and have been asking my friends to do so also. I know how despicable I was before I knew Christ and I also know Gosnell needs that hope of Christ just all of us do.
This Monday the attorneys will present their closing arguments and then his fate will be given to the jury to deliberate. Christian leaders will be outside the Courthouse on Monday leading a prayer vigil for the verdict and for Gosnell himself.
We need your help to get me back to the Gosnell trial on Monday and Tuesday. It is important for me to join other national leaders at the trial for the closing arguments and for the prayer vigil. We simply need help with the cost as it is not in our budget right now, can you donate $25, $50, $100 or whatever you can to help get me there?
Bryan Kemper
Will you help get Bryan Kemper to the Gosnell trial?
If you can donate please do so at https://donate.cornerstone.cc/?mid=STANDTRUE or on the donate button on Stand True's Web site.
Donations can also be mailed to Stand True – PO Box 890 – Troy, OH 45373 or call 540-538-2581 to donate by phone.
Bryan Kemper
Director of Youth Outreach for Priests for Life
Stand True
PO Box 890 * Troy, OH 45373
Tel 540.538.2581
bryankemper@standtrue.com
http://www.facebook.com/iambryankemper
http://www.facebook.com/standtrueforlife
http://www.standtrue.com
 

Rabu, 24 April 2013

Memiliki Hati Yang penuh belaskasihan

MEMILIKI HATI YANG PENUH BELASKASIHAN

 Saat kita berjalan dan melihat orang berpakaian kumal dan bau badan yang menyengat menghampiri kita apa yang timbul dalam hati kita? Ada yang merasa jijik, ada yang melihat sebagai pemalas, ada yang masa bodoh saja, ada pula yang segera mengambil uang recehan dan memberi, ada yang berbelas kasihan dan lalu memikirkan dan bertindak bagi mereka yang kurang beruntung, dan masih banyak lagi tindakan lainnya. Saya tidak tahu dengan Anda, namun setiap kali saya melihat orang-orang yang kurang beruntung ini timbul pertanyaan dalam benak saya sebagai anak Tuhan bagaimana saya bisa membantu mereka. Saya bayangkan bila seandainya saya yang ada di posisi mereka dan tak berdaya apa yang saya harapkan orang lain lakukan pada saya. Pernahkah Anda membayangkan bilamana Anda yang mengalami hal tersebut terjadi pada diri Anda?
Saat saya berbagi dengan beberapa rekan tentang melayani orang-orang ini, ada saja yang sinis dan dengan angkuhnya menyatakan sebab orang-orang ini tidak mau terima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, atau mereka masih hidup dalam dosa sebab orang miskin hidup di bawah kutuk sedang orang kaya itu hidup di bawah berkat, atau karena mereka malas bekerja dan masih banyak lagi jawaban yang tidak memberikan solusi selain penghakiman dan pembenaran diri sendiri untuk tidak bersentuhan dengan kaum miskin.
Benarkah Tuhan Yesus hanya menyembuhkan orang yang mau mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat? Bila kita membaca Alkitab kita akan menemukan bagaimana Tuhan Yesus bahkan menyembuhkan orang-orang yang belum percaya padaNya atau mengakui keilahianNYA. Karena Tuhan Yesus berbelaskasihan terhadap mereka. Sadarkah saudara bahwa Tuhan Yesus mati di atas kayu salib untuk menebus saudara karena belaskasihNya.Bukan karena saudara sudah hidup benar tetapi Ia mati menebus kita karena DIA tidak ada jalan lain, agar kita dapat kemerdekaan dari dosa. IA harus mati menebus kita dari segala ikatan dosa. Ada belas kasihan yang leimpah dalam DNA Kristus….bila kita mengaku anakNYA…bukankah DNA itu ada pada kita….mengapa kita kurang berbelaskasihan terhadap sesama kita?
Benarkah orang Kristen harus kaya dan yang miskin hidup kurang iman atau tinggal dalam dosa? Bagaimana dengan Tuhan Yesus dan teladan para murid? Apakah mereka menimbun kekayaan atau menyebarkannya untuk menolong sesama? Coba baca kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Orang dapat menjadi kaya karena karunia Tuhan, apakah hanya untuk dinikmati sendiri sampai tujuh turunan? Atau Tuhan ingin Anda menggunakan kekayaan itu untuk mensejahterakan kota atau desa dimana Anda tinggal? Tuhan melimpahi kita dengan kekayaan agar kita tamak dan egois atau untuk memberkati sesama..menolong sesama?
Bagaimana dengan orang Kristen yang pemalas, itu merupakan masalah mindset dan itu bisa kita ubah. Paulus menyatakan jangan beri makan pemalas yang hanya menggantungkan hidupnya dari belaskasihan orang lain. Bila kita mengasihi saudara kita, maka kita juga tolong dia untuk merubah mindsetnya (pola pikirnya). Sering saya dengar rekan-rekan yang mengkhotbahkan jangan hanya beri ikan pada orang miskin tapi kailnya. Saya rasa pengajaran itu atau ilustrasi itu kurang lengkap. Sebab meski diberi kail tapi bila tidak diajarkan bagaimana mengail maka ia akan jual kailnya. Apa yang seharusnya dilakukan adalah berikan ikan pada orang itu agar dia tidak lapar, lalu ajarkan cara mengail, beritahu trik mengail dan dimana mengailnya, kesulitan apa yang mungkin akan kelak dihadapi, pertemukan dia dengan para ahli mengail hingga dia bertambah wawasan dan bersemangat setelah bertemu para pengail handal, lalu beri kailnya dan jadilah mentor/pendamping bagi dia hingga ia bisa mandiri sebagai “pengail”. Dia akhirnya bisa menjadi teladan bagi yang lain.
Beberapa saudara bertanya bagaimana sebagai langkah awalnya? Saya membagikan ini semua dengan gratis, tidak ada “copyright” dalam pelayanan saya. Harapan saya copy it right dan teach it right. Layanilah sesama kita yang kurang beruntung dengan belaskasihan, perlakukan mereka sebagai sesama manusia, tolong jangan ada lagi yang menggunakan orang miskin sebagai sarana mengumpulkan dana untuk keperluan pribadi atau nama besar pelayanan/organisasi/yayasan/gerejanya. Lakukanlah dengan hati yang tulus karena Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengasihi kita maka sekarang kita mengasihi sesama kita.
Hal yang pertama, berdoalah pada Tuhan untuk dapat mengerti isi hati Tuhan (Matius 25:31-46). Mengerti panggilan kita sebagai anak Tuhan dan apa yang perlu kita lakukan terhadap sesama kita. Apa konsekwensinya menurut firman Tuhan itu bila kita tidak perduli?
Hal yang kedua, milikilah belaskasih Tuhan dalam hatimu. Coba bayangkan bila itu diri anda sendiri atau kerabat dekat anda atau orangtua anda yang alami. Apa yang akan anda lakukan atau apa yang anda harapkan dilakukan orang tersebut pada anda?
Hal yang ketiga, lihatlah sesama kita sebagai jiwa-jiwa yang berharga milik Tuhan, mereka belum tahu jawaban permasalahan hidup mereka dan anda yang memiliki jawaban tersebut. Selama ini mereka sudah banyak dilukai, dimanfaatkan, dan ditipu…..kini saatnya anda datang sebagai terang, garam, surat Kristus yang terbuka….teladan Kristus di muka bumi. Menjadi tangan Kristus…Kaki Kristus…telinga Kristus…tubuh Kristus yang memberkati tempat dimana mereka tinggal. Tuhan Yesus meninggalkan sorga untuk turun ke dunia yang kotor dan penuh dosa karena kasihNya yang besar.
Hal yang keempat, berdoa untuk rekan-rekan sekerja yang sehati dan sepikir. Sebab kita manusia yang terbatas dan membutuhkan rekan sekerja lainnya. Berdoa secara korporat/bersama mencari kehendak Tuhan, strategi pelayanan dan dimana harus memulainya.
Hari ini saya bagikan empat hal sederhana ini bagi saudara-saudaraku untuk renungkan bersama. Saya berdoa lebih banyak lagi orang terlibat dalam pelayanan bagi kaum terbuang dalam generasi kita ini. Doa saya belaskasih Tuhan turun atas semua anak Tuhan dan menggunakan segala daya upaya untuk menjadi alat Tuhan bagi desanya…kotanya..bangsanya….bangsa-bangsa di dunia…..
Dunia tidak butuh sekedar janji-janji manis…..mereka butuh bukti..teladan Kristus yang nyata melalui tubuhNya yang ada di dunia……GEREJA TUHAN…..Let’s get it on, Church!!!!!!!

Salam dari hambaNYA

Dave Broos
Gembala kaum terbuang
Anda dapat menghubungi saya melalui inbox FB, email atau YM davebroos@yahoo.co.uk, SMS 081330135643 dan BBM (pin 31306302)

Senin, 01 April 2013

THE LITTLE GIRLS THAT RAISED $300 TO STOP SLAVERY

My Daughters Raised $300 to Stop Slavery

By
MyersgirlsI am so proud of my three daughters… A daddy has got to boast a bit.
Each of them recently had birthdays, and for their birthday parties, they told their friends not to bring gifts, but to make donations instead to help rescue girls from slavery.
Altogether, they raised nearly $300!
The ministry we are sending the money to is Children’s Hope Chest. They work with children in many parts of the world, and one of the areas they specialize in is with rescuing children for the horrors of sex slavery. For example, they recently launched an effort in Moldova to provide a home and round-the-clock care for survivors of sex trafficking.
No, we haven’t told our daughters all the details about the girls they are helping to rescue, but we do talk about the history of slavery, and how there are more slaves today around the world than ever before, and how many of the slaves today are children and young girls. This is something they take quite seriously, and have been doing many things for the last four or five years to help in any way they can.
And they just gave up birthday presents, and raised $300 in the process. My girls are amazing.
To learn more about Human Trafficking and sex slavery, check out some of these posts:

Human Trafficking Posts

  1. Sex Slaves
  2. Would You Fight Slavery?
  3. Rescue Russian Sex Slaves
  4. Rescue Russian Girls from Sex Slavery
  5. Stop Her Nightmare
  6. Another Girl Rescued Today
  7. Girls for Sale
  8. Goal Reached!
  9. I Want to be a Prostitute
  10. $52,000 raised!
  11. 31 Million Sex Slaves
  12. Renting Lacy
  13. More Than Rice
  14. Human Trafficking Ring Busted
  15. The Other Big Game
  16. Sex Slavery, Planned Parenthood, and Your Tax Dollars
  17. How to Minister to Prostitutes
  18. Wisconsin Woman Held as Sex Slave in Brooklyn
  19. Coked-Up Whore
  20. Human Trafficking has Many Faces
  21. Into an India Brothel
  22. You Need a Girl?
  23. Human Trafficking Media
  24. The Son of God is Selling Children
  25. My Girls Raised $300 to help stop Human Trafficking

THE SCARF IT UP CHURCH

The Scarf-it-Up Church

By
In response to some of the posts on this blog about helping the homeless, a woman named Beth sent me the following message on Facebook. It was so encouraging, I asked her if I could share it with all of you as well. She said yes, so here is what she wrote:
Feed the Hungry Scarf it Up

It’s so refreshing to find out there are more like my family out there!
I was adopted by missionaries in the early 1960′s, and, in the following decade my Dad became a pastor. His degrees were in Theology, Philosophy, and Business. My dad was the type of man who would bring homeless folks home and sit them at our dinner table. As a teenager, I have to confess it embarrassed me. These folks smelled like urine, body odor, and booze. At some point, I grew up and realized that it was not about giving them a meal, he could have bought them a hamburger. By bringing them home, he gave them their dignity and treated them like any other guest.
As much as I adored my folks and their love for Christ, as well as the way they showed their love in how they treated others, especially those considered unlovable (or invisible) by most…the fact is, their religion — Pentecostal Holiness — was a huge turn-off and as a result, I struggled for 20 years over my faith.
In the Pentecostal Holiness church, one almost has to be perfect to make it to heaven. I wasn’t allowed to have my ears pierced, go to movies, swim with boys, dance, etc. As an adult, I attended various non-denominational churches, but so many of them were more about growing the congregation and offering entertainment choices, then about teaching folks to have relationships with Christ and each other. None of them taught how to treat one another.
The political in-fighting, constant pleas for more offerings, and competition with other churches was all too much. The clincher was when the pastor of a church I had attended for six years got in the pulpit and asked everyone to take out a cash advance on their credit card to buy some latest, greatest gadget the church just had to have.
Once I stopped attending, the senior pastor sent me a Facebook message telling me that I could be such a great cheerleader for God if only I would return to church. This is ironic because of what I did after I “left” church.
I started a group 5 years ago of friends and strangers called Scarf it Up. Here are some of the things we have done in the past three months alone:
  • We had a yard sale and raised over $3k for a veteran and his family facing foreclosure.
  • We bought and installed a water heater for a disabled woman.
  • We held a Valentine banquet for 150 homeless folks and gave each one a rain poncho, coat, and a small ziplock of home baked cookies in addition to a meal.
  • We feed homeless people monthly and are having a cookout planned for April 6th.
  • Every December we fill backpacks with socks, scarves, blankets, granola bars, toiletry kits, etc, and pass them out on December 15th… this year we distributed 250 kits.
  • We are also an emergency resource for our local Salvation Army and last Thursday they called to ask us if we could help a young mother of two who was short $275 paying her March rent after an illness put her in the hospital and out of work. Within an hour we had the money plus $100 extra for groceries. Over the weekend we discovered she had no furniture. None. So far, we have obtained a sofa, love seat, queen bed, twin bed & trundle, kitchen table/chairs, dishes, and other items as well.
But I’m not a cheerleader for God because I don’t “attend” church.
Recently a well-meaning friend told me I needed to get my family in church. I’m a Realtor by profession, but I also home-school my three younger sons (two are grown). My 14 year old son and I read the bible together daily and are currently in the book of Mark. My younger children and I also read stories from the Bible daily, pray together, and discuss the kind of people we need to strive to be. All of my children help in our efforts to help others.
I may not be physically in a church building, but my husband and I put 10% of our earnings into our “blessings fund” from which we have helped a family with nine children keep their home when facing foreclosure, paid $1800 for a family to have a broken axle repaired on their only vehicle. From this fund, we regularly buy groceries for needy families, make chicken soup for our sick friends, watch the children so a deployed soldier’s wife can get a few hours to herself, take blessings baskets to folks who need a smile after life’s tripped them up, and numerous other ways of blessing and loving others.
We hug our homeless friends, and they know that if they need anything — from shoes to mosquito repellent — all they have to do is ask. To me, many churches are run like businesses and too many pastors are making too much money. The average home price in my market is $160k and yet we have pastors living in million dollar homes in our small city!! I don’t understand it. I don’t agree with it.
So, no, we don’t “go to church,” but we love God and we strive to make Jesus “smile” (that is how we explain it to our 6 year olds). I’m so tired of folks judging my family and thinking we’re “not living right” just because we don’t attend church in a building.
I’m glad there are folks like you telling us that we, in fact, are not doing it wrong and it’s OK for us to worship and serve Him in our own way. Though our service in the name of Jesus may look different than those who “go to church”, it is no less sincere.

Thanks, Beth!
And thanks to all of you who read this blog and who write about similar things on your own blogs and on Facebook. All around the world, people are beginning to see that it is possible (and maybe even easier) to follow Jesus outside the four walls of the church and do so in a way that takes His love to the neediest people in our towns and cities.
Sitting in a building on Sunday morning is not the only way of following Jesus!
If you appreciated what Beth said, go “Like” her Scarf it Up page on Facebook! Maybe you can start something similar in your own town. If you do, let us know!

Selasa, 26 Juli 2011

URGENT PRAYER & NEED


Shalom,
Kami mohon dukungan doa sebab kami perlu memperpanjang sewa rumah yang kami jadikan pusat pelayanan kami di kota Bandung yang sudah jatuh tempo. Kami telah mendapatkan kelonggaran selama sebulan ini untuk mencari dana. Ada pun sewa rumah tersebut adalah 8 juta, sampai saat ini telah terkumpul dana sebesar 2 juta Rupiah. Masih ada kekurangan sebesar 6 juta Rupiah dan kami percaya bahwa tak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Kami mohon dukungan doa anda sekalian sebagai tubuh Kristus yang ada di Indonesia. Surat ini pun ditulis bukan untuk meminta belaskasihan tetapi dukungan dari bagian tubuh Kristus yang lainnya. Bila Anda tergerak untuk membantu Anda dapat membeli produk t-shirt distro kami yang ada pada blog ini juga.
Terimakasih banyak atas support anda sekalian. God bless you all, abundantly

Best Regards,

Ps.Dave Broos
081330135643 atau davebroos@yahoo.co.uk

Rabu, 15 Juni 2011

GEMBALA KAUM TERBUANG



GEMBALA KAUM TERBUANG
Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka….(1Sam 22:2a)

Saat saya menanggapi pelayanan sepenuh waktu bagi Tuhan, saya bermimpi untuk menjadi Pendeta besar dan ternama. Impian saya memiliki gereja yang besar, jemaat besar yang bertumbuh di dalam Tuhan dan berasal dari kalangan yang terhormat. Saya teringat saat baru bertobat, saya sering membaca kesaksian-kesaksian para pendeta terkenal baik di Indonesia maupun mancanegara. Mereka kebanyakan menyaksikan bagaimana gereja yang mereka rintis tadinya kecil bertemu di tenda atau rumah mungil mereka. Lalu gereja yang mereka rintis akhirnya bertumbuh dan bertambah banyak jemaatnya hingga puluhan bahkan ratusan ribu. Bahkan ada di antara jemaat mereka yang merupakan birokrat, pengusaha besar, pengacara tenar, artis, dll. Saat itu saya terkagum-kagum. Dasyat sekali.Wouw, saya juga ingin jadi Pendeta sekaliber itu. Melihat gaya hidup mereka yang diberkati secara berkelimpahan secara harta dunia. Wah, siapa yang tidak mau.
Tetapi semakin lama yang saya memberi diri pada Tuhan semakin saya menyadari Tuhan memanggil saya untuk melakukan hal yang berbeda dari pelayanan gereja pada umumnya. Hanya saya saat itu coba untuk melawan “dorongan ilahi” tersebut. Saya berpikir bahwa semua pelayanan sama saja, sebab toh semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Kalau bisa melayani di kota mengapa harus susah-susah ke desa apalagi pedalaman. Di desa apalagi pedalaman, yang saya bayangkan hidup dalam kemiskinan dan suasana sepi. Sedang saya lahir besar di kota besar, pasti tidak betah tinggal di daerah yang terisolir. Saya berpikir kala itu, yang terpenting adalah melayani Tuhan.
Pada masa itu saya mengalami pergumulan ketika Tuhan mulai menyatakan isi hatiNya untuk saya kerjakan. Saya dihinggapi rasa takut, apa kata teman-teman sejawat saya atau para senior saya. Apakah yang Tuhan nyatakan? Tuhan menyatakan bahwa IA memanggil saya untuk melayani dan menggembalakan “kaum terbuang” dalam lembah kekelaman. Ada begitu banyak pelayanan yang coba melakukan penetrasi bagi “kaum terbuang” tapi hanya dapat masuk di permukaan saja, kecuali kasus-kasus tertentu dimana Tuhan melakukan intervensi hingga “seseorang dari lembah kekelaman” itu bertobat. Salah satu yang diselamatkan Tuhan adalah diriku. Tuhan memanggil kami (saya percaya, ada saudara-saudara seiman lainnya yang berlatar belakang sama) untuk melayani “kaum kami” dengan lebih efektif.
Kala keraguan melanda hati saya, Tuhan mengutus hambaNya, Pastor Christopher K dari Malaysia, untuk berdoa dan menyampaikan nubuatan mengenai pelayananku. Inti dari nubuatan itu adalah Tuhan hendak memakai diriku sebagaimana Tuhan memakai diri Daud untuk mengubah para pengikutnya di Gua Adulam. DUEEERRRR!!!!!! Tiba-tiba Tuhan juga mengingatkan saya akan sebuah mimpi yang saya dapatkan saat baru bertobat. Dalam mimpi itu saya dibawa seorang malaikat ke sebuah jalan gelap yang sangat lebar ujungnya ada lautan api. Malaikat saya mengajak saya melihat lautan api itu, sungguh suatu tempat yang sangat panas dan mengerikan. Lalu malaikat itu mengajak saya berjalan melalui jalan lebar yang gelap itu. Ternyata banyak sekali orang…bahkan sangat padat dan saya melihat banyak sekali teman saya di jalanan dan geng bahkan ada juga sanak keluarga saya. Saya berteriak-teriak memperingatkan mereka bahwa di ujung jalan itu ada lautan api tapi mereka tak menghiraukan diri saya. Malaikat itu akhirnya membawa saya ke jalan lain yang kecil dan banyak lampu menyala. Lalu saya melihat seorang ibu (wajahnya mirip ibunda dari sobat karibku di geng yang taat beribadah), ia menoleh kepada saya dan berkata,”Kau telah diselamatkan, selamatkan mereka juga.” Tuhan juga mengingatkan saya akan doa dan nubuatan, Mark Parker, senior saya di YWAM Selandia Baru, yang menyatakan bahwa kelemahan masa laluku akan menjadi kekuatanku di masa akan datang. Ya, Dave, si Dewa Vodka, memiliki masa lalu yang kelam dan kini…..setelah 19 tahun melayani Tuhan di dalam organisasi gereja dan pelayanan pada umumnya, dalam sekejap dipanggil Tuhan untuk meninggalkan “mimbar” dan kembali “ke jalan” dengan sebuah missi.
Memasuki tahun ke 20 dalam dunia pelayanan, saya sempat bertanya-tanya mengapa sekarang? Saat usia saya sudah masuk kepala empat, apakah saya tidak terlalu tua untuk urusan ini?
Saya menyadari bahwa jauh lebih mudah berkhotbah dan mengajar di balik tembok gedung gereja. Merupakan tantangan tersendiri agar kami (saya dan keluarga) dapat menjadi “surat Kristus” yang terbuka bagi dunia, bagi tetangga kami yang belum percaya, bagi anak-anak dunia yang hidup dalam nilai-nilai dosa, kebejatan, amoral, korup, kompromi, dstnya. Kami merasakan bahwa kami sungguh-sungguh membutuhkan DIA semakin nyata hadir dalam hidup kami. Bagaimana kami dapat bertahan dari serangan dunia bila kami tidak berakar dan bertumbuh dalam DIA.
Pelayanan kami mungkin tidak penuh gebyar, kami tidak mengadakan Kebaktian penginjilan (KKR), tidak mengadakan pertemuan besar dengan mengundang musisi Kristen ternama atau artis Kristen yang sedang ngetop. Pelayanan kami merupakan pelayanan membagikan hidup. Ketika orang berbeban berat dan butuh teman, kami ada di situ untuk mendengarkan setiap keluh kesah mereka. Ketika ada yang menangis, kami menangis bersama. Bilamana ada yang tengah bersukacita, kami ada di sana turut bersukacita dengan mereka. Ketika ada yang membutuhkan pertolongan kami coba membantu. Ketika seorang nenek yang tinggal seorang diri membutuhkan pertolongan untuk mengganti bohlam lampunya, kami ada di situ untuk menolongnya. Mungkin nampaknya bukan hal yang luar biasa tetapi bagi seorang nenek berusia 75 tahun, hal tersebut merupakan pertolongan besar.
Ketika seorang anak geng bermotor, ingin berbagi mengenai masalah hidupnya. Saya ada di sana mendengarkan dia, mungkin bagi masyarakat ia bukan siapa-siapa tetapi ia berharga di mata Tuhan. Apa yang berharga di mata Tuhan, seharusnya juga berharga di mata kita sebagai anak-anakNya. Ketika seorang tetangga sakit demam di tengah malam, kami membawanya ke rumah sakit, meski sebenarnya mata masih mengantuk. Rata-rata yang kami layani bukanlah mereka yang percaya….dan mereka mulai terbuka pada kami.
Ketika teman-teman Pendeta bertanya,”Dave dimana tempat kalian beribadah? Kamu sewa dimana atau pinjam tempat?” Saya menjawab mereka,”Kami bertemu dari rumah ke rumah, kadang di McD atau KFC, kadang di taman, kadang di warung kopi bahkan lapangan parkir…” Dan mata mereka terbelalak bagaimana mungkin kalian beribadah seperti itu??? Lalu saya pun menjawab bukankah Tuhan Yesus selain mengajar di Bait Allah dan sinagoge, IA bahkan lebih sering mengajar dari rumah ke rumah, juga di bukit, di pantai, dari atas perahu bahkan dimana saja IA mengajar para muridNYA. Tuhan menyatakan dimana dua tiga orang berkumpul dalam namaNYA, IA akan hadir (Mat 18:20). Esensi dari ibadah adalah kehadiran Tuhan dan bukan tempat. Penekanan yang pasti adalah setiap anggota komunitas/gereja bertumbuh di dalam DIA menjadi pelaku Firman Tuhan, terang dan garam dunia dan terlibat dalam pengabaran Injil dan bermultiplikasi sebagai murid Kristus.
Komunitas atau gereja yang kami rintis merupakan jaringan kelompok kecil, hingga hubungan kami satu dengan yang lainnya menjadi erat seperti sebuah keluarga. Kami berdoa agar melalui pelayanan ini setiap orang dapat mendapatkan kasih Kristus dalam keluarga barunya dalam Tuhan.
Tidak mudah memasuki kembali “dunia kelam” untuk merebut mereka yang tersesat sebab Iblis dan pasukannya akan mati-matian menghalangi kami. Sebab itu kami membutuhkan dukungan doa dari setiap saudara seiman untuk memerangi setiap kuasa kegelapan atau ilah zaman ini yang membutakan mata bathin mereka.
Pelayanan kami merupakan pelayanan mandiri, yang tidak didukung pendanaannya oleh lembaga mana pun. Tolong dukung doa juga bagi kami agar Tuhan membuka pintu-pintu berkat agar operasional pelayanan maupun setiap perlengkapan yang kami butuhkan dapat tersedia. Kami tengah mendoakan agar kami juga dapat membuka beberapa usaha kecil untuk dapat membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang telah meninggalkan lembah kelam maupun untuk mendukung jalannya pelayanan kami ini. Kami saat ini tengah coba merintis usaha clothing Living Faith (Kami baru memproduksi dua desain berhubung modal kami minim) dan juga menjual masakan/catering kecil Novie’s Kitchen. Salah seorang murid kami telah membentuk grup band rock indie bernama John316 dan telah membuat album.
Melayani kaum terbuang, tidaklah mudah……kadang ketulusan, kebaikan dan kasih kami dikhianati…kadang mengecewakan….kadang kami kehilangan uang atau barang….sering kami digossipkan bahkan difitnah…kadang apa yang kami kerjakan tidak dihargai…..seringkali kami diremehkan bahkan oleh rekan sejawat……TETAPI haruskah kami menyerah untuk TETAP BERSINAR DI KEGELAPAN DAN MENGGARAMI DUNIA YANG MAKIN MEMBUSUK OLEH DOSA…….SAMPAI AKHIR HAYAT INI….OH TUHAN KUATKAN KAMI UNTUK TETAP MENGERJAKAN PANGGILANMU.
Anda dapat menghubungi kami melalui davebroos@yahoo.co.uk atau mobile phone 081330135643 baik untuk sharing, minta dukungan doa, konseling, pelayanan maupun menjadi sahabat kami. God bless you.

Rabu, 08 Juni 2011

OUR HOME (RUMAH KITA)



OUR HOME
(RUMAH KITA)
Pelayanan Dari Shadow of The Cross – Pelayanan Bagi Anak & Remaja Bermasalah dan Kaum Subkultur

Ada begitu banyak anak maupun remaja yang tak pernah merasakan kehangatan kasih sayang dan perhatian orangtua hingga mereka hidup sebagai anak-anak yang memberontak. Ada di antara mereka yang sejak kecil sudah dititipkan di Panti Asuhan, ada yang sudah dipaksa sejak usia dini mencari uang di jalanan sebagai pengamen atau peminta-minta, ada pula yang saat beranjak remaja dipaksa untuk masuk lembah prostitusi dan aneka kriminalitas lainnya. Anak-anak dan remaja yang seharusnya merasakan kehangatan, kasih sayang, perhatian dan perlindungan orangtua kini hidup terlantar dan liar tanpa arahan.
Ada begitu banyak pelayanan dalam bentuk Panti Asuhan, Panti Sosial, Rumah Rehabilitasi dan yang sejenisnya untuk melayani anak-anak dan remaja bermasalah. “Our Home”, merupakan pelayanan Kami sekeluarga dimana kami menerima anak-anak maupun remaja ini selayaknya anak kami sendiri. Kami menerima mereka apa adanya, mungkin inilah yang membedakan pelayanan kami dengan panti yang lainnya. Untuk saat ini pun kami belum dapat menampung banyak anak sebab mereka tinggal di rumah kami yang kecil (kami hanya memiliki dua ruang tidur), dan hanya satu kamar saja yang dapat kami gunakan bagi mereka. Rumah kami mungkin tidak penuh dengan banyaknya benda mahal tetapi apa yang kami miliki adalah kasih terhadap satu dengan yang lainnya.
Harapan kami, setiap anak yang kami sentuh dapat mengalami kasih Tuhan dan mengalami perubahan. Pelayanan kami jauh dari gebyar dan menakjubkan seperti pelayanan lain yang ada dalam tubuh Kristus tetapi kami mau setia melakukan panggilan ini. Sering kali kami merasa diabaikan oleh anggota tubuh Kristus yang lain dan seolah berjuang sendiri. Namun di kala itulah Tuhan senantiasa menguatkan kami untuk tetap mengerjakan panggilan ini dengan setia.
Dalam pelayanan ini kami dibantu oleh beberapa relawan, yang memberi diri secara sukarela sebab kami untuk saat ini belum dapat memberi gaji atau bahkan persembahan kasih. Kami pun sadar tidak bisa mengharapkan “persembahan” dari anak-anak, para remaja maupun mereka yang kami jangkau di jalanan. Kami sepenuhnya bersandar pada pemeliharaan Tuhan baik bagi jalannya pelayanan maupun kehidupan kami sehari-hari.
Kami mengharapkan dukungan doa untuk kontrakan rumah bagi pelayanan kami yang akan habis pada bulan ini, dana yang kami butuhkan adalah sebesar 8 juta Rupiah. Kami percaya melalui dukungan doa, saudara-saudara seiman, Tuhan akan buka jalan bagi kami. Terimakasih atas dukungan doanya. God bless you, all.

Minggu, 25 April 2010

SHADOW OF THE CROSS INDONESIA




SHADOW OF THE CROSS

(A MINISTRY OF THE EAGLES NEST MINISTRIES)

Shadow of the Cross, merupakan sebuah pelayanan penjangkauan, pemuridan dan penanaman gereja bagi kaum subkultur. Apakah kaum subkultur? Kaum subkultur merupakan suatu “suku” yang terlahir dari suku yang sudah eksis dalam sebuah kota dimana mereka menjadi komunitas tersendiri, memiliki filosofi tersendiri dan budayanya sendiri. Di perkotaan kita mengenal mereka sebagai komunitas Underground, Gothic, Punk, Skaters, Bikers, Tattoo, Body Piercing, dstnya.
Sudah ada banyak pelayanan missi yang fokus menjangkau suku terabaikan namun masih jarang yang secara serius menangani komunitas-komunitas suku terabaikan diperkotaan ini. Seringkali bagian dari komunitas ini mengalami dan merasakan penolakan bila mereka menghadiri ibadah gereja pada umumnya. Kami percaya bahwa Tuhan Yesus juga mengasihi mereka dan menerima mereka juga sebagai anak-anakNya. Gereja kita saat ini tanpa sadar sudah memiliki stereo-type, siapa yang dapat beribadah dengan kita. Bila ada pasangan suami istri yang berkopiah dan berkerudung masuk ikut beribadah kita sudah mulai kasak-kusuk mempertanyakan mengapa orang berpakaian seperti itu masuk dalam gereja jangan-jangan “mata-mata”. Apalagi kalau yang masuk sekumpulan anak Punk dengan potongan rambut Mohawknya yang berwarna-warni, jaket jeans yang lusuh dan dipenuhi spike (paku hiasan). Bagian usher atau bahkan satpam akan melarang bahkan mengusir mereka dari ibadah sebab takut mereka akan melakukan tindak kriminal.
Kami banyak melayani dan menemukan orang-orang dari subkultur ini yang sebenarnya mencari kebenaran, haus dan lapar akan Tuhan namun enggan pergi ke gereja sebab sudah berulangkali mengalami penolakan. Lalu bagaimana sikap kita? Apakah kita sebagai gereja Tuhan enggan bersentuhan dengan mereka sebab penampilan dan gaya hidup mereka? Kita selalu berdoa agar Tuhan memberikan jiwa-jiwa baru tetapi ketika “kaum ini” datang kita menolaknya sebab “mungkin” kita tidak mengharapkan mereka yang datang, “mungkin” kita berharap konglomerat yang bertobat dan menjadi bagian kita. Yah, “mungkin”.
Shadow of the Cross, hadir untuk melayani kaum marginal di dalam masyarakat. Kerinduan kami adalah menghadirkan gereja di tengah mereka, memperkenalkan kasih Bapa yang sempurna dan menjadi saudara mereka dalam perjalanan kerohanian mereka.
Apa yang kami kerjakan bukanlah pelayanan yang populer, banyak yang menyatakan untuk apa melayani “kaum yang sulit ini”. Kaum yang pemberontak, anti kemapanan dan tidak dapat memberikan “income” bagi yang melayaninya. Bila kami meresponi panggilan ini sebab kami melihat bahwa mereka juga memiliki hak untuk mendengarkan Kabar Baik dan pengharapan yang telah dibukakan oleh Tuhan Yesus. Kami tahu rata-rata mereka adalah anak muda (orang berjiwa muda) yang tinggal dan hidup di jalanan, jadi jelas mereka bukanlah kaum borjuis. Kami melayani dengan hati yang tulus dan bukan karena uang yang dapat kami hasilkan melalui pelayanan. Kami melangkah dengan iman, bila Tuhan yang menghendaki kami melayani mereka, IA pula yang akan cukupkan kebutuhan kami. Kami tidak memiliki fasilitas apa-apa, tetapi kami punya hati untuk melayani. Entah ada donatur atau tidak, yang kami tahu dan percaya adalah Tuhan ada serta kami.
Kami tidak meminta uang Anda melalui surat ini, tetapi dukunglah kami di dalam doa agar kami tetap setia melayani kaum yang “sulit” ini dengan hati yang penuh belaskasihan dan diberikan hikmat untuk membawa mereka dalam pengenalan akan Tuhan Yesus secara lebih mendalam.
Terimakasih sudah membaca surat kami ini, Tuhan Yesus memberkati.

Dave Broos

“Gembala kaum yang terbuang”

Sabtu, 04 Oktober 2008

MEMULAI PELAYANAN BAGI ORANG MISKIN


MEMULAI PELAYANAN BAGI ORANG MISKIN

   Gereja membutuhkan visioner yang memilih untuk tidak bermain aman,
   namun bersedia mengambil risiko dan beriman kepada Tuhan dalam
   merintis pelayanan yang inovatif di kota, khususnya bagi orang-orang
   miskin yang membutuhkan bantuan.

   Kehendak Tuhan bagi kebanyakan kita yang tinggal di kota adalah
   menunjuk kepada pelayanan bagi kaum miskin. Jika Tuhan telah
   memanggil Anda untuk memulai sesuatu yang baru di kota, seperti
   Tuhan telah memanggil saya, maka Anda akan melalui proses pemahaman
   akan kehendak-Nya, berjalan dalam iman, dan membangun mimpi Anda.

   Berikut langkah-langkah dalam memahami dan memulai pelayanan yang
   penuh tantangan ini:

   1. Izinkan Roh Menaruh Visi dalam Diri Anda

   Tuhan memberi kita penglihatan akan rencana dan tujuan-Nya dalam
   hidup kita dan mengizinkan kita untuk bermimpi dan memiliki visi
   yang jelas dan konkret. Semakin spesifik doa, tujuan, dan sasaran
   kita untuk visi tersebut, semakin besar kemungkinannya untuk visi
   tersebut dapat terwujud.

   Visi adalah gambaran yang membara di hati tentang apa yang Tuhan
   ingin lakukan melalui Anda di tempat tertentu bersama kelompok orang
   yang spesifik. Visi adalah pewahyuan tentang rencana Tuhan yang
   dapat terjadi. Dengan memercayai dan menindaklanjuti visi tersebut,
   mimpi dapat terwujud. Dua visioner kuno, Abraham dan Sarah, telah
   mengalaminya. Saya melihat tiga benang dalam struktur kehidupan
   mereka yang membentuk pola masa kini dalam memahami kehendak Tuhan:
   panggilan untuk taat, iman terhadap visi, dan hasil yang sudah
   diantisipasi.

   Panggilan untuk Meninggalkan Tempat Tinggal

   Abraham dan Sarah tinggal dengan nyaman di Haran saat Tuhan
   memanggil mereka: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu
   dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;"
   (Kej. 12:1). Tidak mudah bagi mereka untuk menaati panggilan itu --
   banyak risiko dan pengorbanan untuk pergi ke tempat entah-berentah;
   di gurun.

   Sebuah "panggilan" akan selalu mengiang, bisikan dalam diri Anda
   yang mengatakan, "Tinggalkan rumahmu dan pergilah ke tempat yang
   Kutunjukkan kepadamu." Mungkin rumah yang kita tinggalkan bersifat
   geografis atau spiritual. Tempat yang ditunjukkan kepada kita
   mungkin adalah kota, pelayanan baru di lingkungan, atau cara hidup
   baru di mana kita berada. Yang terpenting adalah meresponi dan
   mengikuti visi yang lahir dari Tuhan dalam diri kita, tanpa
   menghiraukan risiko dan besarnya pengorbanan.

   Saat Abraham dan Sarah pergi, keponakan mereka, Lot, ikut bersama
   mereka. Kemudian, gembala Abraham dan Lot berselisih tentang
   pembagian tanah. Abraham, yang percaya akan visinya, memutuskan
   untuk berpisah: "Jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau
   ke kanan, maka aku ke kiri." (Kej. 13:9)

   Lot melihat ke Timur dan "melihat seluruh Lembah Yordan banyak
   airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir" (Kej. 13:10).
   Seketika itu, Lot berpisah dari Abraham dan tinggal di Yordan.
   Abraham memilih tinggal di Kanaan yang berbukit-bukit, yang nampak
   tidak sedap dipandang mata. Di situlah Tuhan menegaskan visinya:
   "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu
   ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang
   kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk
   selama-lamanya." (Kej. 13:14-15)

   Ada pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa tersebut untuk
   visioner kota pada masa kini: mata iman tidak berfokus pada
   penampilan, namun pada pandangan yang luas dan penglihatan akan
   rencana Tuhan yang dapat terjadi. "Apa yang dapat kamu lihat secara
   luas, Aku dapat memberikannya kepadamu," kata Tuhan kepada orang
   beriman. "Apa yang tidak dapat kamu impikan, Aku tidak dapat
   memberikannya kepadamu."

   "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah" adalah kunci kepada
   keberhasilan di luar batas kemampuan manusia. Jika kita dapat
   memimpikan visi Tuhan dan spesifik dengan hasilnya, apa yang kita
   perlukan akan disediakan oleh Tuhan "yang menjadikan dengan
   firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada" (Rm. 4:17).

   Tuhan membangkitkan pemimpin yang memiliki mimpi dan visi yang
   spesifik, yang percaya kepada-Nya akan hasilnya. Surat Ibrani
   mengingatkan kita bahwa iman atau visi "adalah dasar dari segala
   sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak
   kita lihat" (Ibr. 11:1).

   Saya percaya bahwa dalam diri setiap orang, tersembunyi visi Tuhan
   yang menunggu pemenuhan melalui iman dan ketaatan.

   2. Bangun Visi Secara Perlahan

   Setelah memahami kehendak Tuhan, kesabaran diperlukan dalam
   mewujudkan visi bagi pelayanan untuk orang miskin di kota. Seperti
   halnya janin membutuhkan sembilan bulan untuk dapat lahir sebagai
   bayi, butuh bertahun-tahun untuk mimpi atau visi dalam hati itu
   menjadi kenyataan.

   Apa yang terjadi pada Anda sama pentingnya dengan apa yang Tuhan
   lakukan melalui Anda. Bersabarlah menunggu Tuhan, biarkan Tuhan
   mengerjakan karya keselamatan dalam diri Anda, dan kemudian bangun
   visi Anda secara perlahan, namun pasti.

   Saat saya dan beberapa orang melayani di New York, kami memulai
   pelayanan dengan visi yang cukup murni. Kami membutuhkan waktu untuk
   mapan sebelum kami melakukan banyak pelayanan. Namun, kami melangkah
   semakin cepat dan kami menjadi terdesak. Hasilnya adalah krisis
   dalam pelayanan: banjir permintaan dan kebutuhan, sedikitnya uang,
   pelayanan semakin sempit, dan staf kedodoran. Selama bertahun-tahun,
   kami berjuang untuk bertahan sampai kami memerlambat laju pelayanan
   kami, kemudian mengambil waktu untuk merenung, memikirkan fokus
   pelayanan, dan peletakan dasar spiritual.

   Intensitas pelayanan kota dapat menghancurkan bahkan visioner
   paling percaya diri sekalipun. Cara untuk hidup berkemenangan
   adalah membiarkan visi Anda tersingkap secara perlahan, hari demi
   hari, tahap demi tahap, mengikuti irama Roh.

   3. Ajak Rekan Sepelayanan

   Seorang visioner tidak dapat memenuhi visi Tuhan seorang diri. Visi
   itu harus dibagi. Butuh waktu untuk menemukan orang yang tepat. Ajak
   orang yang Anda kenal dan percaya, yang berkompeten, berkomitmen,
   dan yang Anda percayai serta yang memberi rasa nyaman. Jangan
   terburu-buru mengajak orang hanya karena mereka bersemangat. Tunggu
   waktunya Tuhan memberikan orang yang tepat.

   Butuh waktu lebih dari setahun bagi saya untuk menemukan lima orang
   yang bersedia dan mampu melayani bersama di San Fransisco. Yesus
   sendiri membutuhkan waktu tiga tahun untuk memuridkan dua belas
   orang pria dan sekelompok wanita. Barulah setelah itu Yesus
   mengatakan kepada Petrus, "gembalakanlah domba-domba-Ku" dan di atas
   batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku" (Yoh. 21:17; Mat.
   16:18).

   4. Pilih Ladang Pelayanan

   Setelah mengajak rekan sepelayanan, langkah selanjutnya adalah
   secara perlahan dan penuh doa mengidentifikasi lingkungan yang akan
   dilayani. Tanyakan pertanyaan ini: Siapa yang Tuhan ingin kita
   kasihi? Lingkungan dan daerah geografis bagaimana yang nampaknya
   paling membutuhkan kehadiran Tuhan? Lingkungan mana yang nampak siap
   akan hadirnya pelayanan untuk mereka?

   Setiap kota memiliki daerah kumuh yang terabaikan. Kita bisa saja
   memiliki visi untuk menjangkau daerah kumuh seluruh kota, namun
   pelayanan kota akan efektif apabila kita fokus pada lingkungan
   tertentu.

   Selalu ada lingkungan dalam sebuah kota yang paling cocok untuk
   dilayani. Pilih daerah yang memiliki sejarah, riwayat, dan ciri khas
   -- yang menarik dan menantang Anda. Yang terpenting, pilih daerah
   kumuh yang ditinggali orang-orang miskin dan gelandangan.

   5. Tetapkan Pos Pelayanan

   Menetapkan pos pelayanan di lingkungan terpilih adalah langkah
   penting selanjutnya dalam memulai pelayanan kota. Idealnya, sewalah
   atau belilah bangunan yang memiliki corak budaya dan mudah diakses
   masyarakat. Orang yang berusaha Anda jangkau membutuhkan sebuah
   simbol komitmen dan kehadiran Anda. Masyarakat memerlukan sebuah
   tempat yang hidup, dan pelayanan membutuhkan tempat untuk
   berkembang. Sebuah pusat pelayanan akan mampu memenuhi kebutuhan
   tersebut.

   Jika Anda mengalami kesulitan -- entah itu masalah keuangan atau
   yang lainnya -- seperti halnya saya saat berusaha mengembangkan
   pelayanan di New York dan San Fransisco, percayalah bahwa Tuhan
   dapat melakukan mukjizat. Mukjizat adalah karya Tuhan yang tepat
   pada waktunya. Dari pengalaman saya merintis pelayanan di New York
   dan San Fransisco, tidak ada visi dari Tuhan yang mustahil.

   6. Bangun Komunitas

   Sebelum Anda melaksanakan misi pelayanan Anda dalam sebuah
   lingkungan, kelompok pelayanan Anda harus menjadi sebuah komunitas.

   Apakah komunitas itu? J. B. Libanio, yang menulis tentang komunitas
   kristiani di Amerika Tengah dan Selatan, mendefinikan komunitas
   sebagai berikut: "Sebuah kesatuan beberapa orang yang dinamis, yang
   melalui interaksi sosial yang spontan, terintegrasi oleh ikatan
   persahabatan, emosional, kesamaan sejarah, dan budaya."

   Sebuah komunitas terbentuk saat sebuah kelompok kecil berintegrasi,
   berjalan besama, dan ingin melakukan sesuatu yang lebih besar
   daripada yang dapat mereka capai secara individual.

   Sebagai suatu kelompok pelayanan, kita semua harus merasa terpanggil
   untuk hidup di antara orang-orang yang ingin kita jangkau. Hal ini
   membutuhkan komitmen jangka panjang. Komunitas berarti komitmen
   kepada satu dengan yang lain dan kepada rencana rekonsiliasi Tuhan.
   Komunitas diperlukan sebelum penyembahan dan misi dapat terjadi
   dengan benar. Sebuah kelompok pelayanan yang berharap untuk
   menjangkau sebuah kota dan lingkungan dengan kasih Tuhan, harus
   terlebih dahulu mengasihi dan menghargai anggotanya.

   Perbedaan dalam kepribadian, teologi, latar belakang, standar kerja
   dan kebersihan, talenta, dan panggilan dapat menghancurkan sebuah
   komunitas. Namun hal itu dapat diatasi dengan komitmen bersama
   terhadap proses dan berfokus pada visi Tuhan.

   7. Biarkan Misi Mengalir

   Sebuah kelompok Kristen kecil yang diorganisasi bagi misi dan
   setidaknya bertemu untuk menyembah, berdoa, dan saling menguatkan
   seminggu sekali, memiliki potensi untuk memahami visi Tuhan serta
   apa dan bagaimana Tuhan terlibat di dalamnya. "Handbook for Mission
   Groups" karya Gordon Cosby menjelaskan setiap langkah bagaimana
   sebuah komunitas terbentuk dan menemukan pelayanannya.

   Awalnya, sebuah kelompok berkumpul bersama visioner yang sudah
   mendapat visi Tuhan untuk melayani dan menyuarakannya dalam beragam
   cara -- dalam percakapan pribadi, dalam kepemimpinan, atau dalam
   nubuatan.

   Jika tidak ada yang meresponi, orang yang terpanggil itu menunggu
   beberapa saat untuk orang lain menceritakan panggilannya. Saat dua
   atau tiga orang meresponi, mereka memulai hidup mereka bersama,
   "saling mengasah talenta, dan berdoa bagi kejelasan dalam mendengar
   kehendak Tuhan bagi misi mereka".

   Panggilan itu mungkin dimulai saat seseorang mendengar bisikan
   (gambar, perasaan) Tuhan yang terus mengiang, yang mengatakan
   "berilah makan orang yang kelaparan", "sediakan tempat tinggal bagi
   gelandangan", atau "hiburlah penderita AIDS". Saat orang lain
   meresponi panggilan itu, implikasi dan perkembangannya akan
   terlihat. Prinsip penting dalam kelompok misi memerlukan komitmen
   bersama dan tanggung jawab bersama yang diterima oleh setiap
   anggota. "Hal ini dapat dilakukan hanya dengan mengenali talenta
   setiap anggota," kata Cosby. "Bahkan jika satu atau dua anggota
   tidak mengenali talenta mereka," peringatnya, "masalah gengsi dan
   iri hati akan mencuat ke permukaan."

   Orang yang memiliki multitalenta akan menghadapi godaan untuk
   memenuhi kepuasan ego dengan melakukan segala sesuatu seorang diri
   daripada bersama-sama. Tanpa komitmen untuk hidup dan melakukan misi
   bersama, sebuah kelompok misi tidak akan berhasil.

   Dengan komitmen bersama, sebuah kelompok misi akan bertahan selama
   semusim atau sepanjang hidup. Karya pelayanan yang sudah dilakukan
   itu akan menjadi karya Tuhan dan selamanya menjadi bagian dalam
   usaha Tuhan berdamai dengan dunia ini.

   Kadang, sebuah kelompok misi mencapai misinya dan kemudian bubar.
   Apa yang sebaiknya terjadi saat sebuah kelompok misi mati secara
   alami? Menurut Cosby, "Saat diketahui tidak ada lagi dua atau lebih
   anggota yang terpanggil, kelompok itu mungkin dapat meninjau ulang
   sejarahnya, bersyukur atas apa yang sudah dilakukan, dan merayakan
   matinya kelompok itu. Sering kali, diperlukan adanya kesadaran akan
   dosa yang harus diampuni, luka hati yang harus disembuhkan, dan
   keberanian untuk mengambil langkah selanjutnya."

   Jika kelompok misi memertahankan tahap perkembangannya dan arahan
   dari Tuhan, maka pelayanan akan terbentuk. Entusiasme akan dibumbui
   dengan hikmat, inovasi akan diwarnai dengan tradisi, dan banyaknya
   orang yang antusias akan diarahkan oleh Tuhan untuk mendukung dan
   membantu usaha komunitas. Kelompok misi mungkin dapat tetap menjadi
   bagian dari gereja atau berdiri sendiri sebagai komunitas
   penyembahan dan pusat misi sementara. (t/Dian)

   Diterjemahkan dan diringkas dari:
   Judul buku: A Call for Compassion; City Streets City People
   Judul asli artikel: Lift Up Your Eyes; How to Start an Urban
                       Ministry
   Penulis: Michael J. Christensen
   Penerbit: Abingdon Press, Nashville 1988
   Halaman: 53 -- 70