Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Mei 2013

EAGLES NEST MINISTRIES



 
EAGLES NEST MINISTRIES
Jawaban bagi Indonesia
Indonesia dikenal sebagai sebuah negara kepulauan yang memiliki keragaman suku, budaya dan bahasa daerah. Mayoritas penduduk Indonesia merupakan orang non Kristen dan merupakan negara Muslim terbesar di dunia. Masih ada sekitar 129 suku dari 23 rumpun suku di Indonesia yang sama sekali belum pernah mendengar berita Injil. Gereja Tuhan di Indonesia mungkin telah berupaya memberitakan Injil dalam masyarakatnya namun hasilnya belum optimal. Begitu banyak orang yang menolak berita sukacita tersebut karena menganggap berita tersebut sebagai “kepercayaan asing”. Sebab dibagikan dalam kemasan yang kebarat-baratan, yang mungkin tidak cocok dengan budaya setempat dari masyarakat yang hendak dijangkau. Ada banyak suku yang siap dan terbuka seandainya kita memberitakan berita keselamatan itu dengan menyajikannya sesuai kebiasaan, adat istiadat serta budaya mereka.
Eagles Nest Ministries berdiri 1 Juli 2007 di kota Bandung, salah satunya untuk menjawab tantangan ini. Pelayanan ini dirintis oleh suami istri Dave Broos dan Novie Durant yang merindukan umat Tuhan meresponi Amanat Agung Tuhan (Mat 28:19-20, Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman) untuk menjadi murid dan menjadikan segala bangsa murid Tuhan hingga kerajaan Tuhan diperluas, suatu umat yang bukan “sekedar beragama Kristen” tetapi mengetahui panggilan Tuhan atas hidupnya dan membawa dampak bagi komunitasnya. Dave Broos merupakan hamba Tuhan yang ditahbiskan oleh United Christian Faith Ministries dari Amerika Serikat, ditunjuk sebagai regional director dari Shadow of the Cross di Indonesia (sebuah pelayanan bagi sub kultur di perkotaan), pendoa syafaat Global Prayer Network – Johan Maasbach Wereld Zending dan utusan Injil dari Gereja Oikos Indonesia jemaat Surabaya.
Visi Eagles Nest Ministries adalah “MEMBERITAKAN KABAR BAIK, MEMURIDKAN & MENGUTUS SETIAP ANAK TUHAN UNTUK “MENJADI” GEREJA DIMANA PUN MEREKA BERADA”. Kerinduan kami adalah bekerja bersama dan memperlengkapi semua denominasi gereja, persekutuan, pelayanan Kristen lainnya dalam menyelesaikan amanat agung. Pelayanan ini berjejaring dengan pergerakan pemuridan dan penanaman gereja dunia Zoe Ministries, LK10 dan Outreach Fellowship International.
Missi kami adalah:
  • MEMPERKENALKAN PENGHARAPAN & KASIH BAPA SURGAWI PADA DUNIA TERHILANG
  • MEMULIHKAN & MEMURIDKAN MEREKA YANG BERKOMITMEN UNTUK BERTUMBUH DALAM KRISTUS
  • MELATIH DAN MENGUTUS MURID KRISTUS SEBAGAI AGEN PERUBAHAN KE SELURUH DUNIA
  • MELIHAT TERANG TUHAN BERSINAR DIMANA-MANA MENERANGI DUNIA SAMPAI TUHAN DATANG KEMBALI

Kami menyadari bahwa kami tidak bisa bekerja sendiri tetapi diperlukan kebersamaan dan kesadaran bersama akan kehendak Tuhan. Diperlukan sebuah kesehatian dan kesatuan (meski kita berbeda organisasi tapi satu dalam Tuhan Yesus) agar kita dapat berfungsi sebagai tubuh Kristus yang menjadi berkat dan dampak bagi mereka yang belum mengenal Tuhan.
Bagaimana Anda dapat menjadi rekan kami?
Keberhasilan pelayanan ini berarti juga keberhasilan umat Tuhan di Indonesia. Roma 10:13-15,”Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia jika tidak ada yang memberitakanNya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis:”Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Kami mengajak Anda untuk dapat terlibat bersama dalam menjangkau jiwa terhilang melalui 3D
DIRI
Bagi mereka yang mau terlibat dalam mewartakan Injil, pemuridan, penanaman dan pengembangan gereja. Kami memberi diri untuk memperlengkapi baik seorang pribadi maupun gereja atau persekutuan yang hendak bermultiplikasi atau menanggapi amanat agung. Bukan jumlah orang tetapi kesediaan menanggapi panggilan Tuhan adalah tujuan kami. Kami memiliki bahan-bahan pemuridan yang dapat digunakan baik untuk pribadi, persekutuan maupun gereja yang hendak bertumbuh.
DOA
Anda dapat berdoa syafaat keluarga kami dalam memenuhi panggilan Tuhan dalam kehidupan kami. Kami juga menyediakan blog yang berisi berita dan pokok doa bagi suku-suku terabaikan baik di Indonesia maupun mancanegara.
DANA
Bagi mereka yang mau mendukung kami agar kami bisa pergi memperlengkapi umat Tuhan maupun gereja Tuhan di daerah terpencil atau tak mampu hingga kami dapat memperlengkapi dan mengutus lebih banyak lagi anak Tuhan dalam pemuridan dan perintisan gereja. Bagi yang terbeban dapat menghubungi kami lebih lanjut.
Saya percaya Anda dapat menanggapi salah satu atau bahkan ketiga hal tersebut sebagai anggota tubuh Kristus yang telah mengalami kasih karunia dan anugerah keselamatan. Anda dapat merenungkan dan mendoakan ke tiga hal tersebut demi menjangkau mereka yang berseru,”Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami.” (Kis 16:9). Dapatkah Anda mendengar seruan mereka yang terhilang? Tuhan menunggu partisipasi dan pengabdian Anda kepadaNya.
Salam dan doa,
Dave Broos
Kontak kami dapat melalui inbox Facebook atau direct message Twitter, email: davebroos@yahoo.co.uk , telpon 022-92050322 atau SMS 087832744286.

Selasa, 30 April 2013

Bandung Canangkan Bebas Anak Jalanan

Bandung Canangkan Bebas Anak Jalanan

Ilustrasi anak jalanan.
Ilustrasi anak jalanan. (sumber: Jakarta Globe)
Targetnya akhir Desember tahun ini, 85 persen anak jalanan di Bandung tidak ke jalan lagi.

Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat mencanangkan bebas anak jalanan sebagai upaya terpadu, terarah dan berkesinambungan untuk mewujudkan Indonesia Bebas Anak Jalanan 2014.

"Mudah-mudahan akhir Desember ini, 85 persen anak tidak ke jalan lagi," kata Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri saat kegiatan Sehari Bersama Anak di Kota Bandung, Minggu (14/10).

Peluncuran program kesejahteraan sosial anak untuk mewujudkan Bandung bebas anak jalanan yang digelar di halaman kantor gubernur atau gedung sate tersebut juga dihadiri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Pada acara tersebut Mensos menyerahkan bantuan PKSA untuk 1.750 anak total nilai lebih dari Rp3 miliar dan pemberdayaan orang tua anak jalanan melalui Kube atau Kelompok Usaha Bersama untuk 50 Kube total sebesar Rp1 miliar, serta kebutuhan dasar untuk 1.500 anak senilai Rp300 juta.

Sebagai upaya untuk mewujudkan Bandung Bebas Anak Jalanan, pada tahap pertama Kementerian Sosial sudah berusaha membantu 1.500 anak yang terpaksa bekerja di jalanan melalui Program Kesejahteraan Sosial Anak yang didampingi pekerja sosial.

Selain itu, secara terpadu Kementerian Sosial dan kementerian terkait lainnya serta pemerintah daerah selain memperhatikan kebutuhan dasar anak-anak, juga akan terus memperhatikan pemberdayaan keluarga.

Pada 2012, direncanakan untuk Kota Bandung dan sekitarnya akan diberikan bantuan kelompok usaha bersama (Kube) dan usaha ekonomi produktif (UEP) untuk 500 kepala keluarga dari anak-anak jalanan.

"Dengan cara ini, saya ingin memulai menangani anak jalanan dengan memadukan PKSA dengan pemberdayaan sosial kemiskinan perkotaan," kata Mensos.

Mensos mengatakan, Provinsi Jawa Barat harus menjadi contoh bagi provinsi lain dalam penanganan anak jalanan. Berdasarkan data Dinas Sosial pada 2011, jumlah anak jalanan di Jawa Barat mencapai 4.951 anak di 14 kabupatendan kota.

Kementerian Sosial juga telah melakukan kegiatan yang sama untuk Jakarta bebas anak jalanan pada 2011.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 8.000 anak jalanan mendapat tabungan sebesar Rp1,5 juta dan pembinaan untuk setiap anak dalam program PKSA sehingga anak tidak kembali lagi ke jalan.

Kementerian Sosial mengklaim kegiatan tersebut tercapai, sebab bagi anak yang kembali ke jalan tabungan yang seharusnya digunakan untuk membiayai kebutuhan sekolahnya seperti uang jajan dan ongkos akan ditarik kembali.

www.beritasatu.com/.../77493-bandung-canangkan-bebas-anak-jalanan.html

Kamis, 25 April 2013

Stand True Pro-lif Outreach - What I saw and heard during my two days at the murder trial of abortionist Kermit Gosnell

What I saw and heard during my two days at the murder trial of abortionist Kermit Gosnell:
I recently spent two days at the murder trial of Kermit Gosnell, the abortionist accused of the murder of seven babies born alive and one woman. Gosnell would take babies who were born alive after botched abortions and snip the backs of their necks to finish the job. You can find out all about who Gosnell is and what he did at http://www.whoisgosnell.com
I arrived at the courthouse on Monday morning to find out the trial would be postponed for a day because of the defense attorney being sick and in the hospital. Father Frank, Janet Morana, Alveda King and I were able to talk to the prosecutors who allowed us to view and examine the evidence that was taken from his “house of horrors” abortion mill.
As I walked around the filthy, rusty and utterly disgusting equipment I wanted to vomit. I could not believe this stuff was taken from a so-called “medical clinic.” The table that the abortions were performed on looked like it was straight out of a horror movie, as did the suction tubes and ancient ultra-sound machine. The recliner in which women sat to recover from the abortions was stained and tattered and not fit to sit on. Earlier that day the prosecutor almost sat in the chair and she was visibly upset that she came so close to doing so.
On Tuesday I met up early in the morning with Alveda King and went back to the courtroom for the opening of the defense’s arguments. The day opened with defense attorneys arguing for the acquittal of all the charges to the judge, without the jury present.
Gosnell’s attorney was visibly conflicted as he went back and forth between calling the victims either a fetus or a baby. At one point he yelled out, “These infants, fetuses or whatever you call them.” I wanted to scream but had to bite my tongue as I listened to this dribble.
It suddenly became very personal to me as the defense attorney began to address the abuse of a corpse charges that Gosnell was facing for the baby parts found in jars in his house of horrors. When the attorney started spewing about how these were not real body parts because they were not real humans yet, I began to tear up. He talked about how these babies were not really human and all I could think about was Benjamin Davis, my son who we miscarried two years ago. Benjamin was a real person and was given a real funeral; he was an actual human being just as these babies were.
The prosecutors at one point were discussing a time when after the botched abortion, Gosnell also botched his “snipping.” “It was laying there with a hole in its neck, it was moving and breathing, it was alive,” declared a clinic worker about one of the babies Gosnell murdered. Sitting there listening to all of these quotes and testimonies was one of the most difficult things I have ever done, but it was important for me to be there.
Gosnell (as you notice I refuse to call him a doctor) just sat there through all of this testimony without emotion or reaction. He just sat there taking notes and smirking as he looked around. He was guarded by an armed police officer at all times as he has been in custody for almost two years. It makes my skin crawl to think that this man could possibly be released and be back in practice if he is found not guilty.
I am also heartbroken for this man and the day he will face our Lord. I prayed for his soul and have been asking my friends to do so also. I know how despicable I was before I knew Christ and I also know Gosnell needs that hope of Christ just all of us do.
This Monday the attorneys will present their closing arguments and then his fate will be given to the jury to deliberate. Christian leaders will be outside the Courthouse on Monday leading a prayer vigil for the verdict and for Gosnell himself.
We need your help to get me back to the Gosnell trial on Monday and Tuesday. It is important for me to join other national leaders at the trial for the closing arguments and for the prayer vigil. We simply need help with the cost as it is not in our budget right now, can you donate $25, $50, $100 or whatever you can to help get me there?
Bryan Kemper
Will you help get Bryan Kemper to the Gosnell trial?
If you can donate please do so at https://donate.cornerstone.cc/?mid=STANDTRUE or on the donate button on Stand True's Web site.
Donations can also be mailed to Stand True – PO Box 890 – Troy, OH 45373 or call 540-538-2581 to donate by phone.
Bryan Kemper
Director of Youth Outreach for Priests for Life
Stand True
PO Box 890 * Troy, OH 45373
Tel 540.538.2581
bryankemper@standtrue.com
http://www.facebook.com/iambryankemper
http://www.facebook.com/standtrueforlife
http://www.standtrue.com
 

Rabu, 24 April 2013

Memiliki Hati Yang penuh belaskasihan

MEMILIKI HATI YANG PENUH BELASKASIHAN

 Saat kita berjalan dan melihat orang berpakaian kumal dan bau badan yang menyengat menghampiri kita apa yang timbul dalam hati kita? Ada yang merasa jijik, ada yang melihat sebagai pemalas, ada yang masa bodoh saja, ada pula yang segera mengambil uang recehan dan memberi, ada yang berbelas kasihan dan lalu memikirkan dan bertindak bagi mereka yang kurang beruntung, dan masih banyak lagi tindakan lainnya. Saya tidak tahu dengan Anda, namun setiap kali saya melihat orang-orang yang kurang beruntung ini timbul pertanyaan dalam benak saya sebagai anak Tuhan bagaimana saya bisa membantu mereka. Saya bayangkan bila seandainya saya yang ada di posisi mereka dan tak berdaya apa yang saya harapkan orang lain lakukan pada saya. Pernahkah Anda membayangkan bilamana Anda yang mengalami hal tersebut terjadi pada diri Anda?
Saat saya berbagi dengan beberapa rekan tentang melayani orang-orang ini, ada saja yang sinis dan dengan angkuhnya menyatakan sebab orang-orang ini tidak mau terima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, atau mereka masih hidup dalam dosa sebab orang miskin hidup di bawah kutuk sedang orang kaya itu hidup di bawah berkat, atau karena mereka malas bekerja dan masih banyak lagi jawaban yang tidak memberikan solusi selain penghakiman dan pembenaran diri sendiri untuk tidak bersentuhan dengan kaum miskin.
Benarkah Tuhan Yesus hanya menyembuhkan orang yang mau mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat? Bila kita membaca Alkitab kita akan menemukan bagaimana Tuhan Yesus bahkan menyembuhkan orang-orang yang belum percaya padaNya atau mengakui keilahianNYA. Karena Tuhan Yesus berbelaskasihan terhadap mereka. Sadarkah saudara bahwa Tuhan Yesus mati di atas kayu salib untuk menebus saudara karena belaskasihNya.Bukan karena saudara sudah hidup benar tetapi Ia mati menebus kita karena DIA tidak ada jalan lain, agar kita dapat kemerdekaan dari dosa. IA harus mati menebus kita dari segala ikatan dosa. Ada belas kasihan yang leimpah dalam DNA Kristus….bila kita mengaku anakNYA…bukankah DNA itu ada pada kita….mengapa kita kurang berbelaskasihan terhadap sesama kita?
Benarkah orang Kristen harus kaya dan yang miskin hidup kurang iman atau tinggal dalam dosa? Bagaimana dengan Tuhan Yesus dan teladan para murid? Apakah mereka menimbun kekayaan atau menyebarkannya untuk menolong sesama? Coba baca kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Orang dapat menjadi kaya karena karunia Tuhan, apakah hanya untuk dinikmati sendiri sampai tujuh turunan? Atau Tuhan ingin Anda menggunakan kekayaan itu untuk mensejahterakan kota atau desa dimana Anda tinggal? Tuhan melimpahi kita dengan kekayaan agar kita tamak dan egois atau untuk memberkati sesama..menolong sesama?
Bagaimana dengan orang Kristen yang pemalas, itu merupakan masalah mindset dan itu bisa kita ubah. Paulus menyatakan jangan beri makan pemalas yang hanya menggantungkan hidupnya dari belaskasihan orang lain. Bila kita mengasihi saudara kita, maka kita juga tolong dia untuk merubah mindsetnya (pola pikirnya). Sering saya dengar rekan-rekan yang mengkhotbahkan jangan hanya beri ikan pada orang miskin tapi kailnya. Saya rasa pengajaran itu atau ilustrasi itu kurang lengkap. Sebab meski diberi kail tapi bila tidak diajarkan bagaimana mengail maka ia akan jual kailnya. Apa yang seharusnya dilakukan adalah berikan ikan pada orang itu agar dia tidak lapar, lalu ajarkan cara mengail, beritahu trik mengail dan dimana mengailnya, kesulitan apa yang mungkin akan kelak dihadapi, pertemukan dia dengan para ahli mengail hingga dia bertambah wawasan dan bersemangat setelah bertemu para pengail handal, lalu beri kailnya dan jadilah mentor/pendamping bagi dia hingga ia bisa mandiri sebagai “pengail”. Dia akhirnya bisa menjadi teladan bagi yang lain.
Beberapa saudara bertanya bagaimana sebagai langkah awalnya? Saya membagikan ini semua dengan gratis, tidak ada “copyright” dalam pelayanan saya. Harapan saya copy it right dan teach it right. Layanilah sesama kita yang kurang beruntung dengan belaskasihan, perlakukan mereka sebagai sesama manusia, tolong jangan ada lagi yang menggunakan orang miskin sebagai sarana mengumpulkan dana untuk keperluan pribadi atau nama besar pelayanan/organisasi/yayasan/gerejanya. Lakukanlah dengan hati yang tulus karena Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengasihi kita maka sekarang kita mengasihi sesama kita.
Hal yang pertama, berdoalah pada Tuhan untuk dapat mengerti isi hati Tuhan (Matius 25:31-46). Mengerti panggilan kita sebagai anak Tuhan dan apa yang perlu kita lakukan terhadap sesama kita. Apa konsekwensinya menurut firman Tuhan itu bila kita tidak perduli?
Hal yang kedua, milikilah belaskasih Tuhan dalam hatimu. Coba bayangkan bila itu diri anda sendiri atau kerabat dekat anda atau orangtua anda yang alami. Apa yang akan anda lakukan atau apa yang anda harapkan dilakukan orang tersebut pada anda?
Hal yang ketiga, lihatlah sesama kita sebagai jiwa-jiwa yang berharga milik Tuhan, mereka belum tahu jawaban permasalahan hidup mereka dan anda yang memiliki jawaban tersebut. Selama ini mereka sudah banyak dilukai, dimanfaatkan, dan ditipu…..kini saatnya anda datang sebagai terang, garam, surat Kristus yang terbuka….teladan Kristus di muka bumi. Menjadi tangan Kristus…Kaki Kristus…telinga Kristus…tubuh Kristus yang memberkati tempat dimana mereka tinggal. Tuhan Yesus meninggalkan sorga untuk turun ke dunia yang kotor dan penuh dosa karena kasihNya yang besar.
Hal yang keempat, berdoa untuk rekan-rekan sekerja yang sehati dan sepikir. Sebab kita manusia yang terbatas dan membutuhkan rekan sekerja lainnya. Berdoa secara korporat/bersama mencari kehendak Tuhan, strategi pelayanan dan dimana harus memulainya.
Hari ini saya bagikan empat hal sederhana ini bagi saudara-saudaraku untuk renungkan bersama. Saya berdoa lebih banyak lagi orang terlibat dalam pelayanan bagi kaum terbuang dalam generasi kita ini. Doa saya belaskasih Tuhan turun atas semua anak Tuhan dan menggunakan segala daya upaya untuk menjadi alat Tuhan bagi desanya…kotanya..bangsanya….bangsa-bangsa di dunia…..
Dunia tidak butuh sekedar janji-janji manis…..mereka butuh bukti..teladan Kristus yang nyata melalui tubuhNya yang ada di dunia……GEREJA TUHAN…..Let’s get it on, Church!!!!!!!

Salam dari hambaNYA

Dave Broos
Gembala kaum terbuang
Anda dapat menghubungi saya melalui inbox FB, email atau YM davebroos@yahoo.co.uk, SMS 081330135643 dan BBM (pin 31306302)

Kamis, 08 Maret 2012

Remembering the Forgotten


Remembering the Forgotten

Gospel for Asia
For Immediate Release

A Women's Fellowship team celebrates International Day of Persons with Disabilities by giving to those in need.

SOUTH ASIA (ANS) -- Disgraced. Disregarded. And sometimes considered cursed by the gods-this is the life of South Asia's disabled people.

According to statistics from The World Bank, India alone has between 40 to 80 million people living with disabilities, and at least one in 12 households has a member with a disability.

When the International Day of Persons with Disabilities rolled around on December 3, 2011, a Gospel for Asia-supported Women's Fellowship team saw it as a perfect opportunity to share God's love with some of South Asia's most forgotten and marginalized people.

Gifts Show God's Love to the Disabled

With the guidance and support of their state leader, the women organized an event to recognize six disabled men and women in their community. Five received blankets, and one of the men received a pair of crutches to replace his pair that had worn out.

A GFA field correspondent said the men and women were extremely delighted and thankful for the gifts they received.

"We never thought someone would come and care for us," one of the recipients said.

Recipients Grateful to Women's Fellowship

With the social stigma cast aside, these men and women experienced a tangible expression of God's unconditional love through the sisters from GFA's Women Fellowship.

Women's Fellowship teams are often considered the backbone of the church and take different initiatives to strengthen the ministry in their area. Every GFA-supported church has a Women's Fellowship, where the women of the church can grow in the Lord and live out their faith by taking part in special outreach activities that bring the hope and love of Christ to those in desperate circumstances-just like they did for these men and women.

Minggu, 12 Februari 2012

KNOW YOUR DESTINY IN THE BODY (MENGETAHUI TUJUAN HIDUP DAN BERFUNGSI DALAM TUBUH KRISTUS)


Shalom,
Kerinduan kami melihat lebih banyak anak Tuhan mengetahui tujuan hidupnya. Kita diselamatkan Tuhan dengan suatu tujuan, bukan hanya sekedar setelah jadi percaya lalu “pasti masuk surga” dan lalu bisa “melanjutkan hidup” seperti sedia kala. Tuhan seolah dijadikan “agen asuransi”..jaminan masuk surga setelah kematian. Banyak anak Tuhan yang tidak mengerti bahwa menjadi seorang Kristen, tidak cukup hanya sekedar rajin mengikuti ibadah setiap hari Minggu, memberikan perpuluhan setiap kali gajian atau mendapat hasil dari proyek. Pergi ke gereja agar menyenangkan hati Tuhan dan hidup jadi lancar baik dalam hal mendapatkan jodoh, rumahtangga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, kekayaan dan lain-lain menjadi alasan banyak orang Kristen mengikuti ibadah Minggu. Kekristenan tidak sampai di situ, akan sangat membosankan bila itu merupakan kehidupan kekristenan.
Setiap anak Tuhan memiliki peran dalam tubuh Kristus maupun Kerajaan Tuhan, tidak ada namanya istilah “jemaat biasa”. Seringkali kita mendengar anggota jemaat yang berkata,”Ah, saya hanya jemaat biasa dan tidak bisa apa-apa.” Mendengar kata “melayani Tuhan”, banyak orang berkonotasi bahwa kita “harus” bisa berkhotbah, memimpin acara ibadah (worship leader), menjadi musisi gereja, bagian multimedia, pelayanan Sekolah Minggu (anak) ……paling-paling bisa kalau menjadi usher untuk menerima tamu, mengedarkan kantong kolekte…..tapi sudah banyak yang menjadi usher…jadi sulit untuk bersaing menjadi usher…..kalau menjadi cleaning service….jarang ada yang merasa terpanggil untuk melakukan hal itu. Bagi sementara orang melakukan pekerjaan cleaning service (membersihkan gedung ibadah) merupakan pekerjaan yang merendahkan. Jarang orang bisa melihat bahwa “membersihkan gedung ibadah” merupakan elemen penting, bayangkan bila kita mau beribadah tetapi tempat ibadahnya jorok, penuh sampah dan lalat..siapa yang mau beribadah di situ?
Saya ingin menekankan bahwa pekerjaan Tuhan tidak hanya sampai di situ, itu hanya bagian yang sangat kecil saja. Dalam kitab Roma 12:4-8, Rasul Paulus mengajarkan,”Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukan sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasehati (terjemahan NIV encouraging), baiklah kita menasihati, siapa yang membagi-bagikan sesuatu (terjemahan NIV contributing to the needs of others), hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin(terjemahan NIV govern diligently); siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.”
Begitu pula pada surat penggembalaan rasul Paulus bagi jemaat di Korintus kembali ia mengingatkan akan hal tersebut. 1 Korintus 12:4-11,”Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya.”
Setiap anak Tuhan harus tahu tujuan hidupnya (destiny) sebab Tuhan telah menetapkan kita sebelum dunia dijadikan untuk “berfungsi” sesuai karuniaNYA dalam tubuh kristus dan pelebaran Kerajaan Tuhan. Jadi hapuskan dalam kamus Anda…”Saya hanya jemaat biasa saja”….sebab Anda luarbiasa dan Tuhan pilih untuk mengambil bagian dalam tubuhNya untuk berfungsi. Tuhan memanggil kita untuk menjadi rekan sekerjaNya. Tuhan percaya bahwa Anda dapat melakukan tugas yang telah Ia tetapkan melalui kuasa daripada Roh Kudus. Roh Kudus yang akan membawa Anda makin serupa dengan Kristus, makin mengerti tujuan hidup Anda di muka bumi, makin sadar bahwa kita dipanggil untuk terus bertumbuh sebagai murid dan anak Tuhan, Roh Kudus yang akan menjadi Penghibur kala ada banyak tantangan dalam kehidupan kita, Roh Kudus akan memberikan kemampuan bagi kita untuk hidup dalam kekudusan dan melakukan Firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. BERHENTI…. Menjadi orang Kristen cek list…..apa maksudnya? Ada banyak anak Tuhan yang merasa sudah menjadi Kristen yang baik dan taat dengan pergi setiap Minggu ke gereja, membayar perpuluhan, membantu pelayanan dan memberikan dana lebih untuk misi atau kemanusiaan, setiap hari baca Alkitab dan berdoa (semua hal ini baik, jangan salah mengerti saya)…TETAPI….itu belum menunjukkan bahwa Anda seorang Kristen. Itu hanya menunjukkan agama apa yang Anda anut. Orang Kristen mula-mula tidak memiliki gedung ibadah seperti kita dewasa ini..mereka bertemu dari rumah ke rumah, di katakombe (kuburan), hutan, gunung, taman, pasar dengan kata lain ibadah mereka bisa dilakukan dimana saja, tidak dibatasi oleh sebuah tempat….mereka juga tidak beribadah dengan sebuah liturgi yang kaku dan mengikat……yang membedakan mereka dan membuat takjub dunia saat itu adalah “pribadi Kristus” yang tampak jelas dalam kehidupan mereka. Hingga mereka disebut Kristen (pengikut Kristus) adalah akibat gaya hidup mereka yang mengikuti teladan hidup Kristus. Esensi kekristenan bagi mereka adalah “mengasihi Tuhan dan sesama”sebagaimana tertera dalam Matius 22:37-40,”Jawab Yesus kepadanya:”Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segala akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, Ialah Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Beberapa tahun lalu timbul suatu kegelisahan dalam hati saya, saat bertanggungjawab dalam departemen missi, saya memiliki tanggungjawab dalam memenangkan jiwa baru dan pertambahan dalam kehadiran jemaat merupakan “bukti” kinerja kami. Bila tidak saya akan mendapat evaluasi dan teguran dari Pendeta Gembala Sidang. Puji Tuhan, ada banyak jiwa baru ditambahkan…..ada banyak orang dari “agama lain” bertobat begitu pula orang yang hidup dalam dosa berbalik dan ingin mengenal Tuhan…..namun saya menghadapi situasi yang dilematis. Atasan saya memanggil saya sebab jiwa-jiwa yang datang tidak sesuai dengan visi gereja, organisasi gereja yang kami layani menargetkan untuk memenangkan kaum menengah ke atas sedang jiwa-jiwa yang kami dari tim missi “bawa masuk” mayoritas adalah kalangan bawah. Atasan saya kala itu menyatakan bahwa kami harus memenangkan kalangan menengah atas dulu, setelah gereja lebih mapan lagi baru fokus pada kalangan bawah hingga “gereja” sanggup membantu. It’s a good ide, but is it God’s idea (ide yang bagus tetapi apakah itu ide/pemikiran Tuhan)? Itulah yang terbersit dalam benak saya. Apa barometer gereja itu sudah mapan dan baru bisa mulai membantu kaum marginal atau miskin? Bagaimana lalu dengan jiwa-jiwa yang baru percaya “tetapi” miskin (mereka hanya PRT, buruh, tukang bangunan, tukang ojek dll) atau kaum marginal/subkultur seperti anak punk, bikers, skaters, gay/lesbian, anak jalanan, mantan napi dstnya? Saat itu saya sedih, apakah kekristenan “masa kini” identik dengan orang kaya dan mapan saja dan biarkan orang miskin dan berdosa terhilang selamanya?
Beberapa tahun kemudian, Tuhan mempercayakan saya untuk merintis dan menggembalakan suatu sidang dan puji Tuhan, kami berhasil menanam gereja bagi kaum terbuang ini, memperlengkapi mereka sebagai murid Kristus dan bahkan mengutus mereka sebagai utusan Injil keberbagai daerah. Namun saat jumlah kita sudah mencapai 300 orang lebih…..”spirit kemapanan” itu kembali muncul hingga saya pun kembali berhadapan “kini” dengan staf saya sendiri. Ketika saya hendak terus menjalankan missi untuk menggenapkan Amanat Agung dalam Matius 28:18-20,”Yesus mendekati mereka dan berkata:”KepadaKU telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah jadikanlah semua bangsa muridKU dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Bagi sementara orang memiliki gedung ibadah yang “wah” seolah harga mati yang harus dicapai, jumlah anggota jemaat gereja dan uang hasil persembahan yang banyak sebagai sebuah prestise keberhasilan, kepemilikan sekolah Alktab/teologia sendiri, stasion radio sendiri bahkan sekolah bertaraf international “sendiri” jadi tolok ukur “penyertaan Tuhan (hal-hal ini tidaklah dosa asalkan jangan sampai menjadi “idol”/berhala). Saat saya menggembalakan kerinduan hati saya adalah melihat setiap jemaat dapat menangkap isi hati Tuhan, mengerti tujuan hidupnya, menjadi murid Kristus dan “merintis gereja” di tempat lain atau di tempat kerjanya, di sekolah, di kampus, atau bahkan sebagai utusan Injil bagi suku terabaikan……sebab itulah Amanat terakhir Tuhan Yesus……sayangnya ada banyak yang “tidak rela” jemaat yang ia gembalakan untuk meresponi Amanat Agung…..
Setahun setelah saya mengundurkan diri dari gereja “tercinta”, Tuhan mulai memanggil saya untuk fokus melayani “kaum subkultur” hingga akhirnya saya bertemu dengan Morria Nickles yang pada saat itu seorang mahasiswi jurusan informatika ( ia kini dan suaminya Rob menjadi utusan missi untuk salah satu suku Indian) yang membentuk pelayanan bagi kaum subkultur di Amerika Serikat bernama The Calice (yang lalu berganti nama menjadi Shadow Of The Cross). Akhirnya ia meminta saya untuk menjadi overseer ministry/ regional director untuk pelayanan ini di Indonesia. Maka kami mulai melangkah dengan iman dan bermodalkan dengkul (alias berdoa) memulai pelayanan ini. Pelayanan ini sempat terseok-seok sebab kami tidak mendapatkan dukungan pendanaan darimana pun, bila ada yang menawarkan bantuan biasanya mengikat dan banyak sekali persyaratan terutama jiwa-jiwa “terbuang” ini harus segera meninggalkan “budaya” mereka dan lalu menjadi “Kristen kebanyakan(average Christian)”. Sangat mudah bagi seorang yang tidak pernah memiliki masa lalu kelam atau pendosa “berat” atau catatan kriminal untuk menghakimi seorang petobat baru yang masih bergumul dengan “kebiasaan lama” mereka. Kita ada di dekat mereka untuk menolong mereka tetap kuat dalam Tuhan dan membuat pilihan-pilihan hidup yang baru. Ada kalanya mereka kembali jatuh sebab “ikatan yang begitu kuat” tetapi kita harus tetap ada di situ memberikan dorongan semangat untuk bangkit. Karena perbedaan “pandangan” mengenai cara memperlakukan petobat baru inilah kebanyakan organisasi lainnya enggan mendanai pelayanan kami. Hingga akhirnya kami memilih untuk terseok-seok, tetapi tetap maju secara perlahan tetapi berakar kuat.
Duapuluhtahun pelayanan sebagai “full time minister”, menjadi pergumulan tersendiri bagi kami sekeluarga. Tanpa gaji dan minim pengalaman bekerja di dunia sekuler menjadi tantangan bagi kami, dengan tabungan yang sedikit kami beberapa kali mencoba untuk membangun usaha mandiri dan walhasil kami sempat ditipu oleh “saudara seiman” yang membawa lari modal usaha kami. Haleluya, suatu pengalaman yang berharga. Beberapa kali NGO/LSM yang hendak mempekerjakan saya akhirnya batal setelah melihat latarbelakang pekerjaan saya sebagai Pendeta…mungkin mereka takut saya akan “mengkristenkan orang” hahaha.
Kini kami kembali coba membuka usaha kecil untuk menopang hidup dan pelayanan, masih kembang kempis tetapi kami akan tetap press on dan tidak mau menyerah sampai akhir. Hidup di dunia ini hanya sementara dan saya tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil saya kembali ke pangkuanNya. Dalam sisa waktu yang ada ini, saya tidak mau menyerah dengan keadaan, saya percaya akan selalu ada jalan bagi kita yang mentaati panggilanNya.
Kami coba mengikuti teladan Kristus, selama di dunia sebelum usianya 30 tahun Tuhan Yesus bekerja sebagai tukang kayu (IA bekerja sekuler), Ia tak punya rumah (tapi Ia tak pernah mengeluhkan hal tersebut pada Bapa di Surga dan mengklaim janji Tuhan punya rumah mewah), Ia tak punya transportasi untuk bepergian antar kota (keledai pun Ia pinjam), Ia tak punya gedung ibadah (Ia meminjam rumah atau ruangan seseorang, bahkan tidak menyewa), kadang Ia tak punya uang (ingat saat Ia memerintahkan Petrus memancing ikan dan dalam mulut ikan itu akan ada sejumlah uang untuk membayar bea Bait Allah?). kekurangan atau kemiskinan bukan suatu halangan bagi Tuhan Yesus untuk tetap fokus melayani dan melakukan tujuan/ destiny-nya selama di muka bumi dan menyelesaikannya dengan baik….atau bisa dikatakan sempurna. Begitu pula Rasul Paulus ketika jemaat yang dilayani tak sanggup mencukupi kebutuhan jasmaninya, ia pun bekerja sebagai pembuat tenda.
Saya sangat gembira saat ada banyak anak muda atau bahkan orang seusia saya yang antusias mendengar mengenai pelayanan Shadow of The Cross di Indonesia. Sayangnya ada yang kecewa dan meninggalkan kami sebab melihat fakta bahwa meski pelayanan ini berjejaring dengan mancanegara “ternyata” miskin dan tidak bisa membantu perintisan pelayanan mereka. Saya tidak tahu apa motivasi mereka, tapi saya berdoa agar mereka yang bermotivasi “mencari uang dari pelayanan” kiranya dijauhkan dari kami. Kami melayani kaum subkultur bukan karena kami menerima gaji, tetapi karena panggilan Tuhan. Jadi maaf kami tidak menerima apalagi mencari staf yang kami gaji setiap bulan. Sebab kami tidak mampu untuk memberikan gaji. Keluarga kami melihat hal ini sebagai sebuah panggilan dan visi keluarga kami. Kami melakukannya dengan sukacita dan sukarela meski tanpa ada gaji apalagi bonus di akhir tahun.
Shadow of The Cross, merupakan pelayanan mandiri dimana kami terbuka bagi siapa pun yang mau berjejaring atau membangun network dengan kami. Untuk saat ini kami belum bisa membantu pelayanan lain secara finansial secara berkala (bila eksidentil pernah beberapa kali) sebab kami sendiri pun tengah belajar untuk membangun usaha kecil di rumah kami. Kami belajar bagaimana melayani di market place,yang banyak tantangan. Kami menyadari tidak mudah menjadi pengusaha Kristen di tengah dunia usaha yang korup. Saya teringat ketika mencoba mengajukan pinjaman ke Bank yang menyediakan program pinjaman tanpa agunan. Mereka mengajukan sebuah pertanyaan mengenai tempat tinggal kami. “Rumah sendiri atau mengontrak?” Saat ditanya dan saya hendak menjawab, teman yang menemani saya berbisik, “Bilang aza punya sendiri.” Hati saya berkecamuk, berbohong demi modal atau tetap jujur apa adanya? Dan saya memilih untuk jujur….puji Tuhan…hasilnya saya tidak mendapatkan modal yang dibutuhkan. Tiga kali terjadi..tiga kali jujur…dan ketiganya gagal untuk mendapatkan modal. Sampai kapanpun saya akan tetap memilih untuk jujur apa adanya, kalau belum dapat …ya, jalani saja dengan modal yang ada.
Kami tidak mau menyulitkan orang lain, kami mau melakukan apa yang Tuhan kehendaki sesuai dengan penyataanNya tanpa kontrol dari pihak donatur atau penyumbang. Sebab kami percaya bila kami konsisten melayani Dia..Tuhan sendiri yang akan menolong kami melalui tubuh Kristus atau bahkan “burung gagak atau Janda Sarfat” (orang tidak seiman). Beberapa kali kami justru mendapatkan sumbangan dari “saudara tiri” yang merasa terharu dengan apa yang kami perjuangkan bagi kaum marginal….bila saudara seiman engga “ngeh”…..rupanya Tuhan pakai “orang lain alias saudara tiri” kita dari kaum Ismail.
Melayani “kaum marginal” atau “kaum subkultur”……mungkin berbeda dengan pelayanan kebanyakan, kita perlu bersabar sebab “conviction” datang dari Roh Kudus. Kami rindu melihat jiwa-jiwa bertobat karena pekerjaan Roh Kudus dan bukan karena hasil presentasi atau persuasi kami yang meyakinkan. Saya sudah melihat bila hasil dari kecakapan saya, orang tersebut sangat mudah undur tetapi ketika Roh Kudus yang bekerja….orang tersebut seolah “siap mati untuk Tuhan” tak tergoyahkan oleh tantangan berat sekalipun.
Memasuki tahun 2012 ini hal yang pertama kami mulai membentuk komunitas (simple church) di beberapa tempat, sekelompok anak Tuhan yang berkumpul untuk beribadah, saling belajar, saling mendoakan, saling peduli dan mau bergerak bersama melakukan Amanat Agung. Sudah banyak orang yang letih “main gereja-gerejaan” dan kini mereka ingin mempraktekkan cara hidup keluarga Tuhan sebagaimana jemaat mula-mula dalam Kisah Para Rasul 2:41-47. Bagi rekan-rekan yang ingin terlibat dalam komunitas kecil baik di Bandung atau pun kota lain, dapat menghubungi saya melalui email davebroos@yahoo.co.uk atau FB Dave Broos atau SMS 081330135643.
Hal yang kedua, kami mulai membuka diri untuk memperlengkapi pelayanan atau gereja lain dengan Pelatihan Underground School of Ministry. Sebuah pelatihan bagi siapa saja yang terbeban dan terpanggil melayani kaum subkultur. Materi yang ada secara spesifik untuk melayani kaum urban perkotaan. Bagi yang berminat diperlengkapi dapat mengirimkan email ke davebroos@yahoo.co.uk atau SMS 081330135643.
Hal yang ketiga, membangun jejaring dimana kami bekerjasama dengan berbagai pelayanan lain dalam memperluas Kerajaan Tuhan. Shadow of The Cross berjejaring dan mendukung pelayanan lainnya sebagai volunteer, diantaranya: pelayanan bagi gereja-gereja teraniaya seperti Voice of Martyr dan Open Doors, pelayanan tanggap bencana HAND dan pelayanan anti aborsi Pro Life. Kami percaya bahwa kita satu dalam Tuhan Yesus dan anggota daripada tubuh Kristus. Kita masing-masing perlu untuk saling mendukung dan berfungsi sesuai panggilan Tuhan. Sebab kita membangun Kerajaan Tuhan dan bukannya kerajaan kecil kita. Kita membangun tubuh Kristus dan bukan tubuh kita sendiri. Kita saling mendukung dan mendoakan tanpa pamrih.
Hal yang ke empat, kami melayani dan memberikan bantuan bagi kaum marginal atau subkultur yang membutuhkan secara langsung, ini bukan bagian program sebab orang-orang yang kami layani…kami perlakukan sebagai pribadi dan kami coba membangun hubungan kekeluargaan. Kami merindukan bentuk pelayanan yang lebih natural dan tidak libet. Mungkin ada yang bertanya bagaimana kami dapat membantu? Bilamana Anda ingin membantu memberikan donasi dapat berupa pakaian bekas (dari bayi hingga dewasa) kami akan sangat bersyukur tetapi tolong pakaian yang masih layak untuk dikenakan, kami juga biasanya menyediakan makanan atau sembako bagi siapa pun yang membutuhkan (Anda bisa berpartisipasi dalam pengadaan sembako), keperluan sekolah seperti seragam, buku tulis bahan bacaan pendidikan sampai Alkitab (Yang mungkin sudah tua dan tak digunakan) yang dapat dikirimkan atau diantar ke alamat rumah kami Flat Sarijadi blok G-1 no 13, Bandung 40151 atau bila hendak mendukung secara finansial dapat mengirimkan dana tersebut melalui bank BCA no rek 0081824788 atas nama Dave Broos. Bila ada pertanyaan atau masukan dapat menghubungi melalui davebroos@yahoo.co.uk , FB Dave Broos atau SMS 081330135643.
Hal yang ke lima, kami tengah berdoa dan belajar untuk membuat koperasi untuk menolong orang-orang yang kami layani maupun masyarakat yang membutuhkan modal untuk usaha kecil. Seringkali gereja Tuhan mengajarkan bilamana hendak membantu kaum miskin jangan hanya diberi roti tetapi berikan pancing. Pernyataan yang luar biasa hanya bila kaum miskin tidak diajarkan cara memancing maka ia akan menjual pancingnya, bukan? Kerinduan kami memasuki tahun ini adalah dapat membangun tempat pembelajaran untuk usaha hingga orang yang hendak merintis usaha diperlengkapi dan dimentor oleh “seorang/beberapa pengusaha” hingga ia tahu dunia usaha dan tantangannya. Koperasi berfungsi sebagai pelengkap berikutnya bagi “pemula” itu untuk dimodali. Kami akan sangat berterimakasih bila saudara-saudara dapat memberikan masukan atau pun bahan-bahan bacaan mengenai koperasi dan enterpreneurship/wira usaha. Terlebih bila saudara yang nota bene pengusaha mau menjadi pengajar amupun mentor bagi para pengusaha baru. Ada yang mungkin bertanya, mengapa kami mempedulikan hal ini? Sebab baik kaum marginal maupun subkultur adalah golongan yang sulit mendapatkan pekerjaan “normal” meski pun ada juga yang berpendapatan baik seperti ahli tattoo, website designer, mekanik dll. Tetapi banyak diantara mereka yang sulit mendapatkan pekerjaan yang mumpuni hingga akhirnya mengambil “shotcut” dengan melakukan kriminalitas atau perbuatan amoral. Saya percaya gereja harus melayani secara holistik, mencakup tubuh, jiwa dan roh. Tidak cukup hanya sekedar menasehati dan mendoakan saja tanpa turut terlibat sekuat tenaga berada bersama mereka kala dalam duka.
Inilah tujuan hidup kami….ini bagian kami untuk berfungsi di dalam tubuh Kristus untuk perluasan Kerajaan Tuhan dan menggenapi Amanat Agung. Doa dan harapan saya adalah siapapun yang membaca tulisan saya ini dapat menemukan tujuan hidupnya dan melakukannya. Bila Anda belum menemukan tujuan hidup Anda dan butuh teman atau saudara seiman untuk berbincang jangan sungkan untuk menghubungi saya melalui email davebroos@yahoo.co.uk atau FB Dave Broos atau SMS 081330135643. Saya akan berusaha menolong Anda menemukan tujuan hidup Anda dalam Tuhan sebagai saudara seiman. Tuhan menciptakan kita unik dan beragam…dalam kehidupan maupun pelayanan….TUHAN TAK PERNAH MEMBUAT SERAGAM……IA CIPTAKAN KITA BERAGAM...SEBAB ITULAH FUNGSI TUBUH KRISTUS..Jadilah dirimu yang otentik di dalam Tuhan.
Salam dan doa,
Dave Broos
Pastor for the Outsiders.