Jumat, 27 Februari 2009

EAGLES NEST MINISTRIES 2009


EAGLES NEST MINISTRIES 2009

Memasuki tahun ke dua kami di Bandung merupakan sukacita kami bisa ada di kota ini. Banyak perkara dan hal yang diizinkan Tuhan untuk kami kerjakan disini melalui caraNYA. Acap kali kami hendak melakukan sebuah pekerjaan dengan kemampuan atau pengalaman kami di masa lalu. Tuhan menegur kami dan membimbing kami, untuk sungguh-sungguh melakukan apa yang Bapa sedang kerjakan, menyatakan apa yang Bapa nyatakan.

Dua tahun terakhir ini dengan dana terbatas yang ada kami mengontrak dua buah kamar tempat kost untuk menjadi tempat tinggal sekaligus “kantor” pelayanan kami. Satu kamar sebagai kamar tidur dan sebuah lagi sebagai ruang kerja sekaligus ruang tamu (kadang kami alih fungsikan bagi tamu dari luar kota maupun luar negeri yang mau menginap di istana kami).

Dalam keterbatasan sekalipun kami melihat penyertaan Tuhan, dikala keuangan menjadi kendala pelayanan. Tuhan selalu memiliki dan membuka jalan bagi anak-anakNya yang mencari Dia dalam ketulusan. Kala orang lain tengah frustasi dan mengeluh kekurangan dana untuk mengembangkan pelayanan, kami yang sama sekali tidak memiliki fasilitas memulai pelayanan sebagai penulis lepas dari beberapa media Kristen yang ada secara “cuma-cuma”. Kami hanya menabur saja benih Firman Tuhan tanpa pamrih. Ketika kami coba membina hubungan dengan beberapa anggota tubuh Kristus untuk berjejaring dan bekerjasama kami seolah membentur tembok penolakan. No hard feelings, kami menyadari terkadang “kehidupan pelayanan atau gereja” dewasa ini “kurang sehat”. Gereja atau pelayanan menjadi seolah “perusahaan rohani” hingga menggunakan sistem franchise, sistem merger atau bahkan diambil alih oleh “organisasi gereja yang lebih besar”. Ketika di suatu daerah sudah ada “gereja A”, biasanya ada saja “gereja lain” masuk ke wilayah tersebut. Seandainya masuk ke wilayah yang sama dan menjangkau jiwa-jiwa belum percaya atau belum bergereja nampaknya bukanlah suatu cela. Namun bila masuk ke sana dan lalu menyedot jemaat dari “gereja A” maka ini merupakan cela dalam pelayanan gereja. Kita seharusnya saling membangun dan menolong bukan menjatuhkan seperti itu. Kita melayani Tuhan demi kepentingan KerajaanNya...demi kepentingan GerejaNya...bukan kerajaan dan gereja kita.
Hingga saat kita dengan tulus ingin membangun jaringan pelayanan dalam satu kesatuan sebagai tubuh Kristus, kita dipandang sebagai kompetitor baru. Harap dicatat maksud dan tujuan kami disini bukanlah hendak mempersatukan semua gereja dan pelayanan dalam “satu atap organisasi”. Kami rindu semua organisasi gereja dan pelayanan dapat berjejaring untuk tujuan ilahi, karena kita satu tubuh dan Tuhan Yesus sajalah Kepala kita.
Saya dapat berkata begitu sebab dulu saya pernah ada dalam pola pikir yang sama. Saat saya menggembalakan jemaat di Surabaya, yang ada dalam benak saya adalah bagaimana “gereja saya” bisa berkembang dan memiliki pengikut yang makin bertumbuh & banyak jumlahnya. Jangan sampai jemaat saya pindah gereja lain sebab itu dapat merugikan income kami. Kebanggaan saya sebagai “pendeta” kala itu adalah seberapa besar jumlah jemaat saya, berapa besar gedung gereja saya, berapa cabang gereja saya, berapa banyak kelompok kecil saya yang bertumbuh dan bertambah , berapa pemimpin baru yang saya hasilkan, berapa petobat baru yang kami hasilkan, dstnya..dstnya. Pusatnya adalah saya, gereja saya.
Di kala gereja kami kala itu mencapai titik jenuh dan mulai tidak bertumbuh atau bertambah, dan “gereja-gereja lain” mulai buka cabang di sekitar kami. Maka saya pun berdoa untuk “kebangunan/kebangkitan rohani”, motivasi saya sebenarnya adalah agar “gereja saya” bertambah jumlah anggotanya dan “saya” menjadi tokoh kebangunan rohani itu. Semua saya lakukan karena merasa pelayanan gereja sudah mulai “macet” dan sekarang ada kompetitor yang siap merebut “jemaat kami” masuk ke dalam “gereja mereka”.Jadi bukan sekedar ingin melihat orang percaya bertumbuh dalam Tuhan namun ingin “punya nama dan pelayanan besar”. Dulu saya katakan untuk “kemuliaan Tuhan”, namun sadar atau tidak, dalam hati yang terdalam harus diakui itu semua untuk “kebanggaan diri sendiri”. Keinginan diakui sebagai pendeta yang berhasil.
Hingga suatu hari saya tertempelak saat tengah berdoa bahwa seharusnya saya membangun “Gereja Tuhan”, bukan gereja saya. Yesus-lah Gembala yang baik dan agung, saya hanyalah hambaNya yang membantu menggembalakan umatNya semakin mengenal pribadiNya. Mengapa saya mendoakan agar terjadi “kebangunan/kebangkitan rohani”? Bila Yesus adalah pokok anggur dan kita carangnya, seharusnya kita senantiasa hidup di dalam Dia (Yohanes 15). Kalau gereja yang saya gembalakan “mati”, jangan-jangan karena itu “gereja saya” dan bukannya “Gereja Tuhan” yang seharusnya senantiasa melekat dengan Kristus Yesus.

Dalam keterbatasan dana yang ada, kami berdoa apa yang harus dan dapat kami kerjakan. Sebagaimana anak kecil yang membawa 5 roti jelai dan 2 ikan pada Tuhan Yesus untuk memberi makan 5000 orang (Yoh 6:1-15), begitu pula kami dengan jumlah uang yang mungkin bagi sementara orang tidak ada artinya, datang padaNya. Lalu Tuhan ingatkan bahwa Ia sanggup memberi makan 5000 orang dengan melipatgandakan apa yang kami miliki. Akhirnya Tuhan membimbing kami melayani melalui dunia maya. Kami sempat menggunakan koneksi “W” untuk akses internet di rumah namun kadang terkendala dengan sambungan internet yang lambat. Hingga akhirnya kami menggunakan jasa warnet untuk memperlebar Kerajaan Tuhan dan memuridkan bangsa-bangsa.
Saat kami pertama kali melakukan pelayanan dunia maya, kami ini ditertawakan dan dicibir, namun saat pelayanan kami mulai berkembang, “seperti biasa” mendadak semua melakukan hal yang sama.
Bagi kami melihat kejadian tersebut satu kata yang keluar dari mulut kami, Haleluya, akhirnya ada lebih banyak orang digerakkan Tuhan untuk melakukan penjangkauan, penginjilan, pengajaran, sekolah Alkitab, memperlengkapi umat Tuhan dan masih banyak hal lagi melalui dunia maya.

Kami bersyukur melalui salah satu website pertemanan Facebook, kami dapat terhubung kembali dengan banyak teman-teman lama (SMPK Bahureksa, SMAK Dago, STBA Yapari, INTEL, geng Moonraker,dll), rekan-rekan seperjuangan dalam pelayanan (Cornelius Wing, Jonathan Pattiasina, Samuel Saputra, Franky Sihombing, Melanie Pedro, Roger Thoman, Jammie Bakker, Shelley Lubben, Morria Nickels, Frank Viola, Neil Cole, Robert Ricchiardelli dll) , anak-anak rohaniku maupun teman-teman baru bahkan keluarga besarku. Luar biasa sekali!

Puji Tuhan, bahwa salah satu pelayanan kami, Eagles Nest Online Bible School yang sederhana dapat berkembang dalam hitungan bulan kini bukan hanya diikuti oleh saudara-saudara seiman di Indonesia namun juga Singapura. Ini merupakan hal yang luar biasa bagi kami. Sungguh Tuhan menguatkan kami, sebab kala kami memulai Sekolah Alkitab gratis ini, orang-orang pun terheran-heran. Mengapa kamu tidak menarik biaya para siswa/murid yang mau belajar? Alasan kami sebab Tuhan Yesus tidak pernah menagih uang sekolah dari para muridNya. Maka saya pun tidak akan menagih biaya apa-apa, kecuali para murid digerakkan oleh Tuhan dan ingin memberi dengan sukacita. Bagi kami yang terpenting adalah mereka yang menjadi siswa, mempelajari, menghidupi kebenaran dan memuridkan orang lain lagi. Sekolah ini bukan tentang mencari uang tetapi mencari Tuhan. Bila pun ada orang yang mengambil bahan ini secara cuma—cuma bagi kelompok kecilnya atau pemuridan di organisasi gerejanya atau untuk dipelajari sendiri,asalkan orang tersebut bertumbuh dan makin cinta Tuhan. Maka tugas kami sebagai pendidik dan pengajar berhasil. (Catatan: Ini merupakan “keyakinan” kami, jadi bila Sekolah Alkitab atau STT anda menarik biaya tidak ada tujuan kami sedikitpun “menyerang” lembaga anda. God bless you)

Kini kami tengah berdoa untuk sebuah tempat/rumah yang cukup besar untuk kami gunakan sebagai tempat untuk menjadi pusat studi dan pembelajaran yang kami beri nama PUSAT PEMBELAJARAN & PENGEMBANGAN KOMUNITAS (P3K) atau COMMUNITY STUDIES & DEVELOPMENT CENTER (CSDC). Kami telah memiliki sekitar 1000 judul buku rohani, puluhan buku sekuler dari berbagai latar belakang ilmu, beberapa ratus judul kaset/CD/VCD khotbah & pengajaran dimana kami hendak membuat perpustakaan bagi tubuh Kristus hingga kita semua dapat belajar untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Sebenarnya ini merupakan koleksi pribadi yang saya sangat sayangi namun apa artinya bila semua buku itu hanya disimpan di lemari, lebih baik dibuka bagi mereka yang mau belajar dan bertumbuh dalam Tuhan untuk menjadi dampak bagi sekitarnya.

Kami juga rindu untuk mengadakan lebih banyak pelatihan untuk memperlengkapi tubuh Kristus secara interdenominasi tanpa memandang asal muasal denominasinya. Kami rindu untuk memperlengkapi setiap orang kudus untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Dunia ini membutuhkan kita sebagai “garam dan terang di muka bumi ini”. Hati kami rindu melihat orang percaya tidak hanya “jago kandang”, nampak luar biasa di dalam gedung gereja namun saat di luar “melempem” (tidak ada dampaknya).
Selama hampir dua tahun ini, kami memperlengkapi “orang kudus” di tempat umum (cafe, rumah makan, warung lesehan, rumah orang yang kami layani, bahkan di pinggir jalan) atau di salah satu kamar yang kami sewa. Kami belum memiliki dana untuk menyewa tempat khusus atau membeli rumah, namun satu perkara yang indah adalah Tuhan ada di tengah kami. Kami tidak ingin dibatasi oleh fasilitas yang belum kami miliki dan membatasi Roh Kudus untuk bekerja di tengah kami.

Dari pelayanan The Body Building (Pelayanan jejaring kami). Puji Tuhan, pada bulan April dan Mei ini kami akan mengadakan camp Father Heart and Sonship bersama pelayanan Zoe Ministries Malaysia, yang dipimpin Pr Christopher K. Camp ini akan diadakan di dua kota yaitu Surabaya dan Bandung. Selebihnya kami akan melayani bersama beliau di Probolinggo dan Jember di beberapa organisasi gereja yang membuka diri. Apa yang orang pandang tidak mungkin, menjadi selalu mungkin bila Tuhan yang telah menetapkan.

Beberapa rekan lain, seperti Robert Fitts (Uncle Bob) dari Outreach Fellowship International dan Roger Thoman dari Appleseed Ministries juga merencanakan untuk datang ke Indonesia untuk melihat apa yang Tuhan kehendaki untuk mereka kerjakan atau bantu untuk Indonesia. Kami mungkin tidak punya apa-apa namun kami ini “milik” Tuhan yang memiliki segala sesuatu. Bersama kedua rekan senior saya di atas kami tengah berdoa agar gereja dapat berdampak dalam masyarakat bukan hanya sekedar secara rohani namun juga secara holistik. Meski mereka mengenal Kristus Yesus sebagai Tuhan mereka. Namun bila kita tidak menolong mereka untuk pulih secara kejiwaan dan secara finansial bangkit, maka kita akan melihat jiwa-jiwa ini hidup dalam kebiasaan lama mereka.
Beberapa tahun lalu, kami banyak memenangkan jiwa atas kasih karunia Roh Kudus dan sesekali memberikan bantuan sembako atau pengobatan gratis secara periodik. Petama-tama, kami puas melihat jiwa-jiwa diselamatkan dan kami dapat “melakukan perbuatan baik” dengan memberikan sumbangan dalam bentuk sembako maupun medis. Namun bila kami melihat dari dekat, tidak banyak perubahan yang signifikan secara holistik, kadang mereka berkompromi lagi dengan pola dunia atau cara hidup yang lama akibat kesulitan hidup. Mereka tidak hanya butuh hal rohani, mereka juga butuh pemenuhan kebutuhan kejiwaan maupun jasmani.
Mereka yang sempat kami layani adalah mantan pengedar narkoba, bandar judi, pelacur, anak geng/mafia, paranormal, kasus curanmor, anak jalanan, petani miskin, mantan napi dan yang sejenisnya.
Sebab kami kala itu sebagai gereja Tuhan, hanya tertarik pada “jumlah yang diselamatkan” lalu meninggalkan mereka. Persis seperti orangtua yang tidak bertanggungjawab, setelah melahirkan seorang anak ditinggalkan begitu saja, hanya sesekali ditengok itupun kalau tidak lupa. Saya sangat menyesali kebodohan saya kala itu sebagai seorang pemimpin dan “ayah rohani”.
Untuk kesekian kalinya Tuhan menegur kami, hingga paradigma pelayanan kami berubah dan kini kami mau melayani secara lengkap, sebuah pelayanan holistik yang menyentuh rohani, kejiwaan dan jasmani mereka. Kini kami melihat jiwa-jiwa ini sebagai pribadi yang unik. Kami tidak mau lagi melihat mereka sebagai sekedar jumlah bilangan atau proyek pelayanan.Bukan masalah berapa banyak jiwa, namun berapa orang yang dapat kami bimbing dan bawa terus bertumbuh dalam Tuhan hingga ia dapat menjadi terang dan garam bagi rekan-rekannya “di masa lalu”. Kini kami fokus di dalam memuridkan mereka yang telah mengenal Kristus Yesus secara holistik.

Bagi sementara orang, yang seperti biasa menjadi “pengamat rohani”, kami ini nekat katanya. Memang tipis nampaknya antara hidup nekat dan beriman pada Tuhan bagi sebagian orang. Dalam ketiadaan dana dan donatur sekalipun, kami tetap mau taat padaNya. Entah ada yang memback-up kami atau tidak, kami tidak ambil pusing. Kami melihat pelayanan ini sebagai bagian hidup kami dan bukan pekerjaan apalagi mesin untuk menghasilkan uang. Ini adalah visi dan misi keluarga kami. Ketika ada orang-orang yang mau berjuang bersama kami, puji Tuhan, sekalipun tidak ada, tidak masalah sebab Tuhan beserta kami, Ia adalah Immanuel. No hard feelings, Brothers and Sisters. Kita sama-sama membangun tubuh Kristus. Kita mau taat untuk mengerjakan bagian kita dalam arahan Dia. Kami sudah belajar makna hidup dalam kelimpahan maupun kekurangan, kami belajar untuk mengucap syukur dalam segala hal. Kami belajar untuk melihat segala sesuatu dari perspektif Tuhan, melihat situasi seberat apa pun secara positif. Sebagai sebuah kesempatan dimana Tuhan ingin membentuk karakter kami makin segambar dengan Kristus.

Sebuah lembaga gereja dan pelayanan bernama United Christian Faith Ministries (UCFM) dari Amerika Serikat pun menahbiskan saya, Dave Broos, sebagai UCFM ordained minister mereka untuk wilayah regional 11 Asia pada tanggal 22 Februari 2009 lalu. Ini juga di luar dugaan bahwa pelayanan kami mendapat apresiasi dan pengakuan dari rekan-rekan di sana. Puji Tuhan, kini kami bisa berjejaring dengan rekan tubuh Kristus lebih luas lagi dan kami bersukacita atas hal tersebut. Maz 133.

Kini yayasan yang dahulu kami dirikan di Surabaya, Yayasan Pelayanan Cinta Kasih Bangsa (YPCKB), pada November 1998 rupanya dikembalikan kembali untuk dikelola oleh kami. Kami sempat mengundurkan diri dari yayasan tersebut pada tahun 2005 akibat terjadi apa yang saya sebut sebagai “politik dalam pelayanan”. Kini kami tengah berembuk dengan beberapa rekan sekerja di Surabaya dan anak-anak rohani kami di sana bagaimana solusi terbaiknya. Kerinduan kami yayasan ini dapat menjadi alat Tuhan kembali setelah sempat “mati suri” sepeninggal kami kala itu. Tolong dukung doa agar permasalahan pajak yang sempat terbengkalai beberapa tahun terakhir ini dapat diselesaikan dengan baik. Dukung doa agar rekan saya, Onggo Susilo, yang saya percayakan untuk mengambil kemudi yayasan ini di Surabaya dapat secara optimal menjadi terang berkat di sana.

Pada bulan April ini pun , kami akan mengadakan pelayanan bersama badan missi Open Doors. Kami melayani bersama OD, sebab kerinduan hati kami sama untuk melihat Amanat Agung terjadi di muka bumi dan kita sebagai satu tubuh Kristus bekerja bersama-sama menanggung beban terutama bagi anggota tubuh/gereja yang teraniaya. Sebagai salah seorang volunteer OD di Bandung, kami sangat gembira dapat berjejaring dan bekerjasama memperluas Kerajaan Tuhan. Kami berdoa agar organisasi gereja di Bandung mau membuka diri dan perduli terhadap gereja Tuhan teraniaya di muka bumi ini.

Dukung doa juga untuk istri saya, Novie, yang saat ini tengah menjabat ketua PA Haleluya (Persekutuan para orangtua murid di Lembaga Pendidikan Baptis Bandung). Agar perubahan yang Tuhan kehendaki dan regenerasi dapat terjadi dalam persekutuan ini. Ada banyak tantangan dari muka lama yang tidak menyukai perubahan-perubahan. Ini sudah bagian sejarah kekristenan dimana mereka yang dulu merupakan bagian movement (kegerakan) kemudian membuat monument (monumen). Hingga saat Tuhan ingin membuat pergerakan lagi, ia tidak mau bergerak sebab sudah mapan. Ketika Tuhan memakai orang lain (apalagi yang lebih muda), tanpa sadar mereka menganiaya orang yang mau mentaati Tuhan tersebut. Mengapa? Orang yang merasa dirinya “pendiri” kadang terusik dikala ada seorang baru yang menarik perhatian “massa”nya. Persis seperti Orang Farisi terusik dengan pelayanan Tuhan Yesus. Kita sebagai anak-anakNya pasti akan mangalami hal seperti itu juga. (Yoh 15:20)

Simple Church Network, pun telah mengadakan pertemuan di rumah-rumah atau kadang juga di tempat umum. Suatu kumpulan murid yang belajar bersama-sama, berdiskusi, membicarakan permasalahan dalam kehidupan, saling menasehati, membantu dan berdoa. Ada banyak orang yang enggan ke gereja (karena berbagai alasan) maka kami membawa gereja ke tengah mereka. Kami coba belajar menghidupi pola gereja mula-mula yang ada dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 dan Matius 18:20. Kadang kami hanya melayani satu jiwa, kadang satu keluarga, kadang satu kelompok, kadang satu komunitas besar, intinya kami tidak perduli berapa banyak yang kami layani. Lebih baik melayani satu jiwa yang sungguh-sungguh haus dan lapar akan Tuhan (ingin menjadi murid Kristus) daripada satu gereja atau komunitas besar yang hanya suka khotbah “ice cream” dan berdoa “give me..give me, blessed me blessed me”.


THE EAGLES NEST MINISTRIES:


THE BROOS FAMILY

GENERASI TANPA AYAH


Generasi Tanpa Ayah (Fatherless Generation Ministry)

1.Pelayanan penginjilan, konseling dan doa melalui website persahabatan dan YM, melalui SMS dan telpon. (sudah berjalan)
2.Pelayanan konseling dan pemulihan keluarga:
Konseling bagi remaja (pengarahan agar berhati-hati di dunia maya, stop kekerasan terhadap sesama baik secara fisik maupun verbal, tetap menjaga virginitas, narkoba, alcohol, free seks & bunuh diri bukan solusi, bagaimana menemukan “pacar” yang cocok)
Konseling bagi keluarga (bagaimana menghadapi anak yang memberontak, apakah anda dikendalikan anak?, Papa, kami membutuhkan engkau!)
3.Pelayanan bagi gelandangan dan orang miskin (Ministry to the homeless and needy people)
4.Pelayanan bagi mereka yang merupakan seorang pecandu (rokok, alcohol, narkoba, seks, onani, makan, nonton, pornografi, shopping, marah, pelayanan, dll); terapi kelompok sesuai kecanduannya.
5.Pelayanan khusus bagi mereka yang terlibat di dunia hitam (anak geng, wanita/pria penghibur, penjahat, napi, dll)
6.Pelayanan pro life, menyuarakan anti aborsi dan mempersuasi mereka yang hamil di luar pernikahan agar tidak menggugurkan kandungan.
7.Pelayanan home schooling bagi anak-anak jalanan yang putus sekolah.

Rabu, 11 Februari 2009

DUKUNG DOA UNTUK RENCANA CAMP "FATHER HEART & SONSHIP"


DUKUNG DOA UNTUK RENCANA CAMP “FATHER HEART & SONSHIP”

Eagles Nest Online Bible School bekerjasama dengan pelayanan Zoe Ministries Malaysia akan mengadakan sebuah camp pada bulan Mei 2009 ini di kota Bandung. Dimana camp ini akan dilayani oleh Pr Christopher K, pendiri dari Zoe Ministries Malaysia. Beliau sejak tahun 1995 telah menjadi mentor dan bisa saya katakan juga sebagai “ayah rohani” yang menghidupi apa yang beliau ajarkan.
Pr Christopher K, merupakan seorang juara Karate Malaysia di era tahun 70-an dan juga guru Kick Boxing, beliau telah malang melintang mengikuti kejuaraan dunia Karate sampai bertemu dengan Tuhan Yesus. Beliau berlatar belakang agama Hindu, bertobat dan bertumbuh hingga lulus dari sebuah Seminari Baptis. Beliau mengalami kepenuhan Roh Kudus dan lalu merintis gereja berlatar Kharismatik bernama The Tabernacle. Hingga pada akhir tahun 1990-an, Tuhan memanggil beliau untuk memperlengkapi gereja Tuhan di seluruh dunia. Beliau melepaskan gereja yang beliau gembalakan pada “murid” yang selama ini membantu pelayanan, dan beliau sekeluarga mulai memberkati bangsa-bangsa. Selain menjadi berkat bagi negaranya, Malaysia, beliau telah memberkati Indonesia, Singapura, Thailand, India, Selandia Baru, Rusia, Inggris, Skotlandia dll. Lebih lanjut dapat mengakses http://zoeministries.blogspot.com .

CAMP “FATHER HEART & SONSHIP” bukan “hanya” sekedar acara camp biasa, namun kami berdoa agar setiap peserta camp kembali mengalami pemulihan hubungan dengan Bapa surgawi. Ada begitu banyak “pelayan Tuhan” yang terluka di dalam pelayanan namun tidak tahu harus berbuat apa, ia merasa terjebak di dalam pelayanan. Ia butuh mengalami pemulihan namun di sisi yang lain, ia mengalami dilema, ia takut jemaat atau orang-orang yang dimuridkan tahu kelemahannya. Ia takut “anak-anak rohaninya” menjadi lemah dan tersandung. Hingga akhirnya ia coba bertahan seorang diri.

Brothers and sisters, semua kita punya sisi kelemahan entah secara spiritual, kejiwaan maupun dalam hal disiplin mengendalikan tubuh kita. Bila kita tidak sungguh-sungguh mengalami pemulihan dan “pura-pura” semua baik-baik saja tanpa sadar kita juga dapat melukai jemaat Tuhan maupun orang-orang yang kita muridkan. Mengapa banyak institusi gereja pecah? Mengapa pemimpin gereja saling menjelekkan? Mengapa gereja sulit untuk dapat berjalan seiring? Mengapa gereja ribut untuk hal-hal yang tidak esensi? Mengapa gereja rebutan jemaat? Sebab ada luka dan hal yang belum tuntas dalam hati, selama kita terfokus pada luka dan ego maka sulit kita dapat berjalan seiring. Meski kita beragam(berbeda organisasi, institusi, dll), kita sebenarnya dapat bekerjasama satu dengan yang lain sebagai tubuh Kristus (1 Kor 12-14). Asalkan kasih AGAPE sungguh-sungguh memulihkan kita, semua mata tertuju pada YESUS, kita melakukan apapun untuk Dia maka kita tidak lagi saling berkompetisi dan bersaing namun saling membantu untuk memperlebar Kerajaan Tuhan. Sungguh alangkah indah dan baiknya bila saudara seiman hidup rukun bersama (Mzm 133).

Tujuan camp ini juga bukan untuk mendapatkan peserta sebanyak-banyaknya, sebab kami fokus pada mereka yang sungguh-sungguh mau dipakai Tuhan untuk pemulihan generasi ini, mereka yang dengan segenap hati mereka mau untuk menjadi murid Kristus, mereka yang mau memperluas Kerajaan Tuhan dan mereka yang sungguh-sungguh mau menjadi dampak (terang & garam) bagi bangsanya. Kami tidak mencari “followers” (pengikut) tetapi mereka yang mau menjadi “disciples”(murid) dari Kristus.(Mat 28:18-20, Mrk 16:15-18, Kis 1:8)

Camp ini bukan hanya sekedar mengimpartasikan pengetahuan, namun kami menawarkan “hubungan”. Pemulihan hubungan dengan Bapa Surgawi, sesama dan berjalan dalam otoritas sebagai anak Tuhan, menjadi dampak bagi komunitasnya.

Kerinduan kami adalah seusai camp, setiap orang yang hadir dapat sungguh-sungguh menjadi satu keluarga dalam Tuhan. Dimana setelah kita kembali ke tempat pelayanan masing-masing, kita dapat saling menguatkan dan fungsi tubuh Kristus sungguh-sungguh mengalami pemulihan. A church without any walls….kita semua berfungsi sebagai gereja Tuhan tanpa dibatasi “organisasi gereja kita”, sebab kita adalah gereja (ekklesia) yang merupakan organisme di dalam Kristus.

Dukung doa untuk acara ini terutama tempat di daerah Lembang dan juga dana untuk camp ini. Prioritas bagi para murid Sekolah Alkitab Online namun diluar itu, bila ada yang ingin ikut dapat menghubungi saya. Sebagaimana dijabarkan di atas, bila anda mau menjadi murid Kristus dan mau hidup anda menjadi dampak bagi lingkungan sekitarmu, it’s OK to join us.

Salam pergerakan,


Dave & Novie Broos

The Eagles Nest Ministries (http://3a9l35-n35t.blogspot.com)
Eagles Nest Online Bible School (http://enonlinebibleschool.blogspot.com)
Renungan Kehidupan (http://renungandave.blogspot.com)

Jumat, 06 Februari 2009

Cheryl's Story


Cheryl's Story
"Here I am 14 months clean, and on staff at Joy Junction. I enjoy waking up every day without a drug hangover. I am ... spending time praying ... knowing that I cannot control my life very well and I must leave it in God's Hands."

By Jeremy Reynalds
Correspondent for ASSIST News Service

ALBUQUERQUE, N.M. (ANS) -- To say Cheryl had a difficult childhood would be putting it mildly.

Cheryl

Born the youngest of five children to a low income family, Cheryl grew up in poverty.

In a recent interview Cheryl said, "We ended up living in places like a barn-type building that leaked when it rained, and all of the kids had to huddle together when it was cold. (However), my mom did whatever she could to feed us and clothe us, and I love her for that."

But living in a leaky building was nothing like the trauma Cheryl experienced from her two older brothers. She said, "They did very evil things to all of us. The older one would hold us under water, bite us, and make us do sexual things when I was only about five or six years old. I think that part seriously messed me up as far as relationships go. He'd even have neighbor boys come over and try to have sex with me."

Cheryl said, "Our whole family wasn't quite there, I guess you would say." She said one of her step-fathers had more serious issues than anyone could imagine, one of her brothers was always stealing and breaking into things, and a sister got pregnant at 15.

Cheryl admitted she also battled many issues. "I started doing drugs and having sex quite often at 12," she said. "I can't even count how many times I had sex by the time I was 14."

And by then, Cheryl continued, she had also tried marijuana, cocaine, speed, mushrooms, alcohol, cigarettes and hashish.

She continued, "I started hanging around much older people, the ones getting high and drinking. I did very stupid things, like hitch hiking and getting raped. I'd get so drunk I wouldn't know what I had done or where I was. I would take off for days, worrying my mother to death. I ended up ditching so much school that my high school didn't even know I was registered for the second semester of ninth grade."

Cheryl and her friends would meet at the back of the high school in the morning, have someone buy them a case of beer, then go down to a vacant lot by a church and get drunk. As an alternative they would hang out at a Carl's Jr. until the arcade opened, stay until school was over, and then go home.

"Nice existence, huh?" Cheryl asked cynically.

Cheryl's life continued to spiral downwards. She said, "Going into 11th grade I had enough credits for one semester of high school. I also had a miscarriage on my seventeenth birthday."

Cheryl said, "I think because of my low self-esteem I tried to juggle three, and sometimes four, guys at once. I thought as they wanted to sleep with me, that they really liked me. That feeling has lasted through out almost my entire life."

Cheryl said she met her "first and only husband" while partying with the marines from Camp Pendleton in Oceanside, California in 1982. She later found out he was on trial for killing someone.

She said, "We went out mostly drinking, smoking marijuana, doing cocaine occasionally, LSD a few times. And right before he was actually jailed for voluntary manslaughter, I found out I was pregnant."

However, Cheryl did have a little bit of good news. She finally graduated - after having to attend almost another year of school.

She said, "I went around telling people, 'I'm in 13th grade.' Even though I was almost seven months pregnant, I attended my graduation."

Cheryl's daughter was born in Sept. 1984, and she traveled to Jamestown, California, where the baby's father was incarcerated, to be married. The relationship didn't last very long. Soon after he was released, Cheryl ended up divorcing her husband.

During this time, Cheryl said, she started taking methamphetamines. That, Cheryl said she believes, led to her ultimate downfall.

"I still drank a lot," she said, "but I eventually gave that up. However, I never stopped doing meth, a total of 22 years. I gave birth to six children from five different men, again, I think, from the low self-esteem. If they wanted to sleep with me, I believed I was loved. I never used protection."

She added, "My drug use pretty much caused me to have six children, and it also caused me to lose three of them; two daughters to the state, and my oldest to drug use herself. She and I both have done terrible things for our habit, and have been in and out of jail because of it."

Cheryl recalled being a patient in a six month rehab program, and getting high two weeks after she completed her time there.

She said, "Towards the end I started smoking crack, and that lasted for over a year. I actually prostituted for crack money and lived at crack houses."

However, change was in Cheryl's future. She said, "I was tired, hungry, very sad and lonely ... and I actually didn't want to do drugs anymore."

Cheryl said she remembers vividly the night that precipitated her coming to Joy Junction. In Nov. 2007, she had been staying at a woman's apartment. There was also another woman there, Cheryl said, and they were drinking, doing heroin, smoking crack and pot. On top of everything else, she said, they were (mis) using prescription medication.

Cheryl recalled, "I had seen a man there overdose off a very small amount of heroin before. They had to carry him to the bath tub, turn on the cold water and put ice on him. He stayed dead, it seemed, for about five minutes. What a way to live."

However, Cheryl recalled that her time there was mercifully short. She was given her walking papers when the other woman staying there told her she needed to leave because she wouldn't "hustle" enough.

Cheryl left the few meager belongings she had, walked to a local convenience store and called Joy Junction for a van ride to safety.

She said, " I set my crack pipe down by a tree, and while I was waiting for the van I was propositioned and invited to go to a party. I know I was done, though, and I was dropped off at Joy Junction at about 9:30 p.m hungry and tired. I was given a place to stay and something to eat, and I felt safe. It took another week for me to join the (life recovery) program, but it has been wonderful ever since."

Cheryl said she came to Joy Junction with only the clothes she was wearing on her back.

Cheryl joined Joy Junction's life recovery program on Nov. 28 2007. She recalled that her first assignment, in addition to the regular class schedule, was working in the laundry where she had to wash a seemingly never ending number of blankets.

It wasn't something that Cheryl really enjoyed, but she was committed to her recovery and so she did a good job. Subsequently, Cheryl worked in a variety of assignments before graduating the program in Aug. 2008.

Cheryl was later hired for a staff position by Joy Junction where she works in the kitchen.

She said, "I enjoy cooking and learning how to work in a mission kitchen."

Looking back on her time so far at Joy Junction Cheryl said, "I have made some wonderful friends. Some of them have come and gone. One or two have passed away, and a couple were not ready to have God take over their lives. Here I am 14 months clean, and on staff at Joy Junction. I enjoy waking up every day without a drug hangover. I am in a good mood, spending time praying and especially knowing that I cannot control my life very well and I must leave it in God's hands."

Reflecting on her life in general she said, "I love the opportunity I have been given at Joy Junction and can't wait for what God has for me next. The next part of my life is in the Lord's Hands. I wait in anticipation of what He has for me."

Pat's Perspective

Joy Junction Resident Services Manager Pat Feeney said he is delighted at the change the Lord has made in Cheryl's life. He said she is always willing to help wherever needed.

He added that with her new kitchen responsibilities, "she is turning into a pretty good cook."

My Take

The guiding philosophy of Joy Junction is to provide an environment conducive to allowing the Lord Jesus Christ to make changes in people's lives. That is what has been occurring with Cheryl. Our prayer is that Cheryl will continue to yield herself to Jesus, and that she will be transformed more and more into His image and likeness on a daily basis.

Selasa, 06 Januari 2009

I'll be with you


I’ll be With You (Kuselalu sertamu)

Kadang dalam kehidupan kita merasa sendiri, sunyi dan tak ada seorangpun yang dapat mengerti tentang kita bahkan TUHAN sekalipun. Mungkin saja ada orang yang merasa bahkan pasangan atau anak-anaknya tak perduli lagi dan mengasihi dengan tulus. Mungkin saja hal itu dilakukan oleh manusia. Namun mungkinkah Tuhan bersikap begitu?

Tahukah anda bahwa:
Anda ini berharga (Yes 43:4, Mzm 27:10)
Anda ini biji mataNya (Ul 32:10, Yoh 6:37)
Tuhan mati untuk anda (Yoh 3:16, Yes 66:12-13)

Mengapa Ia rela mati bagi kita semua?
Sebab Ia ciptakan kita segambar dengan Dia (Immagodei = photocopy Tuhan) Kej 1:26-27
Tuhan ingin kita memiliki “keintiman” kembali denganNya (Ibr 10:19-20)
Tuhan ingin kita mengetahui tujuan hidup kita di muka bumi (Kej 1:28, Mat 28:19-20). Hidup dalam takut akan Tuhan, menghadirkan surga di bumi (Mat 6:10)

Upaya Iblis mengaburkan pandangan kita:
Cara berpikir yang salah (2 Kor 10:5)
Kekuatiran (Mat 6:31-34)
Kesombongan (Yak 4:6-8)
Citra diri yang rusak (2 Kor 5:17)
Perkara duniawi (1 Yoh 2:15-17)

Janji Tuhan bagi kita (entah apapun yang terjadi):
Ia menyertai kita (Mat 1:23)
Ia tidak akan tinggalkan dan biarkan kita (Ibr 13:5b)

Minggu, 28 Desember 2008

Shadow of the Cross Indonesia


SHADOW OF THE CROSS
(DI BAWAH BAYANG SALIB KRISTUS)

Pendahuluan

Latar belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman baik suku maupun budaya, masih ada kurang lebih 200 suku terabaikan yang belum mengenal Kristus. Ini pun bertambah dengan lahirnya “suku-suku” baru diperkotaan, yaitu yang akan kita sebut sebagai kaum subkultur. Mereka yang termasuk kaum subkultur ini diantaranya, seperti anak jalanan, para gelandangan, anak geng (bermotor yang disebut bikers, penguasa suatu wilayah/daerah/terminal biasa disebut “jeger”,dll, skaters, komunitas tattoo & body piercing, penggemar musik “underground”, punkers dan masih banyak lagi.
Pesatnya perkembangan informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini membawa dampak yang signifikan pada pertumbuhan anak, remaja dan orang muda. Entah mereka beragama Kristen maunpun latar kepercayaan lain. Tidak ada seorangpun yang kebal dengan pengaruh era ini.
Bilamana orang percaya tidak berdiri teguh dalam kebenaran atau “standtrue”, maka dunia tidak dapat melihat standar hidup di dalam Tuhan yang sebenarnya.
Glen Fredly dalam album Terang (Christmas Album) menciptakan sebuah lagu yang asyik banget. Saya akan kutip sebagian liriknya:

“Jadilah terang jangan di tempat yang terang”
Jadilah terang di tempat yang gelap
Jadilah jawaban jangan hanya kau diam
Jadilah jawaban di luar rumahmu

Jadilah garam jangan di tengah lautan
Jadilah harapan jangan hanya berharap
Jadilah jawaban jangan hanya ucapan
Jadilah jawaban jangan tambahkan beban

Itulah sekelumit syair lagu tersebut yang menjadi “rhema” bagi saya secara pribadi. Perlu ada orang yang mau bersinar di tengah kegelapan dunia dan menjadi jawaban bagi mereka yang ada di tengah kebingungan. Kedatangan Kristus semakin mendekat dan Iblis pun kerja lembur menghancurkan generasi muda kita. Ia menyesatkan banyak orang dan tanpa sadar mereka berjalan menuju kebinasaan. Sayangnya, banyak diantara orang percaya pun yang tak ada beban melihat orang lain binasa tanpa Kristus. NIlai hidup cara dunia yang egois dan mementingkan diri sendiri, tanpa sadar menjadi bagian hidup mereka, yang mengaku diri sebagai “anak Tuhan”. Sangat ironis sekali.
Inilah saatnya bagi tiap anak Tuhan untuk berdiri bersama untuk menerangi publikasi yang negative, yang mencemari gaya hidup anak-anak Tuhan dan mulai berfungsi menerangi mereka yang berada di dalam kegelapan.
Shadow of the Cross (Di Bawah Bayang Salib), merupakan sebuah pelayanan yang dibuat oleh Morria Nikcles di Amerika Serikat untuk memenangkan, memuridkan dan merintis komunitas bagi kaum subkultur di sana. Kaum subkultur merupakan kaum yang terpinggirkan dan dihindari oleh masyarakat atau biasa disebut kaum marginal.
Pelayanan jenis ini jarang sekali mendapatkan dukungan financial, baik di markas besarnya di Amerika Serikat sekalipun. Morria harus mengambil kerja sebagai kasir di pertokoan sambil menyelesaikan studi IT-nya di sebuah universitas. Begitu pula dengan rekanan pelayanan ini di berbagai negara seperti Inggris, Lebanon dan Indonesia. Kami semua bergumul dalam doa dan juga menjadi “tentmaker” untuk mencukupi biaya operasional pelayanan maupun kebutuhan sehari-hari.
Penyataan missi Shadow of the Cross adalah sebagai berikut:
- To live the truth (untuk menghidupi kebenaran)
- To educate with love (untuk mengajar di dalam kasih)
- To minimize misconceptions (untuk memperkecil konsep yang salah)
- To provide peace of mind (untuk menyediakan pikiran yang damai)
Morria yang sangat terbeban pada kaum Gothic dan juga para gelandangan. Ia senantiasa memberi diri bagi mereka untuk menuntunkan mereka pada Kristus dan secara periodik melakukan bantuan sosial bagi mereka yang hidup di jalanan dan mengalami kesepian. Mereka juga membentuk “simple church” di rumah mereka, bagi mereka yang rindu mengenal Tuhan lebih lanjut.
Saya, Dave Broos, ditunjuk sebagai Regional Director untuk Indonesia di dalam mengembangkan pelayanan bagi kaum subkultur di Indonesia. Meskipun harus diakui kami belum optimal menjalankan pelayanan ini. Kami baru melakukan pelayanan friendship evangelism dengan membagikan kesaksian atau tulisan kami melalui dunia maya dan juga mengadakan pelayanan doa & konseling melalui YM, email dan SMS. Pintu yang terbuka bagi kami di Indonesia barulah melayani komunitas dunia maya.
Kami tengah berdoa agar kami pun dapat mengembangkan sayap pelayanan ini dengan membuka “youth shelter”. Sebuah rumah penampungan bagi anak-anak yang diusir dari rumah akibat kenakalan atau ditolak. Sebagaimana dulu saat kami melayani di kota Surabaya, kami membuka rumah kami sebagai rumah bagi mereka yang diusir oleh orangtuanya.
Mengapa kami rindu untuk membangun sebuah komunitas yang beratmosfir keluarga? Sebab kami banyak menemukan anak muda yang tertolak di rumah bahkan hidup dalam dunia hitam akibat tidak tahu harus kemana untuk berlindung lagi.
Saat ini, pelayanan Shadow of the Cross, merupakan bagian dari The Eagles Nest Ministries Bandung yang kami rintis di kota Bandung tahun 2008 lalu. Shadow of the Cross, merupakan bagian dari departemen missi penjangkauan kami pada unreached people dan unchurched people group. Pada tahun 1998, salah satu mentor kami, orangtua rohani kami, Inban dan Rozanne Caldwell, telah menjadi alat Tuhan, saat kami bersama-sama berkomitmen pada Tuhan untuk menjangkau suku terabaikan dan orang belum bergereja di Indonesia untuk memperlebar Kerajaan Tuhan.
Buku ini merupakan persembahan saya bagi setiap rekan Shadow of the Cross dan juga tubuh Kristus yang ingin menggenapi Amanat Agung Kristus Yesus.





Apa yang dapat kulakukan bagi mereka Tuhan?

Saat kuberbincang dengan teman sesama pelayan Tuhan, mengenai penjangkauan terhadap kaum subkultur ia pun tertawa. “Dave..Dave, ngapain ngurusin orang susah? Bukan untung malah banyak buntungnya.” Aku sempat terheran-heran dengan jawabannya, malah rasanya aku bermimpi. Temanku yang sering berkhotbah tentang missi, penjangkauan dan penanaman gereja menyampaikan perkataan seperti itu.
Kuambil sebuah keputusan untuk berdoa bersama istriku, Novie. Kalau aku terlalu banyak mendengar perkataan manusia, kemungkinan besar aku akan menjadi “discouraged” (lemah), dan lalu melupakan beban yang Tuhan taruhkan dalam hatiku ini.
Sambil menantikan jawaban Tuhan, aku pun mulai pergi berkeliling kota-kota di Jawa Timur dengan, salah satu ayah rohaniku yang lain, Pr Christopher K, dari Zoe Ministries Malaysia.
Saat itulah 3 hal yang Tuhan berikan padaku bagi kaum subkultur ini yaitu:
• Pergilah, muridkan dan ajarkan mereka segala sesuatu yang telah Aku perintahkan (Mat 28:18-20)
• Bapa menghendaki setiap suku bangsa (termasuk kaum subkultur) berdiri dihadapan Anak Domba (Why 7:9)
• Bapa menghendaki Kerajaan Tuhan turun di muka bumi (Mat 6:10)

Saat kami menanggapi pangilan ini, benar saja sangatlah tidak mudah. Jarang sekali bagian tubuh Kristus dapat melihat bahwa kaum subkultur ini juga butuh Tuhan Yesus.

Kami melihat diperlukannya orang-orang yang berdiri teguh dalam kebenaran hingga dunia dapat melihat Kristus yang ada dalam dunia ini. Bila orang Kristen tidak melakukan apa-apa, apakah gunanya kematian Kristus di atas kayu salib? Tuhan mati dan bangkit dari kematian agar terjadi rekonsiliasi hubungan antara Dia dan kita sehingga kita dapat mengerti isi hatiNya dan melaksanakan amanatNya selama kita ada di muka bumi ini. Dia mati bukan hanya agar anda selamat dari api neraka dan selama di muka bumi hidup kaya dan berfoya-foya, tanpa memeperdulikan orang lain. Kalau pemikiran dan cara hidup anda seperti itu, saya kuatir anda tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan Yesus.
Pada perkembangannya misi kami pun bertambah bukan hanya sekedar mengabarkan kabar baik, memuridkan dan membentuk komunitas bagi kaum subkultur tetapi juga memperlengkapi generasi dengan pendidikan sekuler dan jiwa entrepreneurship untuk dapat mengentaskan kemiskinan dan pemulihan ekonomi bangsa ini dengan membuka lahan baru pekerjaan.
Kami pun membagikan standar kehidupan kristiani secara lebih terbuka pada umum melalui Stand true Project (Proyek Berdiri Dalam kebenaran). Dimana kami mengajak semua anak muda dan mereka yang berjiwa muda untuk bersinar di tengah kegelapan dan menjadi garam di tengah dunia yang hambar.
Hati kami trenyuh dengan meningkatnya angka aborsi di Indonesia dan bilamana kami membaca di surat kabar. Banyak sekali iklan yang melayani mereka “yang terlambat datang bulan”, suatu layanan aborsi yang secara halus dan terselubung ada di surat kabar kita. Namun acap kali kita tidak menyadari akan hal itu. Atau kita tidak mau tahu? Kesadaran akan hal ini harus ada pada anak muda Kristen hingga saat mereka membina hubungan tidak melakukan seks sebelum pernikahan. Atau bilamana mereka “terlanjur” melakukannya, jangan sampai mereka mengaborsi bayi dalam kandungan itu.
Tuhan menaruhkan beban dalam hati kami untuk memberi “warning” pada gereja Tuhan agar jangan sampai kita mendukung tindakan aborsi sebagai sebuah alat KB sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat. Dimana klinik aborsi marak bermunculan bagai cendawan di musim hujan.
Selain itu kita juga harus mengajarkan bagaimana berpacaran yang benar pada putra-putri kita agar tidak terjadi kasus-kasus bayi yang lahir di luar pernikahan. Atau bilamana terjadi sekalipun jangan sampai kita membuang atau mengusir mereka. Kita harus tetap berdiri di dalam kebenaran Tuhan namun dengan tangan yang penuh kasih mengangkat kembali “anggota keluarga” kita yang telah salah dalam bertindak.
Kami mendukung pergerakan pro life di tanah air kita, Indonesia. Kita harus melindungi bayi-bayi yang tak bersalah dari pembunuhan keji yang bernama aborsi. Jangan sampai kita melegalkan pembunuhan bayi-bayi yang tak bersalah. Mungkin orangtuanya yang salah jalan tetapi jangan binasakan bayi-bayi itu.

Kami sedih melihat gaya berpacaran yang sudah kebablasan diantara anak Tuhan sendiri. Kalau dulu seorang yang sudah tidak perawan atau perjaka sebelum mereka menikah merupakan sebuah aib, sekarang ada fenomena yang luar biasa. Saat seorang remaja masih perjaka atau perawan justru ditertawakan. Bukankah dunia sudah gila? Berapa banyak artis yang merupakan anak Tuhan, menikah dalam kondisi sudah hamil duluan? Itu yang artis hingga tersorot bagaimana dengan yang bukan artis? Ini juga merupakan tanggungjawab kita bersama untuk berjuang dan mengajarkan anak-anak remaja kita di dalam kasih agar mereka tetap menjaga keperawanan dan keperjakaannya hingga masuk dalam lembaga pernikahan. Sebab kita merupakan anak-anak Tuhan, yang diberikan kemampuan untuk menguasai diri. Kita ini bukan binatang yang dipimpin oleh hawa nafsunya. Kita ini anak-anak Tuhan yang memiliki roh Tuhan.

Selasa, 23 Desember 2008

Merry Christmas and a happy new year 2009

Merry Christmas and a happy new Year 2009. Harapan kami di malam Natal kita sekali lagi berjumpa secara pribadi dengan KRISTUS. Doa kami sekeluarga ada penghiburan dan kekuatan yang baru di malam Natal ini.

We that love and care for you,

Dave and Novie