Sabtu, 04 Oktober 2008

MEMULAI PELAYANAN BAGI ORANG MISKIN


MEMULAI PELAYANAN BAGI ORANG MISKIN

   Gereja membutuhkan visioner yang memilih untuk tidak bermain aman,
   namun bersedia mengambil risiko dan beriman kepada Tuhan dalam
   merintis pelayanan yang inovatif di kota, khususnya bagi orang-orang
   miskin yang membutuhkan bantuan.

   Kehendak Tuhan bagi kebanyakan kita yang tinggal di kota adalah
   menunjuk kepada pelayanan bagi kaum miskin. Jika Tuhan telah
   memanggil Anda untuk memulai sesuatu yang baru di kota, seperti
   Tuhan telah memanggil saya, maka Anda akan melalui proses pemahaman
   akan kehendak-Nya, berjalan dalam iman, dan membangun mimpi Anda.

   Berikut langkah-langkah dalam memahami dan memulai pelayanan yang
   penuh tantangan ini:

   1. Izinkan Roh Menaruh Visi dalam Diri Anda

   Tuhan memberi kita penglihatan akan rencana dan tujuan-Nya dalam
   hidup kita dan mengizinkan kita untuk bermimpi dan memiliki visi
   yang jelas dan konkret. Semakin spesifik doa, tujuan, dan sasaran
   kita untuk visi tersebut, semakin besar kemungkinannya untuk visi
   tersebut dapat terwujud.

   Visi adalah gambaran yang membara di hati tentang apa yang Tuhan
   ingin lakukan melalui Anda di tempat tertentu bersama kelompok orang
   yang spesifik. Visi adalah pewahyuan tentang rencana Tuhan yang
   dapat terjadi. Dengan memercayai dan menindaklanjuti visi tersebut,
   mimpi dapat terwujud. Dua visioner kuno, Abraham dan Sarah, telah
   mengalaminya. Saya melihat tiga benang dalam struktur kehidupan
   mereka yang membentuk pola masa kini dalam memahami kehendak Tuhan:
   panggilan untuk taat, iman terhadap visi, dan hasil yang sudah
   diantisipasi.

   Panggilan untuk Meninggalkan Tempat Tinggal

   Abraham dan Sarah tinggal dengan nyaman di Haran saat Tuhan
   memanggil mereka: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu
   dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;"
   (Kej. 12:1). Tidak mudah bagi mereka untuk menaati panggilan itu --
   banyak risiko dan pengorbanan untuk pergi ke tempat entah-berentah;
   di gurun.

   Sebuah "panggilan" akan selalu mengiang, bisikan dalam diri Anda
   yang mengatakan, "Tinggalkan rumahmu dan pergilah ke tempat yang
   Kutunjukkan kepadamu." Mungkin rumah yang kita tinggalkan bersifat
   geografis atau spiritual. Tempat yang ditunjukkan kepada kita
   mungkin adalah kota, pelayanan baru di lingkungan, atau cara hidup
   baru di mana kita berada. Yang terpenting adalah meresponi dan
   mengikuti visi yang lahir dari Tuhan dalam diri kita, tanpa
   menghiraukan risiko dan besarnya pengorbanan.

   Saat Abraham dan Sarah pergi, keponakan mereka, Lot, ikut bersama
   mereka. Kemudian, gembala Abraham dan Lot berselisih tentang
   pembagian tanah. Abraham, yang percaya akan visinya, memutuskan
   untuk berpisah: "Jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau
   ke kanan, maka aku ke kiri." (Kej. 13:9)

   Lot melihat ke Timur dan "melihat seluruh Lembah Yordan banyak
   airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir" (Kej. 13:10).
   Seketika itu, Lot berpisah dari Abraham dan tinggal di Yordan.
   Abraham memilih tinggal di Kanaan yang berbukit-bukit, yang nampak
   tidak sedap dipandang mata. Di situlah Tuhan menegaskan visinya:
   "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu
   ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang
   kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk
   selama-lamanya." (Kej. 13:14-15)

   Ada pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa tersebut untuk
   visioner kota pada masa kini: mata iman tidak berfokus pada
   penampilan, namun pada pandangan yang luas dan penglihatan akan
   rencana Tuhan yang dapat terjadi. "Apa yang dapat kamu lihat secara
   luas, Aku dapat memberikannya kepadamu," kata Tuhan kepada orang
   beriman. "Apa yang tidak dapat kamu impikan, Aku tidak dapat
   memberikannya kepadamu."

   "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah" adalah kunci kepada
   keberhasilan di luar batas kemampuan manusia. Jika kita dapat
   memimpikan visi Tuhan dan spesifik dengan hasilnya, apa yang kita
   perlukan akan disediakan oleh Tuhan "yang menjadikan dengan
   firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada" (Rm. 4:17).

   Tuhan membangkitkan pemimpin yang memiliki mimpi dan visi yang
   spesifik, yang percaya kepada-Nya akan hasilnya. Surat Ibrani
   mengingatkan kita bahwa iman atau visi "adalah dasar dari segala
   sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak
   kita lihat" (Ibr. 11:1).

   Saya percaya bahwa dalam diri setiap orang, tersembunyi visi Tuhan
   yang menunggu pemenuhan melalui iman dan ketaatan.

   2. Bangun Visi Secara Perlahan

   Setelah memahami kehendak Tuhan, kesabaran diperlukan dalam
   mewujudkan visi bagi pelayanan untuk orang miskin di kota. Seperti
   halnya janin membutuhkan sembilan bulan untuk dapat lahir sebagai
   bayi, butuh bertahun-tahun untuk mimpi atau visi dalam hati itu
   menjadi kenyataan.

   Apa yang terjadi pada Anda sama pentingnya dengan apa yang Tuhan
   lakukan melalui Anda. Bersabarlah menunggu Tuhan, biarkan Tuhan
   mengerjakan karya keselamatan dalam diri Anda, dan kemudian bangun
   visi Anda secara perlahan, namun pasti.

   Saat saya dan beberapa orang melayani di New York, kami memulai
   pelayanan dengan visi yang cukup murni. Kami membutuhkan waktu untuk
   mapan sebelum kami melakukan banyak pelayanan. Namun, kami melangkah
   semakin cepat dan kami menjadi terdesak. Hasilnya adalah krisis
   dalam pelayanan: banjir permintaan dan kebutuhan, sedikitnya uang,
   pelayanan semakin sempit, dan staf kedodoran. Selama bertahun-tahun,
   kami berjuang untuk bertahan sampai kami memerlambat laju pelayanan
   kami, kemudian mengambil waktu untuk merenung, memikirkan fokus
   pelayanan, dan peletakan dasar spiritual.

   Intensitas pelayanan kota dapat menghancurkan bahkan visioner
   paling percaya diri sekalipun. Cara untuk hidup berkemenangan
   adalah membiarkan visi Anda tersingkap secara perlahan, hari demi
   hari, tahap demi tahap, mengikuti irama Roh.

   3. Ajak Rekan Sepelayanan

   Seorang visioner tidak dapat memenuhi visi Tuhan seorang diri. Visi
   itu harus dibagi. Butuh waktu untuk menemukan orang yang tepat. Ajak
   orang yang Anda kenal dan percaya, yang berkompeten, berkomitmen,
   dan yang Anda percayai serta yang memberi rasa nyaman. Jangan
   terburu-buru mengajak orang hanya karena mereka bersemangat. Tunggu
   waktunya Tuhan memberikan orang yang tepat.

   Butuh waktu lebih dari setahun bagi saya untuk menemukan lima orang
   yang bersedia dan mampu melayani bersama di San Fransisco. Yesus
   sendiri membutuhkan waktu tiga tahun untuk memuridkan dua belas
   orang pria dan sekelompok wanita. Barulah setelah itu Yesus
   mengatakan kepada Petrus, "gembalakanlah domba-domba-Ku" dan di atas
   batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku" (Yoh. 21:17; Mat.
   16:18).

   4. Pilih Ladang Pelayanan

   Setelah mengajak rekan sepelayanan, langkah selanjutnya adalah
   secara perlahan dan penuh doa mengidentifikasi lingkungan yang akan
   dilayani. Tanyakan pertanyaan ini: Siapa yang Tuhan ingin kita
   kasihi? Lingkungan dan daerah geografis bagaimana yang nampaknya
   paling membutuhkan kehadiran Tuhan? Lingkungan mana yang nampak siap
   akan hadirnya pelayanan untuk mereka?

   Setiap kota memiliki daerah kumuh yang terabaikan. Kita bisa saja
   memiliki visi untuk menjangkau daerah kumuh seluruh kota, namun
   pelayanan kota akan efektif apabila kita fokus pada lingkungan
   tertentu.

   Selalu ada lingkungan dalam sebuah kota yang paling cocok untuk
   dilayani. Pilih daerah yang memiliki sejarah, riwayat, dan ciri khas
   -- yang menarik dan menantang Anda. Yang terpenting, pilih daerah
   kumuh yang ditinggali orang-orang miskin dan gelandangan.

   5. Tetapkan Pos Pelayanan

   Menetapkan pos pelayanan di lingkungan terpilih adalah langkah
   penting selanjutnya dalam memulai pelayanan kota. Idealnya, sewalah
   atau belilah bangunan yang memiliki corak budaya dan mudah diakses
   masyarakat. Orang yang berusaha Anda jangkau membutuhkan sebuah
   simbol komitmen dan kehadiran Anda. Masyarakat memerlukan sebuah
   tempat yang hidup, dan pelayanan membutuhkan tempat untuk
   berkembang. Sebuah pusat pelayanan akan mampu memenuhi kebutuhan
   tersebut.

   Jika Anda mengalami kesulitan -- entah itu masalah keuangan atau
   yang lainnya -- seperti halnya saya saat berusaha mengembangkan
   pelayanan di New York dan San Fransisco, percayalah bahwa Tuhan
   dapat melakukan mukjizat. Mukjizat adalah karya Tuhan yang tepat
   pada waktunya. Dari pengalaman saya merintis pelayanan di New York
   dan San Fransisco, tidak ada visi dari Tuhan yang mustahil.

   6. Bangun Komunitas

   Sebelum Anda melaksanakan misi pelayanan Anda dalam sebuah
   lingkungan, kelompok pelayanan Anda harus menjadi sebuah komunitas.

   Apakah komunitas itu? J. B. Libanio, yang menulis tentang komunitas
   kristiani di Amerika Tengah dan Selatan, mendefinikan komunitas
   sebagai berikut: "Sebuah kesatuan beberapa orang yang dinamis, yang
   melalui interaksi sosial yang spontan, terintegrasi oleh ikatan
   persahabatan, emosional, kesamaan sejarah, dan budaya."

   Sebuah komunitas terbentuk saat sebuah kelompok kecil berintegrasi,
   berjalan besama, dan ingin melakukan sesuatu yang lebih besar
   daripada yang dapat mereka capai secara individual.

   Sebagai suatu kelompok pelayanan, kita semua harus merasa terpanggil
   untuk hidup di antara orang-orang yang ingin kita jangkau. Hal ini
   membutuhkan komitmen jangka panjang. Komunitas berarti komitmen
   kepada satu dengan yang lain dan kepada rencana rekonsiliasi Tuhan.
   Komunitas diperlukan sebelum penyembahan dan misi dapat terjadi
   dengan benar. Sebuah kelompok pelayanan yang berharap untuk
   menjangkau sebuah kota dan lingkungan dengan kasih Tuhan, harus
   terlebih dahulu mengasihi dan menghargai anggotanya.

   Perbedaan dalam kepribadian, teologi, latar belakang, standar kerja
   dan kebersihan, talenta, dan panggilan dapat menghancurkan sebuah
   komunitas. Namun hal itu dapat diatasi dengan komitmen bersama
   terhadap proses dan berfokus pada visi Tuhan.

   7. Biarkan Misi Mengalir

   Sebuah kelompok Kristen kecil yang diorganisasi bagi misi dan
   setidaknya bertemu untuk menyembah, berdoa, dan saling menguatkan
   seminggu sekali, memiliki potensi untuk memahami visi Tuhan serta
   apa dan bagaimana Tuhan terlibat di dalamnya. "Handbook for Mission
   Groups" karya Gordon Cosby menjelaskan setiap langkah bagaimana
   sebuah komunitas terbentuk dan menemukan pelayanannya.

   Awalnya, sebuah kelompok berkumpul bersama visioner yang sudah
   mendapat visi Tuhan untuk melayani dan menyuarakannya dalam beragam
   cara -- dalam percakapan pribadi, dalam kepemimpinan, atau dalam
   nubuatan.

   Jika tidak ada yang meresponi, orang yang terpanggil itu menunggu
   beberapa saat untuk orang lain menceritakan panggilannya. Saat dua
   atau tiga orang meresponi, mereka memulai hidup mereka bersama,
   "saling mengasah talenta, dan berdoa bagi kejelasan dalam mendengar
   kehendak Tuhan bagi misi mereka".

   Panggilan itu mungkin dimulai saat seseorang mendengar bisikan
   (gambar, perasaan) Tuhan yang terus mengiang, yang mengatakan
   "berilah makan orang yang kelaparan", "sediakan tempat tinggal bagi
   gelandangan", atau "hiburlah penderita AIDS". Saat orang lain
   meresponi panggilan itu, implikasi dan perkembangannya akan
   terlihat. Prinsip penting dalam kelompok misi memerlukan komitmen
   bersama dan tanggung jawab bersama yang diterima oleh setiap
   anggota. "Hal ini dapat dilakukan hanya dengan mengenali talenta
   setiap anggota," kata Cosby. "Bahkan jika satu atau dua anggota
   tidak mengenali talenta mereka," peringatnya, "masalah gengsi dan
   iri hati akan mencuat ke permukaan."

   Orang yang memiliki multitalenta akan menghadapi godaan untuk
   memenuhi kepuasan ego dengan melakukan segala sesuatu seorang diri
   daripada bersama-sama. Tanpa komitmen untuk hidup dan melakukan misi
   bersama, sebuah kelompok misi tidak akan berhasil.

   Dengan komitmen bersama, sebuah kelompok misi akan bertahan selama
   semusim atau sepanjang hidup. Karya pelayanan yang sudah dilakukan
   itu akan menjadi karya Tuhan dan selamanya menjadi bagian dalam
   usaha Tuhan berdamai dengan dunia ini.

   Kadang, sebuah kelompok misi mencapai misinya dan kemudian bubar.
   Apa yang sebaiknya terjadi saat sebuah kelompok misi mati secara
   alami? Menurut Cosby, "Saat diketahui tidak ada lagi dua atau lebih
   anggota yang terpanggil, kelompok itu mungkin dapat meninjau ulang
   sejarahnya, bersyukur atas apa yang sudah dilakukan, dan merayakan
   matinya kelompok itu. Sering kali, diperlukan adanya kesadaran akan
   dosa yang harus diampuni, luka hati yang harus disembuhkan, dan
   keberanian untuk mengambil langkah selanjutnya."

   Jika kelompok misi memertahankan tahap perkembangannya dan arahan
   dari Tuhan, maka pelayanan akan terbentuk. Entusiasme akan dibumbui
   dengan hikmat, inovasi akan diwarnai dengan tradisi, dan banyaknya
   orang yang antusias akan diarahkan oleh Tuhan untuk mendukung dan
   membantu usaha komunitas. Kelompok misi mungkin dapat tetap menjadi
   bagian dari gereja atau berdiri sendiri sebagai komunitas
   penyembahan dan pusat misi sementara. (t/Dian)

   Diterjemahkan dan diringkas dari:
   Judul buku: A Call for Compassion; City Streets City People
   Judul asli artikel: Lift Up Your Eyes; How to Start an Urban
                       Ministry
   Penulis: Michael J. Christensen
   Penerbit: Abingdon Press, Nashville 1988
   Halaman: 53 -- 70

Tidak ada komentar: