Rabu, 24 April 2013




NAMAKU NOVIE
Hai namaku, Novie Durant. Aku lahir di pulau Sumatera 35 tahun yang lalu. Kurasa semua orang mendambakan untuk terlahir di dalam sebuah keluarga yang bahagia dan sempurna. Namun pada kenyataannya tidak semua keluarga hidup bahagia. Sebab kehidupan adalah kenyataan dan bukanlah cerita dongeng. Kuingin membagikan kisah hidupku yang penuh liku dan kerikil tajam.
Aku dibesarkan dalam sebuah keluarga pelaut. Pada saat aku lahir, papa tidak ada sebab sedang berlayar. Saat aku beranjak mencapai usia 2 tahun, papa baru pulang untuk melihat putri pertamanya. Sangat kurindukan pelukan dan perhatian dari seorang ayah yang penuh kasih, namun hal itu tidak pernah kudapatkan sebab ia harus berlayar ke negeri seberang. Hingga hubungan kami renggang, ia pun mengalami kesulitan di dalam berkomunikasi baik dengan diriku maupun adik lelakiku. Sebagaimana kebanyakan pelaut lainnya, ayahku memiliki kebiasaan buruk yang sama yaitu bermabuk-mabukkan.
Aku sering mengalami ketakutan bila melihat papa sedang mabuk, terlebih bila ia sedang marah. Tanpa sadar itu sangat melukai diriku dan merusak figur seorang pria secara keseluruhan di mataku.
Saat papa berlayar, keadaan ekonomi kami sangat baik. Kami biasa menolong keluarga dalam hal pendidikan dan usaha mereka maupun tetangga di lingkungan kami tinggal. Aku biasa mengenakan pakaian baru setiap kali papa pulang berlayar dari luar negeri. Sudah tradisi setiap akhir pekan kami akan pergi makan bersama di restoran. Kehidupan yang layak dan mapan telah kami jalani. Sampai suatu hari papa dijebak oleh salah seorang rekannya hingga ia sangat terpukul oleh peristiwa itu. Papaku dituduh sebagai penyelundup barang import. Papa dan mami meninggalkan kami ke Pulau Jawa. Sedang aku dan adik tetap tinggal di kota kelahiran. Kami dibesarkan di rumah keluarga mami. Dari keadaan ekonomi yang berlimpah-limpah, kini kami harus tinggal di rumah saudara. Demi sekolah dan kebutuhan sehari-hari, kami harus bekerja membereskan rumah dan aku memberikan les pada anak-anak di lingkungan kami tinggal untuk uang tambahan. Harga diri kami tercabik-cabik, keputusasaan, ketakutan, kecemasan dan kekuatiran menguasai pikiran dan hati. Terlebih saat aku mengalami pelecehan seksual, kebencian dan perasaan tidak percaya pada kaum pria bertambah besar.
Adakah masa depan bagi kami? Mengapa orang-orang yang dahulu papa dan mami bantu malah mencibir kami? Sia-siakah perhatian dan pertolongan keluarga kami dulu? Tidak adakah orang yang mengingat kebaikan yang telah keluargaku tabur? Aku sangat terluka saat itu, seolah-olah harga diriku runtuh. Dulu aku biasa mentraktir teman-temanku, kini aku ditraktir oleh mereka. Rasanya aneh dan sulit rasanya menerima keadaan ini. Namun itulah kehidupan yang harus aku lalui, berat dan perih tapi inilah jalan yang harus kulalui. Ketika sahabat-sahabatku terlibat pergaulan seks bebas dan bermabuk-mabukkan, aku tetap berpegang pada prinsip hidup yang kupercayai, yaitu aku tidak mau merusak diriku. Prestasi belajar di sekolah pun aku pertahankan,ketika anak lain yang frustasi membolos sekolah, aku tetap berprestasi dalam pendidikan. Orang-orang mengatakan,” Lihat si Novie, paling-paling sebentar lagi akan rusak sebab Papanya saja seperti itu.” Sudah cukup orang mencibir papa dan mami, aku ingin membuktikan bahwa keluarga kami tidak seperti itu.
Saat kuberanjak SMA, aku pindah ke Jakarta dan untuk pertama kalinya bersatu kembali dengan Papa dan Mami. Semenjak peristiwa yang menimpa Papa di Belawan, ia sulit untuk dapat bangkit kembali baik dalam pekerjaan dan usaha. Rasa kecewa dan terluka akibat dikhianati teman baiknya menyelimuti relung hatinya, yang membuat ia makin terbelenggu dalam kebiasaan buruknya bermabuk-mabukkan. Hingga ia sulit untuk dapat menjadi produktif lagi. Kulihat Mami dalam kondisi yang sulit sekali pun, ia tetap setia mendampingi Papa dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
Aku pindah ke Jakarta sebab salah seorang tanteku mengatakan bahwa aku akan dibiayai olehnya selama mengikuti pendidikan. Memang hal itu terjadi sampai aku duduk di bangku kelas 3 SMA, dimana ia menolak untuk membiayaiku. Aku tidak mampu membeli buku sekolah dan bila hendak ulangan terpaksa belajar di rumah teman agar dapat mempelajari bahan ulangan besok. Sedih sekali rasanya hidup yang harus kulalui ini, aku sangat iri melihat teman-teman hidup dalam keluarga yang bahagia dan berkecukupan. Aku kadang merasa marah melihat anak-anak yang memiliki orangtua yang mapan namun tidak pernah serius belajar dan hanya hidup hura-hura. Meski hidup-ku sulit dan godaan teman-teman untuk “rusak” di ibukota sebagai jalan keluar cepat mencari uang ada di depan mata namun aku menolaknya, sebab aku ingin membuktikan bahwa aku dapat hidup lurus dan menjadi kebanggaan bagi keluarga-ku. Pada akhirnya aku dapat lulus SMA meski kondisi kami sulit saat itu. Namun tante-ku yang berjanji membiayai studiku menolak untuk membayar SPP-ku selama setahun dan menyuruh Papa untuk membayar semua biaya tersebut. Padahal saat itu, ia tahu bahwa Papa belum memiliki pekerjaan tetap dan bekerja serabutan. Walhasil, aku lulus SMA tapi tidak memiliki ijazah dan pupus sudah cita-citaku untuk kuliah psikologi dan mendalami pendidikan anak. Semuanya seolah hanya impian di siang bolong saja. Sempat aku kecewa dan marah pada sikap tante-ku, dulu sebelum mereka berhasil dan sukses, Papa membiayai hidup mereka bahkan membiayai kuliah om-ku. Kini ketika kami butuh pertolongan, mereka seolah melihat kami ini pengemis saja. Semudah itukah manusia lupa?
Akhirnya kami mengadu nasib di kota Pahlawan, Surabaya. Setelah sebelumnya Papa menjemput adik-ku di Sumatera, akhirnya kami bersatu kembali sebagai keluarga yang utuh meski dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu. Di kota Surabaya, kami berempat kost di sebuah kamar berukuran 3 x 3, di sebuah daerah perumahan padat dekat pelabuhan Perak. Meski kondisi ekonomi tidak kunjung membaik namun paling tidak di sini papa dan adik-ku mendapatkan pekerjaan sebagai pelaut kembali. Di daerah baru ini aku memiliki dua orang teman baik, mereka berdua acap kali mengajak-ku untuk mengikuti sebuah persekutuan doa, Youth Christian Center. Pada mulanya aku tidak tertarik dan acap kali sakit bila hendak pergi namun karena terus menerus mereka mengajak, akhirnya hatiku luluh dan mengikuti ibadah di sana. Saat itulah aku mulai dijamah oleh Tuhan, hatiku yang selama ini keras oleh tempaan hidup dan terluka sangat dalam mulai dipulihkan oleh Bapa Surgawi yang penuh kasih. Sedikit demi sedikit kekerasan hati dan luka-luka mulai disingkapkan dan dipulihkan. Persekutuan yang erat dan perhatian yang tulus kurasakan dalam komunitas itu. Aku merasa berharga dan dapat menjadi diriku sendiri tanpa dihakimi, dalam persekutuan inilah kurasakan apa yang dinamakan keluarga dalam Kristus yang sebenarnya. Dalam persekutuan itulah awal aku mengalami Kristus dan lahir baru.
Saat itulah aku mengalami kelepasan dari belenggu kutuk nenek moyang. Ini merupakan kesaksianku yang lain. Saat aku lahir, orang percaya bahwa aku memiliki keistimewaan sebab saat lahir sudah tumbuh dua gigi seri. Dari latar belakang papa yang mempercayai kuasa gelap dan juga nenek moyang mami yang terlibat okultisme membuat mereka mempercayai hal tersebut. Konon nenek moyang Mami merupakan “orang pintar” pada masa Sisingamangaraja. Sejak kecil aku sudah dapat melihat roh-roh jahat dan berkomunikasi dengan mereka. Keluargaku menganggap bahwa hal itu adalah anugerah dari Tuhan untuk menolong orang lain dan mengetahui masa depan. Ada anggota keluargaku yang membawa aku ke tempat beberapa paranormal, untuk meyakinkan keluarga dan diriku bahwa aku memiliki “kelebihan”. Aku tidak pernah mencari ilmu seperti paranormal pada umumnya namun roh-roh jahat itu datang, berkomunikasi dan membuat perjanjian denganku. Melalui kuasa roh-roh itu, aku dapat menyembuh mereka yang sakit, mencari barang yang hilang, menjadi medium, meramalkan masa depan, dan lain-lain. Namun setiap kali aku menjadi “alat” mereka, aku langsung sakit sesudahnya. Ada rasa takut juga dalam diriku, sebab tiap kali aku marah terhadap seseorang, pasti orang tersebut jatuh sakit atau bila ada orang yang telah kulayani ingkar janji padaku maka orang tersebut mengalami bencana.
Dalam persekutuan doa itulah Tuhan mulai menjamah, menyadarkan dan memerdekakan aku dari setiap belenggu dosa nenek moyang dan dilayani kelepasan. Aku sadar bahwa ini merupakan dosa nenek moyang, yang perlu aku akui dihadapan Tuhan meminta ampun atas apa yang telah dilakukan oleh nenek moyangku dan memutuskan rantai perhambaan itu selamanya.
Dari Persekutuan ini akhirnya aku diutus untuk mengikuti pendidikan PLHK di Bali Bible Training Center yang memperlengkapi aku lebih lagi dalam pengenalan akan Tuhan dan pekerjaan Tuhan.
Hati-ku sempat tertutup bagi pria sebab aku mengalami trauma terhadap sikap Papa yang kaku selama ini dan kebiasaan buruknya, plus pengalaman mengalami pelecehan seksual saat kecil. Sempat terbersit dalam benakku untuk menjadi biarawati gereja Katholik saja dan tidak perlu menikah. Namun setelah aku mengalami pemulihan yang dikerjakan Tuhan, hatiku yang dulu tertutup bagi pria mulai terbuka kembali.
Setelah mengalami pemulihan dan kelepasan itu rasa haus dan lapar akan Tuhan meliputi dalam diriku mendorong aku untuk lebih aktif di persekutuan. Saat itulah Tuhan mulai berbicara mengenai siapa calon pasangan hidupku. Ada perasaan aneh dan tidak percaya. Sampai suatu sore, dalam salah satu ibadah yang diadakan, sang pembicara menyampaikan khotbah dengan topik Kerendahan Hati dan diakhiri dengan pembasuhan kaki. Saat itu si pembicara menyatakan bahwa kami perlu berdoa terlebih dulu dan bertanya pada Tuhan siapa yang harus kami basuh kakinya. Saat kuberdoa ada sebuah instruksi yang sangat jelas bagiku untuk membasuh kaki ketua Persekutuan Doa tetapi tidak dengan handuk dan air di baskom, tetapi dengan tetesan air mata dan rambutku. Ada perasaan takut, bagaimana kata yang lain dan mengapa hanya padanya saja dan tidak yang lain. Namun aku memilih untuk taat saat itu, hatiku dijamah olehNya dan mentaati apa yang Tuhan perintahkan. Dikemudian hari baru kutahu bahwa pada tahun 1993, ketua PD kami saat itu berdoa dan Tuhan menyatakan bahwa Ia akan memberikan pasangan hidup baginya. Dan salah satu tandanya adalah wanita itu akan membasuh kakinya dengan tetesan air mata dan uraian rambut panjang sebagai kain lapnya. Hingga saat aku membasuh kakinya, Tuhan mengingatkan janjiNya itu.
Perjalanan memasuki hubungan penjajakan kami tidaklah mudah, berulang kali aku mau mundur dari hubungan tersebut. Sebab banyak orang mengatakan aku tidak layak membina hubungan dengan ketua PD sebab aku baru bertobat sedang ia sudah lama pelayanan, ada pula yang mengatakan aku memelet ketua PD dan lain-lain. Aku sedih mendengar pernyataan orang-orang tersebut namun ada pula yang menguatkan aku dengan menyatakan bila memang ini kehendak Tuhan, semuanya pasti akan dapat dilalui. Dan yang terpenting calon pasanganku saat itu, tetap percaya bahwa diriku adalah pasangan hidupnya.
Akhirnya ia menjadi pasangan hidupku, namanya Dave Broos. Kami membina hubungan selama setahun dan lalu menikah pada bulan Agustus 1999 di Surabaya. Kami diberkati di GKB Shalloom – Surabaya, oleh Pdt. Yohanes Thomas.
Akhirnya persekutuan doa yang selama ini dirintis suamiku, menjadi sebuah gereja, GKB Cinta Kasih Bangsa (Indonesian Christian Center) dan suamiku menjadi pendeta gembala sidang. Tidak pernah terpikirkan olehku akan menikah dengan seorang gembala sidang dan menjadi ibu gembala namun itulah Tuhan kita yang sering membuat surprise. Setelah menikah aku mengikuti kuliah jarak jauh yang diadakan Seminari Bethel – Jakarta, yaitu Sekolah Theologia Extention (STE) untuk program D-3. Akhirnya aku dapat kuliah meskipun bukan di bidang yang kurindukan namun kumengucapkan syukur atas kesempatan yang terbuka. Melalui sekolah tersebut aku bertumbuh lebih berakar dalam Firman Tuhan di dalam menopang pelayanan suamiku, terutama sebagai pendoa syafaat dan konselor.
Tuhan kembali mengingatkanku akan apa yang telah terjadi dalam hubunganku dengan papa. Setelah aku mengalami pemulihan aku tersadar bahwa sikap papa yang keras dan kaku adalah akibat opa-ku. Beliau adalah seorang anggota polisi yang terhormat di Sulawesi Utara, terkenal sangat disiplin dan keras baik terhadap anak kandungnya maupun anak-anak angkatnya. Papa mungkin seorang pemabuk namun bila kuingat kembali sebenarnya ia penuh perhatian baik padaku maupun adik. Hanya akibat sifat buruknya yang dulu menjadi fokus perhatianku, aku tidak dapat melihat sisi-sisi dirinya yang baik bagi keluarga kami.
Bukan hanya aku saja yang diselamatkan, namun Tuhan mulai menjamah orangtua maupun adikku. Saat adikku “tertinggal” di Sumatera dan hidup dengan Opung, ia terlibat pergaulan yang salah dan menjadi pengedar narkoba. Ia menjadi anggota geng pengedar ganja. Namun setelah melihat perubahan dalam hidupku dan berbincang dengan suamiku yang dulunya juga mantan anak geng di kota Bandung dan pecandu, ia pun mulai berubah. Perubahan yang nampak jelas adalah ia mulai berhenti mabuk-mabukkan dan bergaul dengan teman yang salah. Begitu juga dengan kedua orangtuaku yang berubah, Papa pun akhirnya berhenti mabuk dan memusnahkan semua opo-opo(barang bertuah) yang ia miliki. Semenjak itu hubunganku dengan papa dipulihkan, sungguh bahagianya kini aku memiliki ayah yang baru. Mami yang dulu suka berjudi sebagai pelariannya pun kini bertobat dan berhenti total. Semuanya hanya bisa terjadi oleh karena Kuasa Tuhan yang penuh kemurahan dan limpah kasih.
Hadiah terbesar bagi kami adalah kelahiran putra kami, Philip Broos. Ia adalah anak penghiburan kami di ladang pelayanan. Banyak orang memprediksikan bahwa aku akan sulit hamil karena kondisi kesehatanku namun Tuhan mementahkan semua prediksi orang. Dan hal itu sangat membahagiakan diri keluarga kami. Apa yang manusia katakan mustahil dimentahkan oleh Tuhan kita yang penuh mujizat. Ada banyak hal yang Tuhan lakukan bagi keluarga kami. Saat dokter kami menyatakan bahwa putra kami terbelit tali pusernya hingga aku harus dioperasi cesar padahal sudah bukaan 6. Saat keuangan kami hanya cukup untuk biaya persalinan normal. Rasa takut untuk dioperasi maupun biaya yang harus ditanggung membayangi pikiranku. Siapa yang akan menolong kami, sebab jemaat yang kami gembalakan hanyalah orang kalangan bawah. Hanya pada Tuhan kami bersandar dan percaya. Barangsiapa percaya pada Tuhan tidak akan pernah dipermalukan, itulah janjiNya. Beberapa hari setelah kelahiran putra kami, Tuhan memakai seseorang untuk melunasi semua biaya persalinan dan bukan itu saja, ada uang lebih bagi kebutuhan keluarga kami.
Setelah 7 tahun merintis pelayanan dan menggembalakan sidang, Tuhan mulai mendorong kami untuk menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan pelayanan gereja pada anak-anak rohani yang telah kami muridkan selama ini. Pada tahun 2005, suamiku mengundurkan diri dari pelayanan penggembalaan dan mempersiapkan diri kami sekeluarga untuk memulai pelayanan di kota Bandung.
Saat itu aku tengah mengandung anak kedua kami. Dokter memprediksikan bahwa bayi kami adalah perempuan dan suamiku telah menyiapkan nama Regina bagi putri kami. Putraku, Philip sangat antusias menyambut kelahiran adiknya. Ia telah menyiapkan boks bayi dan boneka-boneka bagi adiknya. Ia sudah membayangkan akan bermain dengan adiknya, di TK ia dengan bangga menceritakan pada teman-temannya bahwa sebentar lagi ia akan punya adik.
Saat kami tengah berjalan-jalan di sebuah mall, tiba-tiba aku merasa waktu persalinan telah tiba. Segera kuberitahu suamiku dan kami bergegas menuju rumah sakit. Setelah tiba di rumah sakit ternyata bayi kami sungsang dan kembali aku harus dioperasi cesar. Namun karena tekanan darahku tinggi maka operasi akan dilakukan keesokan harinya.
Ada perasaan berbeda saat ini, perasaan ini berbeda dari saat menghadapi operasi cesarku yang pertama, ada rasa was-was seperti akan mati. Saat operasi dilangsungkan aku melihat wajah cemas dari para perawat maupun dokter. Ketika putriku lahir, kulihat dokter segera membawa putriku ke ruangan lain. Hatiku cemas, kondisi tubuhku saat itu menurun, semuanya mulai menjadi gelap kudengar salah satu suster berbisik di telingaku, “ Ibu sadar ya, ingat suami dan anaknya di luar.” Tiba-tiba terbayang wajah suami dan putraku yang terlihat sedih. Apakah aku akan mati? Segera aku coba untuk tetap tersadar, aku tidak mau mati meninggalkan keluargaku, mereka masih membutuhkanku.
Setelah kusadar, aku sudah ada di ruang pasien, di sana ada mami yang duduk menungguiku, wajahnya tampak lesu. Lalu aku bertanya,”Kenapa, Mi?” Mami menjawab,”Engga apa-apa.” Aku mulai curiga ada apa ini tapi semuanya coba kutepis. Lalu aku berbicara lagi,”Mi, nanti sepulang dari sini, kita belanja baju bayi di pasar Turi ya?” Mami hanya terdiam dan matanya berkaca-kaca. Saat itulah putraku, Philip masuk kamar. Kupandang Philip dan bertanya,” Phil, kamu senang punya adik sekarang?” Ia menjawab dengan polos dan sedih,” Apa, Ma, adik Philip khan sudah mati.” Kusela jawaban Philip,”Phil, kamu tidak boleh berbicara begitu tentang adikmu.” Kupandang suamiku berdiri di muka pintu dengan pandangan kuyu, ada apa dengan suamiku yang biasanya ceria. Ia memandangku dan lalu memelukku,” Ma, Regina sudah tidak ada dengan kita.” Seketika itu juga aku meledak dalam tangisku, kesedihan memenuhi hatiku. “Mengapa Tuhan?”
Sehari setelah penguburan putri kami, Regina, aku baru tahu bahwa putri kami meninggal akibat praeklamsi. Putri kami hidup sejam sebelum ia pulang ke Rumah Bapa. Ada kesedihan, ada pertanyaan, ada kekosongan namun semua kuserahkan pada Tuhan. Kami mengucap syukur atas satu jam yang Tuhan percayakan bagi kami sebagai orangtua bagi Regina. Di balik segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, ada hikmahnya dimana kita bisa belajar dariNya.
Di kala awan mendung kesedihan melanda keluarga kami, Tuhan memakai saudara-saudara seiman kami di Gereja Oikos Indonesia jemaat Surabaya yang digembalakan Penatua Johanes Harjanto, sebagai tempat kami dipulihkan Tuhan kembali dan mematangkan rencana kami kembali untuk melayani di kota Bandung.
Pada saat persiapan kami merasa mantap untuk pindah namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kami akan pindah sebab kami sudah tidak memiliki uang tabungan untuk pindah ke kota Bandung. Kepindahan kami pada bulan Juni 2007 sudah mendekat namun uang tidak ada. Hingga kami bertanya-tanya, apakah benar kami mendapat perintah Tuhan atau ini hanya gagasan baik kami saja. Kembali lagi Tuhan melakukan suatu kejutan bagi kami, sebulan sebelum kepindahan kami, salah seorang sahabat suamiku memberikan berkat. Hingga kami dapat pindah ke kota Bandung, mengontrak tempat tinggal dan memasukkan putra kami sekolah di SDK Baptis.
Kini kami sudah berada di kota Bandung dan tengah merintis pelayanan The Eagles Nest Ministries. Kami tidak memiliki aset, atau kehebatan apa pun namun kami memiliki hati untuk melayani Yesus Kristus dan itu sudah cukup bagi kami. Tuhan memberikan hatiNya yang limpah dengan kasih bagi kami dan sebagaimana Ia telah memulihkan kami, kerinduan kami adalah melihat setiap jiwa mengalami pemulihan dan mengerti jati diri mereka dalam Kristus.
Aku tahu di luar sana, ada begitu banyak jiwa yang terluka terutama para wanita yang belum mengalami pemulihan. Doa dan kerinduan hatiku, melihat tiap wanita dalam Kristus mengalami breakthrough dalam hidupnya.
Sebagaimana Tuhan telah memulihkanku, Ia pasti akan memulihkanmu juga sebab di dalam Kerajaan Surga tidak ada “anak emas”. God bless you, all.
Anda ingin sharing, didoakan atau kami layani silahkan hubungi kami di 081330135643(tlp/sms) atau novie_durant@yahoo.com. Kami ingin menjadi sahabat dan saudara dalam suka maupun duka. WE CARE.

Memiliki Hati Yang penuh belaskasihan

MEMILIKI HATI YANG PENUH BELASKASIHAN

 Saat kita berjalan dan melihat orang berpakaian kumal dan bau badan yang menyengat menghampiri kita apa yang timbul dalam hati kita? Ada yang merasa jijik, ada yang melihat sebagai pemalas, ada yang masa bodoh saja, ada pula yang segera mengambil uang recehan dan memberi, ada yang berbelas kasihan dan lalu memikirkan dan bertindak bagi mereka yang kurang beruntung, dan masih banyak lagi tindakan lainnya. Saya tidak tahu dengan Anda, namun setiap kali saya melihat orang-orang yang kurang beruntung ini timbul pertanyaan dalam benak saya sebagai anak Tuhan bagaimana saya bisa membantu mereka. Saya bayangkan bila seandainya saya yang ada di posisi mereka dan tak berdaya apa yang saya harapkan orang lain lakukan pada saya. Pernahkah Anda membayangkan bilamana Anda yang mengalami hal tersebut terjadi pada diri Anda?
Saat saya berbagi dengan beberapa rekan tentang melayani orang-orang ini, ada saja yang sinis dan dengan angkuhnya menyatakan sebab orang-orang ini tidak mau terima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, atau mereka masih hidup dalam dosa sebab orang miskin hidup di bawah kutuk sedang orang kaya itu hidup di bawah berkat, atau karena mereka malas bekerja dan masih banyak lagi jawaban yang tidak memberikan solusi selain penghakiman dan pembenaran diri sendiri untuk tidak bersentuhan dengan kaum miskin.
Benarkah Tuhan Yesus hanya menyembuhkan orang yang mau mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat? Bila kita membaca Alkitab kita akan menemukan bagaimana Tuhan Yesus bahkan menyembuhkan orang-orang yang belum percaya padaNya atau mengakui keilahianNYA. Karena Tuhan Yesus berbelaskasihan terhadap mereka. Sadarkah saudara bahwa Tuhan Yesus mati di atas kayu salib untuk menebus saudara karena belaskasihNya.Bukan karena saudara sudah hidup benar tetapi Ia mati menebus kita karena DIA tidak ada jalan lain, agar kita dapat kemerdekaan dari dosa. IA harus mati menebus kita dari segala ikatan dosa. Ada belas kasihan yang leimpah dalam DNA Kristus….bila kita mengaku anakNYA…bukankah DNA itu ada pada kita….mengapa kita kurang berbelaskasihan terhadap sesama kita?
Benarkah orang Kristen harus kaya dan yang miskin hidup kurang iman atau tinggal dalam dosa? Bagaimana dengan Tuhan Yesus dan teladan para murid? Apakah mereka menimbun kekayaan atau menyebarkannya untuk menolong sesama? Coba baca kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Orang dapat menjadi kaya karena karunia Tuhan, apakah hanya untuk dinikmati sendiri sampai tujuh turunan? Atau Tuhan ingin Anda menggunakan kekayaan itu untuk mensejahterakan kota atau desa dimana Anda tinggal? Tuhan melimpahi kita dengan kekayaan agar kita tamak dan egois atau untuk memberkati sesama..menolong sesama?
Bagaimana dengan orang Kristen yang pemalas, itu merupakan masalah mindset dan itu bisa kita ubah. Paulus menyatakan jangan beri makan pemalas yang hanya menggantungkan hidupnya dari belaskasihan orang lain. Bila kita mengasihi saudara kita, maka kita juga tolong dia untuk merubah mindsetnya (pola pikirnya). Sering saya dengar rekan-rekan yang mengkhotbahkan jangan hanya beri ikan pada orang miskin tapi kailnya. Saya rasa pengajaran itu atau ilustrasi itu kurang lengkap. Sebab meski diberi kail tapi bila tidak diajarkan bagaimana mengail maka ia akan jual kailnya. Apa yang seharusnya dilakukan adalah berikan ikan pada orang itu agar dia tidak lapar, lalu ajarkan cara mengail, beritahu trik mengail dan dimana mengailnya, kesulitan apa yang mungkin akan kelak dihadapi, pertemukan dia dengan para ahli mengail hingga dia bertambah wawasan dan bersemangat setelah bertemu para pengail handal, lalu beri kailnya dan jadilah mentor/pendamping bagi dia hingga ia bisa mandiri sebagai “pengail”. Dia akhirnya bisa menjadi teladan bagi yang lain.
Beberapa saudara bertanya bagaimana sebagai langkah awalnya? Saya membagikan ini semua dengan gratis, tidak ada “copyright” dalam pelayanan saya. Harapan saya copy it right dan teach it right. Layanilah sesama kita yang kurang beruntung dengan belaskasihan, perlakukan mereka sebagai sesama manusia, tolong jangan ada lagi yang menggunakan orang miskin sebagai sarana mengumpulkan dana untuk keperluan pribadi atau nama besar pelayanan/organisasi/yayasan/gerejanya. Lakukanlah dengan hati yang tulus karena Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengasihi kita maka sekarang kita mengasihi sesama kita.
Hal yang pertama, berdoalah pada Tuhan untuk dapat mengerti isi hati Tuhan (Matius 25:31-46). Mengerti panggilan kita sebagai anak Tuhan dan apa yang perlu kita lakukan terhadap sesama kita. Apa konsekwensinya menurut firman Tuhan itu bila kita tidak perduli?
Hal yang kedua, milikilah belaskasih Tuhan dalam hatimu. Coba bayangkan bila itu diri anda sendiri atau kerabat dekat anda atau orangtua anda yang alami. Apa yang akan anda lakukan atau apa yang anda harapkan dilakukan orang tersebut pada anda?
Hal yang ketiga, lihatlah sesama kita sebagai jiwa-jiwa yang berharga milik Tuhan, mereka belum tahu jawaban permasalahan hidup mereka dan anda yang memiliki jawaban tersebut. Selama ini mereka sudah banyak dilukai, dimanfaatkan, dan ditipu…..kini saatnya anda datang sebagai terang, garam, surat Kristus yang terbuka….teladan Kristus di muka bumi. Menjadi tangan Kristus…Kaki Kristus…telinga Kristus…tubuh Kristus yang memberkati tempat dimana mereka tinggal. Tuhan Yesus meninggalkan sorga untuk turun ke dunia yang kotor dan penuh dosa karena kasihNya yang besar.
Hal yang keempat, berdoa untuk rekan-rekan sekerja yang sehati dan sepikir. Sebab kita manusia yang terbatas dan membutuhkan rekan sekerja lainnya. Berdoa secara korporat/bersama mencari kehendak Tuhan, strategi pelayanan dan dimana harus memulainya.
Hari ini saya bagikan empat hal sederhana ini bagi saudara-saudaraku untuk renungkan bersama. Saya berdoa lebih banyak lagi orang terlibat dalam pelayanan bagi kaum terbuang dalam generasi kita ini. Doa saya belaskasih Tuhan turun atas semua anak Tuhan dan menggunakan segala daya upaya untuk menjadi alat Tuhan bagi desanya…kotanya..bangsanya….bangsa-bangsa di dunia…..
Dunia tidak butuh sekedar janji-janji manis…..mereka butuh bukti..teladan Kristus yang nyata melalui tubuhNya yang ada di dunia……GEREJA TUHAN…..Let’s get it on, Church!!!!!!!

Salam dari hambaNYA

Dave Broos
Gembala kaum terbuang
Anda dapat menghubungi saya melalui inbox FB, email atau YM davebroos@yahoo.co.uk, SMS 081330135643 dan BBM (pin 31306302)

What if the Bible is A Myth?

What if the Bible is A Myth?

By
What if the Bible was a MythThis month’s synchroblog challenges us to ask the question: “What if some or all of the biblical narrative is not necessarily true history, but is myth of one sort or another?”
I have considered a similar question before: What if Jesus Did not Rise? and my answer to this related question is the same.
I believe that even if the entire Bible were a myth, it would be truer than most historical facts. Some people say that the Bible is nothing but a myth, but there is no such thing as “nothing” but a myth. Any good story is far more powerful to change lives and direct history than the most provable scientific or theological fact. This is one reason the Bible is a story rather than a book of theological facts.
If the Bible is a myth, then we have no way of knowing if there is a God, or what happens after death, or how humanity came into being (Even with the Bible, the answers to those last two questions are anything but certain). If the Bible is a myth then while a man named Jesus might have lived, he probably certainly was not God, and while he might have died as a criminal on the cross, he most likely did not rise from the dead.
And if all of that could indisputable and unquestionably be verified as historical fact, then you know what I would do? I would shrug my shoulders, and continue living as I have been.
Even if the Bible is a myth, the truth that is contained within the Bible is some of the greatest truth that has ever been put onto paper. Even if the Bible is myth, the Bible is still true!
Let me put it another way. Would you say that Aesop’s Fables are true?
Well, of course they are true! But they are not “true” in that they did not actually happen in recorded history. In that sense, they are “myths.” They are “fables.” But they are some of the truest fables ever told for they provide insights into human activity, provide guidance on proper living, helping the reader make right choices.
The Bible, if it were myth, would function in a similar way.
The Bible is true, not so much because it is fact (which I believe to be true), but because it does what it claims to do, that is, change lives for the better. If you look at the history of humanity, the cultures and eras where lives have been affected most positively for the good are the cultures and eras where the Bible has been taught and followed.
Oh sure, there is great evil that has been done because of the Bible as well, but that is true of every holy book in existence, so in that regard, the Bible as a myth would be just like is just like any other myth-filled religious literature.
Is the Bible a MythBut when it comes to the positive benefits that have come to the world, it is an indisputable fact that great advances in medicine, science, equality, health, art, music, prosperity, longevity, and numerous other positive traits have existed most where the Bible is taught and followed best. And as cultures that have the Scriptures begin to abandon them (as is happening in Western culture), that society begins to degenerate once again toward lawlessness.
The Bible, if it were myth, would be the truest and most helpful myth ever written, and I will still read it, study it, teach it, and try to follow it… especially the parts about Jesus, for He (even if he didn’t really exist) represents the truest way to be human. Everybody recognizes this, even those who do not believe the Scriptures are true. Even atheists say that Jesus was a good man and provides a great example for people to follow. People who hate Christians and despise the church, still love Jesus and what He stood for.
So what would change in my life if the Bible was nothing but a myth? Nothing!
If the Bible was a myth, would your life change? Mine would not, for even if it was a myth, it would be the truest myth ever written.

This post was part of the April Synchroblog. Here is a list of other contributors. Go check them all out!

Which God Do You Know?

Which God Do You Know?

By
This is a Guest Post from Tyson Phillips. Tyson and his sister Tammy grew up in the Midwest. Tyson and his family now live discretely on the West Coast, very near a large orchid tree.
If you would like to write a guest post for this blog, check out the guidelines here.
Everybody thinks they know, love, and serve the “right” God. But do they? Which God do you know and serve?

The Angry God

angry godIn those writings most Christians refer to as the Old Testament, we find a God who bears a striking resemblance to the gods of the nations that surrounded ancient Israel. Anger him and you suffered (poor crops, infertility, death at the hand of the enemy, the earth opened and swallowed you). Please him and you were blessed (good crops, many children, victory in battle).
Dare to venture too close to that God and you would be struck dead. Remember the sons of Abinadab who touched the ark when the oxen stumbled (“the Lord almighty, who is enthroned between the chrerubim that are on the ark”), and were struck dead. Remember the Holy of Holies. Only the High Priest may enter, and then only under extremely restricted conditions. Any who violated those restrictions were struck dead.

The God of Love

Is it possible for us to see a God who by his actions said, “You don’t have it quite right. I am not exactly who you think I am. Therefore I will come and walk among you, heal your diseases and teach you who I really am”? The Jesus of the New Testament differs remarkably from the God portrayed in the Old Testament.
God of Love in Jesus Christ
Yet we believe God is unchanging. If that is the case, what must have changed is our understanding of God. Rather than a God who was supposedly behind everything bad that happened (dishing out punishment, judgment or whatever you want to call it), we find the God who loves, the God who freely gives grace and fellowship with himself.

Mixed Messages

We must remember that those who wrote the books of the New Testament had been schooled in the God of the Old Testament. Even those who had walked with Jesus had not forgotten that God. Do not vestiges of that God appear in their writings?
Do not vestiges of that God pop up even among modern-day Christians? We find the God who destroys cities with Hurricane Sandy, the God who kills millions with AIDS, the God who delivers devastation to individuals and families. We see the God who sends divine retribution our way because of our sin or supposed sin.

Which God Do You Know?

Is it possible that many if not most of these things are the direct or indirect result of the “sins” of people, whether it be personal sins, sins of others or collective sins?
I may not have caused my disease, but the people who many years ago buried toxic waste on empty land, land on which my house was later built, greedy people who did not want to pay for proper disposal of the waste, were responsible for my disease. I may not have caused the hurricane, but is it possible it was caused or at the least worsened by ignorant, greedy people who have so polluted our world that the very weather has changed?
Rather than blame God for every bad thing that happens to us and to our world, lay the blame where it really belongs, at our own feet. Do we really need to be protected from an angry God, or from ourselves?
Is God really the Angry God, or the God of love? Is this the God who slays us or the God who loves us, the distant God or God among us, the God of vengeance or the God of grace?
Which God do you know?

What if the Bible was Fiction?

What if the Bible was Fiction?

By
If you are a blogger, one of the keys to getting more traffic and readers is getting other bloggers to mention you and your blog on their websites. There are numerous ways of doing this, such as commenting on people’s blogs, writing Guest Posts, and joining blogchains and Synchroblogs.
My favorite Synchroblog is found at synchroblog.wordpress.com, and I participate every single month. This month’s topic looks particularly interesting, and I invite all bloggers to join in.
Here are the steps:
  1. Write a post about the topic by April 16th.
  2. Put up a link to your post on the Synchroblog website.
  3. When the link list is published, add it to your post.
  4. Interact with the other writers on their posts.
It’s that simple!
What? You don’t have a blog yet? Yikes! Start one today!
Here is why I am inviting you to participate this month. The topic is…

What if the Bible is a Myth?

Bible FictionHere is the description:
When I was young, I loved to play the ‘what if’ game.  It went like this:  I would imagine an unlikely scenario and present it to my mother to find out what she thought.  Since I had an active imagination, I engaged in this til I drove her to distraction and she would declare, “No more ‘what ifs’!!”  Now that I’m older, I’ve discovered there is a whole group of people who play the ‘what if’ game.  They’re called philosophers!
This month we invite you to play the ‘what if’ game with us.  Try to imagine that some or all of the Bible narrative is not necessarily true history, but is myth of one sort or another.  What sort of effect would that knowledge have on your faith?  What effect might it have on the larger church?  How would it change you?  Would it change you and how you view the world?
We recognize that this might make some or all of you uncomfortable and while we recognize the struggle involved with that sort of discomfort, please feel free to blog about that fact as well.  The ‘what if’ game can involve some prickly feelings and we welcome that as well.
I do not believe the Bible is a myth. To the contrary, I believe in the Bible is inerrant and historically accurate. However, I am excited to write about this topic as it is of particular interest to me, and I have written on the subject before.
If this topic interests you as well, make sure you join us for this month’s sychroblog! I am excited to read what you write.

Sabtu, 06 April 2013

Finding Easter with the Homeless

Finding Easter with the Homeless

By
Amazing grace,Easter with the Homeless
How sweet the sound.
That saved a wretch like me
I once was lost,
But now am found.
Was blind,
But now I see.
We spent Easter morning with the outcast — the lame, the halt, the thieves, the alcoholics, the drug-addicts, the murderers.
We climbed out of our warm beds and headed out into the streets laden with bags of clothes, food and water. We shared what we had with those who had slept under bushes, on the ground and any other place they could find.

Happy Easter!

“Happy Easter! Happy Easter!”
Almost every person greeted us with “Happy Easter!”
These are supposed to be the people who don’t know Jesus. Yet they know Jesus. They have seen Jesus walking among them. He has danced with them. He loves them. They like Jesus.
Jesus was with them in prison. He visited them there. He was with them in Southeastern Asia when they spent the years rotting away in bamboo cages lowered into holes. He was with them as they walked the streets of America, looking for a place to lay their head. They told us Jesus was with them.

Grace to the Homeless

“Grace. It’s all about grace. No matter had bad we screw up, God’s grace is still good. He never forgets us. He’s always there. He’s always been there for me. He’s been there the last eighteen years while I’ve traveled around the country. I don’t have a dime to my name, but I’ve got God’s grace. It’s all about grace. Don’t ever forget that.”
So said the man sitting on the sidewalk on Easter morning. The man with no home. The man with nothing. But he knows that Jesus lives!
“See this mark behind my ear,” said another. That’s where the VC shot me. The bullet came out through my nose. See this big white patch on my thigh” he said, pulling up his pant leg. “That’s where they got the skin to graft onto the left side of my face. Another bullet ripped a big hole there and they had to patch it. God got me through it and He’ll get you through whatever comes your way too.”
Easter with the Homeless

We Found Easter

We gave a cup of water, a warm coat, and we found Easter. The risen Jesus had been there. The risen Jesus was there, walking among those outcast and despised by the world. He too had been outcast and despised. He knows what it’s like. He walks among those He loves. They see Him. They see the One who was despised, rejected and afflicted. He is one of them.
He is risen!
He is risen indeed!
He walks among His people.
He loves us. Whether we’re thieves, adulterers, liars, cheats, gluttons, alcoholics or murderers, He loves us.
Whether we see Him in a fancy building with stained glass windows or dancing with us in the streets, He’s there. He’s alive.

Senin, 01 April 2013

THE LITTLE GIRLS THAT RAISED $300 TO STOP SLAVERY

My Daughters Raised $300 to Stop Slavery

By
MyersgirlsI am so proud of my three daughters… A daddy has got to boast a bit.
Each of them recently had birthdays, and for their birthday parties, they told their friends not to bring gifts, but to make donations instead to help rescue girls from slavery.
Altogether, they raised nearly $300!
The ministry we are sending the money to is Children’s Hope Chest. They work with children in many parts of the world, and one of the areas they specialize in is with rescuing children for the horrors of sex slavery. For example, they recently launched an effort in Moldova to provide a home and round-the-clock care for survivors of sex trafficking.
No, we haven’t told our daughters all the details about the girls they are helping to rescue, but we do talk about the history of slavery, and how there are more slaves today around the world than ever before, and how many of the slaves today are children and young girls. This is something they take quite seriously, and have been doing many things for the last four or five years to help in any way they can.
And they just gave up birthday presents, and raised $300 in the process. My girls are amazing.
To learn more about Human Trafficking and sex slavery, check out some of these posts:

Human Trafficking Posts

  1. Sex Slaves
  2. Would You Fight Slavery?
  3. Rescue Russian Sex Slaves
  4. Rescue Russian Girls from Sex Slavery
  5. Stop Her Nightmare
  6. Another Girl Rescued Today
  7. Girls for Sale
  8. Goal Reached!
  9. I Want to be a Prostitute
  10. $52,000 raised!
  11. 31 Million Sex Slaves
  12. Renting Lacy
  13. More Than Rice
  14. Human Trafficking Ring Busted
  15. The Other Big Game
  16. Sex Slavery, Planned Parenthood, and Your Tax Dollars
  17. How to Minister to Prostitutes
  18. Wisconsin Woman Held as Sex Slave in Brooklyn
  19. Coked-Up Whore
  20. Human Trafficking has Many Faces
  21. Into an India Brothel
  22. You Need a Girl?
  23. Human Trafficking Media
  24. The Son of God is Selling Children
  25. My Girls Raised $300 to help stop Human Trafficking