Tampilkan postingan dengan label Kesaksian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesaksian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Agustus 2009

REAL CITIES IN UNEASY TRUCE With TENT CITIES


REAL CITIES IN UNEASY TRUCE With TENT CITIES
-Naked Capitalism +WSJ. -Aug 11.

As the economy limps along, with jobs still falling (despite keen
efforts to call a turn, and with the figures a bit more dodgy if you
look under the hood), more and more overindebted and under-
employed citizens are out on the street.

Reports of tent encampments or parking lots with cars that serve
as shelter have been an occasional and sad sighting for more than
a year. What is new is that some cities, with their shelters at their
limits, have decided it is better to provide limited services to these
colonies than try to send the occupants away.

From the Wall Street Journal:

Last summer, police responding to complaints about campfires
under a highway overpass found dozens of homeless people living
on public land along the Cumberland River.

Eviction notices went up -- and then were suspended by Nashville
Mayor Karl Dean, a Democrat, who said housing for the homeless
should be found first.

A year later, little has been found -- and Nashville, with help from
local nonprofits, is now servicing a tent city, arranging for portable
toilets, trash pickup, a mobile medical van and visits from social
workers. Volunteers bring in firewood for the camp's 60 or so dwellers.

Nashville is one of several U.S. cities that these days are accom-
modating the homeless and their encampments, instead of
dispersing them...

In Florida, Hillsborough County plans to consider a proposal
Tuesday by Catholic Charities to run an emergency tent city in
Tampa for more than 200 people. Dave Rogoff, the county health
and services director, said he preferred to see a "hard roof over
people's heads." But that takes real money, he said: "We're trying
to cut $110 million out of next year's budget."

Ontario, a city of 175,000 residents about 40 miles east of Los
Angeles, provides guards and basic city services for a tent city on
public land.

A church in Lacey, Wash., near the state capital of Olympia,
recently started a homeless camp in its parking lot after the city
changed local ordinances to permit it. The City Council in Ventura,
Calif., last month revised its laws to permit sleeping in cars over-
night in some areas. City Manager Rick Cole said most of the car
campers are temporarily unemployed, "and in this economy,
temporary can go on a long time."...

In Nashville, Mr. Harris, director of the city's homeless commission,
said tent cities have existed for years, but he has seen the numbers
surge. He now knows of 30 encampments. While some people are
chronically homeless, he said, foreclosures have forced others into
the streets, as has Tennessee's 10.8% unemployment rate, the
highest in 25 years...

The city and local nonprofits have found permanent housing for
about 25 people from the tent city.

Many haven't been so lucky. David Olson, 47 years old, said last
week he and his wife wound up under the Nashville overpass after
he lost a job making cement pipes in Iowa four months ago. The
couple came to Nashville for a remodeling job that turned out to
be a scam. "I've got five years' experience in carpentry and 10
years' roofing and I can't find a job," he said.

Mr. Olson, his arms and shirt caked with dirt, said life is hard in
the swampy woods. The couple woke up to mud after a night of
rain. His wife said she is frightened by the dogs that roam around
the encampment.

As mosquitoes buzzed, they tried to set up camp on higher ground.
They struggled to secure a tarpaulin over their tent to keep out the
rain. Mr. Olson's wife, holding onto a pole to prop up the tarp,
cried. "I'm not used to living like this."

-From NAKED CAPITALISM - source-
http://www.nakedcapitalism.com/2009/08/real-cities-in-uneasy-truce-with-
tent.html

Original WSJ Article-
http://online.wsj.com/article/SB124994409537920819.html

Jumat, 13 Maret 2009

SHELLEY LUBBEN, MANTAN ARTIS PORNO & PELACUR


Shelley Lubben
Mantan Artis Porno dan Pelacur
Saya lahir tahun 1968, dan tumbuh di California selatan. Saya adalah yang tertua dari
tiga bersaudara, seorang anak berkemauan keras dengan kepribadian yang
“bersemangat”. 8 tahun pertama dalam hidup saya, keluarga saya menghadiri gereja
yang baik di mana saya belajar tentang Tuhan dan Yesus. Sebagai seorang gadis kecil,
saya mengenal dan sangat mengasihi Yesus.
Ketika saya berumur 9 tahun, banyak hal berubah di dalam keluarga kami. Kami pindah
ke Glendora, meninggalkan gereja dan sahabat-sahabat yang kami kenal dan cintai.
Kedua orang tua saya berhenti menghadiri gereja, dan perlahan-lahan keluarga kami
terseret menjauh dari Tuhan dan dari satu sama lain. Saya tumbuh tanpa hubungan yang
berarti dan intim dengan kedua orang tua saya, meskipun mereka bukan orang tua yang
jahat. Banyak dari waktu dalam keluarga kami, kami habiskan duduk di depan televisi.
Keluarga kami SANGAT SUKA menonton televisi. Saya masih ingat kebanyakan
episode dari televisi tahun 70 dan 80an. The Love Boat, Three’s Company, Star Trek,
Twilight Zone, Chips, I love Lucy (favorit kami), The Munsters, Carol Burnett show,
Gilligan’s Island, Bewitched, Bonanza, dan Happy Days. Singkatnya, saya dibesarkan
oleh televisi dan mulai mengembangkan cara berpikir yang salah dan berbahaya. Ibu
saya sering berkata bahwa, televisi adalah sebuah pengasuh bayi yang hebat.
Saat bertumbuh, saya berbeda dari anak-anak lain. Saya benar-benar kreatif, dan pada
usia yang sangat muda saya sudah mulai menulis puisi dan cerita pendek. Waktu itu
saya sangat frustrasi karena saya tidak memiliki tempat untuk mengarahkan energi
kreatif saya. Orang tua saya tidak mendaftarkan saya ke dalam kegiatan ekstrakulikuler,
dan dalam kebanyakan waktu saya, saya merasa sangat bosan. Pada umur 6 tahun, saya
menulis, menyutradarai, dan “membintangi” drama sekolah saya. Guru kelas satu saya
melihat kreativitas dalam diri saya. Dia memberitahu ibu saya bahwa dia terkagumkagum
dengan bakat saya, dan dia tidak sabar melihat saya di usia saya yang ke-30. Dia
percaya saya bisa menjadi artis Hollywood atau produser film.
Saya ingat juga waktu itu saya seorang yang aneh, karena saya mulai masturbasi dan
memiliki tendensi seksual pada usia yang sangat muda. Mata saya dibukakan terhadap
seksualitas oleh seorang gadis remaja dan saudara laki-lakinya ketika umur saya 9
tahun, dan mulai saat itu mengalami perlakuan seksual dengan perempuan dan laki-laki
sebelum saya berumur 18 tahun. Seks menjadi sesuatu yang membingungkan untuk
saya. Seks berarti “cinta” untuk saya karena enak rasanya merasa dibutuhkan dan
diingini oleh orang lain dan menerima perhatian, tapi pada saat yang sama saya merasa
kotor. Saya tidak sadar pada saat itu, sebagai seorang anak kecil, saya sedang diperkosa
secara seksual.
Sebagai seorang remaja, saya mencari cinta dari laki-laki dan alkohol, dan mulai
berhubungan seks di usia 16 tahun. Usia remaja saya dipenuhi dengan teriakan-teriakan
dan pertengkaran yang konstan dengan kedua orang tua saya. Saya punya seorang ibu
yang marah pada saya sepanjang waktu, dan seorang ayah yang terlihat terlalu sibuk
berteriak menegur saya karena sikap saya yang tidak sopan terhadap ibu saya, dibanding
membangun hubungan ayah-anak yang berkualitas dengan saya. Aku tidak ingat
seorangpun mengatakan “aku mengasihimu” dalam tahun-tahun itu. Kedua orang tuaku
tidaklah jahat, tapi aku merasa mereka tidak tertarik denganku, dan aku menjadi seorang
remaja pemberontak yang bertingkah aneh untuk mendapat perhatian. Tapi bukannya
mendapat perhatian mereka, orang tuaku malah memilih tinggal diam di rumah. Begitu
apatisnya mereka, saya diperbolehkan melakukan hal-hal seperti berpakaian kostum
kelinci playboy pada usia 15 tahun. Saya diperbolehkan mengencani pria-pria yang
mereka tidak kenali. Pada usia 15 tahun saya diperbolehkan pergi ke sebuah malam
prom dengan seorang laki-laki berumur 18 tahun, yang akhirnya membuat saya mabuk
untuk pertama kalinya. Kejadian ini memulai gaya hidup berpesta untuk saya, dan saya
memulai nongkrong di klub malam, menggunakan narkotika, di usia 16 tahun. Orang
tua saya tahu saya punya masalah alcohol, tapi mereka tidak tahu apa yang harus
mereka perbuat. Mereka mencoba konseling keluarga, tapi ayah terlalu “sibuk” bekerja
dan hanya berhasil datang satu kali. Jadi saya pergi mencari keluarga baru dan
menemukan “cinta” di kerumunan yang salah, minum alkohol dengan dosis yang
teratur, dan mulai merokok ganja. Orang tuaku melalui kesedihan yang dalam karena
tindakan-tindakanku, dan akhirnya – di batas kesabaran mereka – mengusir saya dari
rumah di usia saya yang ke-18.
Saya berakhir di San Fernando Valley tanpa uang dan makanan. Seorang pria “baik”
melihat saya kesulitan dan mengatakan betapa dia mengasihani saya. Dia melingkarkan
lengannya di sekeliling saya dan menawarkan bantuan. Tapi kemudian dia mengatakan
pada saya dia mengenal seorang pria yang ingin berhubungan seks dengan saya dan
akan memberi saya uang. Saya masih sangat terkejut dan penuh kemarahan karena
orang tua saya mengusir dari rumah, sehingga saya tidak peduli lagi dan menerima
tawarannya. Saya menjual diri seharga 35 dollar dan hidup saya sebagai pelacur dimulai
dari situ.
Tidak lama aku bertemu seorang ibu yang memperkenalkanku pada sisi “glamour” dari
pelacuran. Dia mengajariku setiap trik pelacuran dan cara memanipulasi pria. Awalnya
terlihat menarik dengan pria-pria memberiku uang, perhiasan, dan hadiah-hadiah, tapi
tidak lama hidup saya terasa seperti perbudakan. Saya menemukan diri saya melakukan
seks yang aneh dengan orang asing dan mulai membencinya. Pelanggan mulai
melakukan hal-hal menyeramkan seperti menyobek kondom dengan sengaja atau
mengikuti saya kemana-mana. Lainnya mencoba membunuh saya dan menabrak saya
dengan truknya. Pria lain membawa pistol kapanpun ia bersama saya dan mengancam
akan membunuh saya kalau saya tidak melayaninya dalam posisi-posisi seks tertentu.
Pria-pria menuntut dan terus meminta dari saya dan saya terus menerus mesti
berbohong untuk keluar dari situasi-situasi yang menakutkan. Saya menjadi seorang
pembohong professional dan dapat benar-benar berbohong untuk melicinkan jalan saya.
Saya bahkan bisa berbohong pada polisi untuk keluar dari tuntutan mengemudi mabuk,
dan beberapa pengalaman mengerikan lainnya. Ini adalah standar untuk industri seks
dan alat meloloskan diri paling utama untuk setiap penari telanjang, pelacur, atau artis
porno.
Gaya hidup dalam industri seks menjadi semakin buruk bagi saya dan saya merasa tidak
ada jalan kemanapun untuk lari. Yesus terus mengetuk pintu hati saya tapi saya tidak
menghiraukan-Nya. Saya berpikir, Tuhan tidak memelihara saya, jadi saya harus
melakukan apa saja yang bisa saya lakukan untuk bertahan hidup sendiri.
Siklus ganas sebagai seorang pelacur dan penari eksotik di California selatan bertahan
selama delapan tahun. Selama bekerja sebagai pelacur, saya hamil tiga kali dari
pelanggan dan hal itu menghancurkan saya. Jutaan pertanyaan muncul dalam pikiran
saya setiap kali. Bagaimana saya membiarkan hal ini terjadi? Bagaimana saya akan
merawat bayi ini? Haruskah saya aborsi? Kemana saya harus mencari bantuan? Saya
bahkan tidak tahu siapa ayah-ayah dari dua kehamilan. Kemudian saya mengingat
Yesus dan saya meminta-Nya, “Tolong saya”. Tuhan menghibur saya dan saya tahu
saya tidak bisa membunuh dan akhirnya saya menjaga bayi saya. Dua dari kehamilan itu
gugur karena tidak terawat, tapi salah satunya berhasil dan saya punya putri pertama
saya, Tiffany, di usia saya yang ke-20. Tiffany memiliki darah Asia dan sangatlah
cantik. Saya mencoba kembali untuk hanya melakukan tari eksotik, tapi pelacuran terus
menghantui saya dan godaannya sulit untuk ditolak, apalagi untuk seorang orang tua
tunggal.
Setelah beberapa tahun membesarkan anak seorang diri dan bekerja sebagai seorang
pelacur dan penari, saya mulai minum alkohol secara berlebihan dan mulai bergantung
pada alkohol dan narkotika. Tiffany tumbuh sebagai seorang gadis kecil yang sedih, dan
kepolosannya terkadang dinodai. Ketika dia tumbuh semakin besar, dia sadar akan
keberadaan pria-pria aneh yang “mengunjungi” saya dan memarahi saya. Saya
memaksanya bersembunyi di kamarnya sementara saya “menghibur” pelanggan. Dia
juga melihat saya dengan hubungan yang “aneh” dengan wanita-wanita. Dia tidak
benar-benar mengerti semua itu, tapi jelas dia tahu bahwa dia hidup dengan seorang
perempuan liar yang cabul. Ketika itu saya merupakan seorang ibu yang buruk, saya
biasa memberinya pager dan menyuruhnya pergi ke taman sementara saya melacur.
Umurnya baru empat tahun.
Saya mulai melihat diri saya sendiri sebagai sebuah kegagalan total. Saya kehilangan
semua harga diri dan membenci diri saya sendiri sebagai seorang ibu yang buruk. Saya
sangat lelah selalu mencoba untuk bertahan hidup. Tidak pernah ada istirahat dari gaya
hidup itu. Pria-pria mengikuti saya pulang, menyayat ban mobil saya, menelepon saya
setiap saat, datang mabuk di tengah malam, dan bahkan mencoba membunuh saya.
Untuk bisa berfungsi, saya selalu bergantung pada sebotol besar Jack Daniels di tangan.
Kadang saya akan duduk di sudut dengan botol saya dan dalam keadaan mabuk total
menangis pada Yesus, “Saya mohon, tolong saya!”, tapi sepertinya Dia tidak ada di
sana. Entah mengapa saya selalu merasa ada “perlindungan” aneh di sekeliling saya.
Seiring dengan perjalanan menyakitkan saya berlanjut, saya mulai terlibat dalam
industri film porno. Saya pikir saya bisa mendapat uang yang mudah dan cepat, juga
film porno terlihat lebih aman dan legal dibanding pelacuran. Banyak pelacur yang saya
kenal diperkosa dan dikirim ke penjara, dan saya tidak mau hal itu terjadi pada saya.
Juga dalam waktu itu, saya benar-benar seorang pecandu berat alkohol dan narkotika
dan tidak mampu mengambil keputusan yang rasional.
Ketika saya membuat film porno saya yang pertama, sesuatu yang sangat “gelap”
datang pada saya. Saya hampir bisa mendengar iblis berkata, “Lihat Shelley, aku akan
membuat kamu terkenal dan KEMUDIAN semua orang akan mencintai kamu.” Sebuah
kekuatan aneh yang sangat besar membuat saya mampu berhubungan seks dengan
penuh semangat, hanya untuk kemudian ‘jatuh dari ketinggian’ dan hancur, merasa
dipermalukan dan dilecehkan. Saya menyukai perhatiannya, tapi membenci diri saya
sendiri dalam saat yang sama. Saya suka mendengar betapa hebatnya saya ‘tampil’, tapi
saya juga benci seks yang begitu brutal. Saya mulai membintangi film-film seks yang
lebih brutal, dan hanya dengan menggunakan lebih banyak alkohol dan narkotika saya
berhasil melakukannya. Saya merasa seperti saya harus membuktikan sesuatu pada
dunia dan semua orang yang pernah menyakiti saya. Dan ketika industri pornografi
membuka lengan besar mereka dan mengundang saya ke dalam sebuah “keluarga”,
akhirnya saya merasa diterima. Tapi harga yang saya bayar untuk “keanggotaan”
keluarga itu adalah hidup saya sendiri. Saya menjual apa yang tersisa dari hati, pikiran,
dan femininitas saya pada industri pornografi, dan wanita dan sisi manusia dari saya
mati sepenuhnya dalam studio pornografi.
Saya juga berisiko terinfeksi vĂ­rus AIDS seperti bintang porno lainnya. Saya bermainmain
dan mempertaruhkan hidup saya dalam bahaya. Industri pornografi tidak dan
TIDAK AKAN PERNAH mendukung penggunaan kontrasepsi dalam film-filmnya, jadi
penyakit menular seksual dan HIV sejak dulu masih merupakan resiko antara artis dan
actor film porno. Bulan Mei 2004, Lembaga Medis Industri Pornografi (Adult Industry
Medical Foundation - AIM), yang menawarkan tes sukarela bulanan untuk bintang
porno bagi HIV, mengumumkan bahwa lima “aktor” pornografi telah diperiksa positif
atas virus AIDS. Saya lebih beruntung dari aktor-aktor itu. Tuhan tidak mengijinkan
HIV menjamah saya. Bagaimanapun, saya terjangkit herpes, penyakit menular seksual
lainnya yang tidak dapat disembuhkan. Saya ingin bunuh diri. Waktu saya mendapat
herpes, tidak ada yang menolong saya. Tapi sejak AIM terjun ke lapangan, organisasi
ini mengklaim telah menurunkan beberapa penyebaran HIV di industri pornografi dan
meningkatkan kewaspadaan di antara para pelaku film. Tapi kebenaran itu tetap tinggal,
aktor porno terus membahayakan hidup mereka dan menyebarkan penyakir. Dalam
sebuah wawancara dari Court TV dengan penemu AIM, Sharon Mitchell, juga seorang
mantan artis porno, mengakui bahwa di antara aktor porno dewasa ini terdapat “7%
HIV, dan 12-28% penyakit menular seksual. Herpes selalu berada di sekitar 66%.
Mereka diobati dengan acyclovir untuk herpes, yang sangat efektif untuk mencegah
penularan herpes. Chlamydia dan gonorrhea, akan tetapi, seperti hepatitis, sepertinya
menempel pada segala sesuatu mulai dari dildo ke permukaan rata sampai tangan, jadi
biasanya kami sudah habis akal menangani Chlamydia.” Itu merupakan kata-katanya
sendiri dan wawancaranya dapat ditemukan di
http://www.courttv.com/talk/chat_transcripts/2001/0723mitchell.html
Tidak ada yang lebih menghancurkan dari menerima hasil positif untuk sebuah
penyakit menular seksual yang tidak dapat disembuhkan. Waktu itu aku ingin
mengakhiri hidupku.
Saya menelan banyak pil-pil berharap saya overdosis, dan mengiris pergelangan tangan
saya, tapi tampaknya apapun yang saya lakukan, saya tidak bisa mati. Rasa sakit itu
benar-benar membanjiri, dan suasana hati saya benar-benar tidak stabil. Satu menit saya
berjalan seperti mayat hidup dan menit berikutnya saya marah besar, berteriak dan
memecahkan barang-barang. Saya marah terhadap Tuhan, membenci diri saya sendiri
dan orang tua saya. Hanya alkohol dan narkotika dapat meringankan rasa sakit saya.
Saya memanggil Yesus untuk menolong saya dan mencoba meninggalkan pola hidup
saya yang berantakan, tapi tidak sampai seminggu saya sudah kembali lagi. Saya
kehilangan semua harapan dan membenci hidup saya. Saya benar-benar tanpa harapan,
dan hidup benar-benar tanpa arti. Setelah terinfeksi dengan herpes, perlahan-lahan saya
meninggalkan industri pornografi tapi kembali melacur untuk tetap hidup.
Tahun 1994 saya bertemu seorang pria bernama Garrett. Seorang pria berusia 22 tahun
dan begitu polos dibandingkan dengan saya. Saya memberitahunya ia harus membayar
untuk mengencani saya. Ia berpura-pura membutuhkan “pelayanan” saya untuk sebuah
pesta bujangan jadi saya memberinya kartu nama. Ia sering menelpon saya tapi saya
terus berkata tidak. Saya tidak mampu memulai hubungan normal karena hati saya
benar-benar hitam dan dingin terhadap semua laki-laki. Namun kemudian, karena
alasan-alasan Tuhan, saya mengubah pikiranku dan pergi bersamanya. Dengan cepat
kami menjadi sahabat. Ketika saya menghabiskan waktu bersama-sama, hati saya yang
hitam dan terluka mulai bisa merasakan lagi. Saya ingat benar-benar merasakan rasa
sakit secara fisik di hati saya ketika Garrett mencoba mendekati saya. (Lihat akhir film
kartun Grinch ketika hatinya mulai tumbuh, dan seperti itulah saya.)
Saya mencoba menjaga hubungan kami tetap jauh, tapi sulit karena Garrett membuat
saya merasa seperti gadis kecil lagi. Dia akan datang ke rumah dan kami akan merokok
ganja bersama dan bermain catur dan kartu selama berjam-jam. Waktu itu kami seperti
dua anak kecil sedang bersenang-senang. Saya tidak pernah merasa “senang” sejak
masa kecil saya. Garrett dan saya bisa membicarakan apa saja, dan satu hari kami
membicarakan Yesus. Kami berdua tumbuh sebagai anak-anak yang mengasihi dan
mengenal Yesus Kristus. Saya belajar bahwa Garrett tumbuh di sebuah keluarga Kristen
dan dibesarkan dididik di sekolah Kristen. Untuk dua orang yang bertemu di bar, ini
adalah sebuah “kebetulan” yang luar biasa. Saya membuka hati tentang trauma yang
saya alami, dan ia mendengarkan dan ada bagi saya. Ia tahu saya pernah terlibat dalam
industri pornografi dan pelacuran, tapi dia benar-benar bersedih bagi saya. Ia berkata ia
mau menyelamatkan saya. Saya tidak pernah bertemu pria seperti Garrett. Ia melihat
sesuatu dalam diri saya yang tidak dilihat orang lain. Ia seorang sahabat bagi pelacur,
seperti Yesus. Kami tahu Tuhan sedang bekerja dalam hidup kami, jadi kami kembali
kepada Yesus dan menikah tanggal 14 Februari 1995.
Hidup baru kami dimulai sebagai kekacauan besar. Garrett kehilangan pekerjaannya
setelah kami menikah karena ia tertangkap basah menggunakan narkotika di tempat
kerja. Kami harus pergi ke departemen sosial dan menerima bantuan finansial. Semua
menjadi semakin buruk dan godaan untuk saya kembali ke gaya hidup yang lama benarbenar
menggoyahkan. Tapi Tuhan punya ide yang lebih baik. Garrett bergabung dengan
angkatan bersenjata.
Setelah pelatihan dasar, Garrett kembali sebagai pria yang baru, bebas dari
ketergantungan narkotika dan akan dipromosikan ke basis militer Fort Lewis di Negara
bagian Washington. Saya hamil dan melahirkan Teresa di tahun 1997. Saya bisa lepas
dari alkohol selama hamil tapi segera kembali setelahnya.
Setiap kali saya menggendong bayi baru saya, saya teringat kembali betapa tertolaknya
saya oleh orang tua saya dan semua pria dan wanita yang telah melecehkan saya. Tuhan
membangkitkan memori itu agar Ia dapat menyembuhkan saya, tapi bagi saya rasa sakit
itu tidak tertahankan. Akhirnya saya lari kembali ke alkohol. Tapi rasa sakit itu menjadi
semakin buruk sehingga saya pergi mencari pertolongan ke klinik kesehatan mental
militer dan di-diagnosis mengidap bipolar disorder, kesalahan pada pengaturan detak
jantung, ketergantungan alkohol, depresi, dan stress pos-traumatik. Saya diberikan
zoloft, pil tidur, lithium dan waktu konseling. Saya diberikan video untuk melatih saya
mengontrol kemarahan saya, yang malah membuat saya semakin marah ketika
menontonny! Saya sudah melalui program-program inti dari angkatan bersenjata tapi
tetap ketergantungan saya tidak hilang. Saya juga didiagnosis mengidap kanker tengkuk
yang harus segera dioperasi. Konsekuensi masa lalu saya mengejar-ngejar saya. Saya
ingin menyerah saja. Tidak ada yang berhasil!! Tapi Tuhan punya rencana yang lebih
baik.
Tuhan memimpin Garrett dan saya menghadiri sebuah gereja luar biasa bernama
Champions Centre di Tacoma, Washington di mana kami diajar menjalani hidup seperti
seorang pemenang. Gereja ini dikenal karena membangun hidup berkemenangan
melalui kebijaksanaan Firman Allah. Saya diajar untuk hidup dengan percaya, bahwa
saya dapat melalui APA SAJA karena dengan Tuhan TIADA YANG MUSTAHIL.
Bersama Tuhan, saya sudah diampuni total dari segala dosa saya dan diberi kesempatan
untuk bertumbuh menjadi seseorang yang baru tanpa harus menjadi sempurna dulu.
Benar-benar melegakan! Saya belajar bahwa Tuhan mengasihi saya tanpa syarat, tidak
peduli masa lalu saya, dan bahkan Ia punya rencana untuk masa depan saya. Tuhan
punya rencana untuk hidup saya? Saat itu saya merasa seolah-olah seseorang telah
menyalakan lampu di hidup saya yang selama ini gelap.
Di bulan November, 1999, saya melahirkan Abigail, dan meskipun saya minum alkohol
selama kehamilan saya, Tuhan membiarkannya hidup. Setelah ia lahir, Tuhan
AKHIRNYA menjawab doa-doaku dan mengangkat ketergantunganku terhadap
alcohol. Saya bersih tanggal 9 April 2000, dan itu adalah waktu yang sangat spesial bagi
hidup saya. Saya mulai lapar untuk mengenal Tuhan lebih lagi, dan giat belajar
bagaimana menjadi wanita yang “normal”. Saya mulai membaca buku tentang
bagaimana menjadi ibu dan istri yang baik, dan bagaimana memasak dan mengurus
rumah saya. Saya memperhatikan wanita-wanita lain bagaimana mereka mencuci
pakaian, bagaimana mereka berpakaian, dan bagaimana mereka berbicara terhadap
suami dan anak-anak mereka. Bertahun-tahun saya memasang telinga KEMANA SAJA.
Saya bisa berdiri di bagian penjualan daging di sebuah super market dan mendengarkan
ibu di dekat saya menjelaskan bagaimana membuat daging panggang, dan langsung
pulang ke rumah dan mencobanya! Sering saya berlama-lama di super market hanya
untuk belajar!! Harfiahnya, saya mungkin punya lebih dari 100 mentor yang saya
sendiri bahkan tidak tahu betapa mereka telah membantu saya. Saya harus mengulang
SEMUANYA dari nol dan belajar bagaimana menjadi seorang normal yang hidup di
lingkungan normal, jadi saya mengelilingi diri saya dengan orang-orang unggul untuk
belajar dari mereka.
Saya juga mempraktekkan prinsip-prinsip Allah dalam segala sesuatu yang saya
lakukan dan saya mulai merasakan sukacita sejati untuk pertama kali dalam 13 tahun
terakhir!! Tuhan juga membantu saya belajar mendesain web, membuat saya merasa
berhasil dan dapat menggunakan kreativitas saya. Saya sudah memiliki dan
mengoperasikan bisnis desain web saya selama 4 tahun. Saya juga mulai menghadiri
universitas, dan sekarang saya hampir menjadi seorang sarjana muda Teologia.
Karena saya memilih mengikuti Dia segenap hati, Dia memberkati segala sesuatu yang
saya sentuh tepat seperti yang dijanjikan-Nya dalam firman:
Yoh 13:17 Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika
kamu melakukannya.
Setelah hari pertama saya melangkahkan kaki saya ke Champion center dengan hati
yang luka dan hidup yang berantakan, delapan tahun kemudian saya berjalan keluar
sebagai seorang wanita pemenang (champion) yang disembuhkan dan bersemangat akan
hidup saya! Tuhan secara total melepaskan saya dari narkotika, alkohol, memori yang
sakit, penyakit mental, kecanduan seks, trauma seksual, dan rasa bersalah dan rasa malu
dari masa lalu saya. Tuhan mengambil saya keluar dari hidup saya yang lama,
menawarkan sebuah hidup baru, dan meskipun pada awalnya saya tidak bisa
melihatnya, saya menyerahkan hidup saya dan mempercayai-Nya. Itu adalah keputusan
terbaik yang pernah saya ambil!
Tuhan juga memulihkan kewanitaan saya dan menyembuhkan seksualitas saya, yang
merupakan suatu mukjizat besar bagi saya. Setelah melacur dan terjun ke dalam dunia
pornografi, saya kehilangan fungsi saya secara seksual. Fakta bahwa saya dapat
menikmati hubungan intim yang sehat sekarang ini, nyata merupakan sebuah mukjizat.
Tuhan juga menyembuhkan saya dari penyakit herpes yang menurut manusia tidak
dapat disembuhkan. Waktu saya menjadi objek pembelajaran angkatan bersenjata untuk
wanita hamil yang menderita herpes pada tahun 1996, saya diperiksa dan mereka
berkata saya tidak bisa ikut dalam program itu, karena tidak ada virus herpes dalam
darah saya. Hasil tesnya negatif! Saya juga bebas dari kanker karena dokter-dokter
berhasil membuang semua kanker tengkuk saya. Dialah Jehovah-Rapha, Allah yang
menyembuhkan kita!
Tuhan juga menyembuhkan pernikahan kami dengan cara yang luar biasa. Garrett dan
saya memiliki hubungan cinta yang indah dan penuh warna! Baca cerita kami yang
LUAR BIASA di sini.
Tuhan telah melakukan lebih banyak mukjizat lagi di dalam keluarga saya sendiri.
Garrett memiliki pekerjaan yang hebat sehingga saya bisa tinggal di rumah, menjadi ibu
yang baik, juga melakukan pelayanan. Tiga putri-putri pemenang kami dibesarkan
dengan iman dan kasih terhadap Yesus Kristus, dan mereka menghadiri sekolah Kristen.
Tiffany, putri saya yang paling tua, yang sekarang berumur 18 tahun, telah mengampuni
saya dan memberi saya kesempatan menjadi ibu yang bijak baginya. Ia telah melewati
banyak hal dalam hidupnya dan sekarang membagikan kesaksiannya dengan banyak
orang untuk menginspirasi dan menguatkan mereka. Saya SANGAT bersyukur saya
tidak melakukan aborsi, karena Tiffany adalah seorang wanita yang cantik dan brilian
yang punya begitu banyak talenta dalam hidupnya. Ia sangat berbakat secara musikal
dan dapat memainkan beberapa instrumen. Tiffany juga merasa Tuhan memanggilnya
untuk menjangkau kaum muda yang terluka dan akan memimpin forum remaja di situs
ini. Kerinduannya adalah masuk universitas dan mengambil gelar dalam bidang
konseling, jadi ia dapat menggunakan pengalaman masa lalu dan pendidikannya untuk
menjangkau kaum muda di tengah kesulitan mereka.
Seperti Anda lihat, Bapa sudah bekerja begitu luar biasa dalam hidup saya dalam dua
belas tahun terakhir. Saya memang harus melewati delapan tahun pemulihan. Saya
harus membuat pilihan memulai kembali hidup saya dan percaya apa yang Tuhan
katakan pada saya, bukan kebohongan-kebohongan dari iblis atau kebohongan tentang
gambar diri saya yang sudah rusak. Tuhan menjadi Bapa sejati saya, dan Dia mengajar
saya bagaimana mengasihi, mengampuni, dan memiliki gambar diri saya di dalam Dia,
bukan masa lalu saya. Saya juga belajar bagimana memiliki hidup yang sukses dengan
mempraktekkan prinsip-prinsip Tuhan dalam segala sesuatu. Apapun yang Firman
Tuhan katakan, itu pasti bagi saya. Saya menjadi ciptaan yang baru dan kuat melalui
kuasa Yesus Kristus, Pemenang sejati yang sudah mengubah hidup saya!
Tuhan sekarang mengirim saya dengan sebuah pesan pada dunia betapa riil-nya kasih-
Nya yang luar biasa itu. Bagaimana Ia sudah menciptakan setiap kita serupa dengan
gambarnya, dan betapa kita begitu dikasihi dan diterima.
Bagaimana Ia mengirim Anak-Nya Yesus Kristus untuk membebaskan kita dari
narkotika, alkohol, keterikatan seksual, penolakan, dan semua kebohongan iblis. Saya
bangga menunjukkan pada dunia, bahwa YA, Tuhan mengambil seorang bintang porno
dan pelacur dan menjadikannya Pemenang. Tuhan adalah Bapa terbaik, dan Ia ingin
semua anak-anak-Nya menemukan jalan pulang kepada-Nya supaya Ia dapat
menyembuhkan mereka dan menjadikan mereka Pemenang-pemenang. Tapi pilihannya
ada di tangan ANDA.
Saya juga ingin semua orang tahu bahwa apapun yang Tuhan lakukan bagi saya, Ia akan
melakukannya bagi Anda. Dan Ia akan melakukan ini karena Ia MENGASIHI Anda dan
mengirimkan anak-Nya Yesus Kristus untuk memberimu hidup yang baru. Yang perlu
kita lakukan adalah datang pada Yesus dan belajar dari-Nya.
Mat 11:28 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku
akan memberi kelegaan kepadamu.”
Inginkan Anda memiliki ketenangan dalam jiwa Anda? Saya ingin. Dulu saya sakit dan
lelah diombang-ambingkan hidup. Saya lelah harus bertarung untuk hidup setiap hari.
Saya hanya ingin merasakan damai dan menemukan kasih sejati tapi dunia tidak bisa
memberi itu bagi saya. Saya sudah mencari kasih dalam laki-laki, benda material,
ketenaran dan kekayaan, dalam narkotika dan alcohol dan saya MASIH KOSONG.
Yang saya inginkan dulu hanyalah kehidupan yang normal. Sampai saya menemukan
kebenaran:
Yesus datang untuk memberimu hidup dalam segala kelimpahannya
(Yohanes 10:10).
Dan tentu saja, SAYA AKHIRNYA menemukan kehidupan yang selalu saya inginkan.
Mengapa Anda tidak menaruh kepercayaan Anda pada Tuhan dan Anak-Nya Yesus
Kristus, dan segera mengalami hidup berkelimpahan itu? Mungkin tidak akan terjadi
dalam satu-dua hari, tapi saya berjanji, itu PASTI terjadi. Saya tahu karena hal ini
terjadi bagi saya. Sayalah bukti hidup bahwa Tuhan itu ada, bahwa Ia mengasihi ANDA
tidak peduli apa yang sudah Anda lakukan, dan Ia punya rencana yang sempurna dan
tujuan bagi hidup Anda.
Klik di sini untuk mempelajari lebih lagi tentang Tuhan dan kasih-Nya yang luar biasa
untuk Anda.
Shelley, seorang sahabat yang mendukung anda.
Secara pribadi saya ingin mengucapkan “Terima Kasih” untuk begitu banyak orang
yang telah membantu pemulihan saya:
Pastor Kevin dan Sheila Gerald di www.championscentre.com – Untuk
mengajari saya kebijaksanaan dan menjadi seorang pemenang dalam hidup.
Dapatkan pengajaran mereka yang luar biasa di www.kgcmedia.com.
Patricia dan Argis Hulsey – Untuk mempercaya saya, mendukung saya, dan
kesempatan yang kalian berikan untuk mulai melayani di penjara. Mereka juga
dua orang tua “spiritual” terbaik yang dapat saya miliki.
Nuggie Lubben – Untuk sudah menjadi seorang ibu mertua yang luar biasa. Ia
mengajar saya bagaimana menjadi ibu yang hebat dan semuanya, mulai dari
mencuci pakaian, menyetrika, sampai berkebun! Terima kasih, Mama!
Kedua orang tuaku – Untuk mengasihi saya dan mengizinkan saya membagi
cerita “kita” dengan dunia. Terima kasih sudah mengampuni saya dan memberi
saya kesempatan kedua menjadi putri kalian. Saya mengasihi kalian, Mama dan
Papa!
Saudara laki-laki saya Chris – Untuk mengampuni saya dan memberi saya
kesempatan menjadi seorang saudara perempuan yang benar, yang selalu saya
rindukan. Kamu memiliki hati yang luar biasa dan roh yang indah. Saya ingin
terus bekerja denganmu dan sesama pekerja lainnya dalam Kerajaan Allah. Saya
mengasihimu Chris.
Saudara perempuan saya Stacy – Untuk mendoakan saya bahkan ketika saya
tidak layak menerimanya. Saya tahu waktu-waktu lalu tidaklah mudah. Saya
mengasihimu! Saya juga berdoa Tuhan akan terus memulihkan hubungan kita
menurut kehendak-Nya.
Nenekku yang berketurunan Italia, Nonnie – Yang mempercayai saya ketika
tidak ada seorangpun yang mempercayainya. Yang melihat emas dalam diri saya
bahkan ketika sinarnya tersembunyi. Ia berpesan ketika saya masih kecil bahwa
saya dapat melakukan apapun kalau saya sungguh-sungguh. Ia tidak akan pernah
tahu berapa kali ia sudah menyelamatkan hidup saya. Ia adalah seoarang
Pemenang sejati.
Putriku Tiffany – Untuk mengampuni saya dan mengizinkan saya bertumbuh
dan menjadi seorang ibu yang bijak baginya. Terima kasih untuk kesempatan
mengasihimu dan menjadi bagian dari hidupmu. Terima kasih untuk
menunjukkan kasih Kristus ketika Mama tidak punya siapa-siapa. Terima kasih
untuk tidak mengizinkan masa lalu mengikatmu tetapi memilih berlari sebagai
Pemenang. Mama sangat bangga terhadapmu, betapa hari ini kamu sudah
menjadi seoarang wanita yang luar biasa!
Dan terima kasih yang sangat istimewa untuk suamiku Garrett – Terima
kasih telah menjadi Hosea, Yesus, dan Abraham bagiku. Kepedulianmu
terhadap seorang pelacur hari ini berbuah, membangkitkan wanita terhormat
yang ada di dalamnya. Kamu beriman dan mempercayai Tuhan akan mengubah
situasi yang sulit. Kamu rendah hati, sabar, tahan menderita, dan lembut
terhadap wanita terluka yang memerlukan lingkungan yang aman untuk sembuh.
Kamu lebih dari pemenang. Aku bedoa aku terus dapat menjadi wanita
impianmu.

Sabtu, 19 Januari 2008

THIS IS MY STORY


THIS IS MY STORY (INI KISAHKU)Hai nama saya, Dave Broos, terlahir di kota Bandung, 24 September 1969. Nama saya terdengar asing mungkin di telinga orang Indonesia. Mengapa sedikit asing terdengar, apakah saya orang "bule"? Tidak sepenuhnya benar, namun saya adalah anak peranakan, mama saya adalah seorang peranakan Belanda-Ambon sedang ayah kandung saya merupakan keturunan Tionghoa. Sejak saya berada dalam kandungan mama, pria kekasih mama yang seharusnya jadi papa saya telah melarikan diri dengan wanita lain…oleh sebab itu saya adalah anak yang lahir di luar pernikahan. Orang menamakan anak-anak yang terlahir seperti saya sebagai "anak haram". Suka atau tidak itu merupakan bagian hidup yang tidak dapat disangkali dan dihindari. Oleh sebab itu nama keluarga yang saya sandang adalah nama keluarga mama. Di rumah saya biasa dipanggil Dave. Meski saya dibesarkan hanya oleh mama saja tetapi hidup saya tidak begitu buruk sebab di rumah ada opa dan oma ditambah adik mama saya, seorang oom yang keren.Namun semua mulai berubah ketika opa meninggal dunia, oma saya pindah ke negeri Belanda dan mama menikah. Saat itu usia 10 tahun, saat mama menikah dan saya mengalami "shock" dengan cara papa tiri saya membesarkan saya. Nilai-nilai dalam melihat kehidupan dan cara membesarkan anak sangat berbeda dengan pola yang selama ini saya dapat dari oma. Ya, saya lebih dekat dengan oma, sebab mama saya harus bekerja di sebuah perusahaan farmasi, PT Tempo. Hingga timbul pemberontakan dalam diri saya, sebagai contoh oma saya tidak pernah mempergunakan kata-kata negative dan cara-cara negative saat beliau marah dan hendak mendisiplin saya, namun "papa" melakukan hal-hal seperti itu, seperti mengatai saya "anak haram jadah" atau "anak berandalan" dll. Saat itu saya marah dan kecewa pada mama, namun tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Sebelum oma saya pergi meninggalkan kami, saya dikenal anak yang penurut, tidak suka kekerasan dan selalu berpegang pada tata tertib/peraturan baik di rumah maupun di sekolah namun setelah pernikahan mama itumerupakan "turning point" hidupku masuk ke dalam dunia yang kelam akibat kekecewaan terhadap orangtua.Saat itulah saya mulai menerima ajakan teman-teman saya di kelas untuk mulai merokok, melihat gambar porno, ikut berkelahi dengan sekolah yang bertetangga dengan sekolah kami, mulai coba menegak minuman keras….itu semua saya lakukan di kelas 5 SD (SD Pardomuan).Memasuki usia remaja, saya malah mulai bergaul dengan teman-teman yang salah, anak-anak yang juga terluka hatinya terhadap ortu. Hal-hal agamawi merupakan hal yang paling membosankan dalam hidupku saat itu sebab saat itu saya bersekolah di SMPK Bahureksa dan SMAK Dago alias sekolah Kristen. Saat SMP setiap hari ada renungan pagi di aula dan saat SMA seminggu sekali ada renungan bersama. Namun urusanmengenai Tuhan sama sekali tidak ada dalam benakku, mengapa? Sebab saat itu saya berpikir untuk apa memperdulikan Tuhan sebab Ia hanya perduli pada keluarga yang baik-baik saja, sedang saya hanya anak yang terlahir tanpa disengaja.Kenakalan remaja berubah menjadi terlibat kejahatan saat saya bergabung dalam geng Moonraker. Terperosok dalam lembah hitam yang lebih dalam, tidak pernah terpikirkan seumur hidup saya untuk terlibat dalam bermacam tindak criminal dan kekerasan tetapi itulah yang terjadi. Berulang kali berurusan dengan pihak berwajib, ditahan di dalam sel bui yang pengap, masuk rumah sakit karena keracunan obat-obatan daftar G, tertusuk saat tawuran dan masih ada sederetan keberingasan yang saya buat saat itu. Membuat hubungan saya dengan ortu semakin renggang berulang kali saya diusir dari rumah oleh papa. Beliau sudah memberikan ultimatum pada saya dia tidak mau mendengar ada laporan dari polisi atau insiden yang menyebabkan saya masuk rumah sakit. Dan semua itu saya langgar, dan ia marah besar. Oleh sebab itu saya diusir dari rumah olehnya dan suatu saat mama yang biasanya mencari saya di jalanan pun ikut mengusir saya. Hingga saya ditampung di rumah adik dari oma saya, sampai saya lulus SMA di tahun1988.Memasuki dunia perkuliahan tidak otomatis membuat saya berubah, saya makin menjadi-jadi dengan geng saya yang saat itu tengah "panas" dengan sebuah geng lain di kota kami, XTC.Pada tahun 1990, ada seseorang entah siapa yang mengikutsertakan saya pada sebuah kursus Alkitab mengenai Injil Yohanes. Saat itu saya mulai mengerti apa yang Tuhan kehendaki, meski masih samar-samar, dan untuk urusan agama saya gengsi saat itu untuk bertanya pada siapapun. Tetapi Tuhan punya cara saja , entah nanti ada teman memberikan traktat, dapat mimpi yang aneh, dijamah melalui lagu rock dunia hingga suatu hari di awal Maret 1991, saya mulai berpikir dan merenungkan kembali mengenai jalan hidup saya mengapa terjerembab jauh sekali di dalam lembah kekelaman. Satu hal yang saya sadari adalah mengapa saya seperti ini? Adalah saya membutuhkan seseorangyang MENGASIHI saya, mau MENERIMA saya apa adanya, PERCAYA pada saya dan MENDUKUNG saya dengan berjalan BERSAMA dan MEMBERIKAN TELADAN.Tanggal 28 Maret 1991, saya mengunjungi sebuah KKR yang dilayani oleh Pdt. Yeremia Riem (alm), di saat itulah saya sungguh-sungguh mengalami jamahan Tuhan, saya menyadari kebutuhan saya akan seorang Juruselamat dan TUhan, dan terlebih lagi saya melihat semua criteria itu ada pada Yesus. Pada hari itu, saya menjadi ciptaan baru di dalam Kristus.Saat saya bertobat tidak ada seorangpun yang percaya akan hal itu termasuk orangtua saya. Sudah terlalu banyak dusta dalam hidup saya hingga orang tidak yakin akan pertobatan saya. Hingga saya memutuskan pada bulan Oktober 1991 untuk pindah ke kota Surabaya dan memulai hidup baru.Di kota Surabaya saya menyerahkan hidup saya untuk melayani Tuhan Yesus sepenuh waktu. Memulai pelayanan sebagai koster gereja karena dicurigai jemaat hingga akhirnya menjadi dipercaya sebagai gembala kaum muda sampai tahun 1994. Tuhan mulai membentukku di tempat ini sebagai hambaNya di GBI Pondok Daud yang saat itu digembalakan oleh Pdt Yulius Hetharia. Aku belajar menjadi seorang “hamba” sebab dulu aku terbiasa dilayani, belajar arti mengasihi dan panjang sabar pada saudara seiman maupun orang yang belum percaya, dan masih banyak hal yang dasyat dalam pembentukkan. Pada pertengahan tahun 1993, untuk pertama kalinya Tuhan mengizinkan aku untuk masuk sebuah lembaga pendidikan Alkitab di Lawang Bible Training Center, untuk mengikuti program Pemuridan Khusus. Saat gereja tidak dapat memberikan dana pendidikan, Tuhan membuka sebuah jalan bagiku untuk dapat membayar semua biaya yang diminta. Sebelum berangkat, tiba-tiba anak-anak pemuda membelikanku semua perlengkapan harian. Aku sangat terharu melihat cara pemeliharaan Tuhan yang heran. Selama dalam pembentukkan satu bulan itu, kudisadarkan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang hidup dan Ia sungguh nyata kuasaNya.
Tahun 1995, saya mengikuti pendidikan Discipleship Training School dari Youth With A Mission di Jakarta. Sekali lagi dengan cara yang mengherankan Tuhan menolong saya mengikuti pendidikan Alkitab selama 6 bulan ini. Saat kuberdoa dan Tuhan menyatakan bahwa Ia menghendaki aku masuk program pendidikan DTS, Ia juga menggerakkan orang-orang disekitarku untuk mencukupi segala biaya pendidikankku tanpa sekalipun aku minta tolong pada orang-orang tersebut, yang lebih mengherankan salah satu orang yang memberkatiku adalah seorang kaum Kedar. Di tempat inilah aku belajar untuk lebih peka mendengar suara Tuhan, mentaatinya dan mengenal isi hatiNya, yaitu jiwa-jiwa terhilang. Tuhan membawaku dan rekan-rekan setimku untuk melayani jiwa-jiwa di kepulauan Maluku dan itu merupakan pengalaman yang dasyat. Bagaimana Tuhan memelihara kami dan menjamah jiwa-jiwa yang terbelenggu, terluka, melihat kaum Kedar diselamatkan dan gereja Tuhan mengalami kebangunan rohani. Di tempat itulah saya bertemu dengan seorang kakak rohani bernama Hermina Usmany (ia director DTS) dan ayah & ibu rohani Ps. Christopher K & Vijaya.Tahun 1996, saya sempat mengikuti pendidikan di Institut Theologia Gamaliel Tasikmalaya selama satu semester. Lalu Tuhan menegur saya mengenai motivasi masuk ke sekolah theologia tersebut. Setelah saya pulang dari Maluku dan lulus dengan nilai baik dari DTS. Ada dua berita suka maupun duka. Berita suka adalah mama saya lahir baru, puji Tuhan. Ia cinta Tuhan, dibaptis, berjemaat di GISI Eben Haezer Bandung dan terlibat pelayanan juga di sana. Namun berita dukanya adalah mama sakit kanker payudara dan kami tidak memiliki biaya untuk berobat. Mama saya mengatakan bahwa bila Tuhan berkehendak menyembuhkannya, ia akan sembuh namun bila mana Ia berkehendak lain, mama akan tetap setia melayani sampai akhir hayat. Ia tidak ingin diriku terbeban. Lalu timbullah ide baikku dengan berpikir seandainya aku jadi pendeta gereja besar atau bergabung dengan pelayanan besar tentu aku akan dapat membiayai pengobatan mama-ku. Saat itu salah satu “idola rohani”ku adalah Bpk Pdt Yulius Ishak dan putranya Pdt Rubin Adi. Jadi ide baikku saat itu adalah bergabung dengan STT yang beliau kelola dan lalu menjadi staf penggembalaan beliau. Namun ide baikku belum tentu ide Tuhan. Di Tasikmalaya Tuhan menegurku dan lalu aku mengundurkan diri untuk mengikuti pendidikan Basic Leadership School dari Youth With A Mission di Lawang, yang dipimpin oleh Ibu Yulianti Liemarto. Tadinya aku bergumul dan menyatakan bila ini merupakan kehendak Tuhan biarlah ada 3 orang YWAM yang menghubungiku di Tasikmalaya. Luar biasa 5 orang YWAM menghubungiku sebagai sebuah peneguhan TUhan, pada hambaNya ini. Akhirnya aku menjadi staf DTS di YWAM Lawang dan bersama rekanku Debora Saragih membawa tim untuk melayani di Pasuruan, Probolinggo, Pulau Madura dan Pulau Bali. Dan juga membawa tim-tim praktek dari luar negeri berkeliling ke beberapa kota dan desa.
Pada bulan Agustus 1997, aku pulang ke rumah dengan sebuah kesukaan besar dari ladang pelayanan setelah melihat seorang Madura diselamatkan dan mengalami mujizat kesembuhan di pulau Madura setelah kami menyetel film JESUS.
Saat aku membuka pintu rumah, aku disambut papa dengan wajah yang sendu dan mengabarkan mama sudah terkena kanker stadium 4. Aku cukup terpukul meski saat kumemandang wajah mama, tidak nampak sedikitpun rasa takut ataupun cemas. Wajah mama tetap ceria seperti biasanya, menanyakan bagaimana pelayananku dan ia bilang kalau Tuhan masih menambah usianya dan mengadakan mujizat, ia akan pergi pelayanan berkeliling bersamaku. Setiap hari kami sekeluarga berkumpul, membaca Firman Tuhan, dan bersehati dalam doa untuk kesembuhan mama.
Sampai salah satu senior dari YWAM Maluku, Bpk Paul Tapilatu datang mendoakan dan ia memberikan ayat Firman Tuhan dari Daniel 3 mengenai Sadrakh, Mesakh dan Abednego dihadapan patung emas Nebukadnezar sebelum pergi meninggalkan kami.
Aku keesokkan harinya merenungkan ayat 17 dan 18,” Jika Allah yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu….tetapi seandainya TIDAK……kami tidak akan memuja dewa tuanku….” Kata tidak dalam ayat itu tiba-tiba menghujam hatiku, kalau seandainya mama tidak sembuh sebab memang saatnya sudah tiba sekarang baginya pulang ke rumah Bapa, apakah aku akan meninggalkan TUhan…akankah aku kecewa padaNya? Aku sempat termenung cukup lama sebelum aku menjawab bahwa aku siap apapun yang terjadi aku akan tetap setia melayani Dia. Pada tanggal 7 bulan September 1997, mama pulang ke rumah Bapa dengan tenang, semua orang heran melihat ketenangan, sukacita dan kasih yang terpancar melaluinya sampai detik terakhir hingga banyak orang tak percaya bahwa mama menderita kanker stadium 4.
Setelah kematian mama, aku masih tetap melayani di YWAM Lawang dan mendapatkan pemulihan Tuhan sambil membantu pelayanan pemuda di GISI Eben Haezer Bandung.
Pada Februari 1998, TUhan membawa saya merintis sebuah jemaat bernama GKB Cinta Kasih Bangsa (Indonesian Christian Center) dan yayasan sosial bernama Yayasan Pelayanan Cinta Kasih Bangsa di Surabaya dan Gresik bersama salah satu mentor kami, menggembalakan jemaat dan memimpin yayasan tersebut sampai pada Februari 2005. Suatu hal yang tidak pernah terpikirkan dalam diriku menjadi seorang gembala sidang dan memulai pelayanan sendiri. Jemaat kami adalah orang-orang menengah ke bawah, tepatnya kaum terbuang. Para mantan anak nakal, wanita panggilan, mantan napi, petani, buruh pabrik, dan kaum yang selama ini jarang dilirik oleh gereja pada umumnya. Dan terlibat dalam pergerakan pelayanan penanaman gereja rumah di Indonesia, kami telah mengirim tim-tim pelayanan ke Aceh, Bengkulu, NTB, Madura, Pasuruan/Tengger. Membuat sekolah sekolah pelatihan pemuridan Dare To Change dan pelatihan missi Equipping Training and Strategy dan juga School of Prophet and Prophetees. Ini merupakan hal-hal yang di luar akal dan pemikiranku. Visi kami adalah menjangkau suku terabaikan dan orang belum bergereja di Indonesia. Setelah “timing” kami selesai, kami menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan gereja yang telah kami rintis pada anak-anak rohani yang telah dimuridkan selama ini.Pada Agustus 2005 kami berjemaat dan membantu perkembangan Gereja Oikos (GO) Surabaya, yang digembalakan Penatua Johanes Harijanto dan menjadi bagian dari tim kepemimpinan pemuda hingga Juni 2007.
Pada bulan Juni 2007 kami sekeluarga telah pindah ke kota Bandung dan memulai pelayanan yang baru. Tuhan memberi hati pada kami sekeluarga untuk melayani mereka yang membutuhkan pemulihan dan mau untuk dimuridkan. Kerinduan kami merintis dan melayani komunitas subkultur (punk,gothic,underground,dll). Kerinduan hati kami adalah merintis gereja bagi orang yang selama ini enggan pergi ke gereja. Denga merintis sebuah gereja dengan nafas baru dan semangat baru. Pada saat kami mendoakan hal ini pada awal 2006. kami berkenalan dengan Morria seorang pelayan Tuhan yang melayani kaum Gothic di Amerika Serikat dan lalu ia menunjuk saya sebagai Ministry Overseer Shadow of the Cross – Indonesia. Kami masih berdoa untuk strategi dari Tuhan dan jiwa-jiwa baru tersebut.
Sejak tahun 2000 hingga kini, saya terlibat dalam pergerakan penanaman gereja (church planting movement) dan simple church planting movement. Dan dimentor oleh Robert Fitts Sr (Outreach Fellowship International), John White (DAWN Ministries), Dan Hubbel, Cornelius Wing, Jonathan Pattiasina dan Samuel Saputra. Nama-nama diatas merupakan orang-orang yang telah banyak mewarnai kehidupan dan pelayanan kami sekeluarga.
Kerinduan kami yang terdalam melihat mereka yang terhilang diselamatkan dan dipulihkan, dimuridkan, membentuk komunitas yang bermultiplikasi dan Kerajaan Tuhan diperlebar memancarkan terangNya.Saya menikahi Novie Durant pada Agustus 1999. Dimana sekali lagi Tuhan mengadakan banyak mujizat dan pertolongan dan pernikahan kami. Bagaimana Ia mempertemukan kami dan meneguhkan pernikahan tersebut di tengah kesibukan pelayanan. Dari pernikahan ini kami dikaruniaidua orang anak yang lahir di Surabaya, Philip Broos lahir 21 Juli 2000 dan Regina Broos (alm) lahir tanggal 11 April 2005, yang berpulang ke Rumah Bapa sejam kemudian setelah dilahirkan akibat praeklamsi. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil.Inilah kisah hidup saya , "sampah" ini bisa Tuhan ubahkan, jadialatNya dan bahkan lebih lagi dijadikan sebagai anakNya. Ia bisa dan mau mengasihi semuanya termasuk anda. Dan Ia pun mau memakai anda, namun maukah anda? God bless you all.Dave Broos
Bila anda membutuhkan pelayanan kami atau sekedar ingin bersahabat /sharing silahkan hubungi :
HP : 081330135643 (cp Dave Broos)
Atau email davebroos@yahoo.co.uk
Ingin bertumbuh lebih lagi, silahkan masuk ke website para rekan sekerja kami.
http://www.shaddowcross.com/
http://www.roberfitts.com/
http://www.dawnministries.org/
http://www.jonathanpattiasina.com/
http://www.corneliuswing.com/

NAMAKU NOVIE


NAMAKU NOVIE
Hai namaku, Novie Durant. Aku lahir di pulau Sumatera 30 tahun yang lalu. Kurasa semua orang mendambakan untuk terlahir di dalam sebuah keluarga yang bahagia dan sempurna. Namun pada kenyataannya tidak semua keluarga hidup bahagia. Sebab kehidupan adalah kenyataan dan bukanlah cerita dongeng. Kuingin membagikan kisah hidupku yang penuh liku dan kerikil tajam.
Aku dibesarkan dalam sebuah keluarga pelaut. Pada saat aku lahir, papa tidak ada sebab sedang berlayar. Saat aku beranjak mencapai usia 2 tahun, papa baru pulang untuk melihat putri pertamanya. Sangat kurindukan pelukan dan perhatian dari seorang ayah yang penuh kasih, namun hal itu tidak pernah kudapatkan sebab ia harus berlayar ke negeri seberang. Hingga hubungan kami renggang, ia pun mengalami kesulitan di dalam berkomunikasi baik dengan diriku maupun adik lelakiku. Sebagaimana kebanyakan pelaut lainnya, ayahku memiliki kebiasaan buruk yang sama yaitu bermabuk-mabukkan.
Aku sering mengalami ketakutan bila melihat papa sedang mabuk, terlebih bila ia sedang marah. Tanpa sadar itu sangat melukai diriku dan merusak figur seorang pria secara keseluruhan di mataku.
Saat papa berlayar, keadaan ekonomi kami sangat baik. Kami biasa menolong keluarga dalam hal pendidikan dan usaha mereka maupun tetangga di lingkungan kami tinggal. Aku biasa mengenakan pakaian baru setiap kali papa pulang berlayar dari luar negeri. Sudah tradisi setiap akhir pekan kami akan pergi makan bersama di restoran. Kehidupan yang layak dan mapan telah kami jalani. Sampai suatu hari papa dijebak oleh salah seorang rekannya hingga ia sangat terpukul oleh peristiwa itu. Papaku dituduh sebagai penyelundup barang import. Papa dan mami meninggalkan kami ke Pulau Jawa. Sedang aku dan adik tetap tinggal di kota kelahiran. Kami dibesarkan di rumah keluarga mami. Dari keadaan ekonomi yang berlimpah-limpah, kini kami harus tinggal di rumah saudara. Demi sekolah dan kebutuhan sehari-hari, kami harus bekerja membereskan rumah dan aku memberikan les pada anak-anak di lingkungan kami tinggal untuk uang tambahan. Harga diri kami tercabik-cabik, keputusasaan, ketakutan, kecemasan dan kekuatiran menguasai pikiran dan hati. Terlebih saat aku mengalami pelecehan seksual, kebencian dan perasaan tidak percaya pada kaum pria bertambah besar.
Adakah masa depan bagi kami? Mengapa orang-orang yang dahulu papa dan mami bantu malah mencibir kami? Sia-siakah perhatian dan pertolongan keluarga kami dulu? Tidak adakah orang yang mengingat kebaikan yang telah keluargaku tabur? Aku sangat terluka saat itu, seolah-olah harga diriku runtuh. Dulu aku biasa mentraktir teman-temanku, kini aku ditraktir oleh mereka. Rasanya aneh dan sulit rasanya menerima keadaan ini. Namun itulah kehidupan yang harus aku lalui, berat dan perih tapi inilah jalan yang harus kulalui. Ketika sahabat-sahabatku terlibat pergaulan seks bebas dan bermabuk-mabukkan, aku tetap berpegang pada prinsip hidup yang kupercayai, yaitu aku tidak mau merusak diriku. Prestasi belajar di sekolah pun aku pertahankan,ketika anak lain yang frustasi membolos sekolah, aku tetap berprestasi dalam pendidikan. Orang-orang mengatakan,” Lihat si Novie, paling-paling sebentar lagi akan rusak sebab Papanya saja seperti itu.” Sudah cukup orang mencibir papa dan mami, aku ingin membuktikan bahwa keluarga kami tidak seperti itu.
Saat kuberanjak SMA, aku pindah ke Jakarta dan untuk pertama kalinya bersatu kembali dengan Papa dan Mami. Semenjak peristiwa yang menimpa Papa di Belawan, ia sulit untuk dapat bangkit kembali baik dalam pekerjaan dan usaha. Rasa kecewa dan terluka akibat dikhianati teman baiknya menyelimuti relung hatinya, yang membuat ia makin terbelenggu dalam kebiasaan buruknya bermabuk-mabukkan. Hingga ia sulit untuk dapat menjadi produktif lagi. Kulihat Mami dalam kondisi yang sulit sekali pun, ia tetap setia mendampingi Papa dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
Aku pindah ke Jakarta sebab salah seorang tanteku mengatakan bahwa aku akan dibiayai olehnya selama mengikuti pendidikan. Memang hal itu terjadi sampai aku duduk di bangku kelas 3 SMA, dimana ia menolak untuk membiayaiku. Aku tidak mampu membeli buku sekolah dan bila hendak ulangan terpaksa belajar di rumah teman agar dapat mempelajari bahan ulangan besok. Sedih sekali rasanya hidup yang harus kulalui ini, aku sangat iri melihat teman-teman hidup dalam keluarga yang bahagia dan berkecukupan. Aku kadang merasa marah melihat anak-anak yang memiliki orangtua yang mapan namun tidak pernah serius belajar dan hanya hidup hura-hura. Meski hidup-ku sulit dan godaan teman-teman untuk “rusak” di ibukota sebagai jalan keluar cepat mencari uang ada di depan mata namun aku menolaknya, sebab aku ingin membuktikan bahwa aku dapat hidup lurus dan menjadi kebanggaan bagi keluarga-ku. Pada akhirnya aku dapat lulus SMA meski kondisi kami sulit saat itu. Namun tante-ku yang berjanji membiayai studiku menolak untuk membayar SPP-ku selama setahun dan menyuruh Papa untuk membayar semua biaya tersebut. Padahal saat itu, ia tahu bahwa Papa belum memiliki pekerjaan tetap dan bekerja serabutan. Walhasil, aku lulus SMA tapi tidak memiliki ijazah dan pupus sudah cita-citaku untuk kuliah psikologi dan mendalami pendidikan anak. Semuanya seolah hanya impian di siang bolong saja. Sempat aku kecewa dan marah pada sikap tante-ku, dulu sebelum mereka berhasil dan sukses, Papa membiayai hidup mereka bahkan membiayai kuliah om-ku. Kini ketika kami butuh pertolongan, mereka seolah melihat kami ini pengemis saja. Semudah itukah manusia lupa?
Akhirnya kami mengadu nasib di kota Pahlawan, Surabaya. Setelah sebelumnya Papa menjemput adik-ku di Sumatera, akhirnya kami bersatu kembali sebagai keluarga yang utuh meski dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu. Di kota Surabaya, kami berempat kost di sebuah kamar berukuran 3 x 3, di sebuah daerah perumahan padat dekat pelabuhan Perak. Meski kondisi ekonomi tidak kunjung membaik namun paling tidak di sini papa dan adik-ku mendapatkan pekerjaan sebagai pelaut kembali. Di daerah baru ini aku memiliki dua orang teman baik, mereka berdua acap kali mengajak-ku untuk mengikuti sebuah persekutuan doa, Youth Christian Center. Pada mulanya aku tidak tertarik dan acap kali sakit bila hendak pergi namun karena terus menerus mereka mengajak, akhirnya hatiku luluh dan mengikuti ibadah di sana. Saat itulah aku mulai dijamah oleh Tuhan, hatiku yang selama ini keras oleh tempaan hidup dan terluka sangat dalam mulai dipulihkan oleh Bapa Surgawi yang penuh kasih. Sedikit demi sedikit kekerasan hati dan luka-luka mulai disingkapkan dan dipulihkan. Persekutuan yang erat dan perhatian yang tulus kurasakan dalam komunitas itu. Aku merasa berharga dan dapat menjadi diriku sendiri tanpa dihakimi, dalam persekutuan inilah kurasakan apa yang dinamakan keluarga dalam Kristus yang sebenarnya. Dalam persekutuan itulah awal aku mengalami Kristus dan lahir baru.
Saat itulah aku mengalami kelepasan dari belenggu kutuk nenek moyang. Ini merupakan kesaksianku yang lain. Saat aku lahir, orang percaya bahwa aku memiliki keistimewaan sebab saat lahir sudah tumbuh dua gigi seri. Dari latar belakang papa yang mempercayai kuasa gelap dan juga nenek moyang mami yang terlibat okultisme membuat mereka mempercayai hal tersebut. Konon nenek moyang Mami merupakan “orang pintar” pada masa Sisingamangaraja. Sejak kecil aku sudah dapat melihat roh-roh jahat dan berkomunikasi dengan mereka. Keluargaku menganggap bahwa hal itu adalah anugerah dari Tuhan untuk menolong orang lain dan mengetahui masa depan. Ada anggota keluargaku yang membawa aku ke tempat beberapa paranormal, untuk meyakinkan keluarga dan diriku bahwa aku memiliki “kelebihan”. Aku tidak pernah mencari ilmu seperti paranormal pada umumnya namun roh-roh jahat itu datang, berkomunikasi dan membuat perjanjian denganku. Melalui kuasa roh-roh itu, aku dapat menyembuh mereka yang sakit, mencari barang yang hilang, menjadi medium, meramalkan masa depan, dan lain-lain. Namun setiap kali aku menjadi “alat” mereka, aku langsung sakit sesudahnya. Ada rasa takut juga dalam diriku, sebab tiap kali aku marah terhadap seseorang, pasti orang tersebut jatuh sakit atau bila ada orang yang telah kulayani ingkar janji padaku maka orang tersebut mengalami bencana.
Dalam persekutuan doa itulah Tuhan mulai menjamah, menyadarkan dan memerdekakan aku dari setiap belenggu dosa nenek moyang dan dilayani kelepasan. Aku sadar bahwa ini merupakan dosa nenek moyang, yang perlu aku akui dihadapan Tuhan meminta ampun atas apa yang telah dilakukan oleh nenek moyangku dan memutuskan rantai perhambaan itu selamanya.
Dari Persekutuan ini akhirnya aku diutus untuk mengikuti pendidikan PLHK di Bali Bible Training Center yang memperlengkapi aku lebih lagi dalam pengenalan akan Tuhan dan pekerjaan Tuhan.
Hati-ku sempat tertutup bagi pria sebab aku mengalami trauma terhadap sikap Papa yang kaku selama ini dan kebiasaan buruknya, plus pengalaman mengalami pelecehan seksual saat kecil. Sempat terbersit dalam benakku untuk menjadi biarawati gereja Katholik saja dan tidak perlu menikah. Namun setelah aku mengalami pemulihan yang dikerjakan Tuhan, hatiku yang dulu tertutup bagi pria mulai terbuka kembali.
Setelah mengalami pemulihan dan kelepasan itu rasa haus dan lapar akan Tuhan meliputi dalam diriku mendorong aku untuk lebih aktif di persekutuan. Saat itulah Tuhan mulai berbicara mengenai siapa calon pasangan hidupku. Ada perasaan aneh dan tidak percaya. Sampai suatu sore, dalam salah satu ibadah yang diadakan, sang pembicara menyampaikan khotbah dengan topik Kerendahan Hati dan diakhiri dengan pembasuhan kaki. Saat itu si pembicara menyatakan bahwa kami perlu berdoa terlebih dulu dan bertanya pada Tuhan siapa yang harus kami basuh kakinya. Saat kuberdoa ada sebuah instruksi yang sangat jelas bagiku untuk membasuh kaki ketua Persekutuan Doa tetapi tidak dengan handuk dan air di baskom, tetapi dengan tetesan air mata dan rambutku. Ada perasaan takut, bagaimana kata yang lain dan mengapa hanya padanya saja dan tidak yang lain. Namun aku memilih untuk taat saat itu, hatiku dijamah olehNya dan mentaati apa yang Tuhan perintahkan. Dikemudian hari baru kutahu bahwa pada tahun 1993, ketua PD kami saat itu berdoa dan Tuhan menyatakan bahwa Ia akan memberikan pasangan hidup baginya. Dan salah satu tandanya adalah wanita itu akan membasuh kakinya dengan tetesan air mata dan uraian rambut panjang sebagai kain lapnya. Hingga saat aku membasuh kakinya, Tuhan mengingatkan janjiNya itu.
Perjalanan memasuki hubungan penjajakan kami tidaklah mudah, berulang kali aku mau mundur dari hubungan tersebut. Sebab banyak orang mengatakan aku tidak layak membina hubungan dengan ketua PD sebab aku baru bertobat sedang ia sudah lama pelayanan, ada pula yang mengatakan aku memelet ketua PD dan lain-lain. Aku sedih mendengar pernyataan orang-orang tersebut namun ada pula yang menguatkan aku dengan menyatakan bila memang ini kehendak Tuhan, semuanya pasti akan dapat dilalui. Dan yang terpenting calon pasanganku saat itu, tetap percaya bahwa diriku adalah pasangan hidupnya.
Akhirnya ia menjadi pasangan hidupku, namanya Dave Broos. Kami membina hubungan selama setahun dan lalu menikah pada bulan Agustus 1999 di Surabaya. Kami diberkati di GKB Shalloom – Surabaya, oleh Pdt. Yohanes Thomas.
Akhirnya persekutuan doa yang selama ini dirintis suamiku, menjadi sebuah gereja, GKB Cinta Kasih Bangsa (Indonesian Christian Center) dan suamiku menjadi pendeta gembala sidang. Tidak pernah terpikirkan olehku akan menikah dengan seorang gembala sidang dan menjadi ibu gembala namun itulah Tuhan kita yang sering membuat surprise. Setelah menikah aku mengikuti kuliah jarak jauh yang diadakan Seminari Bethel – Jakarta, yaitu Sekolah Theologia Extention (STE) untuk program D-3. Akhirnya aku dapat kuliah meskipun bukan di bidang yang kurindukan namun kumengucapkan syukur atas kesempatan yang terbuka. Melalui sekolah tersebut aku bertumbuh lebih berakar dalam Firman Tuhan di dalam menopang pelayanan suamiku, terutama sebagai pendoa syafaat dan konselor.
Tuhan kembali mengingatkanku akan apa yang telah terjadi dalam hubunganku dengan papa. Setelah aku mengalami pemulihan aku tersadar bahwa sikap papa yang keras dan kaku adalah akibat opa-ku. Beliau adalah seorang anggota polisi yang terhormat di Sulawesi Utara, terkenal sangat disiplin dan keras baik terhadap anak kandungnya maupun anak-anak angkatnya. Papa mungkin seorang pemabuk namun bila kuingat kembali sebenarnya ia penuh perhatian baik padaku maupun adik. Hanya akibat sifat buruknya yang dulu menjadi fokus perhatianku, aku tidak dapat melihat sisi-sisi dirinya yang baik bagi keluarga kami.
Bukan hanya aku saja yang diselamatkan, namun Tuhan mulai menjamah orangtua maupun adikku. Saat adikku “tertinggal” di Sumatera dan hidup dengan Opung, ia terlibat pergaulan yang salah dan menjadi pengedar narkoba. Ia menjadi anggota geng pengedar ganja. Namun setelah melihat perubahan dalam hidupku dan berbincang dengan suamiku yang dulunya juga mantan anak geng di kota Bandung dan pecandu, ia pun mulai berubah. Perubahan yang nampak jelas adalah ia mulai berhenti mabuk-mabukkan dan bergaul dengan teman yang salah. Begitu juga dengan kedua orangtuaku yang berubah, Papa pun akhirnya berhenti mabuk dan memusnahkan semua opo-opo(barang bertuah) yang ia miliki. Semenjak itu hubunganku dengan papa dipulihkan, sungguh bahagianya kini aku memiliki ayah yang baru. Mami yang dulu suka berjudi sebagai pelariannya pun kini bertobat dan berhenti total. Semuanya hanya bisa terjadi oleh karena Kuasa Tuhan yang penuh kemurahan dan limpah kasih.
Hadiah terbesar bagi kami adalah kelahiran putra kami, Philip Broos. Ia adalah anak penghiburan kami di ladang pelayanan. Banyak orang memprediksikan bahwa aku akan sulit hamil karena kondisi kesehatanku namun Tuhan mementahkan semua prediksi orang. Dan hal itu sangat membahagiakan diri keluarga kami. Apa yang manusia katakan mustahil dimentahkan oleh Tuhan kita yang penuh mujizat. Ada banyak hal yang Tuhan lakukan bagi keluarga kami. Saat dokter kami menyatakan bahwa putra kami terbelit tali pusernya hingga aku harus dioperasi cesar padahal sudah bukaan 6. Saat keuangan kami hanya cukup untuk biaya persalinan normal. Rasa takut untuk dioperasi maupun biaya yang harus ditanggung membayangi pikiranku. Siapa yang akan menolong kami, sebab jemaat yang kami gembalakan hanyalah orang kalangan bawah. Hanya pada Tuhan kami bersandar dan percaya. Barangsiapa percaya pada Tuhan tidak akan pernah dipermalukan, itulah janjiNya. Beberapa hari setelah kelahiran putra kami, Tuhan memakai seseorang untuk melunasi semua biaya persalinan dan bukan itu saja, ada uang lebih bagi kebutuhan keluarga kami.
Setelah 7 tahun merintis pelayanan dan menggembalakan sidang, Tuhan mulai mendorong kami untuk menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan pelayanan gereja pada anak-anak rohani yang telah kami muridkan selama ini. Pada tahun 2005, suamiku mengundurkan diri dari pelayanan penggembalaan dan mempersiapkan diri kami sekeluarga untuk memulai pelayanan di kota Bandung.
Saat itu aku tengah mengandung anak kedua kami. Dokter memprediksikan bahwa bayi kami adalah perempuan dan suamiku telah menyiapkan nama Regina bagi putri kami. Putraku, Philip sangat antusias menyambut kelahiran adiknya. Ia telah menyiapkan boks bayi dan boneka-boneka bagi adiknya. Ia sudah membayangkan akan bermain dengan adiknya, di TK ia dengan bangga menceritakan pada teman-temannya bahwa sebentar lagi ia akan punya adik.
Saat kami tengah berjalan-jalan di sebuah mall, tiba-tiba aku merasa waktu persalinan telah tiba. Segera kuberitahu suamiku dan kami bergegas menuju rumah sakit. Setelah tiba di rumah sakit ternyata bayi kami sungsang dan kembali aku harus dioperasi cesar. Namun karena tekanan darahku tinggi maka operasi akan dilakukan keesokan harinya.
Ada perasaan berbeda saat ini, perasaan ini berbeda dari saat menghadapi operasi cesarku yang pertama, ada rasa was-was seperti akan mati. Saat operasi dilangsungkan aku melihat wajah cemas dari para perawat maupun dokter. Ketika putriku lahir, kulihat dokter segera membawa putriku ke ruangan lain. Hatiku cemas, kondisi tubuhku saat itu menurun, semuanya mulai menjadi gelap kudengar salah satu suster berbisik di telingaku, “ Ibu sadar ya, ingat suami dan anaknya di luar.” Tiba-tiba terbayang wajah suami dan putraku yang terlihat sedih. Apakah aku akan mati? Segera aku coba untuk tetap tersadar, aku tidak mau mati meninggalkan keluargaku, mereka masih membutuhkanku.
Setelah kusadar, aku sudah ada di ruang pasien, di sana ada mami yang duduk menungguiku, wajahnya tampak lesu. Lalu aku bertanya,”Kenapa, Mi?” Mami menjawab,”Engga apa-apa.” Aku mulai curiga ada apa ini tapi semuanya coba kutepis. Lalu aku berbicara lagi,”Mi, nanti sepulang dari sini, kita belanja baju bayi di pasar Turi ya?” Mami hanya terdiam dan matanya berkaca-kaca. Saat itulah putraku, Philip masuk kamar. Kupandang Philip dan bertanya,” Phil, kamu senang punya adik sekarang?” Ia menjawab dengan polos dan sedih,” Apa, Ma, adik Philip khan sudah mati.” Kusela jawaban Philip,”Phil, kamu tidak boleh berbicara begitu tentang adikmu.” Kupandang suamiku berdiri di muka pintu dengan pandangan kuyu, ada apa dengan suamiku yang biasanya ceria. Ia memandangku dan lalu memelukku,” Ma, Regina sudah tidak ada dengan kita.” Seketika itu juga aku meledak dalam tangisku, kesedihan memenuhi hatiku. “Mengapa Tuhan?”
Sehari setelah penguburan putri kami, Regina, aku baru tahu bahwa putri kami meninggal akibat praeklamsi. Putri kami hidup sejam sebelum ia pulang ke Rumah Bapa. Ada kesedihan, ada pertanyaan, ada kekosongan namun semua kuserahkan pada Tuhan. Kami mengucap syukur atas satu jam yang Tuhan percayakan bagi kami sebagai orangtua bagi Regina. Di balik segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, ada hikmahnya dimana kita bisa belajar dariNya.
Di kala awan mendung kesedihan melanda keluarga kami, Tuhan memakai saudara-saudara seiman kami di Gereja Oikos Indonesia jemaat Surabaya yang digembalakan Penatua Johanes Harjanto, sebagai tempat kami dipulihkan Tuhan kembali dan mematangkan rencana kami kembali untuk melayani di kota Bandung.
Pada saat persiapan kami merasa mantap untuk pindah namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kami akan pindah sebab kami sudah tidak memiliki uang tabungan untuk pindah ke kota Bandung. Kepindahan kami pada bulan Juni 2007 sudah mendekat namun uang tidak ada. Hingga kami bertanya-tanya, apakah benar kami mendapat perintah Tuhan atau ini hanya gagasan baik kami saja. Kembali lagi Tuhan melakukan suatu kejutan bagi kami, sebulan sebelum kepindahan kami, salah seorang sahabat suamiku memberikan berkat. Hingga kami dapat pindah ke kota Bandung, mengontrak tempat tinggal dan memasukkan putra kami sekolah di SDK Baptis.
Kini kami sudah berada di kota Bandung dan tengah merintis pelayanan The Eagles Nest Ministries. Kami tidak memiliki aset, atau kehebatan apa pun namun kami memiliki hati untuk melayani Yesus Kristus dan itu sudah cukup bagi kami. Tuhan memberikan hatiNya yang limpah dengan kasih bagi kami dan sebagaimana Ia telah memulihkan kami, kerinduan kami adalah melihat setiap jiwa mengalami pemulihan dan mengerti jati diri mereka dalam Kristus.
Aku tahu di luar sana, ada begitu banyak jiwa yang terluka terutama para wanita yang belum mengalami pemulihan. Doa dan kerinduan hatiku, melihat tiap wanita dalam Kristus mengalami breakthrough dalam hidupnya.
Sebagaimana Tuhan telah memulihkanku, Ia pasti akan memulihkanmu juga sebab di dalam Kerajaan Surga tidak ada “anak emas”. God bless you, all.
Anda ingin sharing, didoakan atau kami layani silahkan hubungi kami di 081330135643(tlp/sms) atau novie_durant@yahoo.com. Kami ingin menjadi sahabat dan saudara dalam suka maupun duka. WE CARE.