Sebuah pelayanan yang dirintis oleh Morria Nickels di Amerika Serikat untuk melayani kaum subkultur yang tersisihkan dari masyarakat. Pada tahun 2006 telah menunjuk dan mengutus Dave Broos sebagai Regional Director di Indonesia
Tampilkan postingan dengan label ministry report. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ministry report. Tampilkan semua postingan
Rabu, 06 November 2013
Selasa, 26 Juli 2011
URGENT PRAYER & NEED

Shalom,
Kami mohon dukungan doa sebab kami perlu memperpanjang sewa rumah yang kami jadikan pusat pelayanan kami di kota Bandung yang sudah jatuh tempo. Kami telah mendapatkan kelonggaran selama sebulan ini untuk mencari dana. Ada pun sewa rumah tersebut adalah 8 juta, sampai saat ini telah terkumpul dana sebesar 2 juta Rupiah. Masih ada kekurangan sebesar 6 juta Rupiah dan kami percaya bahwa tak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Kami mohon dukungan doa anda sekalian sebagai tubuh Kristus yang ada di Indonesia. Surat ini pun ditulis bukan untuk meminta belaskasihan tetapi dukungan dari bagian tubuh Kristus yang lainnya. Bila Anda tergerak untuk membantu Anda dapat membeli produk t-shirt distro kami yang ada pada blog ini juga.
Terimakasih banyak atas support anda sekalian. God bless you all, abundantly
Best Regards,
Ps.Dave Broos
081330135643 atau davebroos@yahoo.co.uk
Label:
ministry report,
proposal,
street ministry,
URBAN MINISTRY
Rabu, 15 Juni 2011
GEMBALA KAUM TERBUANG


GEMBALA KAUM TERBUANG
Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka….(1Sam 22:2a)
Saat saya menanggapi pelayanan sepenuh waktu bagi Tuhan, saya bermimpi untuk menjadi Pendeta besar dan ternama. Impian saya memiliki gereja yang besar, jemaat besar yang bertumbuh di dalam Tuhan dan berasal dari kalangan yang terhormat. Saya teringat saat baru bertobat, saya sering membaca kesaksian-kesaksian para pendeta terkenal baik di Indonesia maupun mancanegara. Mereka kebanyakan menyaksikan bagaimana gereja yang mereka rintis tadinya kecil bertemu di tenda atau rumah mungil mereka. Lalu gereja yang mereka rintis akhirnya bertumbuh dan bertambah banyak jemaatnya hingga puluhan bahkan ratusan ribu. Bahkan ada di antara jemaat mereka yang merupakan birokrat, pengusaha besar, pengacara tenar, artis, dll. Saat itu saya terkagum-kagum. Dasyat sekali.Wouw, saya juga ingin jadi Pendeta sekaliber itu. Melihat gaya hidup mereka yang diberkati secara berkelimpahan secara harta dunia. Wah, siapa yang tidak mau.
Tetapi semakin lama yang saya memberi diri pada Tuhan semakin saya menyadari Tuhan memanggil saya untuk melakukan hal yang berbeda dari pelayanan gereja pada umumnya. Hanya saya saat itu coba untuk melawan “dorongan ilahi” tersebut. Saya berpikir bahwa semua pelayanan sama saja, sebab toh semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Kalau bisa melayani di kota mengapa harus susah-susah ke desa apalagi pedalaman. Di desa apalagi pedalaman, yang saya bayangkan hidup dalam kemiskinan dan suasana sepi. Sedang saya lahir besar di kota besar, pasti tidak betah tinggal di daerah yang terisolir. Saya berpikir kala itu, yang terpenting adalah melayani Tuhan.
Pada masa itu saya mengalami pergumulan ketika Tuhan mulai menyatakan isi hatiNya untuk saya kerjakan. Saya dihinggapi rasa takut, apa kata teman-teman sejawat saya atau para senior saya. Apakah yang Tuhan nyatakan? Tuhan menyatakan bahwa IA memanggil saya untuk melayani dan menggembalakan “kaum terbuang” dalam lembah kekelaman. Ada begitu banyak pelayanan yang coba melakukan penetrasi bagi “kaum terbuang” tapi hanya dapat masuk di permukaan saja, kecuali kasus-kasus tertentu dimana Tuhan melakukan intervensi hingga “seseorang dari lembah kekelaman” itu bertobat. Salah satu yang diselamatkan Tuhan adalah diriku. Tuhan memanggil kami (saya percaya, ada saudara-saudara seiman lainnya yang berlatar belakang sama) untuk melayani “kaum kami” dengan lebih efektif.
Kala keraguan melanda hati saya, Tuhan mengutus hambaNya, Pastor Christopher K dari Malaysia, untuk berdoa dan menyampaikan nubuatan mengenai pelayananku. Inti dari nubuatan itu adalah Tuhan hendak memakai diriku sebagaimana Tuhan memakai diri Daud untuk mengubah para pengikutnya di Gua Adulam. DUEEERRRR!!!!!! Tiba-tiba Tuhan juga mengingatkan saya akan sebuah mimpi yang saya dapatkan saat baru bertobat. Dalam mimpi itu saya dibawa seorang malaikat ke sebuah jalan gelap yang sangat lebar ujungnya ada lautan api. Malaikat saya mengajak saya melihat lautan api itu, sungguh suatu tempat yang sangat panas dan mengerikan. Lalu malaikat itu mengajak saya berjalan melalui jalan lebar yang gelap itu. Ternyata banyak sekali orang…bahkan sangat padat dan saya melihat banyak sekali teman saya di jalanan dan geng bahkan ada juga sanak keluarga saya. Saya berteriak-teriak memperingatkan mereka bahwa di ujung jalan itu ada lautan api tapi mereka tak menghiraukan diri saya. Malaikat itu akhirnya membawa saya ke jalan lain yang kecil dan banyak lampu menyala. Lalu saya melihat seorang ibu (wajahnya mirip ibunda dari sobat karibku di geng yang taat beribadah), ia menoleh kepada saya dan berkata,”Kau telah diselamatkan, selamatkan mereka juga.” Tuhan juga mengingatkan saya akan doa dan nubuatan, Mark Parker, senior saya di YWAM Selandia Baru, yang menyatakan bahwa kelemahan masa laluku akan menjadi kekuatanku di masa akan datang. Ya, Dave, si Dewa Vodka, memiliki masa lalu yang kelam dan kini…..setelah 19 tahun melayani Tuhan di dalam organisasi gereja dan pelayanan pada umumnya, dalam sekejap dipanggil Tuhan untuk meninggalkan “mimbar” dan kembali “ke jalan” dengan sebuah missi.
Memasuki tahun ke 20 dalam dunia pelayanan, saya sempat bertanya-tanya mengapa sekarang? Saat usia saya sudah masuk kepala empat, apakah saya tidak terlalu tua untuk urusan ini?
Saya menyadari bahwa jauh lebih mudah berkhotbah dan mengajar di balik tembok gedung gereja. Merupakan tantangan tersendiri agar kami (saya dan keluarga) dapat menjadi “surat Kristus” yang terbuka bagi dunia, bagi tetangga kami yang belum percaya, bagi anak-anak dunia yang hidup dalam nilai-nilai dosa, kebejatan, amoral, korup, kompromi, dstnya. Kami merasakan bahwa kami sungguh-sungguh membutuhkan DIA semakin nyata hadir dalam hidup kami. Bagaimana kami dapat bertahan dari serangan dunia bila kami tidak berakar dan bertumbuh dalam DIA.
Pelayanan kami mungkin tidak penuh gebyar, kami tidak mengadakan Kebaktian penginjilan (KKR), tidak mengadakan pertemuan besar dengan mengundang musisi Kristen ternama atau artis Kristen yang sedang ngetop. Pelayanan kami merupakan pelayanan membagikan hidup. Ketika orang berbeban berat dan butuh teman, kami ada di situ untuk mendengarkan setiap keluh kesah mereka. Ketika ada yang menangis, kami menangis bersama. Bilamana ada yang tengah bersukacita, kami ada di sana turut bersukacita dengan mereka. Ketika ada yang membutuhkan pertolongan kami coba membantu. Ketika seorang nenek yang tinggal seorang diri membutuhkan pertolongan untuk mengganti bohlam lampunya, kami ada di situ untuk menolongnya. Mungkin nampaknya bukan hal yang luar biasa tetapi bagi seorang nenek berusia 75 tahun, hal tersebut merupakan pertolongan besar.
Ketika seorang anak geng bermotor, ingin berbagi mengenai masalah hidupnya. Saya ada di sana mendengarkan dia, mungkin bagi masyarakat ia bukan siapa-siapa tetapi ia berharga di mata Tuhan. Apa yang berharga di mata Tuhan, seharusnya juga berharga di mata kita sebagai anak-anakNya. Ketika seorang tetangga sakit demam di tengah malam, kami membawanya ke rumah sakit, meski sebenarnya mata masih mengantuk. Rata-rata yang kami layani bukanlah mereka yang percaya….dan mereka mulai terbuka pada kami.
Ketika teman-teman Pendeta bertanya,”Dave dimana tempat kalian beribadah? Kamu sewa dimana atau pinjam tempat?” Saya menjawab mereka,”Kami bertemu dari rumah ke rumah, kadang di McD atau KFC, kadang di taman, kadang di warung kopi bahkan lapangan parkir…” Dan mata mereka terbelalak bagaimana mungkin kalian beribadah seperti itu??? Lalu saya pun menjawab bukankah Tuhan Yesus selain mengajar di Bait Allah dan sinagoge, IA bahkan lebih sering mengajar dari rumah ke rumah, juga di bukit, di pantai, dari atas perahu bahkan dimana saja IA mengajar para muridNYA. Tuhan menyatakan dimana dua tiga orang berkumpul dalam namaNYA, IA akan hadir (Mat 18:20). Esensi dari ibadah adalah kehadiran Tuhan dan bukan tempat. Penekanan yang pasti adalah setiap anggota komunitas/gereja bertumbuh di dalam DIA menjadi pelaku Firman Tuhan, terang dan garam dunia dan terlibat dalam pengabaran Injil dan bermultiplikasi sebagai murid Kristus.
Komunitas atau gereja yang kami rintis merupakan jaringan kelompok kecil, hingga hubungan kami satu dengan yang lainnya menjadi erat seperti sebuah keluarga. Kami berdoa agar melalui pelayanan ini setiap orang dapat mendapatkan kasih Kristus dalam keluarga barunya dalam Tuhan.
Tidak mudah memasuki kembali “dunia kelam” untuk merebut mereka yang tersesat sebab Iblis dan pasukannya akan mati-matian menghalangi kami. Sebab itu kami membutuhkan dukungan doa dari setiap saudara seiman untuk memerangi setiap kuasa kegelapan atau ilah zaman ini yang membutakan mata bathin mereka.
Pelayanan kami merupakan pelayanan mandiri, yang tidak didukung pendanaannya oleh lembaga mana pun. Tolong dukung doa juga bagi kami agar Tuhan membuka pintu-pintu berkat agar operasional pelayanan maupun setiap perlengkapan yang kami butuhkan dapat tersedia. Kami tengah mendoakan agar kami juga dapat membuka beberapa usaha kecil untuk dapat membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang telah meninggalkan lembah kelam maupun untuk mendukung jalannya pelayanan kami ini. Kami saat ini tengah coba merintis usaha clothing Living Faith (Kami baru memproduksi dua desain berhubung modal kami minim) dan juga menjual masakan/catering kecil Novie’s Kitchen. Salah seorang murid kami telah membentuk grup band rock indie bernama John316 dan telah membuat album.
Melayani kaum terbuang, tidaklah mudah……kadang ketulusan, kebaikan dan kasih kami dikhianati…kadang mengecewakan….kadang kami kehilangan uang atau barang….sering kami digossipkan bahkan difitnah…kadang apa yang kami kerjakan tidak dihargai…..seringkali kami diremehkan bahkan oleh rekan sejawat……TETAPI haruskah kami menyerah untuk TETAP BERSINAR DI KEGELAPAN DAN MENGGARAMI DUNIA YANG MAKIN MEMBUSUK OLEH DOSA…….SAMPAI AKHIR HAYAT INI….OH TUHAN KUATKAN KAMI UNTUK TETAP MENGERJAKAN PANGGILANMU.
Anda dapat menghubungi kami melalui davebroos@yahoo.co.uk atau mobile phone 081330135643 baik untuk sharing, minta dukungan doa, konseling, pelayanan maupun menjadi sahabat kami. God bless you.
Label:
ministry report,
street ministry,
URBAN MINISTRY
Rabu, 08 Juni 2011
OUR HOME (RUMAH KITA)


OUR HOME
(RUMAH KITA)
Pelayanan Dari Shadow of The Cross – Pelayanan Bagi Anak & Remaja Bermasalah dan Kaum Subkultur
Ada begitu banyak anak maupun remaja yang tak pernah merasakan kehangatan kasih sayang dan perhatian orangtua hingga mereka hidup sebagai anak-anak yang memberontak. Ada di antara mereka yang sejak kecil sudah dititipkan di Panti Asuhan, ada yang sudah dipaksa sejak usia dini mencari uang di jalanan sebagai pengamen atau peminta-minta, ada pula yang saat beranjak remaja dipaksa untuk masuk lembah prostitusi dan aneka kriminalitas lainnya. Anak-anak dan remaja yang seharusnya merasakan kehangatan, kasih sayang, perhatian dan perlindungan orangtua kini hidup terlantar dan liar tanpa arahan.
Ada begitu banyak pelayanan dalam bentuk Panti Asuhan, Panti Sosial, Rumah Rehabilitasi dan yang sejenisnya untuk melayani anak-anak dan remaja bermasalah. “Our Home”, merupakan pelayanan Kami sekeluarga dimana kami menerima anak-anak maupun remaja ini selayaknya anak kami sendiri. Kami menerima mereka apa adanya, mungkin inilah yang membedakan pelayanan kami dengan panti yang lainnya. Untuk saat ini pun kami belum dapat menampung banyak anak sebab mereka tinggal di rumah kami yang kecil (kami hanya memiliki dua ruang tidur), dan hanya satu kamar saja yang dapat kami gunakan bagi mereka. Rumah kami mungkin tidak penuh dengan banyaknya benda mahal tetapi apa yang kami miliki adalah kasih terhadap satu dengan yang lainnya.
Harapan kami, setiap anak yang kami sentuh dapat mengalami kasih Tuhan dan mengalami perubahan. Pelayanan kami jauh dari gebyar dan menakjubkan seperti pelayanan lain yang ada dalam tubuh Kristus tetapi kami mau setia melakukan panggilan ini. Sering kali kami merasa diabaikan oleh anggota tubuh Kristus yang lain dan seolah berjuang sendiri. Namun di kala itulah Tuhan senantiasa menguatkan kami untuk tetap mengerjakan panggilan ini dengan setia.
Dalam pelayanan ini kami dibantu oleh beberapa relawan, yang memberi diri secara sukarela sebab kami untuk saat ini belum dapat memberi gaji atau bahkan persembahan kasih. Kami pun sadar tidak bisa mengharapkan “persembahan” dari anak-anak, para remaja maupun mereka yang kami jangkau di jalanan. Kami sepenuhnya bersandar pada pemeliharaan Tuhan baik bagi jalannya pelayanan maupun kehidupan kami sehari-hari.
Kami mengharapkan dukungan doa untuk kontrakan rumah bagi pelayanan kami yang akan habis pada bulan ini, dana yang kami butuhkan adalah sebesar 8 juta Rupiah. Kami percaya melalui dukungan doa, saudara-saudara seiman, Tuhan akan buka jalan bagi kami. Terimakasih atas dukungan doanya. God bless you, all.
Senin, 06 Juni 2011
I ONCE WAS LOST


I ONCE WAS LOST
(SEKALI WAKTU KUPERNAH TERHILANG)
Didasari dari Lukas 15:1-7, Perumpamaan tentang domba yang hilang.
Puji Tuhan, pada akhirnya kami dari pelayanan Shadow of the Cross dapat membuat t-shirt distro dengan label Living Faith (Iman yang hidup). Salah satunya dengan tema perumpamaan domba yang hilang. Dimana digambarkan bahwa setiap kita pernah terhilang tanpa DIA dan suatu hari pada waktuNYA, IA tangkap kita dan membimbing kita bersama dengan domba-domba lainnya ke “padang yang berumput hijau”.
Bagi mereka yang belum mengetahui apakah pelayanan Shadow of the Cross, kami merupakan sebuah pelayanan missi yang dipanggil Tuhan untuk melayani mereka yang disebut kaum marginal dan subkultur di perkotaan. Kami memberitakan Injil maupun melakukan pelayanan kasih di antara mereka yang biasanya disisihkan oleh masyarakat bahkan yang dianggap sampah. Untuk melihat lebih jauh dapat mengakses blog kami di http://shaddowcross.blogspot.com .
Kami berharap produksi ini dapat diterima oleh masyarakat dan terutama anak-anak Tuhan lainnya. Kami tidak sekedar membuat t-shirt “Kristen” tetapi t-shirt ini merupakan alat kesaksian dan alat perjuangan bagi kami untuk mandanai pelayanan kami bagi kaum marginal (pengamen, pengemis, gelandangan,dll) dan subklutur (anak geng, bikers, gothic, punk, dsbnya). Dengan membeli produk kami, Anda telah membantu pelayanan kami di “lembah kekelaman”. Jangan lupa dukung kami juga di dalam doa.
T-shirt ini tersedia dalam dua warna yaitu biru muda dan putih, dengan ukuran M dan L, ada pun harga per t-shirt adalah Rp.90.000,- (sudah termasuk ongkos kirim). Cara pemesanan kirimkan SMS ke 081330135643, untuk mengecek ketersediaan barang dengan mengetik contoh: PESAN LOST/BIRU MUDA/L. Bila barang tersedia kami akan segera mengkonfirmasinya. Barang akan segera dikirimkan setelah Anda mentransferkan uang ke rekening BCA Bandung II atas nama Dave Broos no rek 0081824788. Setelah melakukan transfer mohon segera mengkonfirmasikan pada kami dan jangan lupa mengirimkan SMS dengan mencantumkan alamat lengkap dan jangan lupa kode pos. Thanks dan God bless you.
NB: Shadow of the Cross, juga siap memperlengkapi gereja, persekutuan doa maupun Sekolah Alkitab yang ingin memperlengkapi komunitasnya untuk menjangkau kaum urban, marginal maupun subkultur di kotanya melalui pemberitaan firman Tuhan maupun pengajaran. Anda dapat menghubungi kami melalui email davebroos@yahoo.co.uk atau handphone 081330135643.
Label:
ministry report,
mm,
street ministry,
TEACHING
Minggu, 25 April 2010
SHADOW OF THE CROSS INDONESIA


SHADOW OF THE CROSS
(A MINISTRY OF THE EAGLES NEST MINISTRIES)
Shadow of the Cross, merupakan sebuah pelayanan penjangkauan, pemuridan dan penanaman gereja bagi kaum subkultur. Apakah kaum subkultur? Kaum subkultur merupakan suatu “suku” yang terlahir dari suku yang sudah eksis dalam sebuah kota dimana mereka menjadi komunitas tersendiri, memiliki filosofi tersendiri dan budayanya sendiri. Di perkotaan kita mengenal mereka sebagai komunitas Underground, Gothic, Punk, Skaters, Bikers, Tattoo, Body Piercing, dstnya.
Sudah ada banyak pelayanan missi yang fokus menjangkau suku terabaikan namun masih jarang yang secara serius menangani komunitas-komunitas suku terabaikan diperkotaan ini. Seringkali bagian dari komunitas ini mengalami dan merasakan penolakan bila mereka menghadiri ibadah gereja pada umumnya. Kami percaya bahwa Tuhan Yesus juga mengasihi mereka dan menerima mereka juga sebagai anak-anakNya. Gereja kita saat ini tanpa sadar sudah memiliki stereo-type, siapa yang dapat beribadah dengan kita. Bila ada pasangan suami istri yang berkopiah dan berkerudung masuk ikut beribadah kita sudah mulai kasak-kusuk mempertanyakan mengapa orang berpakaian seperti itu masuk dalam gereja jangan-jangan “mata-mata”. Apalagi kalau yang masuk sekumpulan anak Punk dengan potongan rambut Mohawknya yang berwarna-warni, jaket jeans yang lusuh dan dipenuhi spike (paku hiasan). Bagian usher atau bahkan satpam akan melarang bahkan mengusir mereka dari ibadah sebab takut mereka akan melakukan tindak kriminal.
Kami banyak melayani dan menemukan orang-orang dari subkultur ini yang sebenarnya mencari kebenaran, haus dan lapar akan Tuhan namun enggan pergi ke gereja sebab sudah berulangkali mengalami penolakan. Lalu bagaimana sikap kita? Apakah kita sebagai gereja Tuhan enggan bersentuhan dengan mereka sebab penampilan dan gaya hidup mereka? Kita selalu berdoa agar Tuhan memberikan jiwa-jiwa baru tetapi ketika “kaum ini” datang kita menolaknya sebab “mungkin” kita tidak mengharapkan mereka yang datang, “mungkin” kita berharap konglomerat yang bertobat dan menjadi bagian kita. Yah, “mungkin”.
Shadow of the Cross, hadir untuk melayani kaum marginal di dalam masyarakat. Kerinduan kami adalah menghadirkan gereja di tengah mereka, memperkenalkan kasih Bapa yang sempurna dan menjadi saudara mereka dalam perjalanan kerohanian mereka.
Apa yang kami kerjakan bukanlah pelayanan yang populer, banyak yang menyatakan untuk apa melayani “kaum yang sulit ini”. Kaum yang pemberontak, anti kemapanan dan tidak dapat memberikan “income” bagi yang melayaninya. Bila kami meresponi panggilan ini sebab kami melihat bahwa mereka juga memiliki hak untuk mendengarkan Kabar Baik dan pengharapan yang telah dibukakan oleh Tuhan Yesus. Kami tahu rata-rata mereka adalah anak muda (orang berjiwa muda) yang tinggal dan hidup di jalanan, jadi jelas mereka bukanlah kaum borjuis. Kami melayani dengan hati yang tulus dan bukan karena uang yang dapat kami hasilkan melalui pelayanan. Kami melangkah dengan iman, bila Tuhan yang menghendaki kami melayani mereka, IA pula yang akan cukupkan kebutuhan kami. Kami tidak memiliki fasilitas apa-apa, tetapi kami punya hati untuk melayani. Entah ada donatur atau tidak, yang kami tahu dan percaya adalah Tuhan ada serta kami.
Kami tidak meminta uang Anda melalui surat ini, tetapi dukunglah kami di dalam doa agar kami tetap setia melayani kaum yang “sulit” ini dengan hati yang penuh belaskasihan dan diberikan hikmat untuk membawa mereka dalam pengenalan akan Tuhan Yesus secara lebih mendalam.
Terimakasih sudah membaca surat kami ini, Tuhan Yesus memberkati.
Dave Broos
“Gembala kaum yang terbuang”
Langganan:
Postingan (Atom)