Selasa, 30 April 2013

Bandung Canangkan Bebas Anak Jalanan

Bandung Canangkan Bebas Anak Jalanan

Ilustrasi anak jalanan.
Ilustrasi anak jalanan. (sumber: Jakarta Globe)
Targetnya akhir Desember tahun ini, 85 persen anak jalanan di Bandung tidak ke jalan lagi.

Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat mencanangkan bebas anak jalanan sebagai upaya terpadu, terarah dan berkesinambungan untuk mewujudkan Indonesia Bebas Anak Jalanan 2014.

"Mudah-mudahan akhir Desember ini, 85 persen anak tidak ke jalan lagi," kata Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri saat kegiatan Sehari Bersama Anak di Kota Bandung, Minggu (14/10).

Peluncuran program kesejahteraan sosial anak untuk mewujudkan Bandung bebas anak jalanan yang digelar di halaman kantor gubernur atau gedung sate tersebut juga dihadiri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Pada acara tersebut Mensos menyerahkan bantuan PKSA untuk 1.750 anak total nilai lebih dari Rp3 miliar dan pemberdayaan orang tua anak jalanan melalui Kube atau Kelompok Usaha Bersama untuk 50 Kube total sebesar Rp1 miliar, serta kebutuhan dasar untuk 1.500 anak senilai Rp300 juta.

Sebagai upaya untuk mewujudkan Bandung Bebas Anak Jalanan, pada tahap pertama Kementerian Sosial sudah berusaha membantu 1.500 anak yang terpaksa bekerja di jalanan melalui Program Kesejahteraan Sosial Anak yang didampingi pekerja sosial.

Selain itu, secara terpadu Kementerian Sosial dan kementerian terkait lainnya serta pemerintah daerah selain memperhatikan kebutuhan dasar anak-anak, juga akan terus memperhatikan pemberdayaan keluarga.

Pada 2012, direncanakan untuk Kota Bandung dan sekitarnya akan diberikan bantuan kelompok usaha bersama (Kube) dan usaha ekonomi produktif (UEP) untuk 500 kepala keluarga dari anak-anak jalanan.

"Dengan cara ini, saya ingin memulai menangani anak jalanan dengan memadukan PKSA dengan pemberdayaan sosial kemiskinan perkotaan," kata Mensos.

Mensos mengatakan, Provinsi Jawa Barat harus menjadi contoh bagi provinsi lain dalam penanganan anak jalanan. Berdasarkan data Dinas Sosial pada 2011, jumlah anak jalanan di Jawa Barat mencapai 4.951 anak di 14 kabupatendan kota.

Kementerian Sosial juga telah melakukan kegiatan yang sama untuk Jakarta bebas anak jalanan pada 2011.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 8.000 anak jalanan mendapat tabungan sebesar Rp1,5 juta dan pembinaan untuk setiap anak dalam program PKSA sehingga anak tidak kembali lagi ke jalan.

Kementerian Sosial mengklaim kegiatan tersebut tercapai, sebab bagi anak yang kembali ke jalan tabungan yang seharusnya digunakan untuk membiayai kebutuhan sekolahnya seperti uang jajan dan ongkos akan ditarik kembali.

www.beritasatu.com/.../77493-bandung-canangkan-bebas-anak-jalanan.html

Kamis, 25 April 2013

Membuka Sekolah untuk Gelandangan dan Pengemis

Any Kusuma Dewi
Membuka Sekolah untuk Gelandangan dan Pengemis
Headline
Inilah.com
Oleh: Dahlia Krisnamurti
gayahidup - Sabtu, 7 Juli 2012 | 13:00 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Kecintaannya terhadap anak kecil telah membuat Any Kusuma Dewi membuka sekolah gratis untuk anak-anak pengemis dan gelandangan. Semua dari biayanya sendiri.

Apa yang dilakuikan Any Kusuma Dewi, wanita pengusaha ini memang patut diacungi jempol. Melalui Yayaysan Trikusuma Bangsa, ia mendatangi lingkungan anak-anak pengemis dan gelandangan untuk memberikan mereka pendidikan.

INILAH.COM mendapatkan kesempatan bertemu dengan Any bersama anak asuhnya di Meseum Fatahillah, baru-baru ini. Di komplek Museum Fatahillah, Any bersama beberapa rekannya terlihat asyik memberikan pendidikan dan permainan untuk anak didiknya.

Berikut petikan wawancara dengan Any, ibu tiga anak. Apa yang melatarbelakanginya membuat sekolah untuk anak-anak gelandangan dan apa saja yang telah didapatkan dari kegiatan sosialnya tersebut.


Mengapa tertarik di kegiatan sosial?

Saya baru Februari kemarin mendirikan Trikusma Bangsa ini. Tapi saya di kegiatan sosial sudah enam tahun lalu, seperti membantu korban bencana alam. Untuk mendirikan sekolah ini, karena kecintaan saya kepada anak-anak.

Kenapa anak-anak gelandangan dan pengemis?

Memang saya pecinta anak-anak. Saya dulu pernah menyantuni janda-janda miskin, tapi saya lebih konsentrasi ke anak-anak. Masa depan untuk anak-anak kan panjang. Kalau kasih ibunya uang, misalnya, kan langsung habis. Kalau anak-anak kan bisa disekolahin. Anak-anaknya saja yang perlu diselamatkan, karena pendidikan kan dibawa sampai mati.

Bagaimana awalnya membuat sekolah ini?

Awalnya saya makan di sini (Museum Fatahillah), banyak pengamen anak-anak. Saya nggak kasih uang karena takut dimanfaatkan. Lalu saya pinjam terpal dan saya ajak anak-anak ini untuk sekolah, ternyata mereka mau. Saya tanya seminggu sekali mau tidak belajar sambil main, dan mereka mau.

Lalu saya ajak sopir saya, suster, karyawan untuk menjadi follower. Sekarang saya punya anak didik sekitar 100. Selain di Fatahillah, saya juga punya tempat lain seperti ini, seperti di Cilincing.

Mengapa sekolahnya di tempat terbuka seperti ini?

Jujur, pertama karena saya tidak punya tempat, saya tidak punya rumah singgah. Selain itu, saya memang tidak mau mereka keluar dari habitatnya. Karena kalau saya bawa ke rumah asuh, mereka pasti akan balik lagi ke jalan. Karena memang tempat mereka ada di situ.

Kalau di sini, mereka kan seperti santai, tapi dapat pendidikan. Selain itu, ibu-ibu mereka juga bisa mengawasi. Karena kalau kita bawa ke tempat asuh, pasti nggak boleh sama orangtua mereka.

Apa saja yang diajarkan?

Semua pendidikan. Dari matematika, bahasa Inggris, iqro, keterampilan, menggambar.

Dapat halangan saat membuat sekolah ini?

Tentu ada. Halangannya awalnya dari orangtua. Karena harusnya mereka kerja, tapi malah belajar. Namun karena mereka melihat positif untuk anak-anak mereka, mereka bahkan sekarang mengantarkan langsung ke sini, menunggu anak-anaknya. Selain itu, saya di sini kan mengambil lahan parkir, awalnya sempat ribut sama tukang parkir di sini. Tapi mereka akhirnya mengizinkan.

Siapa saja yang membantu kegiatan sosial ini?
Kalau untuk mengeluarkan uang, saya sendiri, saya single fighter. Saya memang pengin mandiri. Saya nggak mau bikin proposal lalu meminta dana dari sana-sini. Saya pakai uang sendiri saja. Dan syukur alhamdulillah, sekarang banyak teman-teman membantu. Seperti ada yang membawa makan.

Ada teman-teman artis juga yang ikut terlibat membantu di sini seperti Vicky Zaenal, Femmy Permatasari, Calina istri Dedi Courbuzier. Ya mereka jadi bintang tamu saja untuk membuat senang anak-anak.

TAMBAHAN PENGASUG SHADOW OF THE CROSS INDONESIA:
 Doa dan harapan saya ada saudara saudara seiman saya yang mampu dan tergugah seperti Ibu Any. Meski berbeda iman kepercayaan tetapi saya sangat mendukung tindakan kasih bagi sesama yang ia lakukan. mari gereja Tuhan mari kita juga turut andil membangun bangsa ini dan generasi muda yang ada melalui pendidikan. GBU all

Anak Punk Gagal Uji Materi di MK

Headline
Oleh: Halimah Sadiyah
nasional - Kamis, 3 Januari 2013 | 18:26 WIB 
 
INILAH.COM, Jakarta - Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan uji materi pasal 505 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang gelandangan yang dimohonkan oleh seorang anak Punk, Debi Agustio.
Dalam pertimbangannya, majelis hakim menilai bahwa yang dimaksud dalam pasal tersebut bukan punk sebagai gaya hidup, namun punk yang hidup bergelandangan di jalan. Majelis juga mengkategorikan anak punk yang menggelandang sebagai perbuatan yang mengganggu ketertiban umum.
“Punk sebagai gaya hidup memang tidak dilarang, yang dilarang oleh Pasal 505 KUHP adalah hidup bergelandangan, karena bergelandangan merupakan suatu perbuatan yang melanggar ketertiban umum,” ujar anggota majelis hakim Mahkamah Konstitusi, Maria Farida Indarti dalam persidangan di Gedung MK, Kamis (03/01/13).
Debi Agustio merupakan anak punk yang juga mahasiswadari Fakultas HukumUniversitas Andalas, Padang. Ia merasa keberadaan Pasal 505 KUHP telah melanggar kebebasannya sebagai warga negara untuk berkumpul dan berserikat karena memuat ancaman pidana enam bulan penjara bagi anak punk.
Debi memohon agar MK membatalkan Pasal 505 ayat 1 KUHPyang berbunyi,“Barangsiapa bergelandangan tanpa pencarian, diancam karena melakukan pergelandangan dengan kurungan paling lama tiga bulan. Dan, ayat kedua yang berbunyipergelandangan yang dilakukan oleh tiga orang atau lebih yang umurnya di atas 16 tahun, diancam dengan kurungan paling lama enam bulan.
Ia menganggap pasal tersebut bertentangan dengan Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 yang mewajibkan negara untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar. Namun, Hakim Konstitusi Maria Farida menilai alasan tersebut tidak berdasar. Pasalnya, larangan hidup bergelandangan tidak ada kaitannya dengan kewajiban negara memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar.
Menurut Maria, hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan seseorang atau sekelompok orang untuk hidup menggelandang, sekalipun negara belum bisa melindungi fakir miskin dan anak-anak terlantar. [tjs]

Mereka Juga Ingin Punya Masa Depan



 
Pelayanan Anak Jalanan
(Linda - Komisi Pemuda) dari GKY www.gky.or.id
 
Mereka Juga Ingin Punya Masa Depan

Belum banyak jemaat yang tahu kalau GKJMB memiliki pelayanan di bidang yang satu ini. Kalaupun ada yang tahu, umumnya menganggap bagian dari Komisi Pemuda. Padahal pelayanan ini berada di bawah naungan Tim Misi. Artinya, terbuka bagi siapa saja.
Sejarah Terbentuknya
Pelayanan Anak Jalanan memang berawal dari Komisi Pemuda. Pada bulan Desember 1998, krisis moneter yang melanda bangsa Indonesia, ternyata mempengaruhi pola pikir Panitia Natal Pemuda Rayon III untuk tidak merayakan Natal secara jor-joran. Keputusan untuk ikut peduli terhadap situasi yang melandapun akhirnya diambil. Dana konsumsi tidak akan digunakan, melainkan dialokasikan untuk kegiatan sosial. Panitia Natal juga membentuk Tim Aksi Sosial Khusus di luar Panitia Natal. Hanya saja saat itu belum diputuskan kegiatan sosial macam apa yang akan dilakukan. Mengunjungi Panti asuhan, Panti Jompo, atau membagi-bagikankan sembako.
Informasi yang didapat, akhirnya menggiring tim aksos untuk menjatuhkan pilihannya pada penampungan anak jalanan di Jl. Kebon Sirih mlik sebuah Yayasan Kristen yang berada di bawah naungan Kampus Diakonia Modern (KDM) pimpinan Bapak Lumy. Di tempat penampungan ini, anak-anak yang tadinya hidup di jalan diajak kembali untuk hidup secara normal. Makan tiga kali sehari, mandi dan berganti pakaian, punya tempat untuk berlindung dari panas, hujan, dan juga kehidupan keras jalanan yang kerap membahayakan keselamatan diri mereka.
Tepat tanggal 25 Desember 1998, acara kunjungan dilaksanakan. Anak-anak yang hadir jumlahnya jauh lebih banyak dari kondisi normal. Rupanya rencana kedatangan kami dengan cepat mereka sebar ke teman-teman mereka di jalan. Acara demi acarapun disuguhkan. Menyanyi bersama, panggung boneka, permainan dan pembagian bingkisan. Tidak akan pernah terhapus dalam ingatan kami, bagaimana mata bulat polos mereka dengan tidak berkedip memandang acara panggung boneka, suatu hal yang sangat langka dalam kehidupan mereka. (Acara ini sempat diliput oleh harian KOMPAS, yang kemudian menjadi salah satu berita halaman pertama media tersebut keesokan harinya)
Perayaan Natal di Kebon Sirih ini tidak saja berjalan lancar, tapi juga meninggalkan suatu beban pelayanan baru bagi Tim Aksos. Mereka merasa tidak mungkin hanya datang dan lihat untuk pergi selamanya. Harus ada suatu tindak lanjut yang dilakukan bagi anak-anak jalanan tersebut. Harus ada yang menyampaikan Kabar Baik kepada mereka. Jangan sampai kehidupan menyedihkan selama di dunia terus mengikuti mereka hingga "kehidupan baru" kelak. Syukur kepada Tuhan karena Dia membuat Tim Aksos tidak saja tergerak, tapi juga bergerak. Pihak KDM segera dihubungi. Setelah berembuk, Tim Aksos akhirnya kebagian peran di bidang rohani. Dan sesuai dengan kebutuhan, Tim Aksos kemudian melayani di tempat penampungan mereka di kawasan Cileungsi.
Kondisi Pelayanan
Pelayanan anak jalanan ternyata sangat unik. Tidak seperti pelayanan-pelayanan lainnya di dalam gereja yang sudah baku. Pelayanan anak jalanan merupakan suatu bentuk pelayanan yang unpredictable (tak dapat ditentukan secara pasti). Selain karena Tim Aksos kekurangan SDM dan masih mencari bentuk dan format yang tepat, anak-anak yang dilayani sangat beragam. Mulai dari usia, tingkat pendidikan, latar belakang dan juga masalah yang mereka hadapi. Masing-masing anak memerlukan penanganan yang khusus dan berbeda-beda.
Sebut saja Eko, 14 tahun, sudah beberapa tahun malang-melintang di jalan. Untuk bisa tetap makan, biasanya dia ngamen di lampu-lampu merah ataupun di kendaraan umum. Tampaknya tidak ada yang berbahaya dalam diri anak ini. Tapi, ternyata Eko sudah pernah beberapa kali menjadi korban perlakuan seksual orang dewasa selama menjalani kehidupannya. Akibatnya di tempat penampungan dia tidak dapat melepaskan diri dari kebiasaan ini, dan akhirnya temannya pun menjadi korban.
Atau Rahmat, asal Banten. Sebelum ke Jakarta dia sudah dibekali bermacam-macam ilmu hitam. Pernah berniat menurunkan ilmunya itu ke teman-temannya, sering ke kuburan sendirian pada waktu malam, merupakan kegiatan yang dikerjakannya selama berada di tempat penampungan Cileungsi. Masih banyak lagi kisah anak-anak malang yang dilayani Tim Aksos yang terlalu banyak untuk diceritakan di sini.
Mereka memang anak-anak yang malang, sementara anak-anak normal di belahan bumi ini menikmati hangatnya kasih sayang dan perhatian orang tua, anak-anak ini sudah harus merasakan kerasnya kehidupan di jalanan. Kehidupan yang keras di rumah, hidup bersama dengan ayah/ibu tiri yang tidak ramah, kemiskinan, merupakan salah-satu dari sekian banyak alasan kenapa akhirnya anak-anak itu lebih senang hidup luntang-lantung di jalanan. Sekolah dan kehidupan normal ditinggalkan untuk menikmati alam kebebasan yang tampaknya sangat menjanjikan. Tapi, nyatanya kehidupan di jalan jauh lebih keras dari yang mereka bayangkan sebelumnya. Untuk bisa diterima di komunitas jalanan, tidak jarang mereka harus diplonco terlebih dahulu. Dan sekadar untuk mempertahankan hidup, mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Ngoyen (makan makanan sisa), nguping (melepas kaca spion mobil), ngebola (mencuri dengan cara oper-operan di atas kendaraan umum), ngaibon ( menghirup hawa lem yang bisa membuat mereka melupakan sejenak masalah mereka) adalah hal-hal yang lazim mereka lakukan. Saat ini jumlah anak jalanan yang ditampung di Cileungsi hanya tinggal 15, dari 30 orang anak yang mula-mula berhasil ditampung.
Dengan kondisi demikian Tim Aksos merasa sulit untuk menembus benteng yang mereka pasang untuk Injil, tanpa dukungan daya dan doa dari segenap jemaat. Kiranya tulisan ini mampu mengetuk hati nurani jemaat agar kita tidak lagi melihat mereka sebagai makhluk pengganggu yang menjijikkan di lampu-lampu merah (yang kemudian membuat kita deg-degan dan cepat-cepat menyiapkan duit receh). Tapi, marilah kita melihat mereka sebagai orang-orang yang patut kita jaring dan kasihi. Kalau Yesus saja mengasih kita, mengapa kita tak mau mengasihi mereka?

Pelayanan Kesehatan Tak Berjalan Bagi Orang Miskin

Satgas PA: Pelayanan Kesehatan Tak Berjalan Bagi Orang Miskin
19 Feb 2013 08:54:20 dari www.actual.co
Satgas PA: Pelayanan Kesehatan Tak Berjalan Bagi Orang Miskin
Ilustrasi (Foto:tataruangindonesia.com)
Jakarta, Aktual.co — Anggota Satgas Perlindungan Anak Ilma Sovri Yanti Ilyas mengatakan, seharusnya tidak ada diskriminasi dalam pelayanan kesehatan termasuk untuk orang miskin.

"Kasus Dera menjadi momentum bagi pemerintah untuk berbenah layanan kesehatan setelah kasus RI yang berujung dengan kematian karena lemahnya layanan puskesmas," kata Ilma Sovri Yanti di Jakarta, Selasa (19/1).

Dera Nur Anggraini, bayi yang lahir secara prematur meninggal dunia setelah sepekan berjuang melawan penyakitnya yaitu gangguan pernapasan karena ada kelainan pada kerongkongan.

Bayi tersebut terlambat mendapatkan perawatan dari rumah sakit. Menurut Eliyas Setya Nugroho, ayah Dera, ia telah berupaya merujuk Dera ke rumah sakit lain namun beberapa rumah sakit di Jakarta menolak dengan alasan penuh.

Dera yang lahir kembar akhirnya meninggal pada Sabtu (16/2) di Rumah Sakit Zahira tempat ia dilahirkan.

Ilma mengatakan, Satgas PA berduka atas meninggalnya Dera bayi kembar yang sempat ditolak oleh lima rumah sakit di Jakarta.

Sesuai penjelasan dari pemerintah bahwa yang mencari rujukan seharusnya rumah sakit, tapi ternyata orang tua korban harus keliling dari pintu ke pintu rumah sakit agar anaknya bisa dirawat.

"Dari proses yang terjadi, terlihat bahwa sistem pelayanan kesehatan tidak berjalan karena orang tua korban miskin," kata Ilma.

Gereja Membantu Kaum Miskin

Diambil dari Tabloid Reformata

Alkisah, tahun 1976, Muhammad Yunus mendirikan Grameen Bank. Dia awalnya memberi pinjaman pada kaum miskin di Bangladesh. Prestasinya mengangkat kaum miskin membuat banyak orang terkesima. Keberhasilnya untuk mengangkat kaum miskin membuahkan hadiah nobel ekonomi tahun 2009.
Konsep itu sebenarnya sudah lama berakar dalam tradisi Kristen. Peranan gereja, bukan lagi hanya masalah rohani tetapi juga ikut terlibat dalam kegiatan masyarakat, dan itulah yang disebut pelayanan yang holistik. Jadi inilah salah satu bentuk pelayanan gereja dalam bentuk diakonia. Credit union yang dikelola gereja contohnya adalah CU di Gereja St. Joseph di Phnom Penh, Kamboja.
Program ini memberikan pinjaman kepada orang miskin dengan bunga paling rendah, kata Saing Yuth, mantan guru dan administrator CU. Pinjaman di CU tersebut hanya dikenai bunga satu persen per bulan tanpa harus ada jaminan. Ketika lembaga credit union lain mematok bunga 4-5 persen per bulan, kata perempuan itu.
Selain pinjaman, CU gereja itu juga memiliki program tabungan, yang memberikan bunga tiga persen per tahun. Kepala paroki, Pastor Paul Roeung Chatchai memperkenalkan program kredit dan tabungan itu pada awal tahun 2007. “Misi utama Gereja adalah untuk mewartakan Kabar Baik bagi manusia. CU kami merupakan salah satu cara untuk melakukan hal ini dengan memberikan kehidupan bagi orang miskin ketika mereka berada dalam situasi sulit,” katanya.
Tujuan lain, lanjut Pastor Roeung, adalah mendorong dan mengajar masyarakat setempat untuk saling mendukung dan secara finansial janganlah terlalu bergantung pada keluarga. Menurut Bank Nasionam Kamboja, negara itu memiliki 27 bank komersial, enam bank spesialis, dan 21 lembaga CU berlisensi.
Di kalangan Katolik, di KWI sendiri credit Union dirintis Romo Stephanus Bijanta CM yang menjadi Sekretaris Komisi PSE KWI. Dia berpengalaman dalam menggerakkan Credit Union di Kalimantan dan Papua. Di KWI sekarang punya Credit Union yang ada di Jakarta, misalnya CU di Jakarta yang anggotanya sekitar 1500 orang dengan total asset 14 miliar rupiah.
Romo Maryono SJ kala itu mempersilahkan untuk mengadakan sosialisasi CU di tengah karyawan-karyawati KWI. “Credit Union bukan melekat kepada lembaga seperti kantor KWI, tetapi melekat pada setiap orang yang menjadi anggota CU. Lembaga seperti KWI hanya bermitra dengan CU untuk membangun wadah merancang kesejahteraan pribadi bersama dengan orang lain,” ujarnya.

Membangkitkan ekonomi
Lain lagi CU Sondang Nauli yang berdiri tanggal 23 April 1983 di Kabanjahe, Kabupaten Karo yang berkantor pusat di Jalan Sukaraja Munthe No. 40 Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Awalnya, ikatan pemersatu CU Sondang Nauli adalah para perantau Katolik yang datang ke Kabanjahe dan sekitarnya yang tergabung dalam Punguan Sondang Nauli. Kini, credit union ini berkomitmen untuk tetap konsisten dan terus menerus memberikan pelayanan terbaik bagi anggotanya dan seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Karo.
Kisah lain, Pintaraja Marianus Sitanggang seorang penggagas credit union di Sumatera Utara. Dia memulai di lingkungan sekolah. Berawal sebuah koperasi yang dibentuk dari dua SMA di Pematang Siantar, kini ada 61 credit union di bawah naungan Puskopdit BK3D Sumatera utara. Kini, total aset credit union di bawah Puskopdit BK3D ini, sampai sekarang lebih Rp 1 triliun. Uang tersebut semuanya berasal dari simpanan saham anggota credit union yang jumlahnya lebih dari 250.000 anggota, basisnya juga gereja.
Awalnya, keputusan Pintaraja mendirikan credit union itu diawali sejak Sitanggang mengikuti seminar perburuhan di Baguio City, Filipina, tahun 1970. Sitanggang yang saat itu menjadi guru SMA Katolik Budi Mulia, Pematang Siantar, Sumatera Utara, berada di Filipina karena ditugaskan Pengurus Pusat Persatuan Guru Katolik. “Salah satu materi seminar perburuhan itu tentang credit union.”
Sebagai ketua yayasan, Sitanggang kemudian mengajak para guru dan karyawan SMA Budi Mulia mendirikan credit union. Tahun 1973, terbentuklah credit union Cinta Mulia. Tetapi, kondisi ekonomi saat itu belum pulih benar akibat inflasi pada akhir pemerintahan Presiden Soekarno.
Ini membuat tak banyak orang tertarik pada ide koperasi simpan pinjam itu. Namun, Sitanggang tak kehilangan akal. Ia lalu bersepakat dengan guru dan karyawan agar memotong sebagian gaji mereka sebagai simpanan saham. ”Waktu itu lembaga keuangan, apalagi koperasi, hampir tak dipercaya masyarakat. Di sisi lain, masyarakat miskin di desa-desa tak mengenal konsep menabung karena untuk makan saja sulit,” ujarnya.
Tantangan membentuk permodalan bersama bagi rakyat miskin di pedesaan tak menyurutkan semangat Sitanggang. Ia tak ragu mendatangi lapo, kedai tuak, dan mengunjungi rumah warga di huta-huta di Sumatera Utara, hanya untuk memberi pemahaman bahwa semiskin-miskinnya orang masih ada yang bisa mereka sumbangkan.
Awalnya dia hanya berkantor di gereja. Itu dilaluinya selama 10 tahun pertama. Tapi  kemudian, credit union ini mulai dilirik masyarakat. Kini, credit union menjadi semakin inklusif. Lembaga keuangan ini tak hanya dimiliki jemaat gereja Katolik, tetapi juga mereka yang beragama lain.
Kini, dengan berkembang itu, maka berdirilah Badan Pengembangan Daerah Koperasi Kredit yang menjadi cikal bakal koperasi sekunder, Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D). Penyesuaian nama sejalan dengan Undang-Undang Koperasi, membuat BK3D diubah menjadi Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit).
Ternyata credit union dapat membangkitkan ekonomi rakyat.
 ?Hotman J. Lumban Gaol

Stand True Pro-lif Outreach - What I saw and heard during my two days at the murder trial of abortionist Kermit Gosnell

What I saw and heard during my two days at the murder trial of abortionist Kermit Gosnell:
I recently spent two days at the murder trial of Kermit Gosnell, the abortionist accused of the murder of seven babies born alive and one woman. Gosnell would take babies who were born alive after botched abortions and snip the backs of their necks to finish the job. You can find out all about who Gosnell is and what he did at http://www.whoisgosnell.com
I arrived at the courthouse on Monday morning to find out the trial would be postponed for a day because of the defense attorney being sick and in the hospital. Father Frank, Janet Morana, Alveda King and I were able to talk to the prosecutors who allowed us to view and examine the evidence that was taken from his “house of horrors” abortion mill.
As I walked around the filthy, rusty and utterly disgusting equipment I wanted to vomit. I could not believe this stuff was taken from a so-called “medical clinic.” The table that the abortions were performed on looked like it was straight out of a horror movie, as did the suction tubes and ancient ultra-sound machine. The recliner in which women sat to recover from the abortions was stained and tattered and not fit to sit on. Earlier that day the prosecutor almost sat in the chair and she was visibly upset that she came so close to doing so.
On Tuesday I met up early in the morning with Alveda King and went back to the courtroom for the opening of the defense’s arguments. The day opened with defense attorneys arguing for the acquittal of all the charges to the judge, without the jury present.
Gosnell’s attorney was visibly conflicted as he went back and forth between calling the victims either a fetus or a baby. At one point he yelled out, “These infants, fetuses or whatever you call them.” I wanted to scream but had to bite my tongue as I listened to this dribble.
It suddenly became very personal to me as the defense attorney began to address the abuse of a corpse charges that Gosnell was facing for the baby parts found in jars in his house of horrors. When the attorney started spewing about how these were not real body parts because they were not real humans yet, I began to tear up. He talked about how these babies were not really human and all I could think about was Benjamin Davis, my son who we miscarried two years ago. Benjamin was a real person and was given a real funeral; he was an actual human being just as these babies were.
The prosecutors at one point were discussing a time when after the botched abortion, Gosnell also botched his “snipping.” “It was laying there with a hole in its neck, it was moving and breathing, it was alive,” declared a clinic worker about one of the babies Gosnell murdered. Sitting there listening to all of these quotes and testimonies was one of the most difficult things I have ever done, but it was important for me to be there.
Gosnell (as you notice I refuse to call him a doctor) just sat there through all of this testimony without emotion or reaction. He just sat there taking notes and smirking as he looked around. He was guarded by an armed police officer at all times as he has been in custody for almost two years. It makes my skin crawl to think that this man could possibly be released and be back in practice if he is found not guilty.
I am also heartbroken for this man and the day he will face our Lord. I prayed for his soul and have been asking my friends to do so also. I know how despicable I was before I knew Christ and I also know Gosnell needs that hope of Christ just all of us do.
This Monday the attorneys will present their closing arguments and then his fate will be given to the jury to deliberate. Christian leaders will be outside the Courthouse on Monday leading a prayer vigil for the verdict and for Gosnell himself.
We need your help to get me back to the Gosnell trial on Monday and Tuesday. It is important for me to join other national leaders at the trial for the closing arguments and for the prayer vigil. We simply need help with the cost as it is not in our budget right now, can you donate $25, $50, $100 or whatever you can to help get me there?
Bryan Kemper
Will you help get Bryan Kemper to the Gosnell trial?
If you can donate please do so at https://donate.cornerstone.cc/?mid=STANDTRUE or on the donate button on Stand True's Web site.
Donations can also be mailed to Stand True – PO Box 890 – Troy, OH 45373 or call 540-538-2581 to donate by phone.
Bryan Kemper
Director of Youth Outreach for Priests for Life
Stand True
PO Box 890 * Troy, OH 45373
Tel 540.538.2581
bryankemper@standtrue.com
http://www.facebook.com/iambryankemper
http://www.facebook.com/standtrueforlife
http://www.standtrue.com