Senin, 27 Mei 2013

'Scripture and Strategy, The Use of the Bible in Postmodern Church and Mission'

'Scripture and Strategy, The Use of the Bible in Postmodern Church and Mission'
What I learned about different methods of Missions and Evangelism in the Light of Scripture


By Michael Ireland
Special Reporter, ASSIST News Service

MINNEAPOLIS, MN (ANS) -- In Scripture and Strategy (William Carey Library, Pasadena, CA, © 1994), author David J. Hesselgrave says his underlying thesis is that "Holy Scripture itself must occupy a central place in the future strategy of the churches and their missions." (emphasis mine).
Cover Artwork for 'Scripture and Strategy.'
In order to do this, Hesselgrave looks at the testimony of Scripture Authors, reviews in broad outline some of the ways in which representatives of church and mission have used (and abused) Scripture in modern times, and makes special note of the ministries who demonstrate that, rightly viewed and used, the Bible itself possesses the highest potential for impacting a postmodern world for Christ.(emphasis mine). The author states categorically, that in spite of past failures in missionary enterprises, "progress seems always to be linked with complete confidence in, and careful examination and utilization of, the revealed Word of God." (p.11) [my emphasis].
Early in the book, Hesselgrave tackles the question of "by whose authority" (p.17) churches and missions face in seeking to evangelize the modern world for Christ. He then traces the rediscovery of Biblical Authority, how modernists have been rethinking Biblical interpretation, hermeneutical methodologies, including the relationship between "meaning then," and "meaning now," addresses the subject of using the Bible "in context," the place of the Bible in Christian ministry - including a look at 'Message and Method' - the process of confirming believers in the Christian faith, and the scope of the Great Commission.
By Chapter Eight of 11 chapters, Hesselgrave comes to what I believe to be the heart of Christian missions and evangelism today, "Counseling Christians Concerning Spiritual Warfare," (pp.120-135).
In this chapter, Hesselgrave reviews the work of Tim Warner, a Bible College Missions professor and minister in the area of Spiritual Warfare.
Hesselgrave describes an approach used by Warner which missiologists refer to as "power encounter." Here he describes Warner's work in the 1980s and 1990s among people in the United States, as well as missionaries and nationals abroad, who faced great spiritual and psychological needs - those who were casualties of the warfare between God and Satan. Many were referred to him by Christian psychologists and counselors in the Chicago area where Warner served at Trinity Evangelical Divinity School. He since aligned himself with Dr. Neil Anderson's Freedom in Christ Ministries.
Both as a theorist and practitioner, Warner gained credibility as an authority on spiritual warfare and, in 1991, the results of years of study and involvement were set forth in a book on the subject, Spiritual Warfare: Victory over the Powers of this Dark World, http://www.amazon.com/Spiritual-Warfare-Victory-Powers-World/dp/0891076077.
Hesselgrave goes on to describe how, in recent years, the primary focus of Warner's thinking and ministry has gradually shifted from "power encounter" to "truth encounter." He says of Warner that "he is no less convinced that there are times when believers must confront Satan and demonic spirits directly in the name and power of the Lord Jesus Christ, but he become increasingly aware of the fact that if God's people are to avail themselves of their resources in Christ they must first understand and believe what it means to be in Christ." (my emphasis.)
Hesselgrave says Warner often quotes one of his college professors who used to say, "People may not live what they profess, but they will always live what they believe."
Hesselgrave continues by saying that only Christians who really understand and believe what the Bible says about those in Christ have a foundation for coping with the world, for victorious living, and for effective ministry. He adds, "By definition, then, the truth encounter precedes the power encounter and constitutes preparation for it." (my emphasis). The author cites Paul's prayer for the believers in Ephesus (Eph. 1:17 - 2:7), which Warner refers to over and over again.
In conclusion, from reading this book, I learned that no matter what methods or techniques of missions and evangelism are employed, either at home or overseas, that Christian believers need not only to prepare themselves with Biblical and theological knowledge, but to be trained in how to present the truth of the Gospel to their hearers by means of 'truth encounter', but also how to deal with the Enemy of Our Souls in the power of the Resurrected Christ in a 'power encounter' so that Christian conversion may be thorough and complete.
** This article was first posted to Devotional Moments with Mike at http://devotionalmoments.blogspot.com  as a final response paper for my candidacy for Master of Arts in Divinty from CLIMB Bible School at www.climbschool.com
 

Rabu, 08 Mei 2013

EAGLES NEST MINISTRIES



 
EAGLES NEST MINISTRIES
Jawaban bagi Indonesia
Indonesia dikenal sebagai sebuah negara kepulauan yang memiliki keragaman suku, budaya dan bahasa daerah. Mayoritas penduduk Indonesia merupakan orang non Kristen dan merupakan negara Muslim terbesar di dunia. Masih ada sekitar 129 suku dari 23 rumpun suku di Indonesia yang sama sekali belum pernah mendengar berita Injil. Gereja Tuhan di Indonesia mungkin telah berupaya memberitakan Injil dalam masyarakatnya namun hasilnya belum optimal. Begitu banyak orang yang menolak berita sukacita tersebut karena menganggap berita tersebut sebagai “kepercayaan asing”. Sebab dibagikan dalam kemasan yang kebarat-baratan, yang mungkin tidak cocok dengan budaya setempat dari masyarakat yang hendak dijangkau. Ada banyak suku yang siap dan terbuka seandainya kita memberitakan berita keselamatan itu dengan menyajikannya sesuai kebiasaan, adat istiadat serta budaya mereka.
Eagles Nest Ministries berdiri 1 Juli 2007 di kota Bandung, salah satunya untuk menjawab tantangan ini. Pelayanan ini dirintis oleh suami istri Dave Broos dan Novie Durant yang merindukan umat Tuhan meresponi Amanat Agung Tuhan (Mat 28:19-20, Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman) untuk menjadi murid dan menjadikan segala bangsa murid Tuhan hingga kerajaan Tuhan diperluas, suatu umat yang bukan “sekedar beragama Kristen” tetapi mengetahui panggilan Tuhan atas hidupnya dan membawa dampak bagi komunitasnya. Dave Broos merupakan hamba Tuhan yang ditahbiskan oleh United Christian Faith Ministries dari Amerika Serikat, ditunjuk sebagai regional director dari Shadow of the Cross di Indonesia (sebuah pelayanan bagi sub kultur di perkotaan), pendoa syafaat Global Prayer Network – Johan Maasbach Wereld Zending dan utusan Injil dari Gereja Oikos Indonesia jemaat Surabaya.
Visi Eagles Nest Ministries adalah “MEMBERITAKAN KABAR BAIK, MEMURIDKAN & MENGUTUS SETIAP ANAK TUHAN UNTUK “MENJADI” GEREJA DIMANA PUN MEREKA BERADA”. Kerinduan kami adalah bekerja bersama dan memperlengkapi semua denominasi gereja, persekutuan, pelayanan Kristen lainnya dalam menyelesaikan amanat agung. Pelayanan ini berjejaring dengan pergerakan pemuridan dan penanaman gereja dunia Zoe Ministries, LK10 dan Outreach Fellowship International.
Missi kami adalah:
  • MEMPERKENALKAN PENGHARAPAN & KASIH BAPA SURGAWI PADA DUNIA TERHILANG
  • MEMULIHKAN & MEMURIDKAN MEREKA YANG BERKOMITMEN UNTUK BERTUMBUH DALAM KRISTUS
  • MELATIH DAN MENGUTUS MURID KRISTUS SEBAGAI AGEN PERUBAHAN KE SELURUH DUNIA
  • MELIHAT TERANG TUHAN BERSINAR DIMANA-MANA MENERANGI DUNIA SAMPAI TUHAN DATANG KEMBALI

Kami menyadari bahwa kami tidak bisa bekerja sendiri tetapi diperlukan kebersamaan dan kesadaran bersama akan kehendak Tuhan. Diperlukan sebuah kesehatian dan kesatuan (meski kita berbeda organisasi tapi satu dalam Tuhan Yesus) agar kita dapat berfungsi sebagai tubuh Kristus yang menjadi berkat dan dampak bagi mereka yang belum mengenal Tuhan.
Bagaimana Anda dapat menjadi rekan kami?
Keberhasilan pelayanan ini berarti juga keberhasilan umat Tuhan di Indonesia. Roma 10:13-15,”Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia jika tidak ada yang memberitakanNya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis:”Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Kami mengajak Anda untuk dapat terlibat bersama dalam menjangkau jiwa terhilang melalui 3D
DIRI
Bagi mereka yang mau terlibat dalam mewartakan Injil, pemuridan, penanaman dan pengembangan gereja. Kami memberi diri untuk memperlengkapi baik seorang pribadi maupun gereja atau persekutuan yang hendak bermultiplikasi atau menanggapi amanat agung. Bukan jumlah orang tetapi kesediaan menanggapi panggilan Tuhan adalah tujuan kami. Kami memiliki bahan-bahan pemuridan yang dapat digunakan baik untuk pribadi, persekutuan maupun gereja yang hendak bertumbuh.
DOA
Anda dapat berdoa syafaat keluarga kami dalam memenuhi panggilan Tuhan dalam kehidupan kami. Kami juga menyediakan blog yang berisi berita dan pokok doa bagi suku-suku terabaikan baik di Indonesia maupun mancanegara.
DANA
Bagi mereka yang mau mendukung kami agar kami bisa pergi memperlengkapi umat Tuhan maupun gereja Tuhan di daerah terpencil atau tak mampu hingga kami dapat memperlengkapi dan mengutus lebih banyak lagi anak Tuhan dalam pemuridan dan perintisan gereja. Bagi yang terbeban dapat menghubungi kami lebih lanjut.
Saya percaya Anda dapat menanggapi salah satu atau bahkan ketiga hal tersebut sebagai anggota tubuh Kristus yang telah mengalami kasih karunia dan anugerah keselamatan. Anda dapat merenungkan dan mendoakan ke tiga hal tersebut demi menjangkau mereka yang berseru,”Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami.” (Kis 16:9). Dapatkah Anda mendengar seruan mereka yang terhilang? Tuhan menunggu partisipasi dan pengabdian Anda kepadaNya.
Salam dan doa,
Dave Broos
Kontak kami dapat melalui inbox Facebook atau direct message Twitter, email: davebroos@yahoo.co.uk , telpon 022-92050322 atau SMS 087832744286.

Selasa, 30 April 2013

Bandung Canangkan Bebas Anak Jalanan

Bandung Canangkan Bebas Anak Jalanan

Ilustrasi anak jalanan.
Ilustrasi anak jalanan. (sumber: Jakarta Globe)
Targetnya akhir Desember tahun ini, 85 persen anak jalanan di Bandung tidak ke jalan lagi.

Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat mencanangkan bebas anak jalanan sebagai upaya terpadu, terarah dan berkesinambungan untuk mewujudkan Indonesia Bebas Anak Jalanan 2014.

"Mudah-mudahan akhir Desember ini, 85 persen anak tidak ke jalan lagi," kata Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri saat kegiatan Sehari Bersama Anak di Kota Bandung, Minggu (14/10).

Peluncuran program kesejahteraan sosial anak untuk mewujudkan Bandung bebas anak jalanan yang digelar di halaman kantor gubernur atau gedung sate tersebut juga dihadiri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Pada acara tersebut Mensos menyerahkan bantuan PKSA untuk 1.750 anak total nilai lebih dari Rp3 miliar dan pemberdayaan orang tua anak jalanan melalui Kube atau Kelompok Usaha Bersama untuk 50 Kube total sebesar Rp1 miliar, serta kebutuhan dasar untuk 1.500 anak senilai Rp300 juta.

Sebagai upaya untuk mewujudkan Bandung Bebas Anak Jalanan, pada tahap pertama Kementerian Sosial sudah berusaha membantu 1.500 anak yang terpaksa bekerja di jalanan melalui Program Kesejahteraan Sosial Anak yang didampingi pekerja sosial.

Selain itu, secara terpadu Kementerian Sosial dan kementerian terkait lainnya serta pemerintah daerah selain memperhatikan kebutuhan dasar anak-anak, juga akan terus memperhatikan pemberdayaan keluarga.

Pada 2012, direncanakan untuk Kota Bandung dan sekitarnya akan diberikan bantuan kelompok usaha bersama (Kube) dan usaha ekonomi produktif (UEP) untuk 500 kepala keluarga dari anak-anak jalanan.

"Dengan cara ini, saya ingin memulai menangani anak jalanan dengan memadukan PKSA dengan pemberdayaan sosial kemiskinan perkotaan," kata Mensos.

Mensos mengatakan, Provinsi Jawa Barat harus menjadi contoh bagi provinsi lain dalam penanganan anak jalanan. Berdasarkan data Dinas Sosial pada 2011, jumlah anak jalanan di Jawa Barat mencapai 4.951 anak di 14 kabupatendan kota.

Kementerian Sosial juga telah melakukan kegiatan yang sama untuk Jakarta bebas anak jalanan pada 2011.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 8.000 anak jalanan mendapat tabungan sebesar Rp1,5 juta dan pembinaan untuk setiap anak dalam program PKSA sehingga anak tidak kembali lagi ke jalan.

Kementerian Sosial mengklaim kegiatan tersebut tercapai, sebab bagi anak yang kembali ke jalan tabungan yang seharusnya digunakan untuk membiayai kebutuhan sekolahnya seperti uang jajan dan ongkos akan ditarik kembali.

www.beritasatu.com/.../77493-bandung-canangkan-bebas-anak-jalanan.html

Kamis, 25 April 2013

Membuka Sekolah untuk Gelandangan dan Pengemis

Any Kusuma Dewi
Membuka Sekolah untuk Gelandangan dan Pengemis
Headline
Inilah.com
Oleh: Dahlia Krisnamurti
gayahidup - Sabtu, 7 Juli 2012 | 13:00 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Kecintaannya terhadap anak kecil telah membuat Any Kusuma Dewi membuka sekolah gratis untuk anak-anak pengemis dan gelandangan. Semua dari biayanya sendiri.

Apa yang dilakuikan Any Kusuma Dewi, wanita pengusaha ini memang patut diacungi jempol. Melalui Yayaysan Trikusuma Bangsa, ia mendatangi lingkungan anak-anak pengemis dan gelandangan untuk memberikan mereka pendidikan.

INILAH.COM mendapatkan kesempatan bertemu dengan Any bersama anak asuhnya di Meseum Fatahillah, baru-baru ini. Di komplek Museum Fatahillah, Any bersama beberapa rekannya terlihat asyik memberikan pendidikan dan permainan untuk anak didiknya.

Berikut petikan wawancara dengan Any, ibu tiga anak. Apa yang melatarbelakanginya membuat sekolah untuk anak-anak gelandangan dan apa saja yang telah didapatkan dari kegiatan sosialnya tersebut.


Mengapa tertarik di kegiatan sosial?

Saya baru Februari kemarin mendirikan Trikusma Bangsa ini. Tapi saya di kegiatan sosial sudah enam tahun lalu, seperti membantu korban bencana alam. Untuk mendirikan sekolah ini, karena kecintaan saya kepada anak-anak.

Kenapa anak-anak gelandangan dan pengemis?

Memang saya pecinta anak-anak. Saya dulu pernah menyantuni janda-janda miskin, tapi saya lebih konsentrasi ke anak-anak. Masa depan untuk anak-anak kan panjang. Kalau kasih ibunya uang, misalnya, kan langsung habis. Kalau anak-anak kan bisa disekolahin. Anak-anaknya saja yang perlu diselamatkan, karena pendidikan kan dibawa sampai mati.

Bagaimana awalnya membuat sekolah ini?

Awalnya saya makan di sini (Museum Fatahillah), banyak pengamen anak-anak. Saya nggak kasih uang karena takut dimanfaatkan. Lalu saya pinjam terpal dan saya ajak anak-anak ini untuk sekolah, ternyata mereka mau. Saya tanya seminggu sekali mau tidak belajar sambil main, dan mereka mau.

Lalu saya ajak sopir saya, suster, karyawan untuk menjadi follower. Sekarang saya punya anak didik sekitar 100. Selain di Fatahillah, saya juga punya tempat lain seperti ini, seperti di Cilincing.

Mengapa sekolahnya di tempat terbuka seperti ini?

Jujur, pertama karena saya tidak punya tempat, saya tidak punya rumah singgah. Selain itu, saya memang tidak mau mereka keluar dari habitatnya. Karena kalau saya bawa ke rumah asuh, mereka pasti akan balik lagi ke jalan. Karena memang tempat mereka ada di situ.

Kalau di sini, mereka kan seperti santai, tapi dapat pendidikan. Selain itu, ibu-ibu mereka juga bisa mengawasi. Karena kalau kita bawa ke tempat asuh, pasti nggak boleh sama orangtua mereka.

Apa saja yang diajarkan?

Semua pendidikan. Dari matematika, bahasa Inggris, iqro, keterampilan, menggambar.

Dapat halangan saat membuat sekolah ini?

Tentu ada. Halangannya awalnya dari orangtua. Karena harusnya mereka kerja, tapi malah belajar. Namun karena mereka melihat positif untuk anak-anak mereka, mereka bahkan sekarang mengantarkan langsung ke sini, menunggu anak-anaknya. Selain itu, saya di sini kan mengambil lahan parkir, awalnya sempat ribut sama tukang parkir di sini. Tapi mereka akhirnya mengizinkan.

Siapa saja yang membantu kegiatan sosial ini?
Kalau untuk mengeluarkan uang, saya sendiri, saya single fighter. Saya memang pengin mandiri. Saya nggak mau bikin proposal lalu meminta dana dari sana-sini. Saya pakai uang sendiri saja. Dan syukur alhamdulillah, sekarang banyak teman-teman membantu. Seperti ada yang membawa makan.

Ada teman-teman artis juga yang ikut terlibat membantu di sini seperti Vicky Zaenal, Femmy Permatasari, Calina istri Dedi Courbuzier. Ya mereka jadi bintang tamu saja untuk membuat senang anak-anak.

TAMBAHAN PENGASUG SHADOW OF THE CROSS INDONESIA:
 Doa dan harapan saya ada saudara saudara seiman saya yang mampu dan tergugah seperti Ibu Any. Meski berbeda iman kepercayaan tetapi saya sangat mendukung tindakan kasih bagi sesama yang ia lakukan. mari gereja Tuhan mari kita juga turut andil membangun bangsa ini dan generasi muda yang ada melalui pendidikan. GBU all

Anak Punk Gagal Uji Materi di MK

Headline
Oleh: Halimah Sadiyah
nasional - Kamis, 3 Januari 2013 | 18:26 WIB 
 
INILAH.COM, Jakarta - Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan uji materi pasal 505 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang gelandangan yang dimohonkan oleh seorang anak Punk, Debi Agustio.
Dalam pertimbangannya, majelis hakim menilai bahwa yang dimaksud dalam pasal tersebut bukan punk sebagai gaya hidup, namun punk yang hidup bergelandangan di jalan. Majelis juga mengkategorikan anak punk yang menggelandang sebagai perbuatan yang mengganggu ketertiban umum.
“Punk sebagai gaya hidup memang tidak dilarang, yang dilarang oleh Pasal 505 KUHP adalah hidup bergelandangan, karena bergelandangan merupakan suatu perbuatan yang melanggar ketertiban umum,” ujar anggota majelis hakim Mahkamah Konstitusi, Maria Farida Indarti dalam persidangan di Gedung MK, Kamis (03/01/13).
Debi Agustio merupakan anak punk yang juga mahasiswadari Fakultas HukumUniversitas Andalas, Padang. Ia merasa keberadaan Pasal 505 KUHP telah melanggar kebebasannya sebagai warga negara untuk berkumpul dan berserikat karena memuat ancaman pidana enam bulan penjara bagi anak punk.
Debi memohon agar MK membatalkan Pasal 505 ayat 1 KUHPyang berbunyi,“Barangsiapa bergelandangan tanpa pencarian, diancam karena melakukan pergelandangan dengan kurungan paling lama tiga bulan. Dan, ayat kedua yang berbunyipergelandangan yang dilakukan oleh tiga orang atau lebih yang umurnya di atas 16 tahun, diancam dengan kurungan paling lama enam bulan.
Ia menganggap pasal tersebut bertentangan dengan Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 yang mewajibkan negara untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar. Namun, Hakim Konstitusi Maria Farida menilai alasan tersebut tidak berdasar. Pasalnya, larangan hidup bergelandangan tidak ada kaitannya dengan kewajiban negara memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar.
Menurut Maria, hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan seseorang atau sekelompok orang untuk hidup menggelandang, sekalipun negara belum bisa melindungi fakir miskin dan anak-anak terlantar. [tjs]

Mereka Juga Ingin Punya Masa Depan



 
Pelayanan Anak Jalanan
(Linda - Komisi Pemuda) dari GKY www.gky.or.id
 
Mereka Juga Ingin Punya Masa Depan

Belum banyak jemaat yang tahu kalau GKJMB memiliki pelayanan di bidang yang satu ini. Kalaupun ada yang tahu, umumnya menganggap bagian dari Komisi Pemuda. Padahal pelayanan ini berada di bawah naungan Tim Misi. Artinya, terbuka bagi siapa saja.
Sejarah Terbentuknya
Pelayanan Anak Jalanan memang berawal dari Komisi Pemuda. Pada bulan Desember 1998, krisis moneter yang melanda bangsa Indonesia, ternyata mempengaruhi pola pikir Panitia Natal Pemuda Rayon III untuk tidak merayakan Natal secara jor-joran. Keputusan untuk ikut peduli terhadap situasi yang melandapun akhirnya diambil. Dana konsumsi tidak akan digunakan, melainkan dialokasikan untuk kegiatan sosial. Panitia Natal juga membentuk Tim Aksi Sosial Khusus di luar Panitia Natal. Hanya saja saat itu belum diputuskan kegiatan sosial macam apa yang akan dilakukan. Mengunjungi Panti asuhan, Panti Jompo, atau membagi-bagikankan sembako.
Informasi yang didapat, akhirnya menggiring tim aksos untuk menjatuhkan pilihannya pada penampungan anak jalanan di Jl. Kebon Sirih mlik sebuah Yayasan Kristen yang berada di bawah naungan Kampus Diakonia Modern (KDM) pimpinan Bapak Lumy. Di tempat penampungan ini, anak-anak yang tadinya hidup di jalan diajak kembali untuk hidup secara normal. Makan tiga kali sehari, mandi dan berganti pakaian, punya tempat untuk berlindung dari panas, hujan, dan juga kehidupan keras jalanan yang kerap membahayakan keselamatan diri mereka.
Tepat tanggal 25 Desember 1998, acara kunjungan dilaksanakan. Anak-anak yang hadir jumlahnya jauh lebih banyak dari kondisi normal. Rupanya rencana kedatangan kami dengan cepat mereka sebar ke teman-teman mereka di jalan. Acara demi acarapun disuguhkan. Menyanyi bersama, panggung boneka, permainan dan pembagian bingkisan. Tidak akan pernah terhapus dalam ingatan kami, bagaimana mata bulat polos mereka dengan tidak berkedip memandang acara panggung boneka, suatu hal yang sangat langka dalam kehidupan mereka. (Acara ini sempat diliput oleh harian KOMPAS, yang kemudian menjadi salah satu berita halaman pertama media tersebut keesokan harinya)
Perayaan Natal di Kebon Sirih ini tidak saja berjalan lancar, tapi juga meninggalkan suatu beban pelayanan baru bagi Tim Aksos. Mereka merasa tidak mungkin hanya datang dan lihat untuk pergi selamanya. Harus ada suatu tindak lanjut yang dilakukan bagi anak-anak jalanan tersebut. Harus ada yang menyampaikan Kabar Baik kepada mereka. Jangan sampai kehidupan menyedihkan selama di dunia terus mengikuti mereka hingga "kehidupan baru" kelak. Syukur kepada Tuhan karena Dia membuat Tim Aksos tidak saja tergerak, tapi juga bergerak. Pihak KDM segera dihubungi. Setelah berembuk, Tim Aksos akhirnya kebagian peran di bidang rohani. Dan sesuai dengan kebutuhan, Tim Aksos kemudian melayani di tempat penampungan mereka di kawasan Cileungsi.
Kondisi Pelayanan
Pelayanan anak jalanan ternyata sangat unik. Tidak seperti pelayanan-pelayanan lainnya di dalam gereja yang sudah baku. Pelayanan anak jalanan merupakan suatu bentuk pelayanan yang unpredictable (tak dapat ditentukan secara pasti). Selain karena Tim Aksos kekurangan SDM dan masih mencari bentuk dan format yang tepat, anak-anak yang dilayani sangat beragam. Mulai dari usia, tingkat pendidikan, latar belakang dan juga masalah yang mereka hadapi. Masing-masing anak memerlukan penanganan yang khusus dan berbeda-beda.
Sebut saja Eko, 14 tahun, sudah beberapa tahun malang-melintang di jalan. Untuk bisa tetap makan, biasanya dia ngamen di lampu-lampu merah ataupun di kendaraan umum. Tampaknya tidak ada yang berbahaya dalam diri anak ini. Tapi, ternyata Eko sudah pernah beberapa kali menjadi korban perlakuan seksual orang dewasa selama menjalani kehidupannya. Akibatnya di tempat penampungan dia tidak dapat melepaskan diri dari kebiasaan ini, dan akhirnya temannya pun menjadi korban.
Atau Rahmat, asal Banten. Sebelum ke Jakarta dia sudah dibekali bermacam-macam ilmu hitam. Pernah berniat menurunkan ilmunya itu ke teman-temannya, sering ke kuburan sendirian pada waktu malam, merupakan kegiatan yang dikerjakannya selama berada di tempat penampungan Cileungsi. Masih banyak lagi kisah anak-anak malang yang dilayani Tim Aksos yang terlalu banyak untuk diceritakan di sini.
Mereka memang anak-anak yang malang, sementara anak-anak normal di belahan bumi ini menikmati hangatnya kasih sayang dan perhatian orang tua, anak-anak ini sudah harus merasakan kerasnya kehidupan di jalanan. Kehidupan yang keras di rumah, hidup bersama dengan ayah/ibu tiri yang tidak ramah, kemiskinan, merupakan salah-satu dari sekian banyak alasan kenapa akhirnya anak-anak itu lebih senang hidup luntang-lantung di jalanan. Sekolah dan kehidupan normal ditinggalkan untuk menikmati alam kebebasan yang tampaknya sangat menjanjikan. Tapi, nyatanya kehidupan di jalan jauh lebih keras dari yang mereka bayangkan sebelumnya. Untuk bisa diterima di komunitas jalanan, tidak jarang mereka harus diplonco terlebih dahulu. Dan sekadar untuk mempertahankan hidup, mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Ngoyen (makan makanan sisa), nguping (melepas kaca spion mobil), ngebola (mencuri dengan cara oper-operan di atas kendaraan umum), ngaibon ( menghirup hawa lem yang bisa membuat mereka melupakan sejenak masalah mereka) adalah hal-hal yang lazim mereka lakukan. Saat ini jumlah anak jalanan yang ditampung di Cileungsi hanya tinggal 15, dari 30 orang anak yang mula-mula berhasil ditampung.
Dengan kondisi demikian Tim Aksos merasa sulit untuk menembus benteng yang mereka pasang untuk Injil, tanpa dukungan daya dan doa dari segenap jemaat. Kiranya tulisan ini mampu mengetuk hati nurani jemaat agar kita tidak lagi melihat mereka sebagai makhluk pengganggu yang menjijikkan di lampu-lampu merah (yang kemudian membuat kita deg-degan dan cepat-cepat menyiapkan duit receh). Tapi, marilah kita melihat mereka sebagai orang-orang yang patut kita jaring dan kasihi. Kalau Yesus saja mengasih kita, mengapa kita tak mau mengasihi mereka?

Pelayanan Kesehatan Tak Berjalan Bagi Orang Miskin

Satgas PA: Pelayanan Kesehatan Tak Berjalan Bagi Orang Miskin
19 Feb 2013 08:54:20 dari www.actual.co
Satgas PA: Pelayanan Kesehatan Tak Berjalan Bagi Orang Miskin
Ilustrasi (Foto:tataruangindonesia.com)
Jakarta, Aktual.co — Anggota Satgas Perlindungan Anak Ilma Sovri Yanti Ilyas mengatakan, seharusnya tidak ada diskriminasi dalam pelayanan kesehatan termasuk untuk orang miskin.

"Kasus Dera menjadi momentum bagi pemerintah untuk berbenah layanan kesehatan setelah kasus RI yang berujung dengan kematian karena lemahnya layanan puskesmas," kata Ilma Sovri Yanti di Jakarta, Selasa (19/1).

Dera Nur Anggraini, bayi yang lahir secara prematur meninggal dunia setelah sepekan berjuang melawan penyakitnya yaitu gangguan pernapasan karena ada kelainan pada kerongkongan.

Bayi tersebut terlambat mendapatkan perawatan dari rumah sakit. Menurut Eliyas Setya Nugroho, ayah Dera, ia telah berupaya merujuk Dera ke rumah sakit lain namun beberapa rumah sakit di Jakarta menolak dengan alasan penuh.

Dera yang lahir kembar akhirnya meninggal pada Sabtu (16/2) di Rumah Sakit Zahira tempat ia dilahirkan.

Ilma mengatakan, Satgas PA berduka atas meninggalnya Dera bayi kembar yang sempat ditolak oleh lima rumah sakit di Jakarta.

Sesuai penjelasan dari pemerintah bahwa yang mencari rujukan seharusnya rumah sakit, tapi ternyata orang tua korban harus keliling dari pintu ke pintu rumah sakit agar anaknya bisa dirawat.

"Dari proses yang terjadi, terlihat bahwa sistem pelayanan kesehatan tidak berjalan karena orang tua korban miskin," kata Ilma.